Bagian 32 : Berkumpul

1083 Kata
"Semalam Tama ngechat gue, tapi sampai sekarang gue gak bales," Ariel dan Nana menampilkan wajah sinis tidak suka. "Mana, coba lihat?" Jena menyerahkan ponsel nya pada kedua teman nya. Tapi bukan nya melihat notif dari Tama, kedua teman nya itu salah fokus pada notif dari Leon. "Lo sama Leon kerja sama apaan?" "Lihat chat Tama doang, jangan salah fokus." Ariel dan Nana kembali menatap kearah ponsel Jena, tapi beda nya sekarang mereka benar-benar fokus melihat pesan dari Tama. "Sumpah ya! Kok bisa dia gak punya malu? Ngechat lo lagi dengan pura-pura gak terjadi apa-apa," Sungut Nana dengan kesal. "Ya kenapa nggak? Mereka kan putusnya baik-baik nggak kayak lo sama gue, menurut gue ya biasa aja gitu," Jawab Ariel. Ekspresi Nana berubah masam mendengar ucapan Ariel, Jena yang menangkap ekspresi itu dari indera mata nya, mulai mencari topik lain. "Udah-udah, bay the way kalian gak ada jadwal ngampus?" "Justru itu, karena kita kesini mau nanya tentang skripsi ke lo," Kata Nana yang di angguki oleh Ariel. "Kita beda jurusan woi, nanya apaan buset!" "Nanya struktur penulisan nya gimana, ya intinya kayak begitu, gue kurang paham." "Oh boleh-boleh, gue ambilin file nya dulu," Jena bangun dari posisi duduk nya lalu mencari flashdisk di sekitar laptop dan laci-laci kecil dekat meja. Setelah ketemu, Jena memberikan nya pada Nana. "Itu, file nya jangan sampai hilang." "Iya, santai aja Jen," Ucap Ariel yang terlihat sumringah. "Sumringah amat muka lo Riel, hahahahaha," "Iya woi, capek gue di tanyain kapan wisuda, skripsi udah belum, gak tau apa itu susah banget." Jena terkekeh melihat Ariel yang terlihat memiliki dendam pribadi pada orang yang menanyakan hal itu pada dirinya. Nana diam karena sedang membuka file milik Jena. Karena bosan, Jena mengambil ponsel nya dan membalas pesan-pesan itu satu persatu. Tiba-tiba pintu kamar Jena di ketuk, dan orang yang mengetuk nya adalah bi Kisum, yang sedang mengantarkan camilan dan juga minuman. "Permisi nona-nona, bibi mau nganterin camilan sama minuman nya," Jena mendekat kearah bi Kisum, lalu mengambil alih camilan dan minuman tersebut. "Makasih bi," Bi Kisum mengangguk, "iya non, kalau begitu bibi pergi beberes di bawah, permisi," Jena menutup pintu kamarnya kembali setelah bi Kisum pergi dari kamar nya. "Mami papi lo kemana Jen?" Tanya Nana. "Kerja di luar kota, papi gue kan juga sakit, jadi sekalian berobat disana yang rumah sakit nya lebih bagus." Nana mengangguk, lalu me-nyomot kue kering yang dibawa oleh Jena. Begitupun Ariel. "Gue penasaran deh, gue punya hubungan darah gak sih sama Leon? Kenapa mami gue ngasih saham Aditama ke Leon yang notabe nya adik angkat gue. Terus kata-kata Leon tuh seakan bilang kalau bunda nya bagian dari keluarga Aditama." Jena merebahkan dirinya ke kasur karena badan nya terasa pegal. Ariel yang menotis ucapan Jena mulai ikut masuk kedalam topik pembicaraan Jena. "Bisa jadi, kenapa lo gak nyoba buat nanya ke mami lo langsung?" Tanya Ariel. Sebenarnya nya Jena sudah memikirkan hal ini, tapi dia yakin, mami nya tidak mau memberitahu nya. "Gak bakal di jawab gue yakin. Tadi gue habis nanya ke Leon juga, dan dia juga gak tau. Harus gimana gue?" "Lah? Iya-iya aja di kasih saham karena alasan dari bunda nya, tapi gak tau status bunda nya di keluarga Aditama apaan," Nyinyir Ariel. "Hahahahahahaha, lo buat gue ketawa sumpah," Jena tertawa dengan terbahak-bahak, bahkan sampai dia memegang perut nya saking lucu nya. Ucapan Ariel yang terkesan lucu di dengar oleh Jena, dan juga ekspresi oleh Ariel yang sangat cocok untuk berjulid. Masih dengan tertawa nya, Jena mengambil kue kering dan memakan nya. Kurang beruntung nya Jena yang malah tersedak akibat masih tertawa. Nana dan Ariel yang panik, langsung menyerahkan minuman ke Jena. "Maka nya, kalau mau ketawa, ketawa aja. Makan belakangan, kan gini jadi nya, " Ucap Nana. "Kata gue sih itu karma buat ke gak jelasan lo," Kata Ariel dengan tatapan sinis nya kepada Jena, yang cukup membuat Jena tertawa kembali. "Muka lo woi! Biasa aja, kasian anak orang kesedak terus," Kata Nana. "Loh gue gak ngelucu, jadi bukan salah gue." "Ok gue nyerah. Kadang gue heran, kenapa gue mau temenan sama kalian," Ucap Nana sambil menghela napas. "Kan kadang ya Na, jadi sekarang lo udah tau dan menerima takdir bahwa lo berteman sama kita." "Terserah!" Melihat perdebatan itu, cukup membuat Jena kembali tertawa lagi. "Awas kesedak lagi lo," "UHUK UHUK!" "Baru juga di bilang," Jena mengeluarkan senyuman tanpa dosa nya, Tiba-tiba ponsel Jena berdering. Dengan cepat Jena mengambil nya, lalu keluar dari kamar untuk mengangkat panggilan. "Halo, siapa?" "Gibran. Mbak Nana nya ada disana? Ini ada acara keluarga mendadak," Jena mengeryitkan dahi nya bingung. "Kenapa lo gak telfon mbak lo langsung? Kenapa harus lewat gue?" Tanya Jena. "Mbak Nana di telfon gak ngangkat, tolong kasih tau ya, kalau disuruh kerumah eyang, perihal penting. Makasih, dadah!" Panggilan terputus. Jena menatap ponsel nya dengan kesal. "Dasar bocah!" Jena kembali ke kamar nya. "Dari siapa?" Tanya Ariel, ketika melihat Jena masuk kedalam kamar. "Dari Gibran. Na, ponsel lo kemana?" Nana yang nama nama nya dipanggil, sekaligus di beri pertanyaan langsung mencari keberadaan ponsel nya. "Loh, kemana ya? Setahu gue ada." "Inget-inget coba," Kata Ariel yang kini menatap kearah Nana yang sibuk mencari ponselnya. "Udah lupain aja. Tadi Gibran nelfon, kata nya ada acara keluarga mendadak hari ini, saat ini juga. Lo disuruh buat hadir, langsung kerumah eyang lo. Gitu kata Gibran," Ucap Jena dengan lengkap. Nana mengangguk, lalu pamit. "Kalau kayak gitu, biasanya emang penting. Gue duluan ya, dadah!" Ariel dan Jena mengangguk, lalu melambaikan tangan. "Ada hal penting apa ya kira-kira Jen? Penasaran gue," Kata Ariel. "Jangan bikin gue ikutan penasaran juga, cukup lo aja," Balas Jena. "Dih? Agenda lo hari ini apa? Gue males pulang soalnya," Kata Ariel yang kini merebahkan badan nya ke lantai. "Gak ada agenda, niatnya pengen tidur. Mau ikutan?" "Ogah, yaudah gue diam disini ya? Males pulang gue. Nanti pulang juga ujung-ujung nya jadi babysitter Qila. Mbak gue kan sekarang kerja lagi, jadi Qila di titipin ke gue terus. Iya deh gue gak ada jadwal kuliah, tapi capek woi! Qila aktifnya melebihi anak kucing." "Hahahahahaha ponakan sendiri di bandingin sama anak kucing. Kalau mbak lo tau, gue yakin lo bakal di keluarin dari rumah." "Biarin deh," "Riel, menurut lo gimana? Gue pengen beli rumah khusus gue sendiri. Males banget disini, gue ngerasa gak bebas walaupun rumah ini luas dan besar," Kata Jena. "Yaudah beli aja, itu rumah diam-diam aja beli nya. Kayak waktu lo beli gedung buat beli perusahaan." Hanya Ariel yang tahu tentang perusahaan nya, selain Leon. Semua nya tidak ada yang tahu, termaksud Nana. "Okay, gue coba-coba cari."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN