Jena menatap tidak percaya ke arah Rio yang menentengkan tas nya dan koper yang di bawa oleh orang tua angkatnya. Hari ini, Rio akan di adopsi oleh keluarga kaya. Katanya, ibu itu ingin memiliki anak laki-laki. Tapi Tuhan belum memberikan nya. Jadi hari ini dia datang untuk mengadopsi Rio.
"Kenapa mbak?" Tanya Juna yang datang bersama dengan Eni di belakang nya.
"Gak papa, cuman ada rasa sedih dan bahagia jadi satu lihat Rio di adopsi. Sedihnya karena mungkin kita bakal jarang ketemu Rio, apalagi katanya Rio mau di bawa keluar kota. Bahagia nya, akhirnya Rio punya keluarga lengkap. Dan bisa sekolah dengan layak," Ucap Jena panjang lebar.
"Kak Jena, keren!" Celutuk Eni. Jena yang melihat ke arah Rio kini melihat ke arah Eni yang tiba-tiba memuji nya.
"Apanya yang keren?"
"Eni udah denger cerita dari bang Juna. Kak Jen, keren banget!"
"Hahahahaa, makasih. Ayo siap-siap kedalam," Jena menarik lengan Eni, membawa gadis kecil itu masuk, dan meninggalkan Juna sendirian.
"Makasih mbak Jena," Gumam Juna.
###
Seminggu sudah berlalu, dan kali ini para magang mengadakan pesta perpisahan. "Andini, huhu, bentar lagi pisah nih."
"Iya nih Jen, waduh. Sedih banget sih,"
"Rayain nya mau dimana nih? Kita para pejuang skripsi lagi bentar," Kata Jena.
"Di mana-mana boleh Jen," Ucap Dery yang baru datang dari luar.
"Oke, jadi saya ada rekomendasi tempat bagus dan enak untuk merayakan! Yang lain ikut?" Tanya Jena
Semua yang di ruangan itu mengacungkan jembol nya. "Ikut," Walaupun jujur, mereka tidak dekat dengan Jena. Tapi kan acara ini untuk mereka yang berada di ruangan magang ini.
"Permisi, atas nama Arjena, di panggil oleh pak Deva." Jena mengangguk, lalu izin sebentar pada teman-teman nya untuk pergi.
"Di panggil lagi tuh, semangat!"
Jena berjalan dengan tenang untuk menuju ruangan milik Deva. Saat membuka pintu, Terkejutnya Jena saat melihat ada kegiatan panas antara Deva dan perempuan yang dulu pernah berdebat dengan nya.
Dengan cepat Jena kembali menutup pintu tersebut. "Maksud nya apa sih? Manggil-manggil mulu, terus pasti keadaan nya lagi kayak gitu, untung bos."
Perjalanan balik menuju ruang magang, Jena tidak henti-hentinya menggerutu tentang Deva.
Pasal nya dari seminggu yang lalu, Deva selalu menyuruh nya menuju ruangan miliknya, tapi yang dia dapat zonk. Kadang Deva rapat mendadak lah, lakuin hal kayak tadi, jalan-jalan sama perempuan tadi. Sebenarnya mau ngomong apa sih dia.
Tiba-tiba ide terlintas, "kenapa gak gue chat dulu aja ya. Haduh,"
Sebalik nya ke ruangan para magang, Andini yang paling dulu mengerumuni Jena. "Kenapa? Pak Deva bilang apa?"
"Jangan bahas itu ah, kapan-kapan saya cerita. Lanjut tugas, tugas saya tinggal sebentar selesai."
Sesuai perkataan Jena, Andini kembali mengerjakan tugas nya.
Sepulang dari perusahaan Deva. Jena pergi menuju perusahaan kecil milik nya sendiri. Baginya menyenangkan mendirikan perusahaan sendiri tanpa memberi tahu satu orang pun.
"Bu ceo, selamat datang!" Sambut para karyawan, Jena tersenyum lalu mengucapkan "selamat sore semua, semangat bagi yang lembur, dan beristirahatlah yang sudah mau pulang."
Oh, jangan lupakan fakta bahwa Jena mengganti pakaian nya dulu sejak bercana mau kesini. Takut ada yang mengenali nya.
"Terima kasih bu," Setelah itu para karyawan pergi menuju tujuan nya masing-masing.
"Yang lembur, jangan lupa persiapan rapat nya."
"Baik bu," Jena berjalan menuju ruangan nya, sambil merebahkan diri di sofa ruangan nya. Badan benar-benar lelah.
"Bu Zan, hari ini hanya pengeluaran brand baru kan?" Tanya Jena. Bu Zan alias sekretaris Jena mengangguk. Bu Zan tidak dingin, tapi memang pendiam.
"Bagaimana nyonjen, magang nya lancar?" Nyojen adalah panggilan yang dibuat oleh Zana. Nyojen kepanjangan dari nyonya Jena.
"Lancar-lancar ke hambat, masalah tugas kantor dan lain-lain itu lancar. Masalah pribadi nya nggak,"
"Nyojen falling in love?" Pertanyaan Zana itu membuat Jena tertawa. "Nggak lah, hahahahaha lucu ah."
"Oh iya, selama saya gak ada. Bagaimana karyawan dan produk kita, aman?" Tanya Jena. Zana mengangguk, lalu memberikan berkas ke Jena.
"Itu hasil presentase ke untungkan dari produk kita. Karena semakin lama produk, ah, merk kita di kenal, maka cabang kita di perluas hingga internasional. Itu baru optini saja,"
"Gak papa, saya setuju. Itu bakal sangat menguntungkan bagi kita, walau butuh dana yang banyak. Karyawan gimana? Gak ada yang macem-macem?" Zana kembali mengangguk.
"Semua aman, tapi bu direktur mengundurkan diri akhir-akhir ini, karena sedang hamil besar dan juga suami nya tidak ingin melihat bu Direktur bekerja."
Penjelasan Zana membuat Jena mengangguk kan kepalanya. "Ok, bagus."
"Nyojen, sudah waktunya rapat."
Jena berjalan menuju ruang rapat bersama dengan Zana. Dirasa sudah cukup orang yang rapat, Jena memulai rapat kali ini.
"Selamat malam semua,"
"Malam bu!"
"Kita langsung mulai saja ya, ini sudah malam. Ada yang bisa jelas model kosmetik apa yang akan kita keluarkan?"
"Dari team lipstik, kami tidak merubah bentuk atau apapun, kami hanya merubah warna dan kualitas pada lipstiknya. Warna yang akan kami pakai itu warna merah plum. Dan kualitasnya kami bikin agar tidak mudah hilang dengan air. Sekian."
"Apa itu saja cukup? Saya rasa ada kurang nya, coba di tambahkan bagian..."
Selesai dari rapat, Jena langsung izin pamit ke Zana. Dan menyuruh semua karyawan untuk pulang. Di perjalanan pulang, Jena tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang dia kenal di jalan.
"Loh, itukan. Gibran? Itu anak ngapain disini sendirian malem-malem? Pakai motor ninja lagi. Jangan-jangan dia..."
"Woi Gibran!" Gibran yang di panggil terkejut sendiri.
"Heh bocah! Lo ngapain disini? Udah malem woi, balik lo!"
Teman-teman Gibran sepertinya melihat Jena yang datang-datang sudah menyuruh Gibran pulang. Dilihat-lihat teman-teman Gibran berbadan besar semua.
"Ini lo gak lagi dikepung preman 'kan?" Tanya Jena. Gibran menggeleng.
"Gak gitu mbak, astaghfirullah. Dia teman-teman Gibran sama Leon, guys, dia mbak nya Leon."
"Halo, bran mending lo pulang deh. Bibi lo nelpon mulu, noh."
Jena memperlihatkan log panggilan di ponsel nya, tadi saat perjalanan mau ke perusahaan nya. Nana menelpon nya untuk mencari Gibran.
"Katanya bokap nyokap lo mau bahas tentang kuliah, yaudah mbak pergi dulu, dadah. Dah juga teman-teman nya Gibran dan Leon!" Setelah itu Jena pergi meninggalkan mereka. Dulu saat SMA Jena juga punya geng seperti Gibran. Geng motor atau geng malam, intinya yang bersenang-senang di malam hari.
Tapi akhirnya Jena berhenti saat kuliah karena, sibuk kuliah dan juga melakukan itu sekarang bagi Jena hanya membuang-buang waktu.
"Gak, kerasa ya, Leon sudah mau kuliah,"
###
Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?