Chapter 06. Yasuo (2)
Yasuo tersentak bangun. Sesaat ia kebingungan, dan akhirnya menyadari jika saat ini ia sudah berada di dalam bis. Hah? Yang benar saja. Bukankah sebelumnya ia berada di basemen Museum? Dan sejak kapan ia sudah berada di dalam bis? Bahkan langit menunjukkan jika hari telah sore. Ini aneh.
Jadi... apakah ia barusan bermimpi aneh?
Tapi mimpi itu terasa nyata baginya. Ia mengangkat sebelah lengannya yang terasa ngilu. Ia tidak ingat jika lengannya terluka karena sesuatu. Ia menarik lengan pakaiannya dan mengerutkan dahi. Lengannya terlihat begitu pucat. Dan ada bekas luka dengan dua titik yang dalam.
***
Mr. Click Clock mungkin dulunya adalah seorang guru di Sekolah. Ia selalu muncul di toilet pria yang telah rusak bertahun-tahun yang lalu. Ia mendapat julukan Mr. Click Clock karena ia membuat bunyi detak jarum jam dari gemeretuk giginya. Menurut kabar, roh itu meninggal karena mengalami serangan jantung.
"Hei, Pak!" Yasuo menyapa sopan pada roh transparan itu. Si Roh tampak tak peduli dengan kehadiran Yasuo, ia hanya mengambang, bergerak pelan mengelilingi ruangan di depan wastafel sambil menimbulkan bunyi khas dari gemeretuk giginya. Bunyi detak jarum jam.
"Pak, boleh aku bertanya?" Yasuo terlihat ragu, ia memperhatikan roh Mr. Click Clock, mempelajari bentuk roh itu yang berasal dari materi tak kasat mata, seperti selubung dan kabut yang menyatu dan terasa dingin ketika tersentuh. "Apakah ada arwah dari Vampir?"
Yasuo tahu jika berkomunikasi dengan roh sangatlah sulit. Kadang ada roh yang bisa menganggu seperti sedang meminta bantuan, atau hanya roh yang tidak mengganggu sama sekali dan tinggal di tempat yang sama hingga akhirnya mereka dipanggil. Namun kadang para roh bisa menjawab pertanyaannya seandainya ia bisa menarik fokus mereka.
"Kau tahu, Pak? Sejak kecil, aku telah bisa melihat arwah sepertimu, tapi kemarin aku bermimpi aneh, atau entahlah. Waktu itu aku tidak melihat roh yang bisa dilihat oleh teman-temanku," Yasuo menyentuh sebelah lengannya yang terasa gatal, tepat pada bekas luka yang entah darimana ia dapatkan. Dua buah titik luka yang jika disentuh terasa ngilu sampai ke tulang radius-nya.
"Pak, apakah ada roh... yang memiliki aura jahat itu?"
Si Arwah mendadak berhenti bergerak. Dan perlahan Mr. Click Clock berputar, kemudian bergerak mendekati Yasuo. Wajah berkabutnya tampak mengerikan dengan pasang matanya yang melotot lebar, lalu mulutnya membuka lebar, meloloskan lolongan serak.
"....Roh.... Jahat..."
Dan Mr. Click Clock menembus tubuh Yasuo, meninggalkan sensasi sedingin es hingga ke tulang-tulang.
Yasuo masih berdiri mematung di tempatnya, ia samar-samar mendengar rintihan sang arwah, menyebut-nyebut roh jahat.
***
"Yas!"
Yasuo baru saja menuruni tangga ketika seorang gadis melambai di bawah tangga. Ia segera membalas lambaian itu, kemudian melanjutkan menuruni tangga hingga mendekati Yocelyn yang menungguinya.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Yocelyn mengamati si Cover Boy dengan pasang matanya yang berwarna cokelat gelap.
Yasuo tersenyum kecil. "Aku tadi berbicara dengan Mr. Click Clock."
Yocelyn mengerjap kaget. "Apa ada masalah?"
"Tidak ada," Yasuo mengangkat bahu.
"Kau kelihatan pucat hari ini," komentar Yocelyn dan mereka bersama-sama melangkah menyusuri lorong. "Apa telah terjadi sesuatu? Bukankah kemarin kalian ke Museum bersama Mr. History?"
"Eum, yeah..." Yasuo mengangguk membenarkan. "Oh, apa kau mencariku tadi?" ia mengalihkan topik.
Yocelyn mengamatinya sesaat kemudian membuang muka. "Drake kembali memintaku untuk mengajakmu bergabung."
"Wah, kenapa dia begitu ngotot padaku juga ya?" Yasuo bertanya-tanya. "Apakah dia ingin seluruh angkatan kita bergabung dengannya?"
"Aku tidak tahu," Yocelyn mengamati sekitarnya sesaat. "Tapi aku mulai risih dengan kelompok mereka."
Yasuo memandang gadis itu yang memang merupakan sahabatnya. Rasanya hanya Yocelyn yang paling dekat dan memahaminya dengan baik.
"Apakah Drake merencanakan sesuatu?"
Yocelyn tidak segera menjawab. Ekspresi gadis itu terlihat gugup.
"Aku... Aku juga tidak tahu."
Beberapa saat mereka hanya berjalan dalam hening.
"Oh ya, kau sekarang dekat dengan Zack ya?" Yocleyn bertanya, terdengar ragu. "Kulihat kalian satu kelompok dalam proyek Kimia."
"Ya," Yasuo mengangguk. "Sangat sulit mendapatkan kelompok ketika nyaris satu kelas telah bergabung dengan Blacksoul."
Yocleyn mengangkat bahu. "Jika kau masuk ke dalam kelompok kami, kau bisa bebas sesukamu lagi. Dan kau akan kembali populer."
Yasuo mendadak tertawa. "Apakah Drake menyuruhmu untuk mengatakan semua hal itu?"
Yocleyn tidak menjawab apa pun, pipinya merona karena semakin gugup.
"Katakan kepadaku apakah kau ingin aku bergabung dengan kalian?"
Yocelyn memandang Yasuo sesaat sebelum membuang muka, ia tidak memberikan jawaban lisan. Namun dari sorotan matanya, Yasuo dapat menebak jika Yocelyn tidak menginginkan hal itu. Yocelyn adalah sahabat yang ia percayai, tentu Yocelyn juga tidak ingin memasukkannya ke dalam situasi berbahaya.
"Menurutku..." Yocelyn berbisik. "Drake memintaku merayumu, dengan begitu mungkin Zack akan memutuskan untuk ikut bergabung."
"Wah, Vampir itu sepertinya naksir berat dengan Zack." komentar Yasuo.
Yocelyn mengangkat bahu tidak tahu.
"Apakah Drake ingin Zack menjadi Vampir?" tanya Yasuo yang penasaran.
"Mungkin?" Yocelyn terlihat tidak yakin. "Aku pernah dengar jika Drake menyebut Zack adalah seseorang yang spesial." Yocelyn buru-buru mengentikan ucapannya. Ia menoleh pada Yasuo dengan gugup. "Maaf."
Dan seorang Vampir menghadang jalan mereka.
"Yoce, kau sudah selesai?" tanya si Vampir yang berperawakan seorang anak laki-laki berambut hitam dan bermata hitam pula.
"Ya," jawab Yocelyn gugup pada si Vampir.
"Siapa dia?" tanya Yasuo, mengamati si Vampir yang tidak pernah ia lihat.
"Ivan," Yocelyn memperkenalkan.
"Hai, namaku Ivan. Aku dari kelas satu," dengan sopan Ivan menjulurkan tangannya. Sesaat matanya berubah keemasan dan Yasuo terkagum-kagum mengamati si Vampir.
Yasuo segera menjabat tangan dingin si Vampir. "Hai!" entah mengapa ia menyukai sikap Ivan yang ramah.
"Dah, Yasuo," Kata Yocelyn kemudian, melambai pada Yasuo dengan ekspresi lesu.
"Sori, Yoce," kata Yasuo. Sepertinya penolakannya membuat Yocelyn tidak bersemangat.
"Tidak apa-apa," Yocelyn tersenyum tipis. "Kau memang tidak boleh bergabung dengan kami."
***
Yasuo merebut buku dari tangan Young, dan ia mendapat u*****n dari si kacamata yang terkejut karena kehadirannya.
"Pergi, kau!" usir Young, berusaha mengambil kembali bukunya, namun dengan mudah Yasuo mengabaikan tangan-tangan pendek Young, kemudian duduk di sebelah Young.
Yasuo akhirnya membiarkan Young merebut kembali buku itu dari tangannya. "Hei, aku mencarimu kemana-mana."
Namun Young telah mengabaikan Yasuo, kembali berfokus pada bacaannya.
"Kau ingat kan kejadian kemarin di Museum?"
Pertanyaan Yasuo membuat Young membeku. Si kacamata menoleh, menyorotkan tatapan bingung pada Yasuo.
"Sudah kuduga, aku sama sekali tidak bermimpi," Yasuo menyandarkan diri pada punggung kursi, melipat tangannya di d**a. "Apakah kau sudah berbicara dengan Zack?"
Young menggelengkan kepala. "Mungkin kita hanya sedang berhalusinasi."
"Ya, Mungkin kita perlu kembali ke sana dan memeriksa tempat itu lagi," Yasuo mengusulkan. "Kita harus memastikan jika seorang Vampir benar-benar berada di sana."
Young menarik nafas. "Untuk apa?"
"Bukankah ini aneh? Aku tidak bisa melihat apa yang kalian lihat." ujar Yasuo.
"Kau ngotot sekali soal hantu," komentar Young, tampak jengkel.
"Ini tidak hanya sekadar hantu," tuntut Yasuo. "Kalian melihat arwah Vampir." ia mencoba mengingatkan kejanggalan yang terjadi. "Aku tadi menemui Mr. Click Clock," lanjutnya. "Dan aku menanyakan perihal ini. Dia memberitahuku sesuatu."
Young memandanginya dengan ekspresi ragu, ia tampak menimbang apakah ia dapat mempercayai Yasuo atau tidak.
"Apa?" tanya Young setelahnya, tetap saja ia penasaran.
"Roh jahat," jawab Yasuo segera dan membuat Young mengerutkan dahi.
"Roh jahat?" ulang Young.
"Kau tahu soal roh jahat?"
Young menggelengkan kepala. Ia kembali mengangkat bukunya. "Lupakan saja. Pergi sana, kau!"
"Hei," Yasuo kembali mengambil buku bacaan Young.
"Ck, maumu apa sih?!" gerutu Young, ekspresi wajahnya semakin kesal karena Yasuo masih saja mengganggunya.
"Apa pun itu, Aku tidak bisa melihat roh jahat seperti aku melihat roh pada umumnya," Yasuo mengabaikan protesan Young. Ia kembali melanjutkan. "Ada yang janggal pada tempat itu. Kita harus kembali ke sana dan mengecek apa sebenarnya yang terjadi. Mungkin di dalam peti mati itu adalah mayat si Vampir yang kalian lihat."
Young menghela nafas. "Jika kau mau mengeceknya, kau bisa melakukannya sendiri. Aku tidak ingin terlibat."
"Hei, aku tidak bisa sendirian ke sana," ujar Yasuo.
"Kenapa? Kau takut ya?"
"Aku tidak bisa melihat roh jahat itu seperti kalian. Jadi aku tidak bisa melakukannya sendiri."
Young menggeleng-geleng jengkel. "Kenapa kau begitu mempermasalahkan tentang penglihatan abnormalmu sih?"
"Karena aku tahu kalau penglihatanku itu spesial," kata Yasuo.
Young mendengus heran ketika mendengarnya.
"Bahkan tidak hanya dengan penglihatan, aku punya hal abnormal lainnya, dan ini sama denganmu bukan? Kau bisa menyihir, Young. Aku tahu rahasiamu."
Seketika Young membeku. "Jaga omonganmu." desisnya.
"Dan kau bukan Penyihir," Yasuo tetap melanjutkan kata-katanya. "Mungkin kita memang spesial," ujarnya dengan sorot mata ambernya menatap tajam pada Young. "Seperti Zack, bukankah aneh karena dia memiliki aura yang berbeda sebagai manusia? Kita bisa lihat jika Drake takut pada Zack."
"Aku tidak mengerti kenapa aku harus mendengarkanmu," gerutu Young. "Baiklah! Baiklah! Kita akan ke museum lagi untuk mengecek! Puas?!"
Yasuo tersenyum girang mendengar keputusan Si Kacamata.
***
Yasuo akhirnya menemukan keberadaan Zack setelah pulang sekolah. Ia segera merangkul Zack agar bocah itu tidak menghilang dari pandangannya lagi.
"Hei!" seru Zack, mencoba melepaskan diri. Namun Yasuo segera menyeretnya.
"Apa sih masalahmu?" tanya Zack kesal, berhasil melepaskan diri dari rangkulan Yasuo
Yasuo hanya nyengir lebar. "Kau darimana saja?" tanyanya.
Zack memutar bola matanya, ia tidak menjawab pertanyaan Yasuo dan mulai melangkah pergi. Yasuo segera mengekori Zack, menyetarakan langkah mereka.
"Aku dan Young akan kembali ke Museum."
Seketika Zack berhenti melangkah. Sebelah alisnya terangkat ketika memandang Yasuo.
"Ya, yang kau alami hari kemarin di Museum itu bukan mimpi," kata Yasuo, ia yakin Zack juga mengalami hal yang sama dengannya. Kejadian yang membuat mereka seperti bermimpi buruk.
"Untuk apa kalian ke sana?" tanya Zack.
"Hanya untuk mengecek," jawab Yasuo. "Kau mau ikut dengan kami?"
"Tidak," jawab Zack segera dan sudah melangkah. Yasuo buru-buru mengejar langkah Zack.
"Yah... jika kau tidak mau ikut, apa boleh buat." kata Yasuo. "Oh, ada yang ingin kutanyakan kepadamu." ujarnya tiba-tiba teringat. "Zack, Apakah kau pernah merasa bahwa ada sesuatu yang abnormal pada dirimu? Seperti kau merasa bukan manusia. maksudku, kau memang manusia, namun kau merasa kau bukan manusia juga." Dia berusaha menjelaskan namun Zack terlihat tidak begitu mendengarkan.
"Aku adalah manusia," gumam Zack tidak peduli.
"Jadi kau tinggal sendirian di apartemenmu?" Yasuo masih melanjutkan interogasinya.
"Yeah," jawab Zack risih. Akhirnya ia memutuskan berhenti, ia bersandar di sebelah jendela lorong, melipat tangan di d**a kemudian menyorotkan tatapan jengkel pada Yasuo. "Tahu darimana kau jika aku tinggal sendirian?"
Yasuo hanya tersenyum. "Aku mendengarnya dari rumor. Aku juga mendengar mengenai kedua orangtuamu yang meninggal karena kebakaran," ia baru menyadari jika ia telah mengatakan suatu hal sensitif ketika melihat raut wajah Zack yang berubah.
"Oh," Yasuo merasa tidak nyaman. "Sorry, Zack."
"Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu." ujar Zack dingin.
"Aku hanya ingin tahu apakah orangtuamu melakukan pernikahan berbeda eksisten," kata Yasuo ragu. "Sekarang hal itu sedang ramai diperbincangkan."
Zack masih melemparkan tatapan dingin ke arah Yasuo. "Kata Pengacaraku, orang tuaku keduanya adalah manusia. Dan aku juga sudah tidak mengingat mereka karena aku mengalami amnesia setelah kebakaran itu."
Yasuo mengangguk mengerti. "Aku penasaran," ujarnya kemudian. "Kau cukup dikenal karena populer di sekolah manusia. Banyak rumor tentangmu karena sering berkelahi."
"Tidak sering," gerutu Zack. "Mereka hanya melebih-lebihkan."
"Begitu? Wah, tetap saja kau paling unggul di eksisten kita."
"Hah? Menurutmu begitu?" Zack meragukan pujian Yasuo.
"Ya, apa kau punya alasan memilih Heleva?"
"Eum... kenapa?"
"Sebagian besar Manusia yang bersekolah di sini karena masalah finansial. Tapi aku melihat kau tidak memiliki alasan seperti itu. Kau sama denganku."
"Sama denganmu?" ulang Zack, mengerutkan dahi.
"Bukankah kau merasa penasaran berada di Area Percampuran?" tanya Yasuo, ekspresinya tampak serius. "Kau pasti memiliki perasaan seperti ini : Perasaan tertantang untuk tinggal di Area Percampuran."
Zack terdiam sesaat. "Kau pikir begitu?"
Yasuo menyengir lebar. "Yeah."
Zack menggelengkan kepalanya. "Terserah apa katamu." ujarnya tidak peduli.
"Kau tahu jika Drake kembali mencoba merekrutku?"
"Itu masalahmu kan?"
"Ya, tapi dia melakukan hal itu karena ingin kau juga masuk ke dalam kelompok mereka."
"Kenapa begitu?"
Yasuo mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin mereka mengira kita menjadi dekat karena disisihkan."
"Ck, kalau begitu mulai dari sekarang kau harus jaga jarak dariku." desis Zack jengkel.
"Menurutmu apa yang diinginkan oleh Drake darimu?"
"Mana kutahu."
"Dia ingin kau menjadi Vampir atau dia menginginkan darahmu?"
"Ya Tuhan, berhentilah!" seru Zack semakin kesal dan frustasi. "Mulai sekarang jaga jarak dariku!" serunya kemudian langsung beranjak pergi meninggalkan Yasuo sebelum Yasuo sempat mencegatnya.
Yasuo malah tertawa. Mengganggu bocah itu seru juga ternyata. Hmm, tapi sayangnya ia belum mendapatkan jawaban apa pun.
----0----