Bagian 24 : Baikan?

1058 Kata
"Jena, bangun! Hari ini mau joging. Kamu kebo banget sih!" Wenda mencoba membangunkan anak sulung nya yang tidak terpengaruh sama sekali, seakan-akan Jena tersihir oleh penyihir jahat seperti film putri aurora. "Putri Jena, raja sudah menunggu di bawah, tolong segera bangun, ini sudah seratus tahun." "Baik dayang," Setelah mengatakan itu, Jena langsung berlari menuju kamar mandi. "ANAK SIAPA KAMU YA TUHAN, JENA DURHAKA KAMU SAMA MAMI!" Wenda menggelengkan kepala nya sambil berjalan menuju suami nya. Ia rasa nya ingin mencoret nama nya dari kartu keluarga Aditama. "Kenapa Jena nya?" Tanya Cahyo. "Aku di bilang dayang," Adu Wenda ke suami nya, yang di tanggapi dengan kekehan. "Coba lihat sini? Eh, kamu kan emang dayang. Tapi, dayang nya jatuh cinta sama raja nya, jadi sekarang kamu ratu," Tidak di pungkiri lagi bahwa Wenda salting akibat gombalan Cahyo. "Ck! Males banget disini ada pasangan bucin." Ucapan Jena membuat aktifitas kedua nya terhenti, dalam hitungan ketiga. Wenda sepertinya akan meledak kembali. "JENA KAMU BELUM MANDI?" "hehe... Males mi, nanti keringatan. Gak asik kalau gitu," ### "Kalian tunggu disini ya, mami pesan bubur nya dulu," Kata Wenda, tapi Pergelangan tangan Wenda di pegang oleh Jena, Jena menggelengkan kepala nya. "Biar Jena aja yang pesenin ya, mami sama papi disini aja ngebucin." "Gak ada! Kalian diam berdua disini," Protes Wenda. "Ih, mami please... biar Jena aja ya," Akhirnya Wenda menyetujui tawaran Jena yang mau memesan buburnya. "Pak, bubur nya tiga. Dua campur satu tanpa kacang," "Pedas non?" "Iya, pedas." Jena setelah memesan tidak langsung pergi ke meja makan nya, tapi berkeliling dahulu sebentar. Oh iya, FYI, tempat mau mesan sama makan nya lumayan jauh. Jadi bisa tuh buat jalan-jalan sebentar. "Loh... Itukan Deva. Samperin ah," Baru mau melangkahkan kaki nya maju menuju tempat Deva. Tapi seorang perempuan datang lalu duduk di hadapan Deva. "Dari kemarin gue penasaran, tu cewek siapa nya Kadep sih? Yaudahlah balik aja, nanti nyonya Aditama ngomel lagi," Setelah itu, Jena kembali menuju tempat makan nya. "Lumayan lama, kamu habis kemana dulu?" Tanya Wenda. "Habis ke Korea bentar." Wenda menggelengkan kepala nya lelah dengan sikap anak sulung nya. "Mami kalau sama kamu bawaan nya emosi terus, kenapa sih? Mami kok bisa punya anak kayak kamu," Sebenarnya keluarga Aditama itu cukup harmonis, tapi ke harmonisan itu hilang saat Cahyo hilang kendali. Semua hancur dalam sekejap. Tapi akhrinya, Cahyo meminta maaf dan Aditama kembali seperti semula, meski ada saja yang kurang. "Mi, pengen pulang," Ucap Cahyo. "Coba sini mendekat," Wenda memeriksa suhu badan suami nya, dan betul dugaan nya bahwa Cahyo demam. "Jena, papi kamu demam lagi. Mami bawa papi pulang duluan ya, kamu gak papa?" "Oh, iya, gak papa. Tunggu!" Jena berlari ke tempat pemesanan bubur, lalu entah apa yang Jena bilang ke mas-mas nya, akhirnya Jena balik sambil berlari dan membawa tiga bungkus bubur. "Ayo, Jena ikut. Langsung di bawa ke rumah sakit aja, biar bisa di perhatiin dokter nya," Kata Jena, Wenda dan Cahyo tersenyum lalu berjalan perlahan menuju parkiran. Mereka joging di CFD, car free day. "Jena, nyusul ya, ada yang mau Jena lakuin dulu. Hati-hati mami bawa mobil nya!" Wenda mengangguk, lalu setelah nya mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sedangkan Jena, putar arah menuju Yuan'corp, asisten nya menelfon karena ada sedikit kerusakan di Yuan. Urusan Jena selesai saat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. "Waduh, gimana nih? Ini waktu nya gue ngajar di panti, tapi tadi gue udah janji mau nyusul mami ke rumah sakit," Monolog Jena. Setelah memikirkan kemana dia akan pergi, Jena akhirnya masuk kedalam mobil, lalu datang ketempat pilihan nya. "Iya bu, izin dulu untuk hari ini. Ayah saya masuk rumah sakit, jadi saya pergi menjenguk, iya bu, mohon maaf sekali lagi dan terimakasih." Pada akhirnya Jena memilih untuk ke rumah sakit dulu, "fokus Arjena, kamu ke rumah sakit cuman karena sudah janji duluan ke papi sama mami." Dasar tsundere. "Loh, udah dateng? Kok lama? Mami kira sebentar, ada apa?" setiba nya Jena di rumah sakit. Mami nya langsung menanyai nya. "Ada urusan tadi." Jawaban singkat Jena membuat Wenda tidak ingin bertanya Lebih. "Gimana papi?" "Kambuh, tapi sekarang lagi tidur." "Sebenarnya papi sakit apa sih?" Tanya Jena. "Jangan disini," Wenda menarik lengan anak nya, lalu membawa nya menuju kantin rumah sakit. "Ngapain lagi jauh-jauh ke kantin, so.. Papi kenapa?" Tanya Jena. "Sebelum itu kamu dengerin cerita mami," Flashback on "Wen, besok Jena mau di ajak jalan-jalan bareng, gak sabar. Saking gak sabar nya sampai gak bisa tidur aku," Ucap Cahyo dengan senyuman nya. "Lagian Jena tuh mirip kamu, Sama-sama tsundere. Asli nya mah mau, tapi awal-awal emang kesan nolak, mirip kamu Jena tuh," Balas Wenda sambil tersenyum menghadap Cahyo. "Gak bisa," Pagi harinya. Cahyo merasa agak kurang enak badan, tapi tetap memaksakan diri joging karena Jena mau. "Kamu gak enak badan tuh, tunda aja ya. Jena nya juga pasti lagi kebo," "Gak, kapan lagi bisa?" Flashback off "Ok cukup. Jadi, papi sakit apa?" Tanya Jena. Wenda menghela nafas dalam. Lalu memberikan Jena surat keterangan dari dokter. Alangkah terkejutnya Jena melihat penyakit apa yang diderita oleh papi nya. "Jena mau ke tempat papi dulu," Jena lalu pergi meninggalkan Wenda disana yang terdiam melihat Jena berlari. Pintu ruangan terbuka dengan terpaksa dan kan keras. Dan nampak lah Papi nya yang sedang menghadap keluar. Lebih tepatnya menghadap jendela. "Papi! Jena kecewa." Cahyo kaget, Jena datang-datang bilang kecewa. Sungguh terkejut hatinya. "Kenapa ini? Papi ada salah? Yaudah papi minta maaf," "Papi kalau sakit tuh diam aja gitu di rumah sakit atau di rumah, jangan keluar-keluar napa sih. Yang Jena mau itu lihat papi sembuh, bukannya lihat papi selalu disini sini bareng Jena." Omel Jena. Sudah sangat lama, sangat sangat lama Cahyo tidak mendengar anak sulung nya mengomeli nya. Terakhir kali saat Jena masih sd. "Papi kan sengaja mau ketemu Jendral disana. Kamu pasti iri kan sama papi karena papi bisa ketemu Jendral nanti, papi juga mau minta maaf sama Jendral. Kamu diam-diam aja sama mami," Balas Cahyo. Jena menunduk sedari tadi, saat menonggak kan kepala nya sudah nampak bulirhnulir air mata milik Jena berjatuhan. Dengan suara parau, Jena menghampiri ayahnya lalu memeluk nya. Pelukan Jena di balas peluk hangat oleh Cahyo. Sedangkan, sedari tadi Wenda mengawasi mereka dari luar, tanpa disadari pun. Air mata Wenda sudah menetes. ### Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN