Bu Yanti memperlihatkan fasilitas panti disini. Mulai dari dapur, kamar panti perempuan dan laki-laki, kamar mandi, mushola kecil yang setidak nya dapat di jadikan untuk ibadah.
"Total anak-anak disini berapa, bu?"
"Eum.. Sekitar empat puluh lebih. Laki-laki disini setara banyak nya sama perempuan, kebanyakan yang seumuran anak tk disini. Yang SMA ada sepuluhan kalau gak salah Non," Penjelasan Bu Yanti cukup membuat Jena paham.
Dia ingat sekali dulu, saat pertama kali dia kesini adalah saat Leon di adopsi, benar. Ini adalah panti asuhan tempat Leon berada.
Tapi, pada saat itu dia berada di mobil, tidak turun dan menjemput adik angkat nya dengan senyuman.
"Sudah waktu nya makan malam, Nak Jena mau bergabung?" Tanya bu Yanti dengan senyuman manis nya.
"Boleh bu?"
"Boleh dong, sekalian saya perkenalkan dengan anak-anak yang lain, tunggu sebentar disini ya. Saya mau panggil buat kumpul makan malam, sebentar saja Nak," Anggukan kepala dari Jena berikan kepada bu Yanti yang berpamitan ingin menyampaikan waktu makan malam di panti.
Jena berjalan ke sana kemari melirik-lirik disekitar sini. Lalu tidak sengaja dia mendengar percakapan anak perempuan yang suara nya masih terdengar SD dan suara laki-laki yang terdengar SMA atau SMP.
"Abang Juna berantem lagi? Nanti kalau Bunda lihat abang babak belur gimana?" Tanya perempuan itu, Jena kini melihat mereka berdua di balik pohon besar yang membelakangi mereka.
"Gak papa, abang gak papa kalau semisal di marah Bunda."
Laki-laki itu membalas ucapan perempuan itu sambil mengelus kepala nya. "Abang, kok bisa berantem sampe babak belur sih? Biasa nya kalau abang pulang luka-luka gini, Papa pasti bakal pukul abang, jadi makin luka deh."
Ternyata, mereka adalah kakak adik. Jena terus mengamati kedua nya, hingga seorang anak laki-laki yang terlihat masih tk terjatuh di dekat Jena, dengan cepat Jena berlari menuju anak kecil tersebut.
"Adik yang sakit di bagian mana?" Tanya Jena, tapi pertanyaan nya tidak di jawab oleh anak ini. Dan Jena paham setelah melihat luka di dengkul kaki nya.
"Tunggu sebentar," Jena mengambil obat luka nya dan hansoplas dari dalam tas nya. Tas Jena termaksud lengkap.
Jena pun membersihkan luka nya terlebih dahulu, lalu mengobati nya.
"Adik nama nya siapa?"
"Yio."
"Hah? Yio?" Tanya Jena lebih jelas lagi. Anak kecil itu menggeleng, "bukan ante, tapi yioo!"
"Rio?"
Anak kecil itu mengantuk dengan kepalan tangan yang berbentuk silang di depan d**a nya. Jena tersenyum, lalu mencubit pipi Rio.
"Rio, sini kakak gendong ke tempat makan. Kaki nya kan sakit, mau gak?" Rio menggelengkan kepala nya. Lalu laki-laki SMA yang ada bekas luka di wajah nya dan laki-laki SMA yang sama, dengan laki-laki yang sedang berbicara dengan adiknya.
"Ayo Rio, naik ke punggung bang Juna."
Rio melakukan apa yang di suruh oleh si Juna itu, dengan bantuan Jena sedikit. Lalu setelah itu, Jena mengikuti Si Juna yang sedang menggendong Rio.
"Halo kak!" Sapa anak kecil perempuan yang adik dari si Juna tadi. "Eh Halo, nama kamu siapa?" Tanya Jena sambil tersenyum manis ke arah Anak kecil itu.
"Aku Arjeni, umur aku 8 tahun. Kalau kakak siapa?" Kali ini Anak bernama Arjeni itu menanyakan nama nya.
"Kalau kakak nama nya Arjena, kakak umur 24 tahun. Salam kenal Arjeni," Balas Jena dengan senyuman manis nya.
"Nama kita mirip kak! Kakak Bisa panggil Eni!" Ucap Eni dengan penuh antusias. Jena menggenggam tangan Eni membawa nya menuju tempat makan. Ah, salah, yang tepat Eni yang membawa Jena menuju tempat makan.
###
"Terimakasih Nak Jena sudah mau menyempatkan waktu nya ke panti kami, dan menawarkan diri menjadi guru dasar untuk mereka."
"Eh, seharusnya saya yang berterimakasih karena sudah mau merawat Leon dari kecil sampai sebesar sekarang," Balas Jena tidak kalah tulus. Bu Yanti sudah mengetahui bahwa Jena adalah keluarga baru Leon saat Jena, menawarkan diri.
"Oh iya, karena sudah malam, saya pulang dulu ya bu. Salamin buat adik-adik panti yang tidak dapat bertemu sama saya hari ini bu, sekali lagi terimakasih!" Bu Yanti Mengangguk.
"Hati-hati Nak!"
Jena, masuk kedalam mobil taksi itu. Tapi sepanjang jalanan, ada yang aneh dengan supir taksi ini, dia sedari tadi melirik ke arah Jena lewat kaca tengah. Dan Jena pun baru sadar, jalan ini tidak menuju rumah nya.
"Pak, rumah saya sudah dekat. Turunin saya disini."
Tapi seakan tuli, supir taksi itu engan menurunkan Jena disini. Hingga seseorang yang menggunakan motor ninja nya datang dan meng klakson mobil taksi ini untuk berhenti.
Supir taksi tidak memberhentikan mobil nya, ia malah semakin menambah kecepatan nya. Orang yang menggunakan motor ninja itu pun mengikuti kecepatan supir taksi ini.
Seakan balapan, tidak ada yang menurun kan gas mereka masing-masing. Hingga, ada orang yang berjalan di tengah jalan, yang membuat mobil taksi itu mengerem mendadak dan jangan lupakan motor ninja tersebut.
Untung saja orang yang menyebrangi jalan itu tidak tergores sedikit pun. Dan pemilik motor ninja itu menggedor pintu taksi itu.
"Kembalikan cewek saya!"
Mau tidak mau, supir taksi itu membuka pintu mobil nya dan mempersilahkan Jena keluar.
"Pak, bapak niat mau culik saya? ya!"
Tapi tidak di tanggapi oleh supir itu, dan malah supir itu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Mbak Jena gak papa?" Orang misterius yang menggunakan masker dan helm itu membuka helm dam masker nya.
"Loh Juna? Kok bisa ada disini?"
"Nanti aku jelasin mbak, mending sekarang, mbak naik dulu ke motor. Bisakah?" Jena mengangguk menyetujui perkataan Juna, lalu menaikin motor ninja tersebut.
Di perjalanan, Jena sedang memikirkan sesuatu yang aneh dan asing. "Jun, orang yang tadi mau tertabrak kemana? Kok tiba-tiba menghilang tadi?" Tanya Jena.
"Gini mbak, di perjalanan mau ke panti itu agak angker. Jadi, banyak mahluk halus di jam-jam segini, orang yang hampir tertabrak itu mahluk halus. Sama dengan supir taksi tadi, beda nya yang menyebrang itu mahluk baik, dan yang supir taksi itu mahluk jahat."
Berkat penjelasan Juna, akhirnya Jena paham. Tapi membuat Jena merinding setengah mati.
"Nah mbak, tadi Eni nyuruh aku ngejar mbak, katanya firasat nya gak enak. Maka nya saya ada disini, eh ngomong-ngomong mbak, rumah nya dimana?" Pertanyaan dari Juna membuat lamunan Jena buyar.
"Aah... Oh, itu.."
###
"Makasih ya Juna, Hati-hati di jalan!" Juna menganggukkan kepala nya, setelah itu Juna pergi.
Jena membuka pintu gerbang sekuat tenaga, dan bersyukur gerbang nya tidak terkunci.
Berjalan dengan perlahan Jena berjinjit agar tidak di ketahui orang rumah. Tapi...
"Jena, baru dari mana saja kamu?"
###
Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?