10 | WITHOUT HER

1548 Kata
SATU minggu sebelumnya... Kantor pusat C International Group yang terletak di San Antonio, Texas ini memang terbilang sangat besar. Perusahaan multinasional yang tercatat berada di peringkat kedua versi Forbes dengan pendapatan sebesar US$500 billion dan laba US$235 billion. Kegiatan utama serta bisnis yang dilakukan perusahaan mencakup perakitan dan penyaluran mobil, sepeda motor dengan suku cadangnya, penjualan dan penyewaan alat berat, pertambangan dan jasa terkait : pengembangan perkebunan, keuangan, infrastruktur dan teknologi informasi. Dan pemilik dari perusahaan paling fenomenal tersebut tak lain adalah Dapper Mackton, pria berwajah tampan, memikat. Garis rahang, tulang pipi, alis, dan bibir, semua sempurna menyerupai hasil pahatan. Satu bulan sepeninggalan Emily dari rumahnya, hari-hari yang Dapper jalani kembali tak karuan seperti sebelum-sebelumnya saat Emily belum hadir dalam kehidupannya. Berkencan dengan sembarang wanita, mudah marah dan merasa tidak ada hal menarik yang dapat dilakukannya. Dapper merindukan Emily dan menginginkan wanita itu kembali pulang. Sudah berkali-kali Dapper berusaha mencari Emily bahkan pergi ke kelab di Irving tempat di mana mereka pertama kali dipertemukan. Tapi wanita itu tidak ada di sana yang berarti Connie juga belum bisa menemukannya Emily masih termasuk buronan Connie dan tidak berada disisi Dapper membuat pria itu takut apabila suatu saat nanti terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada Emily. Dapper harus menemukan Emily secepat mungkin sebelum orang-orang Connie lebih dulu menangkapnya. Ketukan pintu di ruang bekerja Dapper membuat lamunan pria itu meluap. “Masuk,” perintahnya. “Tuan, meeting dengan para klien Taiwan akan dimulai sepuluh menit lagi.” Melanie atau sekretaris Dapper memasuki ruangan sambil membawa beberapa map dokumen. “Baiklah, ayo pergi,” putus Dapper, kemudian memakai jasnya yang tadi sengaja ia lepas dan letakkan di punggung kursi. “Rapikan dasiku!” Melanie terkejut senang mendengar permintaan bosnya. Tanpa ada penolakan, sekretaris yang baru dua minggu bekerja di sini itu pun segera melangkah mendekati Dapper. Jemari Melanie hendak menyentuh dasi Dapper sebelum teriakan cempreng Chloe membuat wanita itu melangkah mundur dengan gelagapan. “DADDY...!!!” “Chloe?” Dapper memanggil putrinya setengah terkejut. Pasalnya gadis itu jarang sekali mau pergi kemari padahal Dapper sudah menamai perusahaannya dengan awalan huruf C yang berarti Chloe sebagai ungkapan rasa sayangnya pada putrinya tersebut. “Kamu itu sekretaris daddyku atau mommyku hah? Kenapa kamu harus merapikan dasi daddyku?” Dapper terkekeh melihat Chloe yang mengomel di hadapan Melanie. “Ma-maafkan saya, Nona.” Melanie menjawab dengan takut-takut, tidak menyangka anak Dapper yang diberitakan masuk dalam daftar anak-anak tercantik se-Amerika ternyata semenyeramkan ini kalau sedang marah. “Jangan memarahinya Chloe, aku yang minta Melanie merapikan dasiku.” Dapper menyuarakan pembelaan yang langsung dibalas pelototan tajam Chloe. Anak itu sekarang berpaling menuju hadapan Dapper lalu berdecak pinggang dengan ekspresi bak menangih utang. “Apa Daddy tidak punya tangan! Rapikan sendiri dasimu Dad, kau sudah memakainya sebelum aku dilahirkan jadi kau pasti bisa melakukannya sendiri.” Bukannya merasa bersalah atau apa, Dapper justru tertawa. Chloe menjadi semakin sebal saja. “Daddy...” Chloe menggeram. “Iya-iya, aku tidak akan meminta Melanie merapikan dasiku lagi,” sahut Dapper dibarengi cengiran lebar. Chloe menghela napas lelah, “Kau selalu bersikap seperti ini pada setiap wanita Dad. Alasan itu yang membuatku mengizinkan Mommy pergi. Mommy pasti...” suara Chloe mulai gemetar sedangkan cengiran di bibir Dapper perlahan menghilang. “...terluka karenamu, Dad.” Tatapan pilu memancar dari kedua mata biru Chloe. “Apa maksudmu mengizinkannya pergi Chloe?” Dapper berjongkok menjajarkan wajahnya dengan Chloe yang menunduk diam. Chloe sengaja tidak memberitahukan kepada daddy-nya tentang dia yang mengizinkan mommy-nya pergi malam itu. Usai memastikan Emily meninggalkan rumah, Chloe langsung berlari ke kamar dan berpura-pura tidur. Keesokkan harinya dia berakting menanyakan keberadaan Emily pada daddy-nya walaupun ia sendiri sudah tahu. Chloe hanya ingin dengar jawaban apa yang akan Dapper berikan kala itu. Dan sesuai tebakan Chloe, Dapper bohong dengan mengatakan Emily pergi menemui neneknya. “Malam itu, saat Mom ingin meninggalkan rumah. Aku bertemu dengannya.” Pupil mata Dapper melebar. “Awalnya aku tidak ingin Mom pergi. Tapi ketika melihat tatapan mata Mom, aku tahu... kalau dia sedang terluka. Siapa lagi yang membuatnya begitu kalau bukan Daddy? Karena itu,” Chloe menjeda penjelasannya untuk memandang wajah Dapper sejenak. “Aku mengizinkan ia pergi. Aku melihatnya... Mommy...” Tenggorokan Chloe terasa kering dan sebulir air mata hampir jatuh dari kelopak matanya. “...dia pergi dari rumah.” Dapper kembali teringat ke kejadian malam itu, di mana Emily pergi karena kata-katanya yang sedikit kurang ajar. Dapper sadar dan ia semakin diliputi rasa menyesal setelah mendengar cerita Chloe, bukan hanya Emily tetapi putrinya ini juga menjadi korban atas kata-kata menyakitkannya. “Maafkan aku Chloe.” Dapper meraih tubuh Chloe menuju dekapannya. “Daddy janji, daddy tidak akan menyakiti Mommy lagi dan daddy juga janji akan menemukan mommy.” Chloe merenggangkan pelukan mereka dan menatap daddy-nya terharu. “Aku sayang padamu Dad.” “Daddy juga sayang...” •••• Meeting dengan para klien Taiwan berakhir pada pukul setengah satu siang, tepat di jam istirahat. Pintu lift terbuka dan Dapper keluar dari sana diikuti tiga klien dan Melanie di belakangnya. “Daddy!” Dapper berhenti melangkah ketika mendengar suara Chloe yang memanggilnya. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling namun tidak menemukan tanda-tanda keberadaan putrinya, alhasil Dapper pun kembali berjalan dan menganggap suara itu sekadar halusinasi ia saja. “Terima kasih atas kerja samanya, Mr.Mackton.” Satu persatu klien menjabat tangan Dapper sebelum mereka berpisah. Dan tersisalah Dapper dan Melanie berdua. “Aku akan pergi menemani Chloe ke pesta ulang tahun temannya, jadi cancel saja jika ada pertemuan setelah ini.” Melanie mengangguk paham. “Di mana Chloe?” Dapper bertanya setengah panik ketika ia tidak menemukan Chloe di ruangannya. Sekretaris kedua yang berjaga di depan ruangan Dapper mengernyitkan dahi gelisah, “Sebenarnya... itu..., Bibi Marry sedang mencarinya.” “APA! Chloe hilang dan Marry juga tidak bersamanya?” Suara Dapper meninggi. Membuat wanita yang diajaknya bicara, Elena, menelan ludah gugup. “Dan kenapa kau tidak berusaha mencegahnya ketika dia keluar dari ruanganku!” Elena semakin kalang kabut, “Maaf Tuan. Tapi putri Anda keluar saat jam istirahat berlangsung, jadi saat itu... saya..., pergi makan siang,” Elena berusaha melakukan pembelaan meski ketakutan setengah mati. Dapper mengatupkan rahang, pikiran buruk tentang Chloe berkeliaran dalam kepalanya dan itu membuatnya semakin cemas. “Coba Anda hubungi Bibi Mar, dia mencarinya sedari tadi dan mungkin beliau sudah menemukan Chloe sekarang.” Dapper mengikuti saran Elena lalu mencoba menelepon Marry. “Hallo Tuan.” Suara Marry terdengar di seberang sana. “Apa kamu sudah menemukan Chloe? Kenapa sampai bisa kehilangan dia?” Dapper menyahut dengan nada kesal. “Maaf Tuan. Tapi tenang saja, saya sudah menemukan Chloe. Beruntung dia bersama Nyonya Emily.” Seketika Dapper kehilangan kata-kata. Siapa nama yang Marry sebutkan tadi? Emily. Tidak mungkin, dia pasti salah dengar. “Bersama... siapa?” Dapper bertanya lagi untuk memastikan. “Nyonya Emily, Tuan. Dia bekerja di perusahaan Tuan, apa Tuan tidak tahu?” Marry berkata dengan heran, berpikir jika Dapper sudah tahu tentang Emily lebih awal karena dia pemilik perusahaan ini. Namun sepertinya tidak, atasannya ini nampak terkejut setelah dia menyebut nama Emily. “Di mana kamu sekarang?” “Saya baru saja kembali ke perusahaan. Nona Chloe meminta saya membelikan lotio pembersih wajah untuk Nyonya Emily. Ekhm... Anda harus melihatnya sendiri, Nyonya Emily...” Marry menggantungkan kata-katanya akibat ragu. “Apa yang terjadi padanya?” “Saya tidak tahu Tuan, tapi dilihat dari penampilannya, ia seperti telah dikerjai.” “MAKSUDMU!” Dapper mendongakkan wajah ke atas lalu mengembuskan napas panjang sekilas sebelum lanjut menyahut tenang, “Baiklah, aku akan menemui mereka.” •••• “Di mana mereka?” Dapper bertanya pada Marry yang duduk sendirian di sofa samping tempat resepsionis. Menyadari kedatangan atasannya, Marry lantas berdiri dengan kepala menunduk memberi hormat. “Nona pergi ke pesta ulang tahun dengan Nyonya Emily.” Dapper berbalik hendak menyusul namun urung ketika Marry lebih dulu menyela, “Mereka melakukan perjanjian, Nyonya Emily akan mengizinkan Nona Chloe menemuinya asalkan Nona tidak memberitahu jika Nyonya bekerja di sini pada Anda. Sebaiknya Anda pura-pura tidak tahu soal ini sebab Nyonya sepertinya tidak ingin bertemu dengan Anda, Tuan.” Ucapan itu membuat Dapper terdiam untuk beberapa saat. “Kau benar, mungkin aku harus pura-pura tidak tahu agar Chloe tetap bisa bersamanya. Emily pasti membenciku.” Marry menunduk tak enak hati, “Menurut saya, Nyonya tidak membenci Anda Tuan.” Dapper menoleh sambil mengulas senyuman tipis, “Emily mungkin tidak membenciku, tapi dia jelas-jelas tidak menginginkan aku.” Beberapa hari semenjak kejadian itu Chloe lebih sering berkunjung ke perusahaan Dapper dengan alasan ingin mengawasi kelakuan daddy-nya supaya tidak sembarangan menggoda wanita lagi. Alasan yang sebenarnya agak mengherankan sebab selama ini Chloe sama sekali tidak pernah peduli atau ikut campur tentang masalah Dapper, apalagi menyangkut soal wanita. Well, Dapper tahu itu cuma akal-akalan dia saja. Tujuan utama Chloe datang kemari adalah bertemu Emily dan Dapper akan berakting seolah tidak mengerti apa-apa seperti yang pernah Chloe lakukan padanya dulu ketika Emily pergi dari rumah. Dengan begini, mereka impas. Chloe terlanjur menyayangi Emily dan menganggap wanita itu sebagai ibu kandungnya sendiri, memisahkan mereka berdua jelas bukan kemauan Dapper tetapi bagaimana dengan Emily? Dapper perlu mencari cara supaya Emily mau menjadi bagian dari keluarga mereka. Menggunakan dirinya agar dicintai Emily sepertinya tidak akan berhasil mengingat wanita itu kini membencinya. Jadi, satu-satunya umpan yang bisa Dapper gunakan adalah Chloe. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN