Leon sekarang sedang mengendarai mobil untuk membawa Jena mencari tempat yang indah. Jena hanya diam dan menatap ke arah jalanan dengan fokus.
"Mbak," Panggil Leon.
"Apa?" Balas Jena tanpa menatap kearah Leon sama sekali. Leon melanjutkan ucapannya, "yakin gak mau ketemu papi?"
"Lo disogok papi? Gue bilang gak, ya nggak," Ucap Jena dengan tegas. Leon menganggukkan kepala nya dengan paham, dan kembali fokus menyetir.
"Kita sampai."
Jena melirik keluar jendelan mobil, dan mereka sampai di sebuah pantai. Jujur saja Jena sangat menyukainya. Pantainya terlihat nyaman dan menenangkan, cocok untuknya menghilangkan rasa penat dan jenuh akibat bekerja.
"Pantai?"
"Iya mbak. Ini pantai terbagus disini, memang agak sepi, tapi benar-benar sebagus itu. Kalau di ibaratkan ini seperti pantai yang menutupi kegagalan indahan nya."
"Ayo turun," Tanpa babibu, Jena langsung melepaskan sealtbeat nya lalu keluar dari mobil. Begitupun Leon yang memarkirkan mobil sebentar.
Jena menunggu Leon yang sedang memarkirkan mobilnya. Lalu tidak lama, Leon datang dengan senyuman khas nya. Jena yang melihat Leon datang dengan senyuman mulai merotasikan matanya.
"Jangan banyak gaya. Ayo cepat," Kata Jena.
"Oke ayo! Lewat sini mbak," Leon menunjukkan jalan yang benar untuk masuk kedalam pantai.
Hingga sampailah mereka ke pantainya. Banyak stand makanan dan minuman disana. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Leon, pantai ini tidak terlalu ramai. tapi pemandangan nya sangat indah.
"Mau ke bibir pantai nya mbak?" Tanya Leon. Jena menggeleng, "duduk aja ke salah satu stand," Kata Jena.
Leon mengangguk, lalu mengajak Jena pergi duduk di salah satu stand kesukaan nya yang paling strategis dari sisi keindahan dan kelezatan makanan.
"Nah sudah sampai," Ucap Leon. Jena mengangguk, setelahnya itu dia langsung duduk disana. Begitupun Leon.
Tidak lama dari itu, pelayan dari stand itu menghampiri mereka, "mbak, mas, mau pesan apa?" Tanya pelayan tersebut.
"Mbak mau pesan apa?" Leon mengambil menu dari tangan pelayan itu, lalu memberikannya kepada Jena. Jena menerima menu itu, lalu membaca nya.
"Es kelapa aja satu,"
"Mas, es kelapa satu, es jeruk nya satu. Sama gorengan nya satu bungkus," Pelayan tersebut mengangguk saat Leon membacakan pesanan nya.
"Kalau begitu tunggu sekitar lima menit ya."
Pelayan itu pergi dari sana dan menyiapkan pesanan dari Leon dan juga Jena. Jena sedang menikmati seliran pantai yang menyejukkan baginya. Dan Leon yang sedang melirik ke segala arah, seperti mencari sesuatu.
"Kenapa pantai nya gak ramai ya?" Ucap Jena sembari fokus menatap ke depan pantai.
"Pembukaan dufan baru di kota ini. Jadi banyak warga yang lebih milih kesana, apalagi anak muda," balas Leon.
"Bahasa lo kayak orang tua aja," Kata Jena yang mendengar Leon mengucapkan kata 'anak muda' yang seakan-akan dia adalah orang tua.
"Hehe,"
Ponsel Jena berdering, tanda nya ada yang menelfon nya. Tanpa bangun dari tempat nya, Jena langsung menerima panggilan tersebut. Tentu saja percakapan nya akan terdengar oleh Leon.
"Halo mi,"
"Jena, kamu kemana? Kata bibi kamu belum pulang-pulang juga ke rumah!"
"Lagi di luar kota, lagi bareng Leon juga. Kenapa?"
"Oh, aman kalau gitu. Yaudah sana lanjutin,"
Sambungan terputus sepihak, dengan Mami nya yang memutuskan duluan. Jena berdecak, "gak jelas amat ibu gue,"
"Mami bilang apa kak?" Tanya Leon. Sebenarnya dia mendengarkan percakapan mereka, tapi tetap sebagai basa-basi ia ingin bertanya.
"Nanya dimana, kenapa belum pulang. Udah itu doang," Kata Jena.
"Oke," Tepat saat itu, pelayan datang sambil membawa pesanan mereka berdua. Jena dan Leon mengucapkan terimakasih secara bersamaan, lalu mulai menikmati pesanan mereka masing-masing.
"Mbak, cobain deh gorengan nya. Di antara semua menu, gorengan di stand ini paling enak!" Ucap Leon dengan antusiasnya.
"Masa sih?"
"Iya dong, maka nya cobain mbak," Kata Leon.
"Males," Jawab Jena dan yang kini melirik kearah Pantai dengan menyeruput es kelapa nya.
"Mbak, Leon mau beli sesuatu bentar ya," Pamit Leon. Jena hanya mengangguk.
Jena sekarang sendirian disini, dengan menatap kearah pantai dengan sesekali menghela napas. Akhirnya dia merasa tenang. Leon lama tidak berjumpa semakin cerewet saja.
Sudah sepuluh menitan lebih Leon pergi, dan laki-laki itu tidak kunjung datang. Jena melirik kearah gorengan yang tadi sempat di tawarkan oleh Leon, tapi di tolak mentah-mentah olehnya.
Jena teringat ucapan Leon yang mengatakan bahwa gorengan nya adalah makanan terenak di stand ini. Jena jadi penasaran dan mencoba nya satu, tentu saja, Jena melirik-lirik sekitar. Jena terlihat seperti maling sekarang. Jena mencoba gorengan itu dengan sekali makan.
"Lumayan," Gumam Jena.
Matahari sudah mau terbenam, tapi Leon tidak kunjung Datang-datang. Jena pada dasarnya mulai lapar, sedikit demi sedikit menghabiskan gorengan milik Leon.
Beberapa menit setelahnya, Leon datang dengan membawa sebuah gitar. Jena mengernyitkan dahi nya bingung dengan Leon yang tiba-tiba datang sambil membawa gitar.
"Gitar siapa?"
"Gitar Leon, tadi habis beli," Kata Leon.
"Buat apa?"
"Buat---" Leon langsung memainkan gitar di dekat Jena beberapa bait lagu saja. Jena menikmati alunan gitar dan pemandangan sore yang begitu indah baginya.
"Bagus," Ucap Jena yang tanpa dia sadari sedang tersenyum sekarang.
Leon yang melihat Jena tersenyum, ikut tersenyum puas dengan usaha nya yang tidak sia-sia. Leon merasa kasihan dengan Jena yang seperti nya sangat jenuh, jadi dia berinisiatif membeli gitar di luar pantai. Dan siapa yang tau kalau apa yang di lakukan Leon berhasil.
"Udah sampai disini aja," Kata Leon sambil berhenti memainkan gitarnya.
"Sedikit, apaan," Protes Jena. Leon hanya tersenyum membalas nya.
"Nikmati matahari terbenam nya aja mbak, itu udah bagus."
"Terserah lo," Jena dan Leon sama-sama menikmati seliran angin pantai dan juga matahari terbenam yang sangat indah.
"Mbak, udah sore, buat ke kota asal bakal dateng telat. Apa gak mau nginep disini sehari doang?" Saran Leon.
Jena nampak memikirkan saran dari Leon yang menurutnya masuk akal.
"Bentar," Jena mengeluarkan ponsel nya lalu mencari jadwal kuliah dan jadwal kerja nya. Bersyukurlah semua nya tidak ada kegiatan, hanya saja satu janji yaitu ke panti asuhan. Untung nya Jena masih bisa pulang dulu baru kesana.
"Ok, bisa. Gue gak tau tempat yang bagus buat menginap disini," Kata Jena.
"Leon tau tempat yang bagus dan nyaman, nanti langsung Leon bawa kesana aja ya," Kata Leon. Jena mengangguk.
Karena matahari sama dah terbenam sepenuhnya, Leon membayar dahulu pesanan mereka ke pemilik stand nya. Lalu, barulah mereka pergi menuju hotel yang di rekomendasikan oleh Leon.
"Asisten lo tau kalau lo demen keliaran gak gini?" Tanya Jena.
"Tau. Dia maklumin karena bos nya masih muda,"
"Di mata gue lo tetep bocah sih," Ucap Jena sambil mengangguk.