"Senang deh kalau papi udah di bolehin pulang," Kata Wenda sambil membereskan seluruh pakaian milik suami nya.
"Emang beda?" Tanya Jena berjalan yang juga sedang membantu mami nya membereskan pakai milik papi nya.
"Bedalah. Vibes nya tuh beda, tapi sayang nya pulang dari rumah sakit papi mau pergi ke luar kota."
Perkataan mami nya membuat kegiatan Jena terhenti. Lalu Jena menatap ke arah kedua orang tua nya.
"Yang benar aja, masa baru boleh keluar udah mau keluar kota aja. Emang di bolehin?"
"Boleh, sekalian berobat disana," Baiklah, setidaknya mendengar ini membuat Jena lega.
"Yaudah kalau gitu."
Dan percakapan pun berakhir, Wenda dan Jena yang sibuk beberes. Dan Cahyo yang sibuk memainkan laptopnya.
"Besok kamu mau ikut keluar kota gak Jen?" Tanya papi nya. Jena menggeleng. Dia sudah ada jadwal mengajar di panti asuhan dan jadwal rapat dengan anak cabang perusahaan papi nya yang dari luar kota.
"Kan kamu dapat libur, masa gak bisa?" Kali ini Wenda yang bertanya untuk memastikan. Dan lagi-lagi, Jena menggeleng kan kepalanya.
"Benaran gak bisa, mi, pi. Lain kali aja ya Jena ikut, udah nyaman juga disini. Jena gak terlalu suka keluar-keluar kayak gitu."
"Okelah kalau gitu,"
###
Besoknya. Jena tidak melihat adanya keberadaan kedua orang tua nya. Yang ia lihat adalah bi Kisum yang sedang memasak sarapan. "Bi, Mami sama papi kemana? Sudah berangkat?" Tanya Jena yang mendapat gelengan dari Kisum.
"Nggak non, nyonya dengan tuan besar pergi sebentar untuk berbelanja. Non Jena mau dimasakin apa?"
"Apa saja deh bi, selain batu dan bata."
"Iya dong, masa makan batu dan bata. Yasudah sepuluh menit lagi makanan akan datang!"
Jena mengeluarkan ponsel nya dari saku celana nya, membaca satu persatu pesan yang bermunculan dari teman-teman nya. Dari sekian banyak nya yang memberi pesan, hanya pesan dari Zana yang di balas oleh Jena. Tidak terasa Jena menunggu masakan nya jadi dengan lama hingga membuatnya tertidur.
Hingga, sebuah tepukan perlahan dan lembut mengenai tangan kanan Jena, dan tangan kiri nya yang menjadi bantal nya tertidur terasa kebas. "Jena, bangun! Kamu semalam begadang ya?" Suara cempreng yang sangat khas terdengar di pendengaran Jena, sehingga membuat mata Jena terbuka sepenuhnya.
"Mami kapan pulang? Papi mana?"
"Makan dulu itu, dari tadi lauknya sudah jadi, tapi bi Kisum gak berani bangunin kamu, sana makan!"
"Iya ini makan," Dengan malas, Jena berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang berkeringat.
"Jena! Udang nya tinggal dikit!" Mendengar teriakan Mami nya, dengan secepatnya mungkin Jena membasuh wajah nya, dia sangat suka dengan hewan laut itu.
"Sisakan Jena udang!"
###
Jena berada di depan panti asuhan yang sering ia kunjungi. Baru masuk selangkah, dirinya di sambut dengan teriakan dan pelukan dari adik-adik panti asuhan disana. Bersamaan dengan itu, Bu Yanti dan Juna keluar menyambut Jena juga.
"Mbak Jena! Kangen!"
"Anggen mbak jen. Angen!" Ucap salah satu anak kecil yang masih belum mengucapkan kata dengan benar.
"Kangen kalian juga!" Balas Jena sambil memeluk beberapa anak kecil disana. Lalu mengajak mereka masuk.
"Ayo kita masuk, mbak bawa sesuatu..." Jena memberikan isyarat ke arah Juna untuk membantu nya membawa makanan yang ia beli tadi. Setelah itu Juna mendekat ke arah Jena.
"Mbak, kunci mobil?"
Jena mengeluarkan kunci mobil nya dari saku laku memberikan nya pada Juna. "Minta tolong jun," Setelah mengucapkan itu mereka berpisah, Jena membawa adik-adik panti itu masuk ke dalam panti asuhan. Sedangkan Juna membawa makanan yang di beli Jena.
"Mbak Jena kok jarang kesini? Eni udah hapal bahasa Inggris nya Harimau tau!" Ucap Eni dengan semangat.
"Masa sih? Coba sini kasih tau mbak bahasa inggris nya harimau apa?"
"Tiger!"
"Ih salah Eni. Yang bener itu lion!" Sanggah anak kecil di samping Eni. Setelah mendengar sanggahan teman nya, Eni mendengus tak suka.
"Bukan Kala. Bahasa inggrisnya harimau itu tiger!" Ucap Eni kembali dengan kepercayaan diri yang tinggi. Jena yang dapat merasakan hawa-hawa ingin bergelud akhirnya mengalihkan topik pembicaraan.
"Ih makanan nya udah dateng!"
"YEAY!" Jena berhela napas syukur, untung saja Juna datang dengan makanan yang dia beli. Jika tidak adik nya Juna pasti akan berantem dengan teman nya bernama Kala.
Jena menghampiri Juna. "Adik-adik, ayo berbaris! Mbak bagikan."
Sesuai perintah Jena, adik-adik panti itu berbaris dengan rapi untuk mendapatkan camilan. Tanpa kecuali adiknya Juna. Karena adik panti terbilang banyak, Jena menghabiskan waktu sekitar 4 menit untuk membagikan adik-adik camilan dengan rata.
Setelah semua camilan terbagi rata, Jena berceletuk. "Nah! Udah dapat camilan nya kan? Ayo sekarang kita belajar."
Jena mengeluarkan papan kecil dan spidol nya, lalu menjelaskan adik-adik panti itu pelajaran bahasa inggris. Di mulai dengan kosa kata ringan dahulu.
Sampai tidak terasa sudah siang, Jena berpamitan dengan para adik panti dan juga bu Yanti.
"Ibu, saya pamit pulang dahulu kalau begitu ya," Pamit Jena pada bu Yanti.
"Iya nak, ingat untuk hati-hati di jalan."
"Kalau begitu... Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam."
Jena pergi panti asuhan itu, dan bergegas menuju kantornya. Karena hari ini ada rapat kerja sama dengan anak cabang perusahan papi nya dari luar kota. Zana saja sudah berkali-kali menelfon Jena. Tapi Jena tidak memperdulikan nya.
Sesampainya di kantor, ia mengambil jasnya di ruangan nya lalu mengikuti Zana menuju ruang rapat.
"Nyojen, mereka sudah menunggu sekitar dua menit yang lalu."
"Baik."
Sampainya Jena di ruang rapat, ia langsung duduk di tempat nya. Lalu mulai mengangkat pembicaraan, "maaf atas keterlambatan saya. bisa kita mulai?"
"Maaf sebelumnya bu, direktur kami sedang di kamar kecil."
"Oh? Baik akan saya tunggu ya."
Jena mengajak salah satu anak buah perusahaan Crill untuk berbicara. Sedangkan Zana sedari tadi memperhatikan jam dan juga pintu rapat.
"Maaf lama menunggu. Tadi sedikit ada masalah."
Jena melirik ke arah pintu rapat yang terbuka dan suara berat yang familiar di telinga nya. Memperhatikan wajah direktur itu setiap rinci dengan wajah kagetnya. Begitupun orang yang baru datang tersebut. Ia tidak dapat menutupi rasa terkejut nya.
"Nyojen, sudah bisa kita mulai."
Mata Jena yang ter-fokus kearah orang tersebut kini mempusatkan perhatian nya kearah Zana. Ia pun mengangguk.
"Tidak apa-apa tuan. Bisa langsung kita mulai ya?" Semua yang berada di ruangan itu mengangguk. Lalu direktur dari perusahaan Crill mulai menjelaskan model kerja sama mereka.
Jena terus memperhatikan direktur tersebut menyampaikan. Ia menatap kagum dan terkejut. Tapi lain lagi yang di lihat oleh direktur tersebut. Di mata direktur itu, Jena sedang memperhatikan nya dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Sekian dari kami,"
"Bagus. Saya suka dengan model kerja sama nya, kita sama-sama untung. Akan saya kirimkan kontrak kerja sama nya. Senang bekerja dengan perusahaan Anda, Tuan Leon."
"Senang bekerja sama dengan Anda juga, Nyonya Jena."
Mereka berdua berjabat tangan, tatapan mereka berdua sama-sama dingin dan menusuk. Oh tidak, hanya Jena saja. Bahkan Zana sampai bergidik ngeri melihat nya. Begitupun anak buah Crill entertainment.
Jena mendekatkan badan nya menuju Leon, lalu membisikan sesuatu. Tentu saja yang berada di ruangan rapat tersebut terkejut melihat adegan ini.
"Tidakkah kita harus berbicara. Tuan Leon?"
"Moca caffe sebelah perusahan, deal?"
"As your wish."