MALAM hari di pedesaan Irving—Dallas, pria bersetelan serba hitam masuk ke dalam ruangan menemui seorang wanita berlipstik merah yang duduk berseberangan dengan meja.
“Kami sudah memastikannya, dia benar wanita yang Madam cari.”
Pria tadi menunjukkan lima lembar foto yang diambil secara diam-diam. Wanita berlipstik merah tertawa, lalu mengangguk puas.
“Temui dia,” ujar wanita itu disela usaha menyobek selembar kertas.
Jemari lentik berkuku warna-warni miliknya menuliskan sesuatu di atas kertas kemudian mencium lamat-lamat kertas tersebut sebelum diserahkannya ke sang pria. “Berikan ini padanya dan jangan sampai lupa...” Wanita itu mendesis menahan seringaian, “...berikan juga hadiahnya.”
Pria yang diberi perintah mengangguk paham, “Ya Madam.”
Wanita yang dipanggil madam itu lantas tertawa bak penyihir jahat yang sedang meracik minuman beracun. Racun yang sengaja dibuat untuk membunuh seseorang.
••••
“Kamu sungguh-sungguh tidak akan membuat kami dipecat?”
Emily menghela napas mendengar rengekan Hayley yang hampir dua puluh kali wanita itu ucapkan padahal Emily sudah bilang tidak perlu khawatir asalkan mereka melakukan apa yang Emily perintahkan agar tidak memberitahu Dapper jika dia bekerja di sini.
Emily juga sudah berkompromi dengan Chloe jadi, semua aman terkendali. “Astaga... harus ku ulang berapa kali Hayley!” sentak Emily sambil meletakkan kedua tangan ke kepala.
Hayley menunduk takut, “Maafkan aku Em. Terima kasih karena membiarkan kami tetap bekerja di sini,” gumamnya.
Sandra menyipitkan mata tidak suka melihat Hayley yang kemarin terlihat angkuh di depan Emily kini berubah menjadi tikus got yang ketakutan.
“Sudahlah Hayley, mana mungkin wanita berseragam office girl ini istri seorang millioner tampan pemilik tempat kita bekerja. Chloe pasti salah orang, Emily—hmmpptt!”
Hayley membungkam mulut Sandra supaya wanita ini tidak kembali mengocehkan hal-hal yang dapat membahayakan nasib pekerjaan mereka semua.
“Dia sedang mabuk Em, hehe... maaf.” Hayley tertawa garing sembari menatap takut-takut Emily yang nampak marah akibat ucapan tidak tahu diri Sandra.
“Apa! Aku tidak mab—aww!”
Gina membantu memukul kepala Sandra supaya diam, “Dasar bodoh! Kamu mau kita jadi gelandangan karena tidak bisa bekerja di mana pun setelah dipecat di sini.” Gina memaki dengan cara berbisik-bisik.
Sandra mengelus-elus kepalanya yang sakit dengan ekspresi menyesal. Kata-kata Gina rupanya mampu memancing keluar kesadaran Sandra.
“Maafkan aku Emily,” ujar Sandra dengan kepala menunduk sedangkan Emily mengangguk dengan mempertahankan ekspresi datarnya.
“Karena masalah sudah selesai, bagaimana kalau mulai sekarang kita berteman?” tawar Hayley, didukung anggukan kepala Gina.
Tatapan Emily berubah tajam menukik, “Kau pikir aku mau berteman dengan orang yang sudah mengatai ibuku orang gila?” Emily meledek sinis. Hayley meneguk ludah, tidak mampu menjawab.
“Jangan pernah menampakkan diri di hadapanku lagi. Dan ingat! Jaga teman-teman kalian yang bermulut ember itu, kalau sampai Dapper tahu aku di sini. Kalian tahu kan, tidak ada seorang suami yang diam saja setelah mendengar istrinya disakiti...” Sejak kapan status Emily berubah menjadi istri Dapper. Arrgghh... Emily, kenapa kau mengatakan itu.
Ancaman Emily membuat wajah ketiga wanita itu pucat. Merasa tidak ada yang perlu dikatakan lagi, Emily pun melangkah pergi. Meninggalkan Sandra, Gina dan Hayley yang cemas setengah mati, terkutuklah mereka karena banyak sekali orang bermulut ember di sini. Mereka tidak mungkin setiap saat mengawasi mulut-mulut itu supaya tidak membicarakan Emily.
••••
“Benar kan Mom? Tempat ini indah sekali!” pekik Chloe setiba mereka di taman belakang perusahaan yang sudah mirip taman kota dengan adanya air mancur besar.
Emily duduk di pinggiran air mancur menikmati percikan air yang mengenai wajahnya sedangkan Chloe berlari-lari di halaman berumput, sedang menangkap dua ekor kelinci.
“Hahaha.” Diam-diam Emily tersenyum memperhatikan gelak tawa Chloe yang baru saja berhasil menangkap seekor kelinci. Pandangan Emily kemudian terarah ke gedung pencakar langit milik Dapper.
Entah di bagian mana pria itu berada sekarang yang pasti Dapper ada di dalam sana. Jari telunjuk Emily berputar-putar mengarah ke gedung. “Di sana!” Jari itu kemudian terhenti di lantai empat bagian barat bangunan.
“Aku menemukanmu!” Emily tersenyum ke tempat yang diyakini ada Dapper. Tak berlangsung lama, senyuman Emily perlahan meredup. “Tapi kau tidak akan bisa menemukanku,” gumamnya kemudian.
Satu minggu hampir selesai dan besok adalah hari terakhir Emily bekerja di perusahaan. Anna tidak mau membiarkan Emily bekerja di sini lebih lama dan jika dipikir-pikir lebih baik Emily memang tidak berada di sini.
Semakin lama dia di sini maka semakin besar kemungkinan Dapper akan menemukannya.
Hidup Emily sudah tenang bersama Anna, dia tidak mau terikat hubungan dengan Dapper lagi. Namun yang membuat keputusan ini berat Emily lakukan adalah Chloe.
Emily tidak mungkin bisa lepas dari bayang-bayang Dapper jika ia masih berhubungan dengan Chloe. Emily kembali melirik Chloe, gadis itu terlihat sedang duduk di atas rumput membelakanginya.
Mungkin jika Emily menjelaskannya pelan-pelan, Chloe akan mengerti dan mau melepaskannya. “Mommy!” Chloe tiba-tiba berdiri dan berlari mendekatinya sambil membawa flower crown yang cantik.
“Ini untuk Mommy!” Wanita itu harus membungkukkan badan supaya Chloe bisa memakaikan flower crown buatannya ke kepala Emily.
“Kau cantik sekali Mom,” puji Chloe dengan kedua tangan menempel ke pipi.
Melihat ekspresi anak itu, Emily jadi ragu untuk mengucapkan selamat tinggal. Chloe terlihat sangat bahagia sekarang dan akan buruk bila Emily menodai kebahagiaan anak ini dengan ucapan perpisahan.
Masih ada hari esok, Emily akan ucapkan itu besok saja sementara hari ini dia akan bersenang-senang bersama Chloe dahulu. “Hahaha.” Emily lantas tertawa saat melihat pipi Chloe yang cemong akibat kedua tangannya yang kotor menempel di sana tadi.
Telapak tangan Chloe sontak mengusap pipinya, perbuatan yang bukannya menghilangkan noda tersebut melainkan semakin mengotorinya. Tawa Emily semakin mengeras sedangkan Chloe menekuk wajah sebal.
“Isshh... jangan mentertawakanku Mom. Ini dia, rasakan!” Chloe balas dendam dengan cara mengusapkan tangannya yang kotor ke pipi Emily hingga mereka sama-sama cemong.
Chloe terpingkal mentertawakan Emily. “Awas ya kamu!” ancam Emily tidak serius.
Mendengar ancaman mommy-nya, Chloe lantas berlari kabur hingga Emily beranjak mengejarnya. Mereka berdua pun berlarian mengelilingi air mancur diiringi gelak tawa yang tiada habis-habisnya.
Sama sekali tidak menyadari jika ada seseorang yang mengawasi mereka dari balik jejeran pohon di taman. Seorang pria bertopi yang membawa lembaran kertas berisi pesan dari wanita berlisptik merah yang dia panggil madam.
••••
Emily membalas lambaian tangan Chloe dari balik dinding secara sembunyi-sembunyi setelah mengantarkan anak itu kembali ke ruangan Dapper.
Emily lantas berbalik pergi menuju ke tempat ia seharusnya berada. Melewati lorong yang entah mengapa tiba-tiba menjadi sepi—mungkin karena jam istirahat baru saja selesai jadi para pegawai sudah kembali bertugas ke ruangannya masing-masing.
Langkah kaki Emily melambat ketika wanita itu merasa ada langkah kaki lainnya di belakang. Emily menoleh dan tidak ada siapa-siapa di sana, mungkin cuma perasaannya saja, Emily lantas kembali melanjutkan perjalanan.
Tapi terjadi lagi kemudian.
Emily memekakan indra pendengarannya, mencari tahu apakah ia memang sedang salah dengar atau tidak. Dan ternyata benar, Emily menelan ludah gugup ketika ia memastikan tidak salah dengar.
Ada seseorang yang diam-diam mengikutinya di belakang, dan Emily tidak tahu siapa dia, orang jahatkah atau orang iseng yang hanya ingin menakut-nakutinya, Emily tidak tahu.
Bibir Emily bergerak melafalkan berbagai doa supaya Tuhan melindunginya sekarang. Jantungnya berdegub kencang ketika hampir sampai ke lift. Benar-benar tidak ada jalan keluar, kalau dia berbalik ke belakang maka ia akan bertemu dengan orang itu langsung, tapi kalau dia masuk ke dalam lift dan orang itu juga ikut masuk, situasi malah semakin terasa memburuk mengingat mereka berdua akan terjebak di sana tanpa ada orang lain.
Emily berhenti melangkah akibat dilema. Bagaimana kalau orang itu berniat menyakitinya, atau bahkan ingin membunuhnya di lift. Emily menggeleng-gelengkan kepala memikirkan berbagai peristiwa buruk yang merasuk ke dalam kepalanya.
Membuat flower crown yang tidak Emily sadari masih dia pakai terjatuh ke lantai.
“Anda baik-baik saja Nona?” Suara sapaan orang lain membuat tubuh Emily menegang.
Lewat lirikan matanya, Emily dapat melihat pria bertopi itu membungkuk mengambil flower crown-nya.
“Flower crown yang cantik.” Komentar pria itu sebelum mengembalikan flower crown-nya ke Emily.
Napas Emily seketika itu juga berhenti, pria ini tidak hanya menyodorkan flower crown ke Emily melainkan juga sebilah pisau kecil yang tahu-tahu sudah melukai telapak tangannya.
“Itu dia hadiahmu, sebuah luka kecil.” Bisikan pria bertopi itu membuat Emily melengos takut.
Di detik selanjutnya, pria itu masuk ke dalam lift dan meninggalkan Emily yang masih bertahan atas keterkejutannya.
Dengan gemetar Emily melihat telapak tangannya yang berdarah, kemudian mencabut gulungan kertas yang sengaja pria itu sangkutkan di flower crown-nya.
'I found you…'
Lembaran kertas itu langsung terjatuh dari genggaman Emily usai dia membaca isinya.
Ini dari Connie, noda bibir berwarna merah itu adalah ciri khasnya, Emily sangat ingat. Tubuh Emily membeku, rasanya dia sangat sulit mengambil napas. Apa sebentar lagi Connie akan mendatangkan pengawalnya untuk menculik Emily?
“Tidak...” erang Emily, mengabaikan rasa perih yang teramat-sangat pada telapak tangannya yang terus meneteskan darah.
Emily terlalu takut sekarang, sangat takut sampai membuat kakinya melemas hingga terperenyak ke lantai. “Hiks... aku tidak mau kembali... Tuhan...” Emily menangis dan membenamkan wajah di kedua tangannya.
BERSAMBUNG...