Bagian 29 : Kangen Leon?

1065 Kata
"Hari ini saya ada urusan jadi gak bisa hadir rapat kali ini." "Iya, tolong ya, Zana. Baik, terimakasih," Jena mematikan telfon nya lalu kembali menuju meja makan tempat teman-teman nya berkumpul. Ingat yang ajakan pergi merayakan hari terakhir magang? Nah hari ini mereka rayakan. Di tempat bibinya Nana punya. "Duduk sini Jen," Ajak Andini di sebelah nya. Jena tersenyum lalu duduk di samping Andini. "Pada bahas apa nih?" Tanya Jena. "Ini loh, si Dery katanya suka seseorang di tempat magang, cielah," Sambung Andini. Setelah mengatakan itu, terlihat wajahnya Dery masam. "Widih, siapa tuh der?" "This is secret, rahasia." Balas Dery, Jena terkekeh lalu mengambil gorengan diatas meja, lalu memakan nya. "Jen, kamu rencana mau kerja dimana?" Tanya Dery. "Kerja? Eum, kebetulan ayah saya punya perusahaan, jadi saya bantu megang nya, " "Oh gitu, nama panjang kamu siapa sih Jen? Kita tahu nya Arjena doang," Kata Dery penasaran. "Arjena Aditama," Balas Jena. Tiba-tiba kegiatan Dery dan juga Andini terhenti, menatap Jena tanpa berkedip. "A-aditama? Pemilik perusahaan... Wow, sepertinya saya beruntung magang sama anak nya pak Aditama," Kata Andini tanpa berkedip sekali pun. "Emang kalian kenal?" Tanya Jena. "Anak bisnis, mustahil gak kenal," Sambung Dery yang mendapatkan anggukkan dari Andini. "Udah ah, itu makanannya udah mau gosong, buru di makan." Alibi saja, makanan nya mana ada yang gosong. Tapi entah kenapa Dery dan Andini tetap percaya. "Nggak tuh," "Bercanda. Maksud saya tuh, ayo makan," Setelah mengatakan itu semua nya menyantap makanan mereka sampai sesekali bergurau. "Eh tapi Jen, bukan nya perusahaan tempat kita magang sama perusahaan ayah kamu itu musuhan?" "Iya, benar. Kita musuhan, tapi gak papa kok, saya gak bocorin tentang perusahaan mereka. Diam-diam saja," Kata Jena. "Jen! Yuan'corp katanya mau kerja sama dengan anak cabang nya aditama yang di luar kota, sama perusahaan inti Aditama. Nanti kalau Jena ikutan rapat, tolong dong kasih tahu ke bos nya, kalau saya penggemarnya." Dery terkekeh gemas mendengar permintaan Andini yang menurutnya unik. "S-siap, nanti saya sampaikan." Baik, Jena maupun Andini dan Dery, mereka kembali melanjutkan menyantap makanan nya. ### "Jadi juga ke sini?" Dimana Jena berada sekarang? Jena berada di rumah sakit, tempat papi nya di rawat. Jena datang dengan buah-buahan di tangan nya. Ia datang setelah pergi merayakan hari terakhir magang. "Jadi dong," "Arjena, kamu sudah fikirin tentang tawaran papi waktu itu?" Tanya papi nya. "Pi, Jena baru datang. Nanti saja ya," Ucap Jena,yang kini masih berdiri di depan pintu. "Yaudah kalau gak mau, terpaksa papi mau lanjut kerjain. Keluar kota terus bareng mami," Kata Cahyo. "Jaga kesehatan," "Mi, Leon disana kuliah ambil jurusan apa?" Tanya Jena pada mami nya yang sedang mengupas buah Apel untuk papi nya. "Leon? Oh.. Gak tau, eum- mami gak tahu, soalnya belum ngechek kesana." "Loh, bukan nya Leon itu udah peg---" Perkataan Cahyo tertunda sebab Istrinya menyumpal mulutnya dengan apel. "Peg? Apa tuh pi?" Tanya Jena ulang. "Gak papa, gimana tadi pesta nya? Meriah gak? Pasti nggak ya, soalnya gak ada Mami. Hahahaha," Jena berjalan menuju sofa, dan pura-pura tidak mendengar. Setelah itu Jena tertidur di sofa nya. "Jena sudah dewasa ya pi," Kata Wenda sambil melirik ke arah Jena yang tertidur di sofa dengan cepat. "Iya, udah gak ada Jena kecil yang minta di beliin gedung-gedungan, hahhaha," Mereka berdua menatap Jena penuh kasih sayang, tersenyum hangat melihat putri nya benar-benar tumbuh dengan baik. Sudah bangun, Jena sudah bangun dari tertidur nya di sofa, badan nya pegal semua karena seharian tidur di sofa. iya, seharian. "Kok Jena tidurnya lama banget sih? Astaga, gimana nih," Kata Jena dengan mengacak rambutnya frustasi. "Emang nya kenapa kalau kamu tidur sampai pagi? Kan emang biasa nya gitu," Kata Wenda. "Gak gitu, soalnya nih ya, Jena ada janji malam itu. Astaghfirullah," "Janji apa?" "Pergi ke perkumpulan jomblo, bercanda. Kepo ah mami, gak asik, kepoan," Ucap Jena dengan bercanda. Wenda malah menatap nya sinis. "Yaudah, gak peduli." "Ok, Jena mau balik ke rumah dulu ya. Dah papi, dah mami!" Jena langsung pergi dari sana menuju rumah nya. Wenda menggelengkan kepalanya. "Itu anak apa gak mau cuci muka dulu?" Di lain tempat, Jena malah berlari di rumah sakit, bahkan tanpa sengaja ia menabrak seorang dokter. "Maaf dok," Setelah mengatakan itu, Jena kembali berlari. ### "Bisa Kisum mau kemana?" Tanya Jena pada Kisum yang sudah rapi. "Ini non, bibi mau balik kampung sebentar. Anak nya bibi yang pertama mau melahirkan." "Wah, minta alamat nya sini. Nanti kalau Jena mau datang, kan bisa langsung," Kata Jena. "Eh.. Buat apa mau kesana non, disana kan kumuh, gak usah deh." "Jangan gitu ah bi, ayo tulisin alamat nya." Kisum melaksanakan apa yang di suruh oleh Jena. Menulis alamat rumah nya di kampung di atas kertas. "Okey, nanti agak siangan Jena kesana. Kalau gitu Bi Kisum hati-hati ya di jalan, kalau ketemu orang yang gak di kenal, jangan dekat-dekat." Jelas Jena. Bi Kisum mengangguk, lalu pergi dengan taksi, mengucapkan selamat tinggal. Lalu pergi. "Okey, it's time to shopping!" Ucap Jena dengan semangat yang membara. Dengan segera Jena bersiap-siap. Selesai bersiap-siap, Jena mau langsung menuju mall. Kali ini ia menggunakan mobil sendiri, karena gak ada yang jaga rumah, jadi pak supir yang akan jaga rumah. "Akhirnya!" Sebenarnya kalau shopping tuh enak nya bareng teman. Kalau sendiri agak hampa. Tapi bisa di bilang, perjalanan Jena menuju mall itu membuat badmood. Karena di jalan banyak orang yang kencan, di lampu merah, di jalan, dimanapun ada. Bahkan hingga mall pun ada. Sampai Jena jengah sendiri melihatnya. "Bodo amat deh, mari laksanakan shopping sebagai jomblo!" Jena berjalan kesana kemari menghabiskan debit kartunya. Bahkan bukan belanja yang sedikit, dia pergi ke perlengkapan bayi, untuk membelikan kado untuk cucu nya bi Kisum. Selain perlengkapan bayi, Jena juga membeli mainan. Setelah itu, Jena membeli emas. Jena tuh orang yang suka beli emas tapi bukan untuk di pakai. Melainkan untuk di simpan menjadi tabungan. Setelah membeli emas, Jena beralih menuju toko kosmetik. Yups! Dia pergi ke toko yuan. Meliha-lihat barang disana. Membeli beberapa kosmetik untuk dirinya. Dan akan di coba nanti saat di rumah. Selesai membeli kosmetik, Jena beralih membeli ke barang yang dia butuhkan. Setelah selesai membeli semuanya, barulah Jena memesan makanan. Tapi sialnya, saat di tempat, isi nya penuh dengan pasangan remaja. Ah, jika seperti ini entah kenapa dia terfikir kan Leon. Aneh. "Masa gue... Kangen dia sih?" ### Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN