"So..." Gadis itu menggantung 'kan perkataan nya, dan mengambil kopi yang berada di meja nya.
"Gimana bisa, adik kecil saya berubah menjadi direktur anak cabang ayah saya?" Tanya gadis itu.
"Lalu bagaimana juga bisa anak sulung keluarga Aditama memiliki perusahaan sendiri?"
"Jawab dulu pertanyaan saya bocah!" Sungut gadis itu.
"Mami jenguk aku waktu itu di luar kota. Dia cerita semua nya, tentang keluarga aku dan juga pilihan apa yang harus aku ambil. Semua di katakan sama mami. Jadi aku milih buat ambil perusahaan itu," Ucap Leon, ia mengambil kopinya di meja dan meminumnya.
"Woah, terus kok bisa Crill jadi perusahaan kamu? Apa mami yang ngasih?" Tanya Jena. Ada kata-kata yang tidak Leon suka disana, ia sedikit tersinggung.
"Iya. Mami bilang sebelum bunda wafat, bunda ngasih wasiat kalau aku punya beberapa saham di perusahaan Aditama. Jadi aku ambil cabang sana."
Jena mengangguk, sepertinya dia mulai paham sekarang. Pandangannya justru jatuh ke wajah tampan Leon yang berbeda. Dahulu wajahnya terlihat masih kekanak-kanakan, lalu sekarang laki-laki itu terlihat---dewasa.
"Terus mbak?"
"Hah? Apanya?" Tanya Jena dengan linglung. Leon terkekeh di depannya.
"Kok bisa punya perusahaan sendiri? Keren banget."
"Oh, gue gitu dong. Gue mulai bikin perusahaan sendiri dari awal semester 2 kuliah. Itu masih baru banget, belum dapat apa-apa. Modalnya gue dapat dari hasil tabungan. Tabungan itu udah dari SD. Rintis kecil-kecilan terus sekarang alhamdulillah besar."
"Mbak selalu keren! Dari dulu bikin aku kagum terus."
"Biasa aja tuh, lo sibuk gak?"
Leon melirik kearah jam nya, lalu menggeleng 'kan kepalanya. Jena berdecak, ia menujuk ponsel pintar Leon yang berdering oleh panggilan telfon.
"Ponsel lo bilang nggak. Gih," Jena memberikan tangan gestur mengusir, Leon mengangkat telfon tersebut.
"Iya halo."
"Baik, saya segera kesana."
Leon melirik sebentar kearah Jena, lalu berpamitan. "Mbak, izin pamit duluan. Sudah waktunya balik ke luar kota. Tapi aku bakal sering kesini," Ucap Leon.
Jena mengangguk, dan saat itu juga Leon pergi dari coffe tersebut. Jena menghela napas nya panjang.
"Asal lo tau, kalau gue masih kesel sama lo."
###
Jena di sambut baik oleh teman-teman nya, hari ini dia malas pulang ke rumah dan memilih mengajak Nana dan juga Ariel untuk bertemu.
"Kangen deh," Ucap Nana.
"Iya bener, sibuk banget kita akhir-akhir ini."
Jena mengangguk setuju dengan perkataan Ariel. Ia mengambil beberapa kue kering dari toples lalu memakan nya.
"Gibran masih ngumpul sama anak-anak motor itu ternyata," Nana terbangun dari posisi tidur nya, lalu menatap lengkat ke arah Jena.
"Iya, gimana ceritanya?"
"ya gak gimana-gimana.. Gue cuman gak sengaja bertemu Gibran lagi nongkrong bareng teman-teman nya yang lain."
"Tante gue marah banget lihat Gibran pulang jam segitu. Mana pakaian nya gak benar," Ucap Nana dengan decakan kesal.
"Terus Gibran sekarang kuliah dimana?" Tanya Ariel.
"Kuliah di luar kota Riel, katanya mau satu kuliah sama si Leon."
"Loh? Gue jadi keinget sesuatu," Ucap Jena dengan serius. Kini Ariel dan juga Nana mendekat ke arah Jena yang serius.
"Apaan?" Tanya Ariel, Jena menelan kue kering itu, lalu melanjutkan perkataan nya.
"Tadi gue ketemu sama Leon tanpa sengaja. Dan dia makai jas gitu, gue tanya. Dia lagi ngapain dan kemana, dan di jawab mau rapat gak tau nya dia direktur di salah satu anak cabang papi gue yang di luar kota. Ngeri gue lihatnya," Jena berbohong dengan ceritanya, ia sengaja mengubah awal cerita nya saat bertemu dengan Leon. Karena Nana dan Ariel tidak mengetahui bahwa Jena memiliki perusahaan sendiri.
"Loh bagus dong kalau begitu. Lo jadi jarang ketemu dia deh," Nana mengangguk-angguk kepala nya setuju dengan ucapan Ariel.
"Siapa juga yang mau sering ketemu sama dia. Najis! Eh tapi dia tampan sekarang, aura-Nya dewasa. Berbeda dengan dulu yang masih ber-aura kekanak-kanakan."
"Tanda-tanda nih?"
"Apa?" Tanya Jena penasaran dengan ucapan Nana yang meng-ambigu 'kan.
"Gak papa," Jena mencibir 'kan mendengar lanjutan dari perkataan Nana.
"Lo yakin Jen, kalau Leon tuh cuman anak angkat bokap sama nyokap lo?" Tiba-tiba saja Ariel membuka pembicaraan. Jena dan Nana dengan bersamaan menatap kearah Ariel.
"Yakin. Emang nya kenapa?" Tanya Jena.
"Ya aneh aja, mami lo ngasih perusahaan nya ke Leon kan?" Tanya Ariel, Jena mengangguk.
"Katanya Leon. Sebelum bunda nya wafat, atau ibu kandung nya si Leon wafat, pernah di wasiatkan beberapa saham dari perusahaan Aditama. Gue yakin Leon anak angkat karena gue lihat sendiri pas Leon di ambil dari panti asuhan."
"Terus apa hubungan bunda nya Leon sama orang tua lo sampai Leon dapat wasiat kalau dia punya saham dari perusahaan Aditama?" Jena diam membisu dengan pertanyaan Ariel. Benar, dia tidak pernah terfikir kan akan hal ini.
"Gue jadi kepikiran, gue keep pertanyaan lo Riel. Gue bakal nyari tahu, anyways. Kalian kapan sidang?" Tanya Jena.
"Lo kapan emang Jen? Gue skrip aja belum," Kata Ariel.
"Gue juga belum Jen, masih tunggu judul di acc sama dosbim."
"Loh? Kok kalian lama sih? Gue udah mau sidang bentar lagi," Ucap Jena. Nana dan Ariel terlihat lesu mendengarnya.
"Semangat! Jangan lesu dong."
Ucapan Jena hanya angin lalu bagi Nana dan Ariel sekarang, sedangkan Jena terkekeh melihat eskpresi kedua temannya yang terlihat lemas.
"Bay the way, Tama dan kawan-kawan gimana?" Tanya Jena. Ariel mengidikan bahu nya.
"Gue gak tau, bodoamat juga sih, gue udah bisa lepas," Pandangan Ariel dan Jena otomatis kearah Nana yang tersenyum kearah mereka.
"Gue masih belum...."
Ariel dan Jena menghela napas, disusul oleh Nana. Dari dulu, mereka selalu saja gagal dalam urusan cinta. Seperti mereka tidak ditakdirkan untuk merasakan kejam nya dunia percintaan.
"Malang nya nasib kita,"
"Hahahahaha,"
###
Jena pulang. Dan di sambut ramah oleh Kisum.
"Non Jena, langsung duduk makan ya, saya sudah siapkan makanan kesukaan nona Jena, resep dari nyonya besar."
"Waduh, terimakasih ya bi," Kisum mengangguk, lalu pamit pergi darisana.
Karena semua sudah di siapkan, Jena hanya perlu memakan saja. Memakan makanan dengan diam.
Hingga, sebuah bubble chat mengalihkan atensi nya.
"Ini Leon, simpan. Untuk memperlancar kerja sama." Isi chat tersebut.
Jena hanya membaca nya lewat notif, dia tidak berniat sama sekali untung membalas chat dari Leon. Notif baru masuk, tapi dari orang yang berbeda.
"Jen, ini Tama. Apa kabar?"
"Ck, masih punya nyali dia buat ngechat gue,"
Jena mempercepat makan nya, lalu pergi begitu saja dari dapur.
###
jangan lupa buat baca cerita lainnya dari akun ini ya, thank youu