C INTERNATIONAL GROUP, terpampang besar di tengah halaman utama perusahaan. Emily melipat tangan sambil mengamati setiap lekuk bangunan dengan pandangan menilai.
Perusahaan ini memiliki gedung yang sangat besar dan bagian luarnya juga luas, ditambah penampilan wow dari para karyawan bisa Emily simpulkan jika tempat ini bukan sekadar perusahaan saja, tempat ini merupakan tambang harta karun!
Pantas saja Anna terus-menerus menceramahi Emily supaya berhati-hati ketika bekerja sebelum pergi kemari, rupanya ia sedang dalam perjalanan masuk ke kandang orang-orang elite yang kebanyakan suka menindas orang rendahan seperti mereka.
“Hai, kenalkan namaku Greg Anderson, penanggung jawab kebersihan perusahaan. Kamu office girl baru di sini ya?”
Seorang pria berperawakan kurus namun tinggi tiba-tiba muncul dari belakang punggung Emily ketika wanita itu sedang membersihkan lantai menggunakan alat penyedot debu.
“Hai juga Greg. Namaku Emily Portman, aku bekerja menggantikan ibuku karena dia sedang sakit.”
“Ibumu?”
Emily tersenyum kikuk melihat kebingungan Greg. “Anna Stiles, dia bukan ibu kandungku tapi aku sudah menganggapnya sebagai ibuku sendiri,” jelas Emily yang lalu membuat Greg mengangguk-angguk paham.
“Aku mengenal Anna, dia wanita tua yang tegar.” Greg bersandar ke dinding lorong sementara Emily terus menggerakkan alat penyedot debunya naik-turun.
“Ya... dan wanita tua yang sangat keras kepala,” seloroh Emily sembari tersenyum ke arah Greg sekilas.
Greg tertawa untuk beberapa saat sebelum raut wajahnya berubah murung.
“Aku harap kamu lebih beruntung dari Anna.”
Mendengar ucapan tidak masuk akal Greg, Emily lantas menghentikan pekerjaan kemudian berbalik menghadap pria tersebut dengan cemas.
“Maksudmu?” Emily menautkan kedua alis.
“Ekhm... tidak usah kau pikirkan. Lanjutkan saja pekerjaanmu, aku juga harus segera kembali bekerja.” Greg menatap jam tangan usai melempar senyum lalu mengambil langkah seribu meninggalkan Emily seolah sengaja menghindari pertanyaannya.
Emily masih tidak bisa mengalihkan tatapan dari pintu lift yang telah menelan sosok Greg di sana. Bibir Emily mengerucut lucu, apa maksud pria itu sebenarnya, lebih beruntung untuk apa?
••••
Pada jam makan siang Emily pergi menuju kantin khusus pegawai kelas bawah untuk mengisi perutnya yang sejak tadi berteriak minta diisi. Begitu masuk ke baris antrean, Emily baru sadar jika ia tengah menjadi pusat perhatian semua orang di sini.
“Aku dengar, dia anaknya Anna. Namanya Emily.” Wanita berambut tergerai bernama Hayley berbicara santai, tak peduli jika tempat mereka mengobrol dengan tempat Emily berdiri hanya selisih beberapa langkah.
“Siapa? Anna Stiles, wanita tua yang gila itu!” Wanita berkaca-mata di samping kanan Hayley malah memekik kaget secara terang-terangan.
“Anak orang gila itu cantik juga,” puji Gina yang duduk di sebelah kiri.
“Aku harap dia tidak sama gilanya seperti Anna.” Sandra atau si wanita berkaca-mata kembali berseloroh, memicu tawa dari kedua teman-temannya.
“Hahaha.”
Brakk!
Aksi Emily menggebrak meja yang tak disangka-sanga itu sontak mengejutkan seluruh penghuni kantin. “Apa-apaan kau!” maki Hayley sambil beranjak dari tempat duduk, salah satu wanita dari ketiga orang yang duduk di meja tersebut.
“Apa makananmu kurang sampai harus menambah-nambah dengan cara menggosipkan orang lain, hah!” ketus Emily.
Mulut Hayley melongo mendengar hinaan yang sangat berani Emily lontarkan padanya. “Apa maksudmu! Haha...” Hayley tergelak, “...ternyata kau sama gilanya dengan Anna. Dasar sepasang anak dan ibu gila!”
Plak!
Satu buah tamparan melayang mengenai permukaan pipi Hayley. Sandra dan Gina dibuat meringis melihat tamparan menyakitkan itu. “Berani sekali kamu menampar temanku!” bela Sandra kemudian. Emily melirik sinis, “Kenapa? Kau mau juga?” ledeknya.
Sandra mengepalkan tangan geram, wanita itu lantas menatap Hayley dan Gina bergantian seolah mengisyaratkan sesuatu yang menurut Emily sebuah rencana buruk untuknya.
“Akh!”
Tepat sekali, Emily langsung merasakan tarikan tangan seseorang pada ikatan rambutnya dan membuat kepala wanita itu otomatis mendongak. “Lepaskan.” Emily mendesis.
Gina tersenyum remeh sedangkan Hayley terlihat sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecil yang dia letakkan di atas meja.
Emily mendelik melihat jari-jemari Hayley yang sibuk memutar-mutar sebatang lisptik berwarna merah. Kepanikan Emily semakin menjadi-jadi waktu Sandra mengunci kedua tangannya ke belakang. Bagus.., ia hampir menjadi seorang tawanan lagi sekarang.
“Untuk ukuran orang gila sepertimu, tidak adil memiliki wajah secantik ini.” Jari telunjuk Hayley bergerak menelusuri pinggiran wajah Emily dengan iri.
“Jadi, izinkan aku menunjukkan seperti apa penampilanmu yang seharusnya.”
Hayley menorehkan lipstik di sepanjang permukaan wajah Emily, ketiga wanita itupun tertawa sedangkan Emily memberontak berusaha melepaskan diri. Bukan cuma Hayley, Sandra dan Gina yang terlihat puas melihat Emily tersiksa, tapi sebagian besar orang-orang di sini juga ikut terbahak mentertawakannya.
Air mata Emily meluncur dari sudut matanya.
“Hahaha.”
“Hahaha.”
Kepala Emily menoleh ke kanan dan ke kiri berupaya menghindari olesan lipstik Hayley. Namun perbuatan itu justru memancing tangan Hayley menekan dagunya supaya diam. Sebulir air mata Emily kembali menetes.
Dia yakin wajahnya sekarang pasti sudah sangat menyeramkan seperti badut di film horor berjudul IT. “Lepaskan aku! Lepaskan...” teriakan lantang Emily perlahan berubah menjadi rengekan tak berdaya.
“Hahaha.”
“Hahaha.”
Hahahahahaha...
Tubuh Emily bergetar ketakutan.
Situasi ini mengingatkannya pada hari di mana Tom menjual Emily pada Connie. Hari pertama Emily diperkosa hingga akhirnya terpaksa menjadi pelacuuur.
“Lepaskan... akh... ku mohon!” Orang yang kala itu memerkosanya sama sekali tidak menggubris permohonan Emily. Dia terus menyakiti Emily hingga tubuhnya terasa hancur.
Isak tangis Emily turun semakin deras mengingat kejadian naas itu. Rasa sakit ditubuhnya tak sebanding dengan rasa hina yang Emily rasakan. “Kau bisa menangis juga ternyata, di mana keangkuhanmu tadi!”
“Kerja bagus Hayley, kau membuat dia nampak seperti orang gila yang sesungguhnya.”
“Hahaha.”
Emily menunduk dengan bahu naik-turun. Ini tidak ada apa-apanya dibanding apa yang telah terjadi di masa lalu. Emily menangis bukan karena perbuatan mereka yang berhasil merusak penampilannya, namun karena perbuatan mereka yang mengingatkan Emily pada masa-masa paling menyedihkan.
“Mommy!”
Demi Tuhan... di situasi sekarang ini, mengapa Emily malah berhalusinasi mendengar suara Chloe.
“Mommy!”
Melihat wajah Chloe muncul di bawah tatapannya yang menunduk, Emily langsung terbelalak, syok menemukan Chloe di sana.
“Chloe...”
“Mommy, kenapa mereka melakukan ini padamu!” Chloe berujar cemas.
“Mommy?” Hayley dan seluruh orang yang melihat kejadian itu mendadak kebingungan.
“Bukankah anak itu... putri Mr.Mackton?”
“Kau benar. Dia Chloe, anaknya Tuan Dapper.”
“Kalau anaknya Mr.Mackton memanggil Emily mommy, apa itu berarti...”
Semua penonton membuka mulut tidak percaya.
“Tidak mungkin,” elak Hayley dengan tangan gemetar.
Mereka jelas-jelas bilang Emily adalah anak Anna si gila itu, jadi mana mungkin wanita ini adalah ibu Chloe alias istri seorang pengusaha nomor satu se-Amerika sekaligus pemilik perusahaan di mana ia bekerja sekarang, bisa-bisa Hayley dipecat.
“Aku tidak bisa memaafkan apa yang telah mereka perbuat padamu Mom. Lihat saja...” Chloe berbalik mengancam orang-orang di sana. “Daddy akan memecat kalian semua! Ingat itu!” teriakan Chloe sukses membuat seluruh pegawai meneguk saliva.
Sedangkan Emily justru bertanya-tanya apa maksud perkataan Chloe yang menyangkut-pautkan mereka semua dengan Dapper. Emily tahu Dapper kaya, tapi pria itu bukan presiden Amerika yang santai saja bila diminta memecat puluhan pegawai di perusahaan milik orang lain, apalagi pegawai perusahaan terkenal di sini. Kecuali kalau Dapper pemilik perusahaannya, mungkin itu bisa saja terjadi.
“Dan kalian!” Chloe menunjuk sinis Hayley dan dua temannya.
“Akan ku pastikan Daddy membuat kalian tidak bisa bekerja di mana pun setelah dipecat. Jika kalian menuntut balik Daddyku karena hal itu, aku siap bertanding di jalur hukum dan bersaksi atas perbuatan tidak senonoh yang kalian lakukan terhadap Mommyku sekarang.”
Tangan Emily bergerak membungkam mulut. Chloe menakutkan sekali kalau sudah marah, apalagi bawa-bawa ancaman segala. Untuk ukuran anak seusia delapan tahun seperti Chloe, gadis kecil ini luar biasa berani dalam menghakimi orang-orang dewasa.
••••
“Bibi Mar, boleh minta tolong belikan lotio pembersih wajah untuk Mommy,” pinta Chloe dengan ekspresi cemas maksimal. Sedangkan Marry yang tadi panik mencari keberadaan Chloe terkejut melihat Chloe datang bersama Emily yang berpenampilan acak-acakan.
“I-iya Chloe.” Marry kemudian berbalik pergi membelikan benda yang Chloe perintahkan.
“Ayo Mom! Kita tunggu di ruangan Daddy!” Chloe menarik pergelangan tangan Emily hingga mendorong tubuh Emily mengikutinya. “Tidak Chloe, tunggu!” Emily berusaha menghentikan langkah mereka.
“Maaf,” kata Emily ketika dia hampir saja menabrak dua pria yang tiba-tiba datang dari kanan persimpangan. Salah satu dari pria tersebut—Greg, berhenti melangkah dan menatap punggung Emily yang menjauh setengah menerka, “Dia seperti Emily.”
“Siapa Emily?” Kevin yang berdiri di samping Greg bertanya sambil mengikuti arah pandang Greg. “Ah bukan apa-apa,” jawab Greg sembari mengibas-ngibaskan tangan.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, mana mungkin Emily bersama putri Mr.Mackton, mungkin dia salah lihat, pikir Greg dalam hati.
“Chloe tunggu! Tunggu sayang!”
Tak lama, Chloe akhirnya mau berhenti. “Kenapa kamu membawaku ke ruangan Dapper, memang siapa dia di perusahaan ini?” Chloe terkekeh mendengar pertanyaan polos Emily.
Mommynya ini tidak tahu ya? Chloe mengembuskan napas tidak habis pikir.
“Mom, ini perusahaan Daddy. Aku ke sini karena menunggu Daddy selesai meeting, kami akan pergi ke pesta ulang tahun temanku bersama.”
Ini-perusahaan-Daddy...
Emily tersentak mendengar pernyataan Chloe yang tak terduga. Dari sekian banyak perusahaan di muka bumi ini, mengapa harus perusahaan Dapper. Emily menepuk dahi, sial sekali hidupnya.
“Jangan beritahu daddy-mu kalau aku bekerja di sini.” Permohonan Emily membuat Chloe mengerjap bingung.
“Please... Aku tidak mau bertemu Dapper,” sambung Emily dengan wajah memelas.
“Bukankah dia anak Mr.Mackton?”
“Siapa wanita itu? Kenapa aneh sekali penampilannya.”
“Kenapa anak Mr.Mackton berbicara dengan wanita aneh itu.”
“Siapa dia?”
Obrolan Emily dan Chloe sejenak terhenti ketika Emily menyadari jika mereka tengah menjadi pusat perhatian seluruh orang. Mata Emily melirik ke beberapa pegawai yang terang-terangan menatap mereka.
“Ayo kita bicara di tempat lain saja. Aku tidak ingin kamu dipandang aneh karena sedang berbicara denganku Chloe, semua orang di sini pasti tahu siapa kau.”
Chloe mengikuti arah pandang Emily ke sekeliling dan menemukan semua orang menatap mereka. “Aku tidak peduli Mom. Aku sedang bicara dengan ibuku,” bantah Chloe.
Emily memejamkan mata dalam beberapa detik kemudian menghela napas berat, sifat keras kepala Dapper benar-benar menurun ke anaknya.
“Ayolah Chloe... aku tidak ingin semua—”
“Daddy!” pekik Chloe dengan jari telunjuk yang mengarah ke Dapper.
Emily melengos menatap Dapper yang terlihat baru saja keluar dari dalam pintu lift bersama tiga orang bersetelan jas dan satu wanita pembawa map. Emily langsung gelagapan, dan spontan menarik tubuh Chloe agar bersembunyi dibalik sekat ruangan.
“Mom... hmmpttt...!” Emily terpaksa membungkam mulut Chloe, jaga-jaga kalau gadis itu hendak memanggil Dapper lagi. Kemudian dengan hati-hati, Emily mengintip Dapper dari balik dinding.
Pria itu awalnya berhenti ketika mendengar suara panggilan Chloe, namun karena tidak menemukan tanda-tanda keberadaan putrinya, Dapper akhirnya memutuskan pergi.
Dia mungkin mengira telah salah dengar.
Setelah memastikan sosok Dapper telah menghilang dari pandangannya, Emily lalu melepas tangannya di mulut Chloe.
“Mom, kenapa kau menghindari Daddy, apa kau membencinya?” sambar Chloe, melipat tangan bersidekap seraya menatap Emily sebal.
Emily mendengkus, “Aku tidak membencinya Chloe, dia yang membenciku,” belanya. Chloe mendelik tidak yakin kemudian menyangkal, “Daddy tidak membenci Mommy.”
“Iya, dia membenciku,” tegas Emily sekali lagi.
Chloe memberenggut, “Tidak Mom.”
“Iya Chloe,” balas Emily dengan tidak sabar.
“Tidak!”
“Iya...”
“Tidak!”
“Ternyata kalian di sini.”
Suara seseorang menginterupsi perdebatan mereka, Chloe dan Emily lantas menoleh kemudian terkejut melihat kehadiran orang yang tiba-tiba bergabung bersama mereka.
BERSAMBUNG...