Jena pulang saat ini juga. Ia juga tidak lupa untuk memberitahu Leon agar dia tidak panik mencari nya. Leon bersikeras ingin mengantarkan Jena pulang dan tentu saja, Jena menolak hal tersebut.
Jena berangkat jam setengah delapan. kemungkinan Jena akan tiba kerumahnya tepat pukul setengah sepuluh. Di perjalanan, Jena terpikirkan untuk menjenguk papinya yang berada di rumah sakit. Tapi sialnya, Jena tidak tahu letak rumah sakitnya dan yang tahu hanya Leon, akhirnya Jena melaju dan fokus ke tujuan awal.
Karena bosan di perjalanan, Jena menelfon salah satu teman nya yaitu, Riel. Untung saja Ariel tidak memiliki kegiatan, jadi Jena tidak menggangu Ariel.
"Halo Jen, kenapa?" Tanya Ariel di seberang.
"Gue dari kota sebelah Riel. Ini gue lagi di perjalanan buat pulang. Jujurly gue boring jadi nelfon lo. Lo ada kegiatan gak?"
"Santai aja kali Jen, gue juga lagi free kok hari ini. cuman nanti siang gue ada seminar."
"Masih bisalah lo nemenin gue sebentar."
"iya."
"btw, lo harus tau kalau kemarin gue di ajak ke pantai sama Leon."
"loh? kok bisa ada Leon disana?"
"dia kan emang tinggal disini. terus mana di pantai dia pakai main gitar lagi, gak tau apa dia dimata gue masih bocil."
"hahahahahaha. btw dia masih suka sama lo?"
Jena tampak memikirkan dan mencerna pertanyaan yang di ajukan oleh Ariel padanya. Hari pertama Leon pergi kota ini, Jena ke kamar Leon karena memang dia dalam kondisi bosan. Setelah dia masuk kedalam kamar Leon, ia tidak sengaja bertemu dengan diary milik Leon. Memang lancang membuka privasi Leon tapi, disanalah Jena menemukan satu fakta bahwa Leon pernah suka pada Jena. dan fakta itu belum Jena tahu apakah masih atau tidak.
"Gue gak tau Riel, dari gelagatnya ya masih. Mulai dari ngajak gue ke pantai, gitarin gue, nyariin gue hotel buat nginep, dan maksa buat nganterin gue pulang."
"Buset. lo nya gimana nih? gak mau nyoba---"
"Gak usah macem-macem," Jena memotong ucapan Ariel, dan Ariel tertawa dengan puas.
"Eh Jen, telfonya gue matiin ya. ponakan gue dateng, dah."
"Dah,"
Jena menyalakan lagu dari ponselnya begitu sambungan diputus oleh Ariel. Jujur Jena ingin merasakan memiliki ponakan, tapi sayangnya dia adalah anak tunggal. Sebenernya ada Leon, tapi Jena tidak hati memanggilnya sebagai ponakannya.
Jena balik dari kota sebelah langsung menuju panti asuhan. Ia bahkan tidak pulang dulu sekadar menyapa bi kisum dirumah. Di panti asuhan tentu saja, jena di sambut dengan hangat oleh adik-adik panti asuhan disana. Begitu juga dengan bu yanti.
"Nak Jena ngapain kesini? kan bukan jadwalnya."
"Eh iya bu, maaf telat memberitahu. jadi besok saya tidak bisa kesini, jadi saya manfaatkan waktu saya yang kosong untuk mengajar disini," balas Jena.
"Terimakasih ya nak jena. Kalau begitu saya panggilkan anak-anak yang lain untuk berkumpul."
Bu Yanti pergi dari sana meninggalkan jena yang berdiri sambil melirik kesana-kemari. Dan mata jena tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis yang terlihat gusar dengan headset di telinga dan juga sebuah buku tebal. Jena mengingat anak itu, dia adalah anak yang kesusahan belajar matematik saat Jena kemari. Jena pun menghampiri anak tersebut yang bernama Yunita.
"Halo, lagi ngerjain apa?" tanya Jena.
Tentu karena Yunita menggunakan headset ia tidak mendengarkan panggilan dari Jena. Akhirnya Jena memanggilnya lagi, tapi tetap saja anak itu tidak mendengarkan panggilan Jena. Juna yang tidak lewat dan melihat Jena yang berusaha memanggil Yunita pun, ikut memanggil Yunita.
Juna menepuk badan Yunita dengan sedikit keras, "woi!" Yunita langsung menatap Juna dengan kesal.
"Apa sih?"
"Tuh! lo di panggil dari tadi gak nyaut," ucap Juna sambil menunjuk kearah Jena menggunakan dagunya. Yunita langsung menatap kearah yang di tunjuk oleh Juna. dan setelah itu, Yunita menatap Jena dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Maaf kak, Yunit emang suka terlarut ke dalam buku kalau lagi ngerjain sesuatu."
Jena mengangguk, "makasih ya Jun.'
"Sama-sama mbak, kalau gitu Juna pergi dulu ya ngajak Ajen ke pasar dulu," pamit Juna. Jena mengeluarkan uang berwarna merah tiga lembar, lalu memberikan nya pada Juna.
"Nitip camilan buat adik-adik, kalau ada sisanya kamu simpan aja ya. buat jajan."
"Makasih mbak," setelah itu, Juna pun pergi dari sana, dan kini tersisa Yunita dan juga Jena.
"Kenapa?" tanya Yunita ketika merasa diperhatikan oleh Jena.
"Bisa jawab gak? keliatan nya gusar banget."
"Bisa."
Setelah mendapatkan jawaban singkat dari yunita, Jena ingin menanyakan sesuatu pada Yunita, tapi ia lebih dulu di panggil oleh segerombolan adik-adik dengan bu yanti yang mengawasinya dari belakang.
===
Selesai dari panti asuhan, sore itu jena kembali kerumahnya. Tentu saja hal tersebut membuatnya di sambut hangat oleh bi Kisum. Bi Kisum nampak sumringah melihat kedatangan Jena. Jena yang melihat itu tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Bagaimana liburan sehari nya non?" tanya bi Kisum.
"Bibi tahu kalau saya keluar kota?" tanya Jena yang dapat anggukan oleh Kisum.
"Awalnya saya panik banget non, soalnya nona Jena gak pulang-pulang ke rumah, terus nyonya besar telpon saya dan bilang kalau nona ada di kota sebelah. ya langsung tenang pas dengar itu dari nyonya besar."
Jena terdiam, jadi mami nya tahu jika dia berasa di luar kota? Jena yakin yang memberitahukan tempatnya pasti Leon. Bagaimana jika nanti Leon memberitahu maminya jika Jena memiliki perusahaan nya sendiri.
"Mami tahu dari mana kalau jena ada disana bi?" pertanyaan Jena hanya mendapatkan gelengan oleh Kisum.
"Berarti kemarin non jena gak ketemu nyonya besar?" kini Jena yang menggelengkan kepalanya.
"Kok aneh ya non, padahal nyonya besar bilang kalau nona Jena ada disana lagi nemenin tuan besar. Eh non, itu makan malam nya sudah bibi buatkan, tinggal di santap saja non."
Melupakan tentang keanehan itu, Jena bergerak menuju ruang makan. dia cukup tergiur melihat masakan bi Kisum dan jangan lupakan perut nya yang keroncongan. Tadi pagi dia belum makan, siang pun begitu maka nya tidak di pungkiri lagi sekarang dia sangat kelaparan.
"Jena makan sekarang ya bi, lapar banget soalnya. Hehehe," kata Jena. Kisum mengangguk dan membantu Jena mengambil lauknya.
"bi, ayo makan barengan! ini kebanyakan tau," kata Jena.
"Gak, buat nona saja. bibi sudah kenyang, nah nona Jena kan lapar jadi nona saja yang makan."
"ak satpam nya gak dikasih bi?" tanya Jena
"Udah tadi tak kasih yang untuk dia, sekalian bareng kopi tadi non."
Jena mengangguk dan fokus menyantap makanannya dalam diam. Tiba-tiba satu notif di dapatkan oleh Jena. Notif tersebut berasal dari asissten nya yang memberitahu Jena bahwa Aditama'corp bersikeras untuk mengajak Yuan'corp bekerja sama. Dan tentu saja, Jena menyuruh asissten nya untuk menolak kerjasama mereka walaupun keuntungan yang di dapatkan oleh Yuan'corp sangat banyak.