PRIA di depan Emily mengulurkan tangan menolong. Setelah mengerjai Dapper habis-habisan sampai membuat pria itu marah Emily tidak percaya sekarang Dapper masih berbaik hati mau menolongnya, dia tidak sedang mempermainkan Emily kan?
Emily memperhatikan ekspresi Dapper siapa tahu menemukan jejak-jejak kebohongan di sana. Namun tidak tertebak sama sekali. Tidak baik menolak inisiatif baik dari orang, Emily teringat kata-kata Chloe dan memutuskan memercayai Dapper.
Tapi..., oh s**t!
Ketika Emily hendak menggapai telapak tangan Dapper tiba-tiba saja pria itu menarik tangan hingga membuat uluran tangan Emily mengambang ke udara. “Mau minta tolong padaku?” Dapper mengulang ejekan yang kedua kali, sekarang mereka impas.
Tangan Emily mengepal kemudian diturunkannya kembali dengan cepat. Bodoh, pria macam dia mana mungkin punya inisiatif yang baik, Emily merutuk dalam hati. “Kau memang penipu berengsek.” Emily menggeram kesal.
Dapper tergelak sedangkan Emily mencoba bangkit sendiri. Dan apa-apaan ini? Kenapa dalam keadaan seperti sekarang pergelangan kakinya malah tidak bisa di gerakkan.
“Aww.” Emily meringis ketika ia mencoba bangkit sekali lagi. “Kenapa? Kakimu terkilir?”
Emily mendongak dan melayangkan tatapan tajamnya. Sial, sial, sial! Benak Emily terus menerus mengumpat. Dapper berjongkok, jemarinya menyentuh pergelangan kaki Emily dan membuat wanita itu mengadu kesakitan.
“Dasar bodoh! Mangkannya jangan bertindak kekanakan.” Emily ingin menangis ketika Dapper menjitak keningnya sambil mengomelinya bak anak kecil. “Kau menangis?” Dapper bertanya kaget sambil menelengkan kepala menatap wajah Emily lebih dekat.
Emily beringsut mundur seraya mengucek-ngucek mata supaya tidak ketahuan menangis. Pasti sangat memalukan terlihat cengeng di depan Dapper sekarang. “Tidak. Mataku kemasukan debu.”
Dapper mendecih tak habis pikir mendengar kebohongan yang wanita itu ucapkan. Mana mungkin kemasukan debu memengaruhi suara Emily yang juga terdengar parau.
Kalau saja wanita yang menangis di depan Dapper sekarang bukan Emily, Dapper mungkin saja tidak peduli bahkan sudah meninggalkannya sedari tadi. Namun sayang, wanita yang ia lihat sekarang benar-benar Emily. Wanita yang entah mengapa tidak bisa ia tinggalkan begitu saja sejak pertemuan pertama mereka saat one night stand dulu.
Dapper ingin membebaskan Emily dari sana dan memiliki wanita ini seutuhnya. Tapi mengingat keberadaan Chloe, Dapper tidak bisa sembarangan memilih wanita apalagi wanita berprofesi seperti Emily. Karena itu dahulu Dapper bertekad membeli Emily sebagai wanita yang dapat dia ajak bersenang-senang saja, meskipun tak Dapper sangka jawaban yang keluar dari mulut wanita itu justru sebuah penolakan.
Dapper kesusahan menjerat Emily ke dalam hidupnya sebab itulah sekarang dia sangat senang bisa bertemu dengannya lagi dalam keadaan yang lebih menguntungkan. Kini Dapper tidak akan lagi kesulitan memiliki wanita ini, karena Emily memang sudah ditakdirkan menjadi miliknya.
“Dapper! Lepaskan aku!”
Emily meronta-ronta minta dilepaskan ketika Dapper tiba-tiba bergerak menggendongnya. “Kakimu terluka sayang.” Dapper menjawab santai.
Emily merengek kesal, “Biarkan aku merangkak saja Dapper! Itu lebih baik daripada aku harus kau gendong seperti ini.”
Dapper menaikkan salah satu alisnya, “Baiklah kalau itu yang kamu mau.” Emily terbelalak ketika Dapper menurunkannya di tengah-tengah tangga. Hell, ia harus merangkak naik ke setiap anak tangga? Pintar sekali pria ini memilih tempat.
Emily menatap lesu anak-anak tangga yang terhitung banyak dan dia harus melewati semua tangga itu dengan cara merangkak. Siksaan ini bahkan lebih parah daripada saat ia bekerja di rumah bordil, Dapper memang kejam.
Sampai di anak tangga kesepuluh, Emily berhenti merangkak, bukan hanya lelah tapi juga karena rasa sakit di pergelangan kakinya yang seolah memburuk. Masih di posisi merangkak, Emily menoleh ke belakang di mana Dapper berdiri di antara anak tangga, di bawah Emily sambil melipat tangan, sedang mengawasi dirinya.
“Dapper...” Emily memanggil lemas hingga terdengar mirip suara desahan.
Suara yang benar-benar membuat pertahanan Dapper roboh.
Melihat Emily merangkak dengan cara menungging membuat bagian belakang dress merah yang dia gunakan sedikit tersingkap ke atas hingga memperlihatkan celana dalam berwarna hitam yang dikenakannya.
Potongan daada Emily memang tidak seberapa lebar, tapi berjalan dengan cara seperti itu tetap saja membuat belahan dadanya terlihat jelas. Dan demi Tuhan... mengapa Emily harus menoleh pada Dapper dengan tampang dan suara yang begitu menyulut gairahnya.
Dengan gelisah Dapper berjalan menghampiri Emily kemudian tanpa basa-basi segera menggendong tubuh wanita itu menuju kamar.
••••
“Dapper.”
“Hmm...”
Wanita yang duduk bersandar di punggung ranjang mengerucutkan bibir mendengar jawaban singkat pria di sampingnya, sedangkan Dapper nampak tidak peduli dan fokus mengolesi salep di kaki Emily.
“Kamu marah ya?” Wanita itu kembali bertanya seraya memperhatikan wajah Dapper yang tak berekspresi. “Tidak.”
“Kenapa tidak menyuruh Sheila yang mengobatiku saja?”
“Dia menemani Chloe belajar.” Dapper lagi-lagi menjawab tak acuh, dia juga tidak mau melihat wajah Emily sama sekali.
Emily mendengkus, “Daripada kamu repot-repot melakukan ini sendiri. Lihat! Kamu terlalu banyak mengoles salep, ya ampun... kakiku bisa lengket semua kalau begini.” Emily mengambil selembar tissu dari atas meja kemudian mengelap pergelangan kakinya.
Dapper menganga melihat perbuatan wanita itu, “Hei! Kamu menghapus semua salepnya!” Dapper mencekal tangan Emily dan otomatis menatap matanya. “Kamu hanya membuatnya semakin parah Dapper, panggil saja Sheila supaya membantuku,” gerutu Emily sembari berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Dapper.
Mendengar ucapan egois Emily, Dapper mulai tidak terima, “Tidak! Lebih baik Sheila menemani anakku belajar daripada mengobati seorang wanita bodoh yang malah mengajak anakku bermain kejar-kejaran sampai mencelakakan dirinya sendiri.”
Emily terdiam sesaat, dia tahu Dapper sedang marah meskipun pria itu bilang tidak tapi, haruskah ia menyebut dia bodoh dan membanding-bandingkan dirinya dengan Sheila? Mereka jelas berbeda!
“Aku bodoh dan Sheila jauh lebih pintar, kau benar. Kenapa Chloe tidak menganggap dia saja sebagai ibunya daripada aku si wanita bodoh ini, hah!” Emily membuang wajah dari Dapper kemudian bersedekap kesal.
“Dasar wanita jalang, kau pikir karena siapa dirimu berada di sini sekarang! Kalau bukan karena Chloe, aku sudah pasti mengembalikanmu ke Connie saat itu juga.” Dapper membalas tak kalah tajam. Antara menahan gairah serta emosi, Dapper benar-benar meledak sekarang.
Kata-kata menyakitkan Dapper menohok hati Emily hingga memicu air mata wanita itu keluar. "I hate you. I hate you so much," ujar Emily serak, menahan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dapper sadar bahwa ia telah keterlaluan, lantas merasa menyesal. "No, I don't—"
Emily yang sudah kecewa dan marah pada pria itu berteriak, "I should! I should hate you!"
"I'm sorry."
“Tidak apa, aku memang seharusnya tidak berhak menginjakkan kaki di rumah ini. Seperti yang kau bilang, aku hanya wanita jalang yang tidak tahu diri. Jadi sebaiknya aku pergi." Emily turun dari atas ranjang lalu melangkah menuju pintu keluarga.
Dapper berusaha menahan tangan Emily agar tetap tinggal, "Tidak, jangan.” Suaranya terdengar tidak berdaya.
Namun suara lembut itu tidak akan mengubah keputusan Emily untuk pergi, dia muak dan sangat merasa terhina ketika Dapper menyebut dia wanita jalaaang yang berpikir hanya memanfaatkan Chloe agar bisa tinggal di sini.
“Kuharap aku tidak bertemu denganmu pria sepertimu lagi!" Emily berujar sinis, kemudian menepis tangan Dapper dan berlari meninggalkan ruangan.
Brakk!
Pintu tertutup dan Emily sudah pergi meninggalkannya. Dapper menganga, Emily benar-benar akan meninggalkan rumah malam-malam begini? Dengan kaki seperti itu?
“Mommy! Mommy akan pergi ke mana?”
Chloe berlari memeluk kaki Emily ketika wanita itu hendak menyentuh handel pintu. Emily berjongkok di depan Chloe kemudian mengusap puncak kepala anak itu.
“Maaf Chloe, Mommy tidak bisa tinggal lebih lama, sekarang aku benar-benar harus pergi."
Isak tangis Chloe perlahan terdengar. “Tidak. Mommy tidak boleh pergi! Mommy sudah janji akan tinggal di sini bersamaku dan Daddy.” Chloe memeluk dan menangis di bahu Emily.
Emily menggigit bibir cemas, kalau dia tidak cepat-cepat pergi, Dapper pasti akan segera turun dan mencegahnya. Emily terpaksa merenggangkan pelukan mereka, “Chloe anak yang baik kan? Kalau Chloe sayang pada Mommy, Chloe harus biarkan Mommy pergi. Mommy janji tidak akan meninggalkanmu sayang..., oke?”
Anggukan kepala dari anak itu membuat Emily merasa lega luar biasa, beruntung Chloe mau menurut. Suara gemuruh dari atas langit menyambut mereka ketika baru saja keluar dari rumah, menandakan sebentar lagi akan turun hujan.
“Mom yakin ingin pergi sekarang?” Emily tersenyum seraya mengusap pipi gadis itu supaya tidak khawatir. “Terima kasih sudah mencemaskanku tapi aku akan baik-baik saja.”
Setelah mengucapkan perpisahan, Emily lantas berlari meski sedikit tertatih-tatih. Meninggalkan Chloe yang berdiri sendirian di beranda depan rumah sambil melambaikan tangan. “Mom janji ya harus kembali lagi! Chloe sayang Mommy! Chloe—sayang—mommy!" Chloe berteriak membentuk teropong di depan mulutnya.
Membuat Emily berhenti melangkah dan berbalik menatap sendu wajah anak itu. “Sial! Aku mulai menyayangi Chloe seperti menyayangi anak kandungku sendiri.” Emily mengumpat sedih lalu tanpa menjawab apa-apa kepada Chloe, dia kembali berjalan meninggalkan rumah.
Entah akan ke mana Emily pergi, yang pasti tidak ke rumah ini lagi. Dapper benar-benar kelewatan, Emily memang wanita tunasusila tapi tidak pernah sekalipun ada yang menyebut dia jalaaangg.
Mungkin karena Emily juga hidup dengan sesama jalang jadi tidak mungkin antara mereka saling menghina. Ngomong-ngomong tentang teman-teman jalang Emily, ia lantas teringat dengan Valeria. Wanita berambut pendek yang cukup akrab dengan Emily sebelum dia dibeli oleh seorang pria tiga tahun yang lalu, kira-kira Valeria hidup seperti apa sekarang?
Sebelum pergi Emily ingat Valeria pernah mengatakan kalau setelah dibebaskan mereka akan langsung menikah, Valeria dan pria yang telah membelinya, mereka saling mencintai. Jadi, Valeria pasti hidup bahagia, Emily jadi iri.
Kisah Valeria hampir mirip dengan kisah Emily, mungkin dia bisa memiliki akhir yang sama membahagiakan jika saja Dapper membelinya karena cinta. Tapi membayangkan seorang Dapper mencintai dia, Emily rasa itu mustahil.
Rintik-rintik air dari langit mengenai permukaan kulit Emily hingga membuyarkan lamunan panjang wanita itu. Emily menengadahkan tangan dan seketika juga hujan deras. Kepala Emily menunduk putus asa, kenapa kesialan selalu datang di waktu-waktu yang tidak tepat.
“Kamu tidak kedinginan?” Emily melihat sepatu berwarna cokelat berhenti di depannya bersamaan dengan sapaan seseorang. Perlahan, Emily pun mendongak dan termenung melihat seseorang yang sama basah kuyubnya dengan dia.
“Sedikit,” jawab Emily tanpa melepas tatapan dari orang itu.
“Ayo kita meneduh di sana!” Orang itu menunjuk sebuah pos penjagaan yang kosong tapi Emily tetap diam saja karena terkejut. Tak kunjung mendapat respon dari sang lawan bicara, seseorang itu lantas menarik pergelangan tangan Emily dan membawa tubuh mereka meneduh di sana.
BERSAMBUNG...