Setelah insiden ini, banyak warga karyawan yang membicarakan Jena dan perempuan yang di bawa Deva waktu itu.
Tidak sedikit yang membela Jena dan tidak banyak yang membela perempuan itu, ngomong-ngomong perempuan itu bernama Sera. Jena tau dari Andini. Memang Andini itu tau apa saja. Jena saja sampai heran sendiri dengan anak itu.
Sepulang Jena dari kantor, ia langsung pergi menuju panti asuhan. Karena memang sudah janji di sana untuk mengajarkan anak-anak panti. Jena berangkat kesana sendiri, tanpa di antar supir. Dia tidak mau ada yang tau kalau dia kesana.
Bapak dan Ibu Aditama itu suka ikut campur masalah nya. Jadi Jena tidak suka.
Saat masuk, kedatangan Jena di sambut oleh anak-anak panti disana. Bisa di bilang Jena di sambut dengan hangat disana.
"Kak Jena!" Sorak-sorai anak-anak itu membuat Jena tertawa. Anak-anak panti sungguh cukup.
"Mau mulai belajar sekarang?" Tanya Jena yang membuat Angguk kan dari adik-adik panti. Setelah itu, Jena berjalan menuju aula panti, karena hanya disana tempat lapang.
Jena pulang dari kantor siang ini, dia pulang cepat karena tugas nya lebih dulu jadi. Hari ini dan seterusnya dia akan mengerjakan tugas nya lebih awal. Selain karena tidak mau di bilang malas, ia juga mau cepat-cepat mengajari anak panti.
"Nah, adik-adik ayo duduk!"
Mulai lah Jena mengajari mereka mengenal huruf dan cara membaca, dengan mengajari satu-persatu. Memang melelahkan, tapi tetap menyenangkan. Hingga dirasa sudah paham, ia mengetes adik-adik panti dengan memberikan sebuah kata yang harus di baca.
"Adik-adik, kakak punya kata yang harus di baca. Yang tau bacaan nya, kakak kasih permen! Siapa yang mau permen?"
"AKU!" semua adik-adik disitu mengangkat tangan nya dengan semangat. Jena tersenyum. Lalu membiarkan adik yang bisa membaca.
"Kak! Yio!" Rio mengangkat tangan nya. Jena menyuruh Rio membaca nya.
"Gu-n-ti-n-g.. Gunting,"
"Pinter! Ini permen nya Rio. Siapa lagi?"
Jena merentangkan tangan nya, lelah sekali hari ini mengajari anak-anak. Saat asik duduk melihat adik-adik panti yang pamer karena bisa membaca, Jena melirik ke arah Bu Yanti yang terlihat kebingungan dan kesal. Jena pun menghampiri nya.
"Kenapa bu, kok terlihat gusar sekali."
"Gini Nak Jena, Jun bikin masalah lagi di sekolah nya. Dan sekarang wali nya di panggil, tapi saya gak bisa tinggal. Mau hari ini pengurus panti lagi pulang semua," Kata Bu Yanti.
"Biar saya saja yang jadi wali nya Juna. Sekolah nya dimana, bu?"
###
"Wali kamu mana? Oh saya lupa kamu gak punya wali. Hahaha, kalau tahu punya kekurangan itu jangan sok jagoan!"
"Nak Juna, wali kamu diman---"
"Disini. Saya wali dari Arjuna Akbar."
Perempuan itu adalah Jena, Juna tentu terkejut dengan kedatangan Jena yang menjadi wali nya.
"Mbak kenapa kesini? Seharusnya jangan datang," Bisik Juna begitu Jena berdiri disebelah nya.
"Udah kamu diam saja,"
"Bisa kita mulai bu kepala, nanti kicauan burung nya makin kedengaran lagi bu, telinga saya nanti rusak," Sindir Jena. Ibu-ibu dari pihak anak itu mengeram.
"Baik, wali Aron dan Juna duduk dahulu disini."
Sesuai perintah, Jena dan ibu-ibu itu duduk didepan bu kepala sekolah.
"Jadi begini, dari laporan siswa dan siswi dan beberapa guru yang melihat. Aron dan Juna berantem di lapangan, begitupun kemarin. Karena ini sudah yang kesekian kali nya, saya tidak akan diam. Jadi saya akan meminta pembelaan dari wali masing-masing," Kata bu Kepala.
"Kalau begitu, boleh saya bicara sebentar dengan anak saya, bu?" Bu kepala mengangguk kan kepala nya, setelah itu Jena menarik tangan Juna. Jena terpaksa mengaku menjadi ibu nya Juna, karena undangan wali tertuju kepada orang tua.
"Ceritain kejadian nya yang asli."
Setelah itu Juna pun menceritakan Jena semua kejadian yang terjadi, Jena pun menyimak nya dengan sesekali melirik ke arah luka-luka pada kedua korban.
"Oke, cukup."
Setelah dikira cukup oleh Jena, ia menarik Juna untuk masuk kembali. Lalu duduk di depan kursi. "Baik, terimakasih atas waktu nya bu,"
"Iya, Sama-sama. Jadi ada yang mau membela?" Tanya bu kepala, ibu dari Aron mengangkat tangan nya.
"Saya. Anak saya tidak mungkin berbuat hal semacam itu, saya yakin. Pasti anak panti asuhan itu yang mulai memukul anak saya, karena anak itu kesal dengan anak saya yang memiliki keluarga harmonis."
"Ck! Apa yang Anda tau tentang anak Anda? Yang Anda lihat dia anak manja, tapi tanpa Anda tahu. Dia lebih busuk dari dalam,"
"Kalau ngomong jangan belibet!" Sungut ibu nya Aron.
"Bu Mega, sabar."
Ibu Aron bernama Mega ternyata, menarik. Pikir Jena
"Begini, setelah saya mendengar cerita asli dari Juna dan bertanya ke beberapa murid yang dekat dengan kejadian. Mereka bilang kalau Aron yang memukul Juna duluan, itu kesaksian murid loh bu, murid lebih berhak memberikan kesaksiannya daripada tersangka."
Ucap Jena dengan panjang, ia kembali melanjutkan kalimat nya.
"Ibu bisa lihat disini," Jena menunjuk ke arah lengan Juna yang ada bekas bogeman dan tampak kekuningan dan ungu. "Ini adalah bekas luka lama, dan luka yang di wajah Aron itu masih segar, jadi itu adalah luka baru. Jadi bisa di simpulkan bu,"
"Mana bisa begitu! Emang situ dokter? Nggak kan, Tuhan bukan? Kok sok tau sekali."
Sejujurnya Jena geram, tapi ia harus tahan emosi.
"Gini ya bu, inti nya begini. Aron selalu mengejek Juna dengan alasan 'anak panti' itu yang buat Juna geram, tapi Juna adalah pribadi yang gak bakal terpengaruh kalau di ejek seperti itu, karena kesal tidak di respon, Aron memukul Juna terlebih dahulu. Yang saya katakan ini fakta. Informasi ini saya cari dari beberapa kesaksian murid."
"Baik kalau begitu, pembelaan saya tutup."
"Keputusan saya..."
Rapat sudah selesai, Jena dan Mega serta Juna dan Aron keluar dari ruangan kepala sekolah. Tapi, bu Mega sedari tadi menyindir Juna dan Jena. Sampai Jena eneg sendiri.
"Juna pasti anak haram ya? Kok ibu nya muda banget, pasti nikah dini ya jeng."
"Bu, saya daripada penasaran ibu kerja apa ya? Kok kayaknya ibu gak punya kerjaan deh sampai ngomong orang terus, ngurusin orang terus. Maaf bu, kita gak kenal, jangan sok asik kalau kata anak jaman sekarang mah," Balas Jena. Terlihat wajah kesal di mimik wajah nya Mega.
"Enak saja. Saya itu bendahara perkumpulan, kamu jangan sok tau. Dan lagi pun, suami saya pemilik perusahaan Girda'corp,"
"Oh iya? Saya pemilik Yuan'Corp... Setahun saya Girda'Corp ada menjalin kerja sama dengan saya, sangat menguntungkan bagi Girda tapi tidak menguntungkan apa-apa bagi Yuan. Bagaimana kalau saya putus kan kerja sama nya ya..."
Kata Jena sambil berakting lagak nya berpikir. "E-eh.. Jangan.. Saya mohon maaf kalau ada salah, tadi saya khilaf,"
"Terlambat, ayo nak, bunda izin ke kantor dulu ya. Mau urus surat pemutus kerja sama dengan Girda'corp."
Jena membawa Juna pergi ke luar sekolah, lalu menghela napas. "Itu ibu-ibu mulutnya banyak sekali,"
"Wah... Mbak Jena hebat banget tadi! Juna kayak lihat perpaduan aktris, jaksa, sama ceo. Keren!"
"Hehe, akting mah gampang, terus dulu mbak tuh diploma dua jurusan hukum. Jadi taulah, dan kebetulan aja tadi tuh, ternyata Girda kerja sama dengan Yuan. Allah masih membantu hamba nya, oh, kamu jadi di skors seminggu. Gak papa lah, ayo mbak antar pulang!"
Juna tidak henti-henti nya menganggap dan mengucapkan 'wah' berkali kali. Hingga Jena bosan mendengarnya.
###
Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?