“KENAPA mengajakku?”
Bukannya berterima kasih, Emily malah bertanya pada wanita bersepatu cokelat yang duduk di atas balok beton, terlihat sedang mengamati hujan. Wanita itu lantas menoleh seraya tersenyum, “Karena ku pikir kita berada dalam keadaan yang sama.”
Emily menaikkan salah satu alis, “Kamu juga meninggalkan rumah?”
“Kalimatmu naif sekali. Kamu bukannya meninggalkan rumah tapi diusir dari rumah oleh suamimu, iyakan?” Wanita lawan bicara Emily menyangkal dengan menyebalkan.
Emily akui dia memang diusir Dapper, tapi Emily bukan istri pria itu meskipun Chloe menganggapnya ibu. Aaiishh.., Emily jadi benci pada wanita asing ini hanya gara-gara dia menyebut Dapper suaminya.
“Tidak,” jawab Emily cuek.
Wanita disebelah Emily terkekeh. “Melihatmu marah, aku jadi yakin kalau ucapanku benar.”
Menyebalkan sekali, Emily penasaran siapa sebenarnya wanita aneh ini.
“Kenapa terus membicarakanku! Kamu bilang kita berada di keadaan yang sama, itu berarti kau juga diusir kan,” gerutu Emily sembari memalingkan wajah menatap hujan.
“Namaku Juliette Brewster.”
Emily terpaksa menatap wajah Juliet ketika wanita itu memperkenalkan namanya hanya dalam beberapa detik untuk menyahut, “Emily Portman,” sebelum kepala Emily kembali ke depan.
Hebat, cuma butuh waktu sepuluh menit kini mereka sudah mengenal satu sama lain.
Juliet tersenyum jail sembari meledek, “Dasar pemarah! Pantas saja suamimu mengusir dari rumah.” Mata Emily melotot, “Kamu bilang apa?” suaranya meninggi. Berhasil memancing kemarahan Emily, Juliet lantas terbahak senang.
“Aku belum menikah asal kau tahu saja putri Juliet yang terhormat—”
“Kamu tahu aku seorang putri?” Juliet mendadak berhenti tertawa dan menimpal kaget. Sedangkan Emily mengerjapkan mata tidak mengerti, kenapa Juliet sekaget itu ketika dia memanggilnya dengan embel-embel putri.
“Well... meskipun masa kecilku tidak sebaik masa kecil orang lain, tapi aku masih tahu kisah romantis tentang Romeo dan Juliet. Salah siapa namamu sama-sama Julietnya!” Emily lagi-lagi mengomel.
“Jadi, karena itu ya...” Juliet mengembuskan napas lega, tindakan yang membuat Emily menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir. Wanita ini sungguh aneh.
Juliet mendongak menatap wajah Emily dengan ekspresi kembali senang, dia jago juga merubah-ubah ekspresi. “Jangan menatapku!” Ditatap lama oleh wanita seperti ini membuat Emily tidak nyaman. Orang-orang bisa berpikir mereka terserang virus lesbian karena tatapan gembira yang Juliet pancarkan tersebut.
“Aku seorang putri bangsawan.” Juliet tidak mengerti untuk apa dia mengaku pada Emily.
“Aku mantan pelacuuur.” Emily ikut-ikutan bercelatuk.
“Hahaha.”
“Hahaha.”
Emily dan Juliet tertawa bersamaan ketika mendengar betapa konyolnya kejujuran mereka. “Apa aku harus memanggilmu Tuan Putri sekarang?” goda Emily. Juliet menaikkan alis tertarik, “Kalau begitu aku harus berikan selamat pada penyandang mantan pelacuuur satu ini.”
Mereka menatap satu sama lain dalam diam, Emily pikir mereka sangat cocok untuk berteman. “Mau bertaruh?”
Emily mengernyitkan dahi, “Apa?”
“Orang yang dijemput lebih dulu harus menemui orang yang ditinggalkan.” Juliet berkata sambil menatap lambaian daun-daun pohon akibat embusan angin malam dengan nanar.
Emily memanyunkan bibir menatap ke atas langit yang semakin gelap, kemudian terpaku pada seorang pria yang terlihat sedang mencari seseorang sambil berlari hujan-hujanan. “Aku tahu, aku pasti kalah,” kata Juliet setelah bertemu pandang dengan seorang pria tadi.
Emily melirik bingung kesedihan di wajah wanita itu, dia mengatakan kalah disaat ada seorang pria yang menjemputnya. “Kau meledekku ya?” Emily tergelak hambar.
Sebulir air mata menetes dari pelupuk mata Juliet dan membuat Emily tertegun melihatnya. “Dia bukan pria yang mengusirku, karena dia yang ku harapkan tidak akan pernah memintaku kembali.”
Emily mulai mengerti sekarang. Pria yang sekarang ada di sini dengan pria yang Juliet harapkan adalah orang yang berbeda.
“Juliet!”
Emily melihat Juliet tersenyum pada pria di depannya.
“Romeo...” jawab Juliet dengan suara lirih.
Mulut Emily melongo. Dia tidak sedang menikmati sebuah opera Romeo dan Juliet, bukan? Kenapa Juliet menyebut pria ini Romeo. Oh Ya Tuhan... selain nama, romantika yang terjadi pada mereka hampir sama tragisnya seperti kisah Romeo dan Juliet yang asli.
“Ayo kita pulang,” perintah Romeo sembari menggenggam telapak tangan Juliet yang dingin. Juliet mengangguk, tapi sebelum mereka pergi dia menyempatkan memandang Emily.
“Jangan khawatir Em, kaulah pemenangnya. Jadi, temui aku setelah ini oke?”
Kepala Emily mengangguk lambat. Sangat jelas kesan keterpaksaan dari senyum yang Juliet ukir saat ini. Dalam cerita Romeo dan Juliet yang asli, Romeo adalah sosok pria yang sangat Juliet cintai. Namun dalam kisah nyata seorang Juliet teman Emily, Romeo hanyalah sosok bayangan bagi Juliet.
Emily memperhatikan dengan lesu kepergian mereka. Setidaknya, meski sebatas bayangan, Juliet masih beruntung memiliki pria yang akan tetap menemaninya di mana pun dia pergi.
Sementara dirinya? Emily mengusap-usap lengannya yang terasa dingin. Juliet mungkin salah mengira Emily memenangkan taruhan ini.
Emily berbaring meringkuk di lantai pos penjagaan, tidak peduli seberapa kejam takdir datang mengujimu, satu hal yang patut disyukuri adalah adanya seseorang yang peduli padamu.
Isak tangis Emily samar-samar terdengar menembus suara hujan. Nyatanya, sampai Emily kelelahan menangis sekalipun, Dapper tidak datang mencarinya.
••••
Di pagi yang cerah setelah hujan deras menimpa kemarin, seorang wanita paruh baya terlihat berhenti berjalan ketika melihat wanita berpakaian minim tertidur di lantai pos penjagaan dengan cara memeluk tubuhnya sendiri seolah kedinginan. “Apa kau sedang mabuk? Kenapa tidur di sini?” Anna melepas jaket kemudian dipakaikannya menyelimuti Emily.
Mata Emily perlahan-lahan terbuka. Melihat dia tidak sendiri melainkan ada seseorang di sini Emily pun segera duduk sambil membenarkan tatanan rambut yang acak-acakan. “Maaf, aku tidak tahu ada orang di sini.”
Wanita di sebelah Emily nampak khawatir, ia lantas mengusap-usap lengan Emily dengan simpati. Demi Tuhan..., kulit anak ini sangat dingin, Anna mendengkus dalam hati.
“Di mana rumahmu? Ayo aku antar pulang.” Emily diam saja ketika Anna menarik tangannya supaya berdiri.
“Jangan diam terus, ayo!” Anna berdecak lidah.
“Kamu itu seorang wanita, tidak baik tidur di luar hanya mengenakan dress selutut begini. Kamu bisa mati kedinginan, apalagi kemarin juga hujan deras.” Anna menggerutu sembari membantu Emily memakai jaketnya.
Air mata Emily turun menerima perlakuan baik dari wanita paruh baya ini. Dia teringat pada Olivia atau mendiang ibunya yang juga kerap mengomeli Emily ketika dia melakukan suatu kesalahan.
Andai Olivia masih hidup, dia pasti marah besar saat mengetahui Tom menjual Emily pada Connie. Tapi ibu Emily telah meninggal, meskipun tidak di sini Emily tahu kalau Olivia pasti sedih melihat kehidupan Emily dari atas sana.
“Jangan menangis Nak. Apa kamu tidak punya tujuan pulang?” Anna mengusap air mata Emily menggunakan ibu jari, sementara Emily menganggukkan kepala ironis.
“Kamu bisa tinggal di rumahku kalau mau, dekat dari sini.” Emily menunduk berpikir, ibu ini terlihat sangat tulus menawarkan tempat tinggal untuknya sedangkan Emily juga sangat membutuhkan rumah sekarang.
“Apa boleh?”
Anna mengangguk mantap diiringi senyuman lebar. “Aku tinggal sendirian, anak-anakku bekerja sebagai perantau dan jarang pulang ke rumah,” jelas wanita tersebut, setengah muram.
“Terima kasih Bibi, Anda baik sekali,” Emily menimpal senang hingga otomatis memeluk Anna. “Hahaha, iya-iya. Sekarang ayo kita pulang ke rumahku,” ajak Anna seraya mengulurkan tangan.
Emily lantas menyambut tangan wanita paruh baya itu kemudian berjalan bergandengan menuju rumah baru Emily.
••••
Sebulan tinggal bersama Anna, kehidupan Emily mengalami banyak perubahan. Emily tidak memanggil Anna dengan sebutan bibi lagi, hubungan mereka kini jauh lebih dekat hingga membuat Anna menyuruh Emily memanggilnya ibu.
Layaknya sepasang anak dan ibu sungguhan, sepanjang hari Emily membantu Anna membersihkan rumah, berkebun, dan memijat Anna setiap wanita paruh baya tersebut pulang bekerja. Selain menjadi petani, Anna juga bekerja sebagai office girl disebuah perusahaan terkenal tapi terdengar biasa saja ditelinga Emily sebab ia tidak terlalu peduli pada hal-hal semacam itu.
Ternyata hidup sederhana jauh lebih nyaman dibanding hidup bergelimang harta. Emily bersyukur dalam hati sembari menatap ke arah langit berwarna orange. Disamping Emily ada Anna yang duduk di sana menemani Emily menikmati pemandangan senja.
“Uhuk... uhuk.” Anna terbatuk-batuk keras. Menyita perhatian Emily agar menoleh.
“Sudah aku bilang berkali-kali jangan memaksa ikut berkebun, lihat! Ibu jadi sakit.” Anna menepuk pelan bahu Emily yang sedang memarahinya.
“Aku tidak apa-apa, ini sudah biasa terjadi,” bantah Anna sebelum kembali terbatuk.
Emily mengembuskan napas kesal, wanita tua ini sok kuat sekali. Tidak ingin batuk Anna semakin meradang, Emily masuk ke dalam rumah untuk membuatkannya teh jahe yang berguna sebagai pereda batuk.
Emily harap setelah meminum teh jahe buatannya keadaan Anna bisa segera membaik.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Malamnya keadaan Anna bertambah parah disertai demam. “Ibu tidak boleh bekerja besok, biar nanti aku hubungi pihak perusahaan supaya mengizinkan libur,” tutur Emily seraya sibuk memeras kain kompres untuk Anna.
Anna menggelengkan kepala dengan wajah pucat. “Tidak bisa, Ibu harus tetap bekerja kalau tidak mau dipecat.” Emily meletakkan kain kompres tersebut ke atas dahi Anna kemudian bersedekap kesal mendengar bantahan Anna yang keras kepala.
“Kalau begitu biarkan aku menggantikanmu,” sahut Emily, memancing Anna untuk tersenyum. “Jangan, aku sudah terlalu banyak merepotkanmu,” jawab Anna dengan suara lemas.
Mata Emily melirik sedih, “Kau kan ibuku! Sebagai satu-satunya anak yang tinggal di sini bersamamu, kau memang harus merepotkanku. Karena itulah gunanya seorang anak...” Emily mengusap kasar bulir air mata yang turun ke pipi.
“...tanpamu aku mungkin sudah jadi gembel sekarang. Jadi, jangan cegah aku melakukan semua hal untuk ibu.”
Perkataan Emily membuat Anna tertegun.
Dia tidak pernah mendengar kata-kata seindah itu barusan, apalagi dari seorang anak angkat yang benar-benar menganggapnya sebagai ibu kandung.
“Baiklah, lakukan apapun yang kau suka.” Bola mata Anna mulai berair.
“Sini, peluk ibumu.” Anna merentangkan tangan dan tubuh Emily langsung melesat memeluknya.
“Hiks... terima kasih Ibu hiks... terima kasih.” Emily terisak dalam pelukan Anna, turut membayangkan perasaan Chloe yang selama ini menganggap dia sebagai mommy-nya.
Emily telah salah menganggap enteng rasa sayang Chloe padanya, sama seperti Emily yang berharap Anna selalu di sini untuknya, Chloe pasti juga menginginkan hal serupa. Emily sangat menyesal mengingat ia sudah tega meninggalkan gadis kecil itu. Mungkin sampai hari ini pun, Chloe masih menunggu Emily menemuinya.
BERSAMBUNG...