Bagian 28 : Moci

1124 Kata
"Tadi gue lihat ponakan lo lagi nongkrong," "Iya," "Ber-22 sama dia. Btw, ganteng-ganteng tahu teman-teman nya. Gebet Na," "Hahahahha," "Eum.. Goodbye!" Jena tadi sedang menelfon Nana, memberitahukan tentang Gibran yang dia temui sedang nongkrong sedangkan Nana yang di titipin Gibran harus menjaga nya. "Hoam.. Ngantuk juga ya, tapi aneh, gak mau tidur. Padahal ngantuk, kenapa ya," Ucap Jena sambil melirik kaca jendela kamar nya, yang menampakkan taman di rumah nya. "Pengen nikah," "Tidur. Nikah tuh harus di fikirin matang-matang, lagian kamu ada calon?" Seperti biasa, Wenda masuk tanpa adanya aba-aba. Tentu saja Jena terkejut dengan suara Mami nya yang tiba-tiba mengganggu nya. "Kaget nih, sana tidur!" Jena menggeleng, benar di mengantuk, tapi dia tidak bisa tidur. Hanya mata nya yang lelah, tapi yang lain tidak. "Mami, awal ketemu papi gimana?" Tanya Jena tiba-tiba. "Yaudah gitu, ketemu, terus falling in love. Nikah, punya kamu deh," Jena berdecak lalu memutarkan bola mata nya jengah. "Serius mi, aduhh," Kata Jena. "Itu serius, mami sama papi tuh ketemu sekali, datang-datang udah di lamar. Keren kan, langsung deh mami Terima, siapa coba yang gak Terima cowok kaya terus ganteng tiba-tiba lamar? Gak ada lah," "Iya deh, iya, udah sana mami, Jena mau tidur." Sesuai keinginan Jena, Wenda keluar dari kamar anak nya. Jena pun begitu, melakukan keinginan mami nya yaitu, tidur. Esok hari nya, Jena turun ke dapur, entah mimpi apa semalam. Dia mencoba untuk memasak sekarang. "Lihat resep di yotub kayak bisa nih, semangat!" Jena mulai memasak, dan mengikuti langkah-langkah yang ada di yotub. Soalnya Jena tidak terlalu tahu bumbu-bumbu yang ada di dapur, dan masih belum bisa membedakan sayuran. "Heh! Dapur mami!" Wenda datang dengan suara rusuh nya ketika melihat Jena sedang memasak. "Kamu ngapain Jena? Astaghfirullah, mami masih sayang dapur mami!" "Diam ah mi, Jena lagi belajar masak nih." Kata Jena yang sedang fokus memasak, tidak memperdulikan apa yang mami nya katakan dan hebohkan sedari tadi. "ARJENA, ITU GARAM NYA KEBANYAKAN!" Celaka sudah, celaka. Sepertinya Jena mimpi hal yang bagus, tapi bagi Wenda mimpi buruk. "Masa sih, orang di yutub gitu kok," Kata Jena yang sedang membela diri. "Dengerin kalau orang tua ngomong itu, udah biar mami aja." "Gak! Ihh, Jena kan mau belajar masak gimana sih mami!" "Yaudah, sini mami ajarin." Akhirnya Jena setuju, dan belajar memasak di ajari oleh mami nya. "Nah, sekarang tambahin gula, sedikit doang." Jika Cahyo ada disini, dia pasti terharu melihat Istri dan Anak nya akur. Walaupun anak dan ibu, tapi vibes nya selalu seperti sahabat. ### "Gimana magang sudah selesai, tinggal skripsian 'kan?" Tanya Wenda. Selesai memasak, mereka berdua menyantap makanan nya sambil berbincang-bincang Menceritakan hari. Ini nama nya, family time. "Iya, tinggal skripsian. Oh, nanti aku mau pergi makan-makan, merayakan selesai magang aku sama teman-teman magang kemarin di kantor Deva." Wenda mengangguk, lalu melanjutkan pertanyaan nya. "ngomong-ngomong, Deva kemana? Kok gak pernah lihat lagi setelah waktu itu." "Udah punya cewek dia, maka nya sibuk terus. Gak pernah mau di ajak ketemu," Kata Jena. Ini ada bohong dan ada benarnya. Yang benar itu saat Deva punya cewek, dan yang bohong nya saat Deva tidak mau di ajak ketemu. Yang tidak mau bertemu itu Jena. "Padahal, mami suka banget sama dia. Cocok sama Jena," Kata Wenda. "Gak seiman," Balas Jena. Sekarang Wenda bungkam dengan perkataan Jena. Ada benarnya, memang tidak di takdirkan bersama. "Ayo cepat makan, nanti mami mau pergi ke rumah sakit, jenguk papi lagi." "Iya, Jena juga mau lanjut tidur," Setelah mengatakan itu, Jena di tatap oleh mami nya. Jena pun menatap balik seolah tidak melakukan kesalahan. "Kenapa?" Tanya Jena. "Kamu... JANGAN TIDUR LAGI ARJENA! Udah pagi, astaghfirullah," Wenda seperti nya, harus di periksa ke rumah sakit deh, takutnya tensi nya naik gara-gara satu bocah saja. "Mami penasaran, Arjena saja sudah bikin mami frustasi, gimana kalau Jendral? Anak cowok lebih susah di kasih tahu," Ucap Wenda. Jena berhenti, Wenda yang menyadari hal itu mulai berdehem untuk tidak mempercanggung keadaan. Setelah makan, sesuai perkataan Wenda, ia pergi menuju rumah sakit. Jena yang melihat kepergian mami nya pun bersiap-siap untuk pergi. Pergi kemana? Tentu saja ke yuan'corp. Setelah dari yuan, barulah Jena menuju panti asuhan. "Selamat pagi Nyojen!" Sapa karyawan kepada Jena. Jena pun membalas sapaan mereka dengan senyum manis. "Selamat pagi juga semua, semangat bekerja ya. Dan jangan lupa absen." Jena berjalan menuju ruangan nya. Duduk, lalu mulai membaca berkas-berkas tersebut. "Hari ini kita dapat dua email yang mengajak kita kerja sama. Boleh Nyojen periksa disini," "Aditama? Inikan?" "Iya benar, sepertinya ayah nyojen tidak tahu, mereka mengajak kuat kerja sama. dan ingin nyojen yang turun tangan untuk rapat." "Bilang kalau saya gak tidak bisa ikut rapat, karena ada urusan mendesak, kalau mami saya yang rapat nanti bahaya, papi saya sedang di rumah sakit soalnya." "Baik," Zana segera membalas surel email itu dengan kata maaf. "Satu lagi ini ada di luar kota ya. Crill intertaiment, wah ini artis. Boleh nih kerja sama disini. Eh ini kan salah satu cabang milik Aditama." Kata Jena, Zana pun menyahuti perkataan Jena. "Benar Nyojen, itu salah satu cabang milik Aditama yang berada di luar kota." "Baiklah, segera kirimkan surel bahwa kami setuju." ### Balik dari yuan, Jena kini pergi ke panti asuhan. Sudah kangen dengan adik-adik panti. Jangan lupakan Jena yang membawa banyak makanan ringan untuk mereka. "Assalamu'alaikum, selamat pagi adik-adik!" "Pagi kak Jena!" Balas mereka. Jena tersenyum manis. "Kak Jena ke bu Yanti dulu ya, nanti kita main." Setelah meninggalkan kumpulan anak kecil itu, Jena berjalan menuju bu Yanti. Jam segini biasa nya Bu Yanti ada dimana ya. Dia bingung, malah nyasar ke kamar. Kamar itu ada isi nya, ada cewek yang sedang belajar. Cewek nya sekitar umuran anak SMA, kelihatan seumuran dengan Juna. "Halo, boleh nanya? Bu Yan---" "Bantu jawab soal ini dulu, baru gue kasih tahu," Potong Anak itu. Jena ddal hati menahan kesal, tapi tetap mendekat untuk membantu anak itu mengerjakan soalnya. "Mana? Soal yang mana?" Tanya Jena. "Ini," Tunjuk gadis itu. Dan Jena pun mulai menjelaskan jawaban nya secara detail ke Gadis itu. "Nah udah kan, bu Yanti dimana? Nama kamu siapa?" Tanya Jena beruntun. "Satu soal satu pertanyaan, bu Yanti jam segini lagi cuci baju, atau gak lagi ambil barang atau bahan makanan. Jadi di tunggu aja," Jawab Gadis itu dengan jutek. "Kalau kita ketemu lagi, dan kamu belum ngerjain soal yang susah, terus saya belum tahu nama kamu. Tidak akan saya bantu, semangat." Setelah mengatakan itu, Jena berdiri dan siap untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika Gadis itu mengucapkan nama nya. "Yunita moci." Jena tersenyum puas, setelah mendengar nama anak itu. Lalu dia berbalik lalu tersenyum, "Arjena, 24 tahun," Setelah itu, Jena meninggalkan kamar itu. ### Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN