Bagian 25 : adopsi

1083 Kata
"Jena jelek, bangun!" Wenda lagi dan lagi membangunkan anak sulung nya yang tidak kunjung bangun. "Kamu kok makin kebo sih?" "Arjena Ratu Chantika Viyuan Cahyo Aditama, bangun!" Nama panjang yang di sebut oleh Wenda itu adalah nama Jena, nama panjang Jena yang tidak resmi. Nama itu diberikan oleh ayahnya Wenda untuk Jena, alias kakek nya Jena. Tapi karena terlalu panjang, nama milik Jena di persingkat jadi Arjena Aditama. Di akta hanya tertulis Arjena Aditama. Intinya bebas kalau mau memanggil Jena menggunakan Arjena aditama atau Arjena Ratu Chantika Viyuan Cahyo Aditama, bebas. Tapi tidak banyak yang tahu nama panjang Jena, paling hanya keluarga nya. "Jena, hari ini magang." Setelah mengatakan itu, Jena membuka matanya secara paksa. Dia lupa hari ini jadwalnya magang. "Kamu bergadang lagi ya?" "Nggak tuh," Elakkan Jena tidak mempan bagi Wenda. Wenda pun menarik lengan Jena lalu menyuruh Jena cepat bersiap. "Cepat bersiap, kalau bisa sepulang magang langsung ke rumah sakit," Kata Wenda. Tapi, Jena menimbulkan kepala nya dari pintu kamar mandi. "Jena agak telat, ada urusan." "Banyak banget urusan kamu, kayak cwo perusahaan aja." "Iyakan emang," Celutuk Jena tanpa sengaja. Sedangkan Wenda menatap Jena tajam, sedang mencermati apa yang di katakan Jena. "Hah? Emang?" "Calon, kan punya papi aku yang bakal pegang. Gak salah dong?" Wenda memincingkan matanya. "Okey, cepat siap-siap kamu." Jena akhirnya kembali masuk kedalam kamar mandi, lalu mandi dan bersiap untuk kembali magang. Semoga hari-hari nya saat magang baik-baik saja. "Semoga gak ketemu sama cewek yang selalu ngintilin pak Deva. Itu aja sih, eneg banget lihat muka nya. Dikiranya gue orang miskin napa ya, pakai bilang gue males. SMP, SMA, gue selalu jadi OSIS devisi kedisiplinan. Ckck!" Gerutu Jena saat kembali teringat wajah perempuan yang dekat dengan Deva. "Deva nemu perempuan kayak gitu dimana sih? Astaga," Setelah selesai ber siap-siap sambil bergerutu, Jena langsung menuju dapur. Di dapur ia sudah mendapati santapan yang sedap. Hari ini bi Kisum datang. Jena berinisiatif mendekati nya. "Selamat pagi bi Kisum!" "AYAM! Eh ayam... Nona gak boleh mengangeti orang tua seperti saya gitu," Ucap Kisum sambil menggelengkan kepala nya. Sedangkan Jena terkekeh. "Gimana nikahan anak nya bi Kisum lancar? Sayang banget Jena gak dapat kesana. Padahal pengen kesana. Tapi papi sakit, aduhh, sampaikan salam selamat atas pernikahan nya ke anak bibi ya." "Alhamdulillah lancar pernikahan nya. Gak papa, gak usah dateng non. Bener kaya nona, kan tuan besar sedang sakit, jadi gak bisa, gak usah di paksa. Dan terimakasih atas ucapan nya, nanti bibi kasih tahu anak bibi." Kata Bi Kisum. Jena menganggukkan kepala nya. "Jena, langsung makan." Jena mengangguk, lalu menyantap makanan nya. Dulu semasih kakek nya ada, kakek dari pihak ayah. Jena dilatih seperti perempuan yang wajib militer. Benar-benar separah itu. Dan sekarang bisa di bilang Jena sudah bebas, karena kedua kakek nya dari dua pihak sudah di jemput duluan ke tempat asal nya. Tapi, Jujur, walaupun sekeras apa pun kakek nya melatihnya sejak kecil, Jena yakin latihan yang diberikan kakeknya itu akan bermanfaat bagi Jena. "Kangen kakek," Kata Jena. "Tiba-tiba? Kakek mu ada dua, Jena." "Kakek wamil," Ucap Jena. Kakek wamil adalah julukkan buat Kakek dari pihak ayah nya Jena. Karena didikan nya tegas, karena mantan tentara. "Nanti ke makam nya saja, mau mami anterin?" Jena menggeleng. "Gak perlu mi, Jena bisa sendiri." "Mi, gimana tanggapan mami kalau Jena tiba-tiba bilang mau adopsi anak?" Wenda menghentikan aktifitasnya, karena pertanyaan aneh dari anak sulungnya. "Hah? Kamu mau adopsi anak? Astaga... Mami tahu kamu sudha cukup umur buat adopsi anak, tapi nanti rumor-rumor nya gimana? Masa gak ada bapak nya? Nanti kasihan sama yang adopsi." Jelas Wenda panjang lebar. "Tapi mi, kalau bener-bener kepepet banget, Jena harus adopsi. Boleh?" "Umur berapa?" "SMA kelas dua," "Kamu? Kamu waras kan? Astagaaa, dia lebih muda setahun dari Leon? Ckck Jena, gak boleh." Pembicaraan sampai disini saja, Jena tidak ingin meneruskan. Nanti bisa bahaya kalau mami nya mengamuk seperti zombie bom di minecraft. ### Di kantor, saat sedang mengerjakan tugas nya, Jena tiba-tiba dipanggil oleh Deva. Kata Andini langsung keruangan nya. "Ada apa? Kenapa saya di panggil pak Deva?" Tanya Jena pada Andini. Sedangkan Andini menaikkan bahu nya, tidak tahu. "Gak tahu Jen, coba kesana dulu." Sesuai saran dan perintah, Jena langsung pergi menuju ruangan bos nya. "Permisi pak," "Masuk!" "Ada apa ya pak? Kenapa saya di panggil?" Tanya Jena. Arahan tangan Deva menyuruh Jena untuk duduk. Karena mengerti, Jena langsung duduk di depan meja Deva. "Ini, hari ini ada janji?" Tanya Deva. Jena mengangguk, sebenarnya tidak ada janji apa-apa. Hanya saja, sepulang dari magang ia akan menuju panti asuhan, sepulang dari panti, langsung menuju rumah sakit. "Aah, bisa balik kalau gitu." "Kok? Cuman itu doang? Kenapa gak chat saja kalau gitu pak," Usul Jena dengan wajah yang hampir kesal. "Kamu tidak pernah membaca chat saya," Balas Deva acuh. Ah benar, handphone nya kemarin mati total sepulang dari panti, dan sekarang dua gak bawa handphone. "Maaf Pak, saya lupa charge handphone saya." "Gak papa," Setelah percakapan singkat itu, Jena kembali menuju ruangan magang. Lalu kembali menyelesaikan tugas nya. "Wah, gak disangka ya. Seminggu lagi kita sudah selesai magang. Tinggal urus skripsi, terus sidang, habis tuh, LULUS!" ucap Andini dengan heboh. "Iya, gak kerasa. Hahahaha, bakal kangen banget sama suasana magang kayak gini." "Besok ada rapat, mau ikutan?" Kali ini Dery yang bertanya setelah selesai menyeduh kopi. "Emang boleh? Kan kita magang," "Bolehlah, ini rapat antar karyawan dan direktur. Bukan rapat antar klien, jadi santai." Setelah mendengar penjelasan Dery, Andini dan Jena sedang menimang kesempatan yang dia dapatkan. Sebenarnya bagi mereka, ini kesempatan Luar biasa karena bisa mengetahui suasana saat rapat. "Saya ikut deh!" Ucap Andini dengan semangat yang membara. Kapan anak itu tidak semangat? Sepertinya tidak pernah. "Saya juga, ngikutin Andini." Dery mengangguk, lalu kembali duduk ke bangku nya. "Oh iya Din, rencana lulus kuliah mau kerja dimana?" Tanya Jena. "Belum kepikiran sih Jen, cuman nanti berusaha melamar kerjaan ke perusahaan kosmetik." "Wah, emang perusahaan kosmetik cocok sama kamu din. Kamu cantik, terus pintar tentang kecantikan. Saya rasa kamu bakal cepat keterima di perusahaan mana pun." "Terimakasih, Jena juga. Ah, tapi saya ada perusahaan incaran saya," Kata Andini. "Apa?" "Yuan'corp! Itu perusahaan kosmetik kesukaan saya. Karena ya, itu perusahaan dan brand baru, tapi bisa sesukses sekarang. Masih bangga saja lihat nya. Ceo nya keren, do'ain semoga kalau lamaran disana, keterima ya." Jena tersenyum manis dan tercanggung sambil menganggukkan kepala nya. "Iya, semangat." ### Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN