Bagian 23 : Yuan'corp

1071 Kata
"Terimakasih ya Nak, Jena." Bu Yanti sedari tadi tidak henti-henti nya mengucapkan terimakasih kepada Jena. "Iya, sama-sama bu, kalau begitu saya pulang dulu ya. Itu teman saya di depan sudah menjemput, titip salam buat adik-adik. Mari bu, assalamu'alaikum," Jena tersenyum sebelum pergi, lalu masuk kedalam mobil teman nya. "Thank you---Ariel." "Sama-sama, gue baru tahu lo suka main ke panti asuhan gini, lain kali ajak kek," Jena mengangguk, lalu meminum kopi yang ia minta Ariel belikan di jalan. "Terus ini gue antar lu pulang? Atau mau jalan-jalan dulu?" Tanya Ariel. "Pulang ajalah, kalau mau jalan-jalan harus bertiga. Biar sepaket." Ariel mengangguk dan tidak berniat berbicara lagi. Sedangkan Jena pun begitu. Hingga, telfon dari Nana membuat keheningan itu terpecahkan. "Halo Na," "Riel, gue minta tolong dong, tolong jemput ponakan gue." "Sharelock," "Sudah, thank you riel. Hati-hati," ### "Harus nya, gue udah kepikiran kalau ponakannya Nana itu dia. Gue tau keluarga nya rata-rata laki-laki, tapi gue kok bisa gak kepikiran kalau bocah yang nempel sama Leon., itu ponakannya." Kuping Ariel sudah sangat panas mendengar ucapan Jena yang tidak henti-henti nya belum menyangka kalau Gibran adalah ponakan nya Nana. "Tidak ada yang tidak mungkin di dunia Jena." "Oit cil, rencana kuliah di mana lo?" Tanya Jena ke Gibran, dan menyueki Ariel. "Kayak nya bakal nyusul Leom keluar kota," Balas Gibran sambil menyeruput es teh nya. "Wah, memang besti, gak bisa berjauhan. Kalian gak ada hubungan aneh-aneh kan?" Jena bertanya untuk memastikan. "Aneh-aneh gimana heh? Lo kayaknya yang mikir aneh-aneh." Ariel sendiri bingung dengan pertanyaan Jena, apalagi Gibran. "Wah, gue masih gak percaya bocah tengil ini ponakan nya Nana." "Please, itu udah yang keberapa kali gue denger. Bosen woi!" Protes Ariel. "Anyway, rumah lo dimana bran?" ### Jena balik ke rumah sekitar selesai sholat isya. Setiap pulang, Jena selalu di tanyai oleh Mami dan papi nya, habis darimana. Tapi, Jena enggan menjawab pertanyaan orang tua nya. "Bi Kisum mana mi? Gak mungkin kan mami pecat, baru aja kerja." "Nggak mami pecat, anak nya di kampung nikah jadi dia balik kampung. Kamu tau? Anak nya bi Kisum seumuran kamu," Kata Wenda, yang duduk didepan Jena yang sedang menyantap makanan nya. "Eiy, jangan mulai mi," "Aduhh, habis gimana. Mami pengen punya cucu gituloh, tante yona udah punya cucu, tante teni bentar lagi a w punya cucu, tante Yeyon udah punya cucu. Semua udah punya cucu, kecuali mami. Haduh, andai bisa punya anak lagi, mami pengen deh," "Ish, kenapa Jena? Kenapa gak Leon aja? Ntar Leon kalau punya anak kan cucu mami juga dia," Kata Jena. "Hus! Leon itu masih muda banget, gak cocok nikah sekarang, aneh-aneh aja. Lagian mami mau nya cucu kandung," Rengek Wenda ke Jena, Jena pura-pura tidak merespon nya. "Jena kok gak dengerin mami! Jen! Astaga anak itu," Wenda memandangi Jena yang masuk kedalam kamar nya hingga menutup pintu dengan kencang, hingga terdengar suara yang keras. "Sayang, kamu dimana?" "Tunggu aku kesana!" Karena ada panggilan dari pria kesayangan nya, Wenda berlari menuju kamarnya. Di lain tempat, Jena duduk di pinggir kasur, sambil menatap ke arah nakas. "Leon sekarang apa kabar ya? Gue masih gak enak hati karena dulu benci sama dia, ah. Jena kenapa waktu itu lo kayak gitu, bwkzbskwn, pusing." Ia merebahkan badan ke kasur lalu menatap ke langit-langit kamar nya. "Mbak juga kangen kamu Jendral," "Lucu banget sekarang dia pasti seumuran Arjuna. Eh, gue jadi kepikiran tuh anak, gila, kemarin gue keren banget. Oh lupa, Girda'corp." Jena bermonolog sendiri di kamar nya, hingga teringat sesuatu. Ia lupa memutus kan kontrak dengan Girda, untung dia sedang tidak sibuk, akhirnya dia segera mengurus surat pemutus kontrak. "Ah, celaka. Kalau dia nyebar gue punya anak, pasti gue di cap jelek sama netizen, argh! Harus apa ya... Tapi si Mega gak bisa di biarin, nanti dia sama anak nya bakal terus nindas anak-anak kayak Juna. Apa gue angkat Juna aja ya jadi anak gue? Biar gak ada rumor aneh, eh, kalau Juna nya mau. Lagian gue tuh cocok nya jadi kakak nya bukan emak nya," Lagi dan lagi, Jena bermonolog sendiri. Akhirnya Jena menunda pemutusan kerja sama itu, takutnya si Mega berbuat yang tidak-tidak seperti menyebarkan kasus bahwa pemilik Yuan sudah memiliki anak, tapi tidak melihat keberadaan suami nya. "Pusing ah, gue pengen rawat Rio, lucu banget anak nya. Astagaaa," "Kamu gak mau nyapa papi kamu?" Tiba-tiba Mami nya masuk kedalam kamar nya tanpa ada aba-aba... "Mami gak denger apa-apa kan?" Tanya Jena memastikan. Wenda menaikkan bahu nya. "Nggak, emang ada apa? Mami aja baru dateng, papi kamu mau ngomong sama kamu. Turun!" Jena membalas mami nya dengan deheman lalu mengambil kacamata nya, Jena min, dan di haruskan menggunakan kacamata agar tidak parah. Jena duduk di depan papi nya, tapi tatapan nya mengarah ke lain tempat. "Papi mau bahas tentang hak kepemilikan perusahaan. Karena papi rasa, papi udah gak kuat lagi, dan sebentar lagi masa magang mu berhenti dan sebentar lagi kamu lulus kuliah, jadi papi cuman mau bilang kalau perusahaan utama milik papi punya Jena. Mami bakal sesekali bantu, tapi gak sering. Kelola perusahaan nya dengan baik, entah kamu mau apakan terserah. Papi udah tua, dan udah gak kuat lanjutin kerja." Jena duduk, sudah tahu bakal seperti ini. Jika dia mengambilnya, lalu bagaimana dengan Yuan? Perusahaan yang Jena kelola sendiri dua tahun yang lalu. Itu sudah mau sukses, tinggal sebentar saja. "Nak, kamu tau perusahaan Yuan'Corp? Dia hampir menyaingi cabang perusahaan papi yang di medan. Sebentar lagi perusahaan itu bakal ngejar Runawan, lalu Aditama. Kamu pernah dengar perusahaan nya? Kayaknya milik orang China," "Eum.. Gak tau, Jena baru dengar. Udah ya? Nanti Jena pertimbangan lagi apa yang papi bilang," Kata Jena sambil bangun dari posisi duduk nya. "Pikirin baik-baik, kalau memang kamu gak sanggup, papi bakal kasih ke lain, Leon misalkan? Tapi gak kasihan dia masih muda belum ngerti yang kayak begini. Papi harap apapun jawaban Jena tidak mengecewakan." Jena mengangguk, lalu berjalan, tapi kaki nya berhenti saat papi nya memanggil lagi. "Jena," "Apa?" Tanya Jena sambil memasang wajah yang kesal. "Besok... Besok ada waktu? Papi mau ngajak jalan-jalan," Jena yang tadi menatap ke arah papi nya kini menatap ke arah bingkai foto keluarga. "Jam berapa?" "Pagi, sekalian jogging." "Oke," Cahyo tersenyum, lalu berhive five dengan istri yang juga tersenyum manis melihat suami dan anak nya. Semoga mereka bisa akur, tidak seperti ini lagi. ### Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN