Sepulang nya Ariel dari rumah Jena. Jena langsung bersiap-siap pergi dari rumahnya. Dia berniat keluar untuk mencari angin, karena dirumah terus membuatnya pengap.
"Nona Jena mau kemana? Sudah rapi begitu," Bi Kisum dengan beberapa cucian di tangan nya.
"Mau pergi jalan-jalan bentar aja sih bi, mau cari angin. Dirumah terus engap," Kata Jena.
"Kan nona jarang dirumah, gimana bisa engap?"
"Ya ... Intinya gitu deh bi, hehe."
"Yaudah hati-hati ya non."
Jena mengangguk, lalu pergi darisana menuju bagasi. Dia memilih mobil yang atas nya dapat terbuka. Sebenarnya ada motor, tapi Jena tidak bisa menggunakan nya.
"Hati-hati non Jena," Ucap Satpam rumahnya. Jena mengangguk, lalu menancapkan gas mobil dengan kecepatan rata-rata. Sebenarnya, Jena tidak memiliki tujuan untuk pergi, yang dia inginkan hanya mencari udara luar.
"Kemana aja gue? Kok gue baru tau kalau kota ini isi nya gedung doang? Astaga engap, mending cari destinasi tempat yang menyegarkan udaranya deh," Jena memberhentikan mobil nya di pinggir, lalu mencari saran tempat healing yang cocok.
Jena menemukan satu. Tapi sayangnya di luar kota. Tapi bukan Jena nama nya jika tidak nekat. Dia menjalankan mobilnya kembali dan bergerak menuju luar kota. Butuh waktu dua setengah jam untuk sampai ke kota tersebut.
Dan sudah dua setengah jam Jena berkendara kesana. Akhirnya Jena sampai ke tempat tujuan. Di kota ini benar-benar segar. Tapi sayangnya dia tidak mengetahui tempat-tempat disini.
Kebetulan setelah berkendara selama dua setengah Jam, Jena lapar dan butuh makan. Jadi dia mencari tempat makan yang enak lewat situs pencarian. Dan Jena menemukan salah satu restoran yang membuat Jena tertarik. Jena berkendara lagi menuju restoran tersebut.
Sampainya di sana, Jena langsung memesan pesanan nya. Restoran ini dekat dengan pemandangan pantai, dan juga restoran nya bertema tanaman.
Saat asik makan, Jena tidak asing dengan salah satu suara yang Akhir-akhir ini menjadi beban fikiran Jena. Jena melirik kearah samping meja nya, tapi tidak ada orang. Jena berbalik, dan menemukan Leon sedang bersama teman-teman nya. Jena yakin dia adalah teman Leon semasa sekolah disini.
"Di mata gue dia tetep anak kecil," Gumam Jena. Jena memainkan ponsel nya sembari menunggu pesanan nya datang. Leon yang sedang berkumpul bersama teman nya belum menyadari keberadaan Jena.
Hingga pesanan Jena datang, barulah Leon menyadarinya.
"Ini pesanan nya mbak, ada pesanan lain?" Tanya pelayan tersebut.
"Terimakasih. Nanti saya kabari jika ingin menambah pesanan," Ucap Jena dengan senyuman ramah nya. Pelayan itu langsung izin pamit. Dan Jena fokus menyantap makanan dan minuman nya.
Leon terus menatap kearah Jena dengan tatapan terkejut dan tidak percaya. Bahkan salah satu teman nya menyenggol Leon.
"Woi! Lihatin apaan lo?" Tanya Rendi.
"Itu, eh, apa?" Semua teman Leon yang berada disana menatap aneh kearah Leon.
"Kenapa sih. Itu bayar dulu pesanan nya," Ucap Haikal sambil menunjuj kearah pelayan yang sedang menyerahkan nota pembayaran.
"Ini gue doang?" Tanya Leon pada teman-teman nya, dan semua nya serempak menganggukan kan kepalanya.
"Dompet gue ketinggalan, sorry ya."
"Moana kucing gue mau lahiran," Rendi menjitak kepala Haikal.
"Apa hubungan nya!"
"Ya Ada, kan kucing gue lahiran. Bapaknya mana mau tanggung jawab, jadi gue kudu bayar persalinan buat si ucing."
Rendi merotasikan matanya.
"Mas-mas, ini kapan dibayar?" Leon mengeluarkan dompetnya, lalu memberikan uang tiga lembar uang merah pada pelayan tersebut.
"Kembalian nya mas boleh ambil ke kasir---"
"Gak perlu mbak, gak papa. Terimakasih," Pelayan itu mengucapkan terimakasih pada Leon. Lalu pergi dari meja mereka.
Di meja depan, Jena mendengar obrolan random Leon bersama teman-teman nya. Jena menyembunyikan kekehan nya sedari tadi. Tapi Jena tidak mau ketahuan.
"Yaudah cus balik," Ajak Haikal.
"Kalian duluan, gue mau ke kamar, mandi dulu."
"Yaudah, thanks bro," Leon mengangguk ketika Rendi mengucapkan terimakasih padanya. Setelah itu, Rendi dan Haikal bersamaan pergi dari restoran ini.
Leon bukan nya ke kamar mandi, malah duduk di depan Jena. Jena yang sedang makan sembari menunduk kini mengangkat kepala nya kearah kursi depan nya. Karena merasa ada orang yang duduk di depan nya.
"Halo mbak," Sapa Leon dengan senyuman nya.
"Oh, halo," Jawab Jena dengan singkat.
"Lama nggak ketemu ya mbak, apa kabar?" Tanya Leon kepada Jena. Jena mengeryitkan dahinya, apa maksud dari lama tidak bertemu. Padahal dia sudah bertemu dengan Jena saat rapat kerja sama.
"Maksud?"
"Aah, waktu itu kan kita ketemu sebagai rekan kerja. Sekarang ketemu sebagai adik dan kaka angkat. Hehe, gimana kabarnya mbak? Papi?" Jena merasa Leon menyinggung dengan kata adik dan kakak angkat yang di tekankan oleh Leon.
"Oh. Baik, papi lagi berobat ke luarkota."
"Nggak mau ketemu mereka mbak? Rumah sakitnya ada disini," Kata Leon. Jena menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Lo sering kesana?" Leon tampak memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan yang diajukan oleh Jena.
"Nggak sering, jarang kok."
"Oh, yaudah," Balas Jena seadanya. Leon diam, Jena juga diam. Hanya suara Jena yang sedang makan saja yang terdengar diantara mereka. Hingga akhirnya, Leon mengajak Jena berbicara duluan.
"Mbak mau aku ajak keliling buat cari tempat bagus gak? Disini cocok banget buat hirup udara dari kota sebelah yang isi nya gedung semua," Ucap Leon. Jena nampak memikirkan tawaran Leon. Jena sebenarnya bisa melihat lewat situs pencarian, tapi kadang hasilnya dan tempatnya tidak sebagus yang di gambar.
"Ok boleh," Jawab Jena dengan cepat. Leon mengangguk, lalu Jena kembali menyantap makannya nya. Sambil sesekali mencuri pandangan kearah Leon yang memainkan ponselnya. Awalnya, melihat Leon membuatnya kesal, tapi sekarang melihat Leon membuat Jena sedikit berdebar.
Pasalnya Leon terlihat lebih dewasa dari sebelum nya. Tataan rambutnya terlihat seperti orang luar. Dan jangan lupa kan style yang berubah total.
"Udah selesai mbak?" Tanya Leon. Jena menganggukkan kepalanya. Leon memanggil pelayan disana. Dengan tepukan tangan dan panggilan.
Salah satu pelayan disana datang ke meja Jena, lalu bertanya, "ada apa mbak?"
"Minta nota totalnya," Ucap Leon. Pelayan itu mengangguk, lalu pamit untuk mengambilkan Jena total belajaan nya dalam nota.
Setelah selesai mencari, pelayan itu memberikan nota nya pada Jena. Jena mencari dompetnya, tapi Leon lebih dulu membayar pesanan Jena. Jena menatap kearah Leon dengan ekspresi tanda tanya.
"Gak papa mbak, sekali-kali pengen traktir," Kata Leon yang menyadari ekspresi wajah Jena nampak kebingungan.
"Banyak uang ya lo," Kali ini Jena berniat untuk menyindir Leon, tapi Jena rasa Leon tidak merasa tersindir.
"Gimana ya mbak, hehe... Yaudah ayo kita pergi, mbak pergi naik apa kesini?" Tanya Leon.
"Mobil," Jawab Jena yang sedang bersiap-siap sedikit.
"Ngendarain sendiri?" Jena mengangguk.
"Pakai mobil mbak aja ya, kebetulan aku tadi numpang ke salah satu teman aku, ayo mbak!"
"Itu lebih ke kesialan," Guman Jena. Leon yang menyadari Jena mengucapkan sesuatu, bertanya, "hah, mbak Jena bilang apa?"
"Lupain."