Leon, sudah pergi kembali beberapa Jam yang lalu. Baru-baru ini juga, mami nya terus menelfon nya untuk menyuruh Jena balik ke rumah sakit, tapi Jena tidak merespon nya.
"Non, waktu nya minum s**u, saya buatkan ya---"
"Jangan Bi, hari ini Jena mau ganti saja jadi kopi," Baru mendengar permintaan Jena, Kisum dengan tegas menggelengkan kepala nya.
"Nona Jena gak boleh minum kopi, gak baik buat kesehatan!" Tegas Kisum yang tetap dengan pendirian nya.
"Sekali doang bi, masa gak boleh sih?"
"Gak boleh, non. Nona Jena Terima saja nanti s**u nya meluncur ke kamar."
Kisum pergi meninggalkan Jena menuju dapur, tidak ingin di rayu Jena lebih banyak, jadi dia mencari aman. Jena pun hanya tersenyum tipis saat melihat Kisum. Ternyata, banyak yang sayang gue —pikir Jena.
Setelah itu, Jena kembali menuju kamar nya, mengerjakan tugas nya sebagai magang di perusahaan kawan lama nya. Sesekali mencoba untuk menghubungi kedua teman nya.
"Nana sama Ariel lagi sibuk ya? Telfon nya lanjut nanti saja." Kata Jena.
Baru saja Jena menyalakan laptop nya, pintu nya di ketuk, siapa lagi kalau bukan Kisum. Kisum membawakan s**u yang dia janjikan tadi.
"Masuk bi!"
Pintu kamar terbuka, dan Kisum datang dengan senyuman manis dan satu s**u hangat di atas nampan. "Ini s**u nya nona, jangan lupa di minum. Kalau lelah, berek non, biar cepat selesai,"
"Berek apa, bi?"
"Berek non, yang kalau lelah harus berhenti dulu, bahasa gaul nya kan berek non."
Jena tertawa mendengar penuturan oleh Kisum, susah mencari orang yang seperti Kisum di jaman sekarang, ART lain pasti ada saja akal busuk nya di belakang, tapi bi Kisum tidak. Itu yang membuat Jena berterimakasih terhadap mami nya.
"Oh non, tadi, nyonya besar bilang, kalau mulai lusa, nyonya besar dan tuan bakal tinggal di sini lagi."
Perkataan Kisum membuat Jena menghentikan aktifitas nya seketika. "Kenapa bi? Bukan nya mereka katanya mau tinggal di Singapura?" Bi Kisum menghela napas dalam-dalam.
"Bibi juga gak tahu non, Tiba-tiba sekali bibi di telfon, katanya besok barang-barang nya sudah akan datang besok kesini."
Jena menghela napas panjang, lalu menyenderkan punggung nya ke papan ranjang.
"Kalau begitu, saya pamit dulu ya non. Mau membersihkan kamar milik Tuan dan nyonya besar," Pamit Kisum kepada Jena, dan Jena menganggukkan kepala nya.
Setelah Kisum menutup pintu Jena, Jena kembali melakukan tugas nya, walaupun isi kepala nya masih terpikirkan tentang orang tua nya.
###
"Barang-barang mami sama papi datang sekitar jam berapa, bi?" Tanya Jena di saat berada di atas meja makan. Jena bertanya kepada Kisum yang sedang memasak.
"Kurang tahu non, sepertinya sekitar jam tiga sore non."
Jena menganggukkan kepala nya, lalu mulai menyantap makanan yang telah di siapkan oleh bi Kisum.
"Bi, Jena pulang jam sembilan malam ya, kalau mami papi nanya, jawab aja Jena pergi kerumahnya Nana."
"Ngapain pulang jam segitu kamu," Itu bukan suara Kisum. Mana berani Kisum memanggil Jena tanpa embel-embel 'nona'
"Mami?"
Iya, itu adalah mami nya Jena yang ternyata tadi malam datang lebih dulu dari papi nya dan barang-barang mereka.
"Mami kok ada disini?" Masih dengan tatapan terkejut nya, Jena kembali menanyakan alasan mami nya berada disini.
"Emang gak boleh? Inikan rumah mami," Kata mami, dengan tatapan mengejeknya.
"Papi masih di rumah sakit kan?" Tanya Jena.
"Masih gak ya? Eh, kamu tadi mau kemana pulang malem, tau cewek kok pulang malem."
"Kasih tau gak ya?" Kata Jena dengan nada yang sedikit mengejek. Wenda hanya tersenyum melihat tingkah anak nya yang mirip-mirip dia.
"Kenapa kamu pas lahir gak mirip papi kamu aja ya, ini kok mirip saya, gak asik."
Jena mengerucutkan bibirnya. Kalau sama Mami nya memang gini, melelahkan. Jena berasa anak tiri kalau sama mami nya.
"Lebih gak asik kalau Jena mirip papi,"
"Berarti kamu bukan anak kami dong," Balas Wenda dengan tampilan wajah yang terkejut sambil menutup mulutnya.
"Ada apa ini?"
"Loh?"
"Papi kok ada disini juga?" Tanya Jena dengan wajah terkejutnya.
"Kok nanya, kan yang punya rumah papi, bebas dong mau kesini atau gak," Kata Cahyo dengan senyuman pucat nya.
"Tumben ingat rumah," Sindiran Jena membuat Wenda menyenggol lengan sebelah kanan Jena.
"Lagian kan masih sakit, katanya juga sakit berat, kok di bolehin pulang. Nanti kenapa-napa kan repot," Berdosa sekali Jena ini, tapi Wenda yang mendengarnya hanya tertawa.
"Semalam dokter bilang, Papi kamu sudah mendingan. Kalau untuk perobatan nya kan bisa di rumah, nanti dokter terpercaya bakal datang buat meriksa Papi."
"Enak ya, banyak duit mah gitu."
Bi Kisum memecahkan keheningan dengan makanan yang baru disajikan dengan rapi di atas meja makan.
"Tuan, nyonya, nona, makanan nya sudah bisa di santap."
Barulah setelah itu, mereka menuju meja makan. Menyantap hidangan dengan diam dan nikmat, tanpa ada nya suara.
"Mi, Jena yang bakal pulang lama. Jangan di tunggu," Kata Jena.
"Kalau lebih dari sepuluh malem, mami kunci pintu gerbang,"
"Kunci aja."
Wenda menghela nafas panjang, tidak kuat dengan anak sulung nya yang dia rasa karma bagi dia, karena dulu pernah bersikap seperti itu saat muda.
###
Berdiri di parkiran hingga dua jam, itu yang sedang dilakukan oleh Jena. Tadi, sebelum pulang, Deva mengirimi nya pesan, mengajak perempuan itu untuk pulang bersama. Dan menyuruh Jena menunggu di parkiran. Tapi, Jena tidak melihat tanda-tanda kemunculan Deva.
"Dia rapat mendadak kah? Kok lama banget, sih!" Jena melirik ke arah jam nya dan sesekali melirik ke arah mobil-mobil yang lain.
"Apa dia udah pulang ya? Gue gak begitu hapal lagi mobil nya,"
"Atau tinggal aja kali ya, yasudah tinggal aja, gue juga ada urusan. Lama nunggu dia," Setelah menyetujui monolog nya, ia mengirimi Deva pesan. Bahwa dia akan pulang duluan.
Setelah itu, Jena memesan taksi lewat aplikasi online. Jena menyuruh supir nya tidak menjemputnya karena katanya, Deva mau mengajak nya pulang bersama.
"Penumpang atas nama Arjena?" Tanya Seorang supir taksi, Jena tersenyum lalu mengangguk.
"Iya saya,"
Jena masuk kedalam mobil taksi tersebut. Perlahan, mobil taksi itu melaju ke tempat yang Jena minta.
###
"Jadi, apa benar Nak Jena mau menyumbangkan jasa di panti ini?"
Jena tersenyum, lalu mengangguk. "Saya hanya bisa membantu anak panti dalam baca, tulis, menghitung, dan bahasa asing. Sebatas pelajaran anak tk, jadi uang untuk masuk SD nya cukup, tidak perlu di masukkan ke tk."
"Alhamdulillah kalau begitu Nak Jena, terimakasih."
Bu Yanti---pemilik panti asuhan ini tersenyum dan terus-terus mengucapkan Terima kasih kepada Jena.
"Oh iya bu Yanti, kebetulan saya punya beberapa pakaian masa-masa saya SMA dan SMP dulu, masih ada di rumah dan masih bagus, boleh saya sumbangkan juga 'kan?"
"Boleh Nak Jena, sangat boleh. Terimakasih sekali lagi, Nak Jena mau berkeliling di sekitar panti?" Tawar Bu Yanti. Jena menganggukkan kepala nya menyetujui. Setelah itupun, Jena di ajak bu Yanti untuk berkeliling.
###
Thank you buat para readers! Sambil baca jangan lupa cerita nya di masukkin ke perpustakaan yaa, biar tau kapan aku uptade! Dan jangan lupa buat follow akun ini. See you! ?