Chapter 07. Young Kim (1/2)

1327 Kata
Chapter 07. Young Kim (1) ... "Dia adalah pertanda buruk." samar-samar suara itu terdengar. Suaranya pelan dan serak namun terdengar begitu menghipnotis, menguasai setiap pendengar. "Apakah tidak ada jalan lain?" suara seorang wanita yang terisak. "Tidak ada. Satu-satunya cara adalah menyingkirkannya sebelum kegelapan bangkit kembali." "Tapi dia hanyalah seorang anak kecil," wanita itu terus terisak. "Ya, untuk saat ini. Anda tidak akan tahu apa yang akan terjadi padanya di masa depan nanti, Nyonya Kim." "Apakah tidak ada jalan lainnya? Apakah kau mempercayainya, sayang?" "Dia adalah Noah, sayang. Kita harus mendengarkannya." Suara seorang pria yang terdengar lemah. "Tuan dan Nyonya Kim, dengarkan aku. Dia bukan Penyihir seperti kalian. Dan dia juga bukan manusia normal. Di masa depan nanti, sesuatu yang buruk akan merenggutnya dan ini akan membahayakan kita semua." "Aku tidak percaya ini. Dia hanyalah anak kecil." "Sayang...." "Tolonglah.." "Nyonya Kim, kita harus membunuh putra Anda." *** Young Kim tersentak bangun. Ia duduk tegak di kursinya, mengerjap kebingungan. Ia menoleh ke sekitarnya dan mendapati perpustakaan telah kosong. Hanya terlihat satu orang penjaga perpustakaan di meja di sebelah pintu. Young menoleh pada jam dinding dan ia tersentak tak percaya. Ia tidak menyangka jika ia ketiduran cukup lama. Ia segera merapikan barang-barangnya ke dalam tas. Lalu menumpuk buku-buku yang akan ia pinjam. Ia mengecek ponselnya meski tahu jarang ada yang menghubunginya, dan menemukan pesan Yasuo yang dikirim 10 menit yang lalu. Bocah gila itu sudah berada di Museum, kata pesan itu. Young menghela nafas jengkel. Ia tidak pernah menyangka akan berurusan dengan si Cover Boy yang cerewet ini. Ia segera berdiri dan membawa tumpukan bukunya ke meja depan. Ia akan meminjam semua buku ini untuk dibaca malam nanti. *** Young Kim adalah remaja berusia 17 tahun di musim gugur nanti. Ia memiliki ciri bermata kecil bersudut tajam dengan manik hitam, Rambutnya hitam kemerahan berantakan serta wajah yang menunjukkan ekspresi datar yang ditenggeri kacamata minus tinggi di hidungnya. Ia menyusuri lorong sekolah yang sepi. Dalam sekejap sekolah telah kosong selepas jam pulang. Ia merasa agak malas mengikuti keinginan Yasuo untuk kembali ke Museum. Walau ia akui, ia juga penasaran dengan apa yang telah terjadi di sana hari kemarin ketika kunjungan ke Museum. Hal terakhir yang ia ingat adalah tubuhnya terhempas dari ruangan gelap itu, dan ketika bangun tahu-tahu dia sudah berada di dalam bis. Dan Yasuo juga mengalami hal yang sama. Mereka benar-benar tidak sedang bermimpi. Young mendadak berhenti. Di ujung lorong yang sepi itu, berdiri seorang anak perempuan bermata merah yang tidak asing baginya. Anak perempuan yang persis dengan yang ia lihat di Museum. "Tunggu!" Young segera mengejar anak perempuan itu yang berjalan pergi. Ia menelusuri lorong yang sepi hingga menuju lantai basemen. Lantai di basemen biasanya digunakan hanya untuk parkiran namun juga terdapat beberapa ruangan yang digunakan untuk klub sore. Young berjalan pelan di lorong basemen. Tampaknya tidak ada klub yang buka sore ini di ruangan basemen. Ia kehilangan jejak si anak perempuan. Mungkin dia kembali berhalusinasi melihat anak perempuan itu seperti di Museum. Young berhenti di depan sebuah ruangan yang gelap, namun terdapat pancaran lilin-lilin dari dalamnya. Ia merasa tidak nyaman, namun memutuskan mendekati jendela, mengintip. Ruangan dipenuhi oleh murid-murid, dan ia mengenali mereka karena sebagian besar dari mereka satu angkatan dengannya. Mereka semua berdiri berbaris dengan rapi sambil memegang lilin dengan kepala tertunduk. Tidak ada suara-suara di dalam ruangan. Keheningan itu terasa janggal. Dan Young bisa melihat di depan barisan orang-orang itu, adalah Drake yang memimpin. Apa ini? Young mendadak kaget ketika menyadari telah ada seseorang di sampingnya. Ia mundur selangkah, sementara seorang Vampir berdiri diam mengawasinya sambil tersenyum. Ia mengenal si Vampir yang menjadi populer baru-baru ini meskipun masih anak baru di kelas satu. Kalau tidak salah nama Vampir ini adalah Ivan. Pasang iris mata Ivan menyala kemerahan. Ia meletakkan jari telunjuk ke bibir, isyarat agar tidak berisik. Young menelah ludah. Vampir ini memang berperawakan seperti anak laki-laki yang lebih muda darinya, tapi Ivan tetaplah Vampir, dan Young merasa ketakutan dengan sorot mata Ivan yang menyala kemerahan. Ia segera melangkah mundur dan Ivan hanya mengawasinya, membiarkannya melangkah pergi. Young segera berbalik, melangkah cepat meninggalkan lorong di belakangnya yang terasa mistis. *** Young melengos memasuki Museum dan menemukan tiga remaja yang dikenalnya sedang berdiri di depan lukisan abstrak tentang malaikat. Yasuo melambai ke arahnya. Young mengerutkan dahi memandang dua personil tak terduga berdiri bersama Yasuo. Sam dan Charis. "Mereka berdua akan ikut dengan kita ke basemen," jawab Yasuo segera tanpa Young perlu mengajukan pertanyaan. "Aku menceritakan apa yang kulihat pada Charis," jelas Sam. "Aku juga melihat anak perempuan itu," ujar Charis si gadis misterius bermata cokelat. Sangat aneh melihat gadis ini dari dekat seolah mereka memang telah menjadi teman sekelas selama tiga tahun. "Kau juga melihatnya?" tanya Young. "Ya, tapi aku kehilangan jejak," Charis mengangkat bahu. "Nah, tunjukkan." Seketika Young sudah mengklaim jika ia tidak akan suka dengan sikap Charis. Charis terdengar seperti gadis yang suka memberi perintah seenaknya. Namun tidak ada yang merespon sikap si gadis misterius, dan mereka berempat berhasil kembali ke basemen tanpa ketahuan oleh Karyawan Museum. Namun sayangnya, mereka tidak menemukan lukisan atau pun peti mati itu lagi. Bahkan tidak ada ruangan kosong itu pula. Ruangan basemen tampak normal seperti layaknya gudang. Mereka memutuskan kembali ke atas setelah penemuan sia-sia mereka. "Kita tidak mungkin berhalusinasi secara bersama-sama," Yasuo terlihat paling kesal karena mereka tidak mendapatkan petunjuk apa pun. "Pasti ada yang memindahkan semua benda itu. Bagaimana jika kita mengecek rekaman CCTV Museum? Atau kita periksa data semua karyawannya, siapa tahu ada karyawan yang mencurigakan." "Apa kita bisa melakukannya?" tanya Sam, terlihat ragu. "Mungkin bisa," celetuk Charis yang disambut senyum riang Yasuo. "Kalian berlebihan sekali," desis Young risih. Meski dia sama penasarannya, namun ia malas jika harus terlibat pada hal yang mengerikan. "Aku pulang saja," ujarnya kemudian. "Hei, kita perlu menyelidiki sesuatu," Yasuo sepertinya tidak akan berhenti sebelum mimpi buruk mereka terjawab. "Terserah kalian, aku mau pulang saja," Kata Young tidak peduli. *** Kamar Young Kim adalah tempat paling nyaman, yaitu ruangan yang berada di tingkat atas, tepat di bawah atap. Kamarnya tidak begitu besar namun merupakan wilayah aman untuknya. Dan kamarnya nyaris kosong, hanya ada sebuah ranjang yang berada di depan jendela besar berbentuk setengah lingkaran, yang dari jendela itu ia dapat melihat bangunan-bangunan perkotaan dan langit berpolusi di Burdenjam. Bahkan ia bisa melihat matahari terbenam dari jendela karena tepat menghadap Ufuk Barat. ia akan membiarkan kamarnya menggelap ketika matahari mulai beranjak ke ufuk barat. Kemudian mengawasi bagaimana matahari yang akan terbenam memantulkan sinar emas, menghiasi kota dan merembes masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Dan ketika langit menggelap, matahari telah lenyap, serta bintang-bintang mulai bermunculan, Young baru akan bangkit dari ranjangnya untuk menyalakan lampu. Young duduk di atas kursinya, ia mengambil sebatang lilin dari lacinya lalu meletakkannya di atas meja. Matanya terfokus pada lilin itu, tanpa berkedip dan intens. Dan mendadak api menyala dengan sendirinya pada ujung sumbu lilin. Young mengerjap seolah ia sendiri kaget dengan api yang menyala dengan tiba-tiba. Ia duduk bersandar, menyeka keringat di dahinya. Tampak puas. Pertanyaan yang sama muncul di benaknya untuk ke sekian kali. Apakah dia adalah seorang Penyihir? Namun alat pendeteksian serta orang-orang tidak pernah menyebutnya Penyihir sejak ia lahir. Tapi ia bisa melakukan sihir sederhana tanpa mantra jika ia sangat ingin. Dan hal itu cukup menguras energinya karena dia harus fokus, seperti sedang mendorong batu besar untuk digelindingkan di tangga, setelah fokus, apa pun bisa dengan mudah ia lakukan. Young segera mengambil buku yang ia pinjam dari perpustakan. Ia membaca judulnya : "Pertanda Roh Jahat". Ia menarik nafas ketika mengingat Yasuo adalah orang yang membuatnya meminjam buku semacam ini. Terdengar derak dari jendela, kemudian ketukan pelan tiga kali. Young menoleh ke arah jendela. Jendelanya ditutupi tirai, namun ia bisa melihat bayangan-bayangan bergerak di luar sana. Young menelan ludah. Samar-samar ia bisa mendengarkan raungan pelan, mencicit dari jendela, meraung seperti meminta dibukakan. Young telah terbiasa dengan gangguan setiap malam yang ia alami. Ia segera mengambil headphone, menyetel lagu untuk menutupi pendengarannya dari suara-suara misterius tak berwujud, memunggungi jendela dan mulai terhenyak dalam bacaannya. ---*----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN