08 | BIRTHDAY PARTY

1781 Kata
“TERNYATA kalian di sini.” Suara seseorang berhasil menghentikan perdebatan antara Chloe dan Emily. Kedua perempuan itu otomatis menoleh dan terkejut menyadari Marry tiba-tiba berdiri di samping mereka. “Ini lotio pembersihnya Nyonya,” ujar Marry sembari menyodorkan botol berukuran kecil yang berisi cairan pembersih wajah. Emily memutar bola mata, “Sudah berapa kali aku bilang Bibi Mar, aku bukan Nyonyamu, jadi panggil aku Emily saja. Lagi pula usiamu lebih tua dariku.” Gerutuan Emily memicu gelak tawa Marry. “Iya-iya Nyonya, upss... maksudku Emily,” koreksi Marry yang kemudian dibalas cengiran puas oleh Emily. Ucapan Chloe menyela obrolan mereka, “Baiklah Mom, aku tidak akan mengatakan tentang kau yang bekerja di sini pada Daddy.” Emily yang mendengarnya pun memekik kesenangan dan berlalu memeluk erat tubuh Chloe. “Tapi ada satu syarat.” Lanjutan ucapan Chloe membuat Emily secara perlahan melepas pelukan mereka. “Apa?” “Mommy harus mengizinkan aku menemuimu ketika di sini,” timpal Chloe. Emily tidak berpikir dua kali langsung mengangguk, lagi pula ia memang sudah berjanji tidak akan meninggalkan anak ini bukan? “Dan... kau harus menemaniku pergi ke pesta ulang tahun temanku,Victor.” Emily bergeming menatap Chloe, menemani Chloe pergi ke pesta ulang tahun temannya? Dengan penampilan seperti ini? “Tidak-tidak. Aku bisa mempermalukanmu sayang,” tolak Emily seraya melambaikan tangan tidak setuju. Chloe mengernyit, “Kenapa mempermalukanku Mom? Kau ibuku.” Emily mengusap puncak kepala Chloe dengan murung, “Aku tidak bisa Chloe, penampilanku—” “Bibi Mar, tolong hubungi Elliot agar mempersiapkan mobil untuk kami. Mommy tidak perlu khawatir mengenai penampilan, Chloe Mackton akan siap sedia mendandanimu.” Emily terkekeh geli mendengar ucapan Chloe sementara Marry berangsur cemas. Beberapa saat kemudian Chloe dan Emily sudah dalam perjalanan menuruni tangga rahasia khusus orang-orang tertinggi di perusahaan. Tangga itu terhubung dengan parkiran mobil yang juga termasuk tempat rahasia. “Bagaimana jika nanti Dapper mencarimu?” Emily bertanya usai mereka tiba di ujung tangga berpintu besi di mana dibalik pintu tersebut terdapat sebuah parkiran berkelas yang hanya diisi oleh mobil-mobil limited edition yang tentu saja berharga selangit. “Jangan pikirkan itu Mom, aku bisa mengatasinya,” jawab Chloe santai. Tidak lama mereka berdiri di sana, sebuah mobil limosin berwarna putih mengilat datang menjemput. Emily mengerjapkan mata beberapa kali, kenapa Chloe mendatangkan mobil mewah sepanjang ini hanya untuk dua orang penumpang. “Ayo Mom!” Chloe menggandeng telapak tangan Emily yang tidak berhenti terpukau. Dapper pasti orang yang sangat-sangat kaya mengingat segala kemewahan yang pria itu miliki. •••• Emily belum pernah mengenakan gaun ala-ala princess disney seperti ini. Gaun biru Cinderella dengan bentuk permata di bagian pinggang tampak serasi dengan kilauan jaring di lapisan dalamnya. Sedangkan Chloe memakai gaun Snow White beraksen pita dengan tiga susun rok yang mengembang. “Kamu sangat cantik Chloe,” puji Emily sembari mengulurkan tangan membantu Chloe keluar dari dalam mobil limosin. “Tentu saja, kecantikanmu pasti menurun padaku Mom,” bangga Chloe dengan cengiran lebar. Emily tersenyum pahit mendengar jawaban itu, sayangnya Chloe bukan putrinya. “Chloe!” Seorang anak laki-laki berkostum pangeran dengan mahkota dan pedang, datang menemui mereka berdua. “Victor! Selamat ulang tahun!” Dua anak itu berpelukan sekilas. “Aku senang sekali kamu datang Chloe. Dan kau sangat cantik memakai gaun ini.” Pujian Victor dibalas senyuman malu-malu Chloe. Emily memincingkan mata, wew... sepertinya dua anak ini terlibat sebuah perasaan tidak biasa. Pandangan Victor jatuh pada sosok Emily yang baru ia sadari datang bersama Chloe. Anak laki-laki itu terdiam lama, merinci penampilan Emily mulai bawah sampai atas sebelum bertanya, “Kau membawa kakakmu Chloe?” Chloe tertawa mendengar pertanyaan Victor yang menyangka Emily kakaknya. “Dia Mommyku Vic,” koreksi Chloe lalu menggandeng lengan Emily sambil menatap riang wanita itu. Mulut Victor terbuka kaget, “Mommy? Chloe, Mommymu sudah kembali?” Kepala Chloe mengangguk antusias, dia hampir membalas ucapan temannya namun urung akibat suara pekikan seorang wanita. “EMILY...” Emily melotot ketika melihat Juliet mengenakan gaun princess Aurora berwarna pink tengah berlari sambil merentangkan tangan mendekatinya. “Aku senang sekali! Kau benar-benar menepati janji untuk menemuiku...” Pelukan Juliet yang terlalu erat membuat Emily kesulitan bernapas, wanita bergaun Cinderella itu pun sontak memukul-mukul bahu Juliet agar melepaskan pelukannya. “Maaf-maaf,” ringis Juliet usai melepas pelukannya sedangkan Emily sibuk mengambil napas dalam-dalam sembari menepuk-nepuk dadanya yang sedikit sesak. Victor berdecak pinggang, “Juliet! Apa yang kamu lakukan pada Mommy Chloe.” Juliet memutar pandang menatap heran Victor, “Mommy Chloe?” “YA TUHAN! Kamu bilang belum menikah tapi sudah memiliki anak sebesar ini,” ledek Juliet seraya memegang kedua bahu Emily. Emily memutar bola mata, kenapa dia harus bertemu Juliet dalam situasi ini, sial! •••• Emily dan Juliet duduk bersisihan di meja tamu menghadap panggung, setelah melewati puncak acara yaitu meniup lilin dan memotong kue, sekarang para undangan disajikan pertunjukkan drama Snow White di mana yang memerankan adalah Chloe dan Victor. “Jadi, kamu tinggal di sini sekarang?” Pertanyaan Emily membuat Juliet yang pada awalnya serius menonton drama berpaling ke arah Emily. “Ya. Tidak ada tempat untukku selain di rumah Romeo,” jawab Juliet sembari mengukir senyuman. “Ini rumah Romeo?” Dilihat dari seberapa besar dan luas rumah ini, Romeo pasti bukan orang sembarangan. “Ya. Anak yang putrimu sukai di sana itu...” Juliet menunjuk Victor yang sedang bermonolog menceritakan rasa sedihnya kehilangan putri salju. “...dia adik Romeo.” “Mereka masih anak-anak,” Emily mencebik. Juliet menaik-turunkan bahu tidak mau tahu, kemudian menopang dagu di atas meja menghadap Emily. “Bagaimana denganmu, apa suami yang kau sukai itu sudah bersikap lebih baik?” Akhirnya sebuah pertanyaan yang Emily khawatirkan muncul juga dari bibir Juliet. Tapi Emily tidak mau repot-repot menjawabnya dan berlalu meneguk segelas jus dengan lambat, sengaja membuat Juliet menunggu. Sorak-sorai disertai tepuk tangan memalingkan perhatian kedua wanita itu menuju panggung. Emily merengut, dramanya sudah selesai padahal ia belum melihat bagian endingnya. “Chloe!” Panggilan cukup kencang Juliet berhasil menarik perhatian seluruh orang menuju ke tempat Emily dan Juliet duduk. Sebelum melontarkan argumennya, Juliet sempat melayangkan tatapan jail ke Emily hingga seketika membuat wanita itu gelisah. “Mommymu bilang dia ingin menyanyikan sesuatu untuk Victor.” Dammit! Juliet ini benar-benar... Ya Tuhan, Emily panik bukan kepalang. “Benarkah? Kalau begitu ayo Mom, nyanyikan!” Emily menggeleng-gelengkan kepala seakan ingin menyangkal perkataan Juliet. “Maju! Maju! Maju!” Juliet bersorak memberi dukungan sembari bertepuk tangan kencang, perbuatan yang memicu anak-anak lain mengikutinya. Dengan berat hati dan amat sangat terpaksa, Emily kemudian memutuskan melangkah menaiki panggung. Jantung Emily berdegub kencang, terakhir kali tampil bernyanyi di depan umum sewaktu ia berusia 16 tahun sementara sekarang ia telah berusia 25 tahun, dalam kurun waktu selama itu Emily tidak tahu apakah suaranya masih bisa dikatakan merdu atau tidak saat ini. Ayolah... semua sudah menunggumu Em. Setelah mengatakan judul lagu yang ingin Emily nyanyikan pada petugas backsound, Emily lantas bergeser ke depan tiang mikrofon. “♫ A dream is a wish your heart makes. When you’re fast asleep. In dreams you will lose your heartaches. Whatever you wish for, you keep...” Seluruh penonton tertegun mendengar suara lembut Emily ketika menyanyikan lagu Disney A Dream Is a Wish Your Heart Makes. Lama Chloe termenung, segaris senyum membersit di wajahnya. Poppy meletakkan kedua tangan ke pipi. Menatap Emily takjub, “Aku tidak percaya itu mommymu Chloe. Dia sangat cantik dan punya suara merdu!” “Aku ingin punya mommy Cinderella juga,” timpal Kayla yang berdiri di antara Poppy dan Chloe. “Itu tidak mudah Kay. Kalau kamu ingin punya mommy Cinderella, kamu harus sepertiku.” Tanggapan yang dilontarkan Chloe berhasil menarik perhatian Kayla. “Maksudmu?” Dengan senyuman tipis, Chloe menjawab, “Setelah kamu dilahirkan, mommy Cinderella akan dibawa ke rumah ibu dan kakak tirinya. Kamu harus menunggu sampai Cinderella bertemu ibu peri supaya bisa kembali ke istana untuk bertemu putri kecil dan pangeran.” Kayla menelengkan kepala tidak mengerti, “Kalau tidak ada ibu peri, apa berarti mommy Cinderella tidak bisa kembali?” Chloe dan Kayla saling berpandangan, keheningan melanda mereka cukup lama sebelum Chloe kembali berkata, “Tenang saja Kay, ibu peri pasti datang.” “♫ Have faith in your dreams and someday. Your rainbow will come smiling through. Now matter how your heart is grieving. If you keep on believing...” Tangan Chloe yang lembut tiba-tiba menggandeng tangan Kayla, mengajak gadis itu menari. “Aku ingin bertanya lagi soal Cinderella,” ucap Kayla ketika dia dan Chloe telah bergerak seirama mengikuti alunan suara Emily. “Apa?” jawab Chloe. “Jika Cinderella adalah mommymu, dan pangeran adalah daddymu, lalu... siapa ibu perinya? Dan kenapa kamu mengatakan kalau ibu peri pasti datang.” Gerakan kaki Chloe yang menari mendadak berhenti, “Tuhan.” Satu kata itu membuat Kayla berpikir. “Daddy bilang, entah kapan... suatu saat nanti Tuhan pasti datang membawa mommy padaku. Dan itu terjadi sekarang.” Ucapan itu seharusnya diucapkan dengan bangga, tapi tidak, Chloe tidak tersenyum ataupun nampak bahagia. Chloe menangis dan Kayla tidak mengerti kenapa Chloe justru meneteskan air mata. Mungkin karena dia terlalu bahagia, atau ada sesuatu yang gadis itu sembunyikan. Entahlah... “♫ If you keep on believing. The dream that you wish will come true...” Riuh suara tepuk tangan mengiringi dua lirik terakhir lagu Emily. Chloe membalikkan badan kemudian berlari menuju mommy-nya berderai air mata. “Hikss... Mom!” Emily gelagapan saat Chloe tiba-tiba datang dan menangis tersengguk-sengguk. Emily berjongkok menyejajarkan wajah Chloe, tak peduli jika posisi mereka berada di atas panggung dan menjadi tontonan semua orang, tangan Emily bergerak menenggelamkan kepala Chloe ke ceruk lehernya. Tangis Chloe semakin menjadi-jadi. “Don’t leave me, Mom.” Tubuh Emily meremang. Dengan ragu, dia mengecup kening Chloe lama. “I’m here for you baby, don’t cry.” Juliet, Victor, Kayla dan semua orang yang di sana terharu menyaksikan peristiwa tersebut. Teman-teman, para guru dan para orang tua yang satu sekolah dengan Chloe jelas tahu jika selama ini Chloe tidak pernah terlihat bersama ibunya. Dan hari ini, tiba-tiba saja Chloe datang bersama seorang wanita cantik yang dia panggil mommy, Chloe pasti sangat senang bisa bersama mommynya lagi sekarang, pikir sebagian besar orang-orang di sana. Pemikiran itu 90% bersifat benar. Chloe bahagia memiliki mommy yang baik seperti Emily. Namun 10% perasaan Chloe yang lain adalah kecewa. Saat mengatakan Tuhan telah mengembalikan mommy padanya, itu tidak sepenuhnya benar. Chloe tahu Emily bukan mommy yang dia maksud. Tuhan mengirim wanita lainnya yang lebih baik menjadi mommy Chloe. Itu tentu berita baik, tapi di antara anak di seluruh dunia ini, siapa yang tidak ingin memiliki mommy yang susah payah telah melahirkan kita. Seburuk apapun orang yang telah melahirkan Chloe itu, Tuhan seharusnya tetap membuat Chloe memilikinya. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN