Bagian 21 : Perempuan aneh

1056 Kata
"Jena, baru dari mana saja kamu?" Tubuh Jena menegang saat suara berat milik papi nya terdengar. Jena berbalik dengan perlahan lalu menundukkan kepala nya. "Saya tanya, kamu kenapa baru balik?" Papi nya bertanya dengan lembut, tapi cukup membuat Jena tertegun. "Kok gak di jawab," "Gak perlu tau Jena kemana, yang penting Jena selamat datang ke rumah." Setelah berucap demikian, Jena berjalan menuju kamar nya. Meninggalkan Papi nya yang menghela nafas dalam-dalam karena sudah lelah dengan kelakuan Jena. Sedangkan Jena di kamar, langsung tidur, tidak mandi dahulu. Karena badan nya sudah sangat lelah. Mana besok ia tetap harus berangkat pagi untuk pergi magang, jadi alangkah baik nya di pergi tidur sekarang. Pagi hari, Jena di sambut dengan kecupan hangat dari sang mami, dan gorden yang terbuka hingga sinar, matahari masuk kedalam kamar nya. "Jena, bangun. Kamu hari ini harus masuk buat magang kan? Cepat siap-siap, anak gadis kok tidur nya ngebo." Wenda mencoba membangunkan anak nya yang sudah seperti sedang mati, alis tidak bangun-bangun mesti beberapa kali di cubit dan di pukul. "Arjena!" Akhirnya untuk terakhir kali nya, Wenda meneriaki nya. Dan alhamdulillah, Jena bangun dengan wajah nya baru bangun nya dan rambut yang acak-acakan mirip gembel, kalau menurut Wenda. "Ayo cepat bangun, kamu kan magang. Mami sudah masak." Tidak merespon perkataan Mami nya, Jena berlari menuju kamar mandi dan ber siap-siap. Mandi, membasuh muka, sikat gigi, lalu menggunakan pakaiannya. Setelah siap, Jena berlari menuju meja makan. Sudah hampir telat ini Jena. Ternyata, tidur cepat tidak ngaruh untuk membangunkan nya cepat jika sedang sangat lelah. "Ini cepat makan, pelan-pelan aja." "Orang tua susah di mengerti ya. Bilang nya makan dengan cepat, tapi makan nya pelan-pelan. Aneh," Sindir Jena. Mami menggelengkan kepala nya jenuh dengan Jena. Sedangkan Papi nya hanya terkekeh pelan. "Mami pasti bikinin aku bekal, mana? Aku makan di kantor saja. Sudah telat, hari ini aku ikut Kadeva rapat." Tanpa berlama-lama, Mami nya menyerahkan bekal yang ia siapkan untuk Jena untuk di bawah ke kantor. "Hari ini yang antar, pak supir kan?" Tanya Jena. Wenda mengangguk merespon perkataan Jena. Setelah itu Jena langsung keluar begitu saja, tanpa mengatakan salam atau apapun itu kepada kedua orang tua nya. "Kebiasaan anak itu," Ucap Wenda sambil menyantap sandwich yang ia buatkan untuk Jena di piring yang tidak di makan. "Turunan siapa tuh kayak gitu sifat nya?" Goda Cahyo kepada istri nya. "Iya, mirip aku. Tapi Jena ini parah sih, aku gak sampai kayak gitu." Cahyo hanya tertawa mendengar itu. Istri nya sangat lucu, baiklah mari kita tinggal kedua orang tua Jena yang sedang di mabuk asmara. Kini kembali ke Jena, Jena di sepanjang jalanan, memakan bekal yang disebut buatkan oleh mami nya. Walaupun beresiko makan di dalam mobil, resiko tumpah. Tapi demi tidak terlambat. "Non Jena semalam kemana?" Tanya Pak Supir. Jena yang sedang makan, menghentikan aktifitas makan nya. "Gak kemana-mana." Tentu saja Jena berbohong, mengapa orang-orang yang berada di rumah nya selalu menanyakan hal yang sama. "Semalam saya dengan, suara motor ninja dan suara nona yang membuka gerbang," Kata si Supir. "Ke suatu tempat," Balas Jena dengan tatapan jengah nya. "Non, semalam tuan besar sangat khawatir dengan nona." "Papi?" Tanya Jena memastikan. Supir Itu mengangguk. "Benar, tuan bolak-balik tidak tidur menunggu nona di depan pintu, dan terus menanyai saya. Apa nona sudah pulang apa tidak, bahkan sampai hampir ketiduran, tapi tuan mencari kegiatan untuk tidak tertidur." Penjelasan si Supir membuat Jena tidak nafsu, ada rasa aneh yang dia rasakan. Seperti... Ada rasa nyeri dan, ah susah di jelaskan. "Maaf kalau bikin nona kesal, tapi yang saya ceritakan itu kisah nyata." "Iya," Hanya itu yang berhasil dan bisa Jena keluarkan dari mulutnya. ### Sesampainya nya Jena di kantor tempat nya magang, alias perusahaan nya Deva, Jena langsung turun begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih seperti biasa nya pada pak supir. Baru masuk kedalam lift, Jena bertemu dengan Deva. Tapi kali ini Deva tidak sendiri, dia bersama dengan perempuan yang menurut Jena sangat cantik. "Selamat pagi, pak." Sapa Jena dengan senyuman paksa nya, dan di balas selamat pagi juga oleh Deva dan senyuman yang lebih manis dari Jena. Perempuan itu melihat Jena dan Deva bergiliran lalu menarik tangan Deva saat dirasa nya pintu lift terbuka. "Loh, katanya mau ke rooftop," Kata Deva yang sama-sama Jena dengar. "Gak jadi, aku mau lihat karyawan kamu aja." Pintu lift tertutup setelah itu, 'aku' perempuan menyebut nya dengan aku. Entah kenapa Jena kesal tanpa alasan pada perempuan itu. Padahal dia baru pertama kali bertemu dengan perempuan ini. "Aneh." "Jena!" Panggil seseorang yang sangat Jena hapal. "Halo Andini," Sapa Jena balik dengan Senyuman manis nya. Lalu Andini menyerahkan kopi, membuat Jena bertanya-tanya. "Buat saya?" Tanya Jena memastikan. Andini mengangguk merespon pertanyaan Jena. Jena pun menerima nya dengan mengucapkan terimakasih kepada Andini. "Yang beliin itu dia," Kata Andini sambil menunjuk ke arah salah seorang laki-laki yang berdiri di belakang Andini sedari tadi. Orang itu tersenyum saat di tunjuk oleh Andini. "Dia pemagangan baru loh," Jelas Andini. "Oh gitu, kenalan dong. Saya Arjena, panggil Jena saja," Jena mengulurkan tangan nya ke arah Laki-laki tersebut. "Saya Dery, lulusan management bisnis." Dery menjabat uluran tangan Jena, lalu jabatan tersebut terhenti. "Kamu gimana sih din, dia berarti bukan magang, tapi karyawan baru." "Oh.. Maaf, saya kira magang baru, habis kok masuk kedalam kantor magang. Jadi mikirnya yang nggak-nggak," Kata Andini yang merasa bersalah. Dery tertawa ringan, "gak papa kok. Santai saja, memang tempat untuk karyawan baru sudah penuh, maka nya saya di taruh di tempat magang." Setelah penjelasan oleh Dery, barulah mereka berdua paham dengan situasi nya. Perkumpulan mereka terhalang saat seorang perempuan datang dengan direktur perusahaan. Iya, perempuan tadi dan juga... Deva. Mampus sudah riwayat mereka. "Kalian kok disini, gak melaksanakan tugas kalian, dan malah sakit ngobrol. Gak niat kerja atau gimana?" Itu bukan Deva, tapi perempuan itu. "Maaf, tapi ini masih ada sekitar lima menit sebelum mulai bekerja." Ucap Jena, perempuan itu pun tidak mau kalah, "tapi karyawan yang lain sudah mulai duluan. Itu tanda nya kalian malas bekerja. Kalau tidak niat bekerja yang tidak usah!" Andini mengucapkan maaf nya lalu menggeret Jena serta Dery dari sana. "Maaf mbak saya bukan pemalas, tapi saya disiplin!" Setelah itu Jena sudah tidak terlihat dari bayangan perempuan itu dan Deva. ### Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN