Chapter 05. Yasuo (1/2)

1759 Kata
Chapter 05. Yasuo (1) Oda Yasuo bergumam pelan menyanyikan lagu yang diputar di telinganya. Ia mengangguk menikmati musik sambil menunggu. Pemuda itu berkulit sawo matang, memiliki mata besar dengan iris mata berwarna amber, alis matanya tebal dan rapi serta bulu matanya yang panjang nan lentik, tinggi tulang hidungnya tidak terlalu mancung atau pun pesek, rahangnya tampak kokoh di wajahnya yang berbentuk diamond, dan rambutnya yang agak gondrong kecokelatan dibiarkan tergerai, agak berantakan karena terkena hembusan angin sebelum menaiki bis. Kunjungan ke museum Eksisten manusia di hari minggu benar-benar rencana yang membosankan. Kalau bukan karena ancaman Mr. History yang tidak akan meluluskan siswanya, tentu saja tidak akan ada yang berminat ikut. Seharusnya mereka sudah berangkat 10 menit yang lalu, namun masih banyak sekali murid-murid yang datang terlambat. Ia menoleh untuk mengecek teman sekelasnya. Dari sekian murid, ia menemukan Young duduk di bangku paling belakang, menyembunyikan wajahnya dalam buku. Di depan si kacamata, ada Sam Wynne dan teman ceweknya yang misterius, Charis. Dan akhirnya siswa dengan predikat super telat muncul. Zack memasuki bis dan disambut omelan panjang dari Mr. History. Yasuo segera melambai pada pria berambut albino itu, memberi isyarat pada kursi di sebelahnya yang kosong. Zack menyorotkan tatapan kesal pada Yasuo sesaat, kemudian matanya menjelajahi sekitar sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di sebelah Yasuo. Bis pun mulai bergerak pelan meninggalkan halaman sekolah. "Kupikir akan ada yang nekat tidak ikut kunjungan ini," kata Yasuo, nyengir riang. Zack memasang tampang horror. "Ini semester terakhirku dan aku tidak ingin ada nilai C hanya gara-gara aku tidak mengikuti kunjungan anak sekolah dasar." gerutunya. *** Barisan siswa Sekolah Menengah Atas Heleva mengikuti Mr. History yang melangkah sambil berbicara dengan suara membosankan. Ia menunjuk fosil-fosil hewan purba, memberitahukan namanya masing-masing kemudian memberikan kisah beberapa paragraf mengenai hewan purba tersebut. Mr. History tetap tidak menaikkan nada suaranya ketika menjelaskan proses pemakaman mumi yang sangat dikenal pernah dipraktekkan oleh suatu negara. Yasuo menguap lebar-lebar. Zack yang berada di sebelahnya sudah tertidur dalam posisi berdiri. Namun Young yang berdiri di depan Yasuo terlihat gelisah. "Kau lihat anak itu?" tiba-tiba Young berbisik, entah kepada siapa namun saat ini dia berdiri di dekat Yasuo dan Zack. Dan ketiganya berdiri paling belakang dalam barisan murid. Posisi yang hampir sama sekali tidak dapat mendengar suara Mr. History. Zack tetap terlelap janggal dalam posisinya yang masih berdiri. Sementara Yasuo menolehkan wajah, mencari objek yang ditunjuk oleh Young. "Dimana?" Yasuo tidak melihat siapa pun. "Di situ, di samping pintu. Dia melihat kita terus-menerus. Anak perempuan itu." "Aku tidak melihat siapa-siapa." Yasuo telah melihat dengan seksama. Young berdehem gugup. "Jangan bercanda." Katanya. "Apa kau pikir aku sedang melihat hantu?" Yasuo malah tertawa mendengar kata-kata Young. "Aku bisa melihat Mr. Click Clock. Tapi aku tidak melihat hantu yang kau lihat." Kata Yasuo dan malah membuat Young semakin jengkel. Mr. Click Clock adalah arwah yang bergentayangan di Toilet rusak lantai tiga gedung sekolah mereka. Yasuo selalu kasihan ketika melihat arwah pria itu yang tidak bisa pergi ke akhirat karena sesuatu hal. "Dasar sinting." Young bergumam jengkel. Ia semakin terbebani ketika mendengar Yasuo begitu akrab dengan si hantu toilet. Dan terlihat jelas di raut wajahnya, ia tidak percaya sama sekali dengan hantu. Ia melirik kembali ke arah pintu. "Dia masih di sana." Tiba-tiba Young melangkah meninggalkan barisan. "Hei!" Panggil Yasuo dengan berbisik, namun Young telah melangkah mendekati pintu. Yasuo melirik ke arah Mr. History yang tampak tidak terganggu sama sekali. Ia menyikut Zack yang masih tertidur di sebelahnya. Zack terkesiap kaget. "Aku tidak tidur," ia bergumam tidak sadar. Yauso mengabaikan Zack, ia buru-buru melangkah untuk menyusul Young. Young telah pergi keluar dari ruangan. Dan ada perasaan was-was pada Yasuo untuk menyusul Young. Sementar Zack yang masih setengah mengantuk mengikuti Yasuo sambil mengucek-ngucek matanya, mengira mereka telah berpindah ruangan. Yasuo menemukan Young di lorong. Ia segera mendekati Young, menepuk bahu si kacamata. Young menoleh padanya. "Dia memintaku mengikutinya," kata Young, menunjuk ke ujung lorong dimana tidak ada siapa pun di sana. Apa pun itu, Yasuo merasakan hal yang buruk. Ada sesuatu yang jahat di dalam museum ini. Ia bisa merasakannya. Berhembus kuat dari ujung lorong. "Kita harus kembali," Kata Yasuo. Ia tidak suka merasakan hawa jahat ini. "Siapa dia?" Yasuo dan Young menoleh, menyadari keberadaan Zack. Zack menguap lebar-lebar, tampak tidak menyadari jika ia telah tidak sengaja mengikuti Yasuo dan Young. "Anak kecil itu, kalian mengenalnya?" tanya si rambut albino. "Kau melihatnya?" Young terlihat cukup lega walau ia malah semakin tegang. Zack bukan orang yang ia harapkan dapat melihat sesuatu yang ia lihat sementara orang lain tidak. Yasuo mengerutkan dahi. Ia semakin tidak mengerti bagaimana dua orang ini bisa melihat sesuatu yang tidak bisa lihat. "He-hei!" Young buru-buru melangkah untuk mengejar. Zack yang penasaran memutuskan untuk mengikuti Young. Yasuo terdiam sesaat di tempatnya, melirik pada pintu ruangan dimana kelompok mereka masih mendengarkan ocehan Mr. History. Ia menghela nafas jengkel sebelum akhirnya menyusul kedua makhluk introvert itu. Young dan Zack membawanya mendekati tangga menuju basemen. Yasuo nyaris mengurungkan niatnya namun mereka malah menemukan Sam yang berdiri di tengah tangga. "Hei, Sam!" panggil Zack pada pria tinggi besar itu. "Oh?" Sam terlihat bingung ketika mereka bertiga datang mendekat. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yasuo heran. Ia tidak memperhatikan Sam dalam grup dan sekarang Sam sudah berada di tempat seperti ini. "Itu... aku tadi..." Sam tampak gugup. "Charis ingin melihat sesuatu, jadi aku menemaninya, tapi sekarang aku kehilangan dia." "Dia pergi menuju basemen ini?" tanya Yasuo, mengerutkan dahi. "Aku tidak tahu," Sam mengangkat bahu. "Hanya saja aku melihat seorang anak kecil masuk ke sini," ujarnya. "Aku bermaksud melarangnya namun aku ketinggalan." Kata-kata Sam semakin menambah rasa penasaran Zack dan Young, namun malah membuat Yasuo semakin cemas. "Ayo ke sana," Zack buru-buru mengeluarkan ponselnya, menyalakan aplikasi sentar untuk menerangi jalan menuju ke bawah. "Hei," Yasuo buru-buru menahan bahu Zack. "Aku rasa ini berbahaya." Ia serius ketika mengatakan hal itu karena perasaannya semakin tidak nyaman. Namun ketiganya seolah terpusat pada sosok yang tidak dilihat oleh Yasuo. Yasuo menarik nafas jengkel ketika ketiganya pergi menuruni tangga basemen, mengabaikan kata-katanya. *** Yasuo akhirnya melewati anak tangga terakhir, ia bergabung dengan ketiga bocah yang menyinari ruangan berdebu dengan tiga sisi berbeda. "Apa kita benar-benar melihat seorang anak kecil menuruni tangga ini?" Zack mulai terlihat ragu ketika mereka sudah di basemen. Wajah Sam seketika berubah pucat. "Ini hanya gudang di basemen," komentar Young, menendang pelan kardus-kardus yang bertumpuk di dekatnya. Yasuo menyinari setiap sudut ruangan dan ia hanya melihat tumpukan kardus dengan berbagai ukuran dari yang kecil hingga sebesar lemari. Tiba-tiba terdengar suara debam pintu tertutup. Mereka berempat terkesiap kaget, menoleh pada sumber suara. "Hei! Anak nakal! Keluar!" seru Zack, sedikit bergaung di dalam basemen yang berdebu. Namun hening. Yasuo menoleh pada Zack. Zack mengangguk, memberi isyarat bahwa ia akan mendekati pintu itu. Namun Yasuo segera menggeleng, melarang Zack. Entah kenapa ia bisa merasakan hawa yang aneh dan jahat tepat berasal dari sana. Namun Zack tidak peduli dan telah melangkah mendekati pintu. "Tidak terkunci," Kata Zack, mendorong pintu hingga terbuka. Mereka memasuki ruangan yang kosong, dan menemukan ada benda-benda yang disandarkan ke dinding dan ditutupi kain putih. "Apakah itu lukisan?" tanya Yasuo, menyinari kain-kain penutup itu dengan Ponselnya. "Tidak ada siapa-siapa." Bisik Sam dengan ekspresi gelisah. Tentu saja mencurigakan bagaimana sebuah pintu bisa berdebam tertutup tanpa didorong seseorang atau karena adanya angin kencang. Dan ini ruang basemen. Bagaimana bisa ada angin memasuki tempat ini. "Sudah kubilang," kata Yasuo jengkel, tidak ada satu pun dari mereka yang mendengarkannya. "Mungkin kita berhalusinasi," kata Zack, mengangkat bahu. Namun terdengar ragu. "Hei," Young yang sudah berjongkok di dekat kain-kain penutup, ia mengangkat sedikit kain putih itu di bagian pojok bawah, menyinari sebuah bingkai besar yang terukir kata-kata di sana. "Dasha, si Vampir Terkutuk." baca Young. Ia segera berdiri kemudian menarik kain putih itu hingga terlepas. Mereka berempat tersentak mundur ketika melihat lukisan besar dihadapan mereka. Lukisan dalam bingkai itu menampilkan sosok seorang anak perempuan sebesar ukuran aslinya. Anak perempuan itu mengenakan gaun hitam berpita dan berenda merah, matanya berwarna merah menyala seperti warna pitanya, rambutnya hitam seperti warna hitam langit malam hari, kontras dengan warna kulitnya yang putih pucat tampak bercahaya seperti rembulan di langit malam. Lukisan ini terlalu sempurna, nyaris tampak nyata. "Anak perempuan ini," kata Zack dan suaranya terdengar ragu. "Dia yang kulihat. Ya kan?" "Ya," kata Young dengan raut tegang. "Vampir terkutuk?" baca Yasuo bingung pada tulisan yang tertera di lukisan. "Hei, Kalian tahu setelah Vampir mati, benar-benar mati, mereka akan musnah di bumi? Tidak mungkin kalian melihat hantu dari Vampir." Sam terlihat semakin gelisah. Ia menoleh ke sekitarnya dengan gugup. "Lalu apakah kita baru saja melihat hantu Vampir?" "Vampir tidak mungkin berubah menjadi hantu," Yasuo menekankan. "Jadi menurutmu apa yang kami lihat?" tanya Young jengkel dengan keraguan Yasuo. "Kau seolah memang bisa melihat hantu saja." "Tapi aku memang bisa melihat roh," kata Yasuo dan membuat ketiganya memandang risih padanya. Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan, namun ia benar-benar bisa melihat makhluk tak kasat mata, kecuali yang dilihat oleh mereka bertiga tadi. Yasuo mulai mengitari ruangan dengan menyinari setiap sudut. Lalu ujung sepatunya terhantuk sesuatu. Ia menunduk dan melihat sebuah peti di sudut ruangan. Ia segera mundur. "Teman-teman," panggilnya gugup, menyinari peti kayu di hadapannya. Kotak kayu itu berbentuk seperti peti mati seukuran tubuh anak kecil. Terdapat banyak kunci pengait di setiap sisi peti dan setiap pengaitnya terdapat lingkaran kalimat dengan alfabet asing. Ketiga temannya segera mendekati peti itu. "Kira-kira apa isinya?" tanya Zack penasaran. "Memangnya kita perlu membukanya?" Sam bertanya. "Coba saja," Young ternyata juga penasaran. "Hei, yang benar saja. Lebih baik kita naik ke atas," Yasuo merasa risih melihat peti mati itu. Jelas sekali ini adalah pertanda buruk. "Hei, kau takut ya?" ledek Zack kepadanya. Yasuo mengerutkan dahi. "Tentu saja tidak!" serunya jengkel. "Kalau begitu, ayo kita buka." Zack sudah mengambil satu sisi pengait. Young segera mengambil satu sisi pengait di sebelahnya. Kemudian keduanya menoleh pada Yasuo dan Sam yang masih tidak bergerak. Yasuo menghela nafas dengan sorot ledekan Zack kepadanya, maka ia mengambil satu sisi pengait di sebelah Young. Sam pun tampaknya terpaksa mengikuti mereka, si bocah besar segera mendekat untuk mengambil sisi pengait yang tersisa. "Hitungan ketiga," Zack mengarahkan. "Satu, dua, tiga!" Mereka berempat berbarengan membuka pengait, lalu menggeser tutup peti mati. Sebelum mereka sempat melihat isinya, pijakan di bawah kaki mereka terasa bergetar dan tubuh mereka terlempar seperti dihempaskan oleh suatu tangan raksasa. Yasuo terjerembab tak jauh dari peti. Ia menoleh dan menyadari jika ketiga temannya sudah tidak berada di dalam ruangan. Ia sendirian di sini. Ia kembali berpaling pada peti yang tutupnya sudah terbuka itu. Terlihat jemari mungil bergerak keluar. Seketika pandangan Yasuo menggelap dan kepalanya terjatuh ke lantai. ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN