Chapter 04. Zack Myron (4/4)

1671 Kata
Chapter 04. Zack Myron (4) Zack tidak berhasil menemukan keberadaan Young dan Yasuo sepulang sekolah. Padahal mereka sudah menjadwalkan diri untuk meminjam laboratorium kimia sore ini. Ia memutuskan untuk menuju lab. kimia sendirian, mungkin keduanya telah berada di sana. Lab Kimia berada di gedung seberang yang menyebabkan Zack harus berjalan membelah halaman, dan ini merupakan hal yang tidak ia sukai karena harus melewati keramaian anak-anak yang masih berkeliaran di halaman sekolah. Zack tidak segera memasuki Gedung lab ketika melihat Hayley dan Tom bergerak menuju ke halaman belakang gedung sambil menyeret seseorang. Seketika ia teringat pada Young yang pernah dilukai oleh si Penyihir sinting itu. Zack tidak ingin diam saja. Ia segera mengikuti mereka ke halaman belakang gedung. *** Bruk! "Ups, sori." Hayley cekikikan melihat Sam Wynne terjerembab jatuh tanpa ada apa pun yang menghalangi langkah pria tinggi menjulang itu. Drake telah berdiri dihadapan Sam yang masih terduduk di tanah berumput. Sam mendongak gugup pada si Vampir. "Sam Wynne." Kata Drake perlahan memanggil namanya. "Sebenarnya aku tidak butuh manusia bodoh lainnya." ujarnya dengan suara bosan. "Tapi tidak ada salahnya menawarkan hal ini kepadamu. Jadi sebelum kau lulus, kau bisa bergabung dengan kami untuk mendapatkan keuntungan yang menarik." Zack bersembunyi di balik pohon besar, mengintip untuk membaca situasi. Kata-kata Drake terdengar memiliki maksud tertentu. "Aku tahu perasaanmu. Menjadi manusia yang setiap hari dikucilkan bahkan oleh Eksisten-mu sendiri. Tentu hal ini membuatmu muak. Nah, jika kau bergabung dengan kami, mungkin setelah kau lulus, aku akan memberikanmu banyak kesempatan untuk kau pilih. Kau mengerti maksudku kan?" Kesempatan untuk berubah menjadi Eksisten bukan manusia. Ck. Itu buruk sekali. Jadi itu yang mereka tawarkan pada para Manusia agar mau bergabung dengan Blacksoul. "Nah, Sam. Dengan tangan terbuka aku ingin menerimamu menjadi anggotaku." Drake tersenyum lebar hingga keempat gigi taringnya yang runcing terlihat jelas. "Tidak." Jawaban Sam sungguh tak terduga. Hayley dan Tom melototi Sam seolah Sam telah melakukan suatu tindakan tercela. Sam Wynne membalas dengan tatapan berani kepada mereka bertiga yang sedang mengepungnya. Ia kemudian bergerak berdiri. Drake tidak tersenyum lagi. Sorot dingin terlempar dari pasang matanya yang gelap gulita. Sebelah alisnya terangkat kemudian ia tersenyum sinis. "Kau pasti sedang bercanda." ujar Drake dengan tenang. "Aku bisa lihat kau memiliki keinginan untuk menjadi salah satu dari kami." "Tidak," kata Sam. "Aku tidak ingin menjadi salah satu dari kalian." "Kalian dengar itu? Sekarang pergilah, Jangan ganggu kami!" Si gadis bermata cokelat pucat, Charis Nyfain, entah darimana telah berdiri di samping Sam. Drake kini menoleh pada Charis, ia juga baru saja menyadari keberadaan gadis itu. Hayley yang marah telah mempersiapkan tongkat sihirnya, mulutnya tampak gatal untuk menyerukan mantra sihir andalannya, namun ia tetap menunggu instruksi Drake. Tom yang di satu sisi melotot, berniat akan menghajar Sam. "Kau... Charis Nyfain." Mata merah Drake menyala-nyala. Ia seolah mencium ketidakberesan pada gadis itu. "Ada yang aneh dengan dirimu." Zack tidak menyukai ini. Dan entah, apakah ia berani atau t***l, dia telah bergerak keluar dari persembunyiannya. "Hei, apa yang kalian lakukan?" tegur Zack, melangkah mendekat Seketika Zack mendapatkan sorotan kaget terhadap kehadirannya. Drake terdiam ketika melihat Zack telah berdiri di sisi Sam. Iris mata si Vampir kembali berwarna hijau. Kemudian dia tersenyum. "Zack Myron, bagaimana kau bisa berada di sini?" "Tinggalkan mereka, Drake." Kata Zack, dengan nada mengancam. "Kita berada di negara bebas. Kau tidak berhak memaksa eksisten lain menjadi salah satu dari bagian eksisten-mu. Kalau kau memaksa, aku akan melaporkanmu." "Wah, Zack." Kata Drake, bibirnya melengkung geli. "Aku tidak tahu jika kau memperdulikan orang lain." "Terserah apa katamu. Jangan ganggu mereka. Berhenti mengganggu Eksisten-ku." Ini keren. Atau lebih tepatnya i***t. Sejak kapan Zack membela Eksisten Manusia? Ia bahkan tidak pernah merasa menyukai Manusia dan sekarang ia membela Eksisten ini? Tapi membela Sam dan Charis adalah hal yang berbeda. Ia tidak ingin ada yang terluka seperti yang terjadi pada Young. Drake memandangnya dengan ekspresi tidak percaya, seolah Zack sedang melontarkan lelucon. "Kau yakin dengan kata-katamu? Kau... di sini untuk melindungi i***t ini?" "Mereka Eksisten-ku. Dan bukan hanya mereka yang ingin kulindungi. Tapi mereka yang sudah kau jadikan budakmu, Drake." Zack bahkan tidak menghafal kata-kata yang barusan ia lontarkan. Ia tidak peduli jika pada akhirnya mereka akan mengeroyoki dirinya. Zack memang suka menonjok orang kurang ajar sejak kecil.Tapi dia hanya bisa berkelahi dengan Eksisten Manusia saja. Dengan Eksisten werewolf sih pernah, tapi ia berakhir di rumah sakit dengan kaki patah hingga ia perlu waktu untuk recovery kesehatan. Tom menggeram marah dan mengucapkan makian yang tidak jelas. Sementara Hayley yang sudah tidak tahan menunggu perintah segera mengacungkan tongkat sihirnya, namun sebelum ia sempat membuka suara, tongkatnya mendadak jatuh dengan sendirinya. "Apa?" jerit Hayley kaget. "Siapa? Siapa yang telah menyihirku?!" dia mengancam marah dan melemparkan tatapan liar ke sekitarnya namun tidak ada siapa-siapa selain mereka di sini. Hayley buru-buru memungut tongkat sihirnya dengan panik. Zack mengacungkan ponselnya, menunjukkan nomor bantuan yang akan siap ia tekan kapan saja jika mereka mulai menghajarnya. Raut muka Drake berubah waspada. "Aku akan menghubungi Pembasmi," kata Zack. "Jadi jangan macam-macam." Drake malah tersenyum seolah ia mendengar ancaman yang menurutnya kedengaran kekanakan. "Yah, terserahmu lah." ujar Drake, melempar tatapan sesaat pada Sam dan Charis. "Tapi ajakanku akan tetap terbuka untuk kalian bertiga. Nah, sampai nanti, Sam." Drake berbalik dengan langkah angkuh. Ia mengabaikan pelototan Hayley dan Tom yang kecewa karena mereka tidak melakukan apa-apa. "Ma-makasih," ucap Sam gagap ketika Drake telah menghilang bersama kedua kaki tangannya. "Sama-sama," kata Zack, dan ia sama leganya dengan Sam karena tidak terjadi kekacauan yang ia bayangkan. Suara tepuk tangan diiringi kehadiran Yasuo mengagetkan mereka bertiga. "Wah, wah, superhero sekali, Myron!" Zack mengerutkan dahi dengan kehadiran si Cover Boy. Berlanjut dengan seseorang meloncat turun dari pohon. Young menepuk-nepuk dedaunan yang menempel dari tubuhnya. Zack semakin dibuat kaget dengan kehadiran Young dari atas pohon. Jadi keduanya berada di sini ketika Drake menyudutkan Sam? "Bagaimana kalian bisa berada di sini?" tanya Zack. "Tunggu, jangan-jangan kalian...?" ia menebak dan Yasuo langsung bertepuk tangan. "Ya... ya... tentu saja kami mengkhawatirkan apa yang akan dilakukan Drake pada mereka berdua!" Young hanya memutar bola matanya. "Jadi berterima kasihlah pada kami!" "Untuk apa?" tanya Zack semakin heran. Bukankah dirinya yang menghadang Drake hingga membuat Drake angkat kaki? "Oh oh, kalau bukan karena aku, kalian pasti sudah dihajar oleh werewolf itu," Yasuo tertawa. "Kau tidak melakukan apa-apa," sergah Young kesal. "Tentu saja aku memiliki kontribusi!" seru Yasuo tidak terima. "Bukankah aku yang memberitahumu untuk ke sini?" ia melotot pada Young. Young kembali memutar bola matanya. "Diamlah, muka Unta." desisnya memperingati Yasuo. "Apa maksud kalian?" tanya Zack, semakin heran melihat kedua orang yang nyaris tidak pernah berinteraksi itu seperti memiliki rahasia tertentu. "Tidak apa-apa, kita pergi ke lab sekarang!" perintah Young yang bergerak pergi, namun lengan ramping Yasuo mencegatnya, merangkul bahu si kacamata dengan erat. Young meronta kesal. "Kalian pikir siapa yang menghentikan Hayley, huh?" tanya Yasuo dengan wajah misterius. "Muka Unta, tutup mulutmu!" seru Young. Zack mengerutkan dahi, ia teringat ketika Hayley berteriak bahwa ada yang menyihir dirinya, waktu itu Zack mengira Hayley sendiri yang menjatuhkan tongkat sihirnya. Jadi, memang ada yang menyihir Hayley ketika itu? Tapi siapa? Bukankah mereka semua di sini adalah Manusia? "Ayo ke lab!" Seru Young yang segera melangkah pergi. "Yah... Pokoknya berhati-hatilah, Sam," ucap Yasuo kepada Sam. "Dan juga kau, Charis." Charis Nyfain sangat berbeda jika dilihat dari dekat menurut Zack. Kulitnya yang seputih salju dengan rambut hitam kecokelatan yang diikat ekor kuda, alis tajam dan mata yang bagaikan elang melotot pada Yasuo. Charis hanya mengangguk singkat. "Makasih," ucap Sam pada Yasuo. "Sama-sama. Nah, ayo, Zack!" Yasuo segera merangkul bahu Zack untuk menyeretnya pergi. Zack terpaksa mengikuti Yasuo, masih bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Namun tampaknya Yasuo dan Young tidak ingin membicarakan apa-apa lagi kepadanya. Apa rahasia mereka berdua? Dan sejak kapan mereka berdua menjadi saling akrab? *** Hari yang melelahkan, nyaris membuat Zack harus menginap di laboratorium. Yang benar saja, beruntung ia bisa melarikan diri dari Young yang seperti orang kesetanan dalam melakukan proyeknya, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dan Yasuo pun telah kabur lebih dulu tanpa memberitahu. Zack menyusuri trotoar menuju apartemen mungilnya. Hanya perlu waktu 10 menit baginya berjalan kaki dari sekolah ke apartemen. Karena itu ia tidak pernah menaiki jasa kendaraan untuk berhemat. Berjalan di malam hari bagi anak sekolahan sebenarnya agak berbahaya, namun Zack tetap ingin kembali ke rumahnya dan tidur di atas kasur empuknya. Ia terlalu lelah menghadapi hari ini, jiwa introvertnya meronta untuk bisa menenangkan diri dalam zona amannya. Tiba-tiba Seorang Vampir muda muncul di tengah jalan. Hal itu Membuat Zack nyaris melayangkan tinju, mengira penguntit atau pun orang jahat. Ivan, yang ternyata adalah si Vampir, hanya tersenyum geli melihat kuda-kuda Zack yang sudah siap menghajarnya. Zack dibuat tertegun dengan senyum itu. Senyum yang mirip dengan senyuman pria dalam mimpinya. Lagi, Ia heran kenapa Ivan begitu mirip dengan sosok pria dalam mimpinya. "Kenapa pulang jam segini?" tanya Ivan. Zack mengerutkan dahi. "Kau sendiri? Kenapa berkeliaran di malam hari?" Ivan malah tertawa, membuat ujung telinga Zack memerah. Zack lupa jika bocah di depannya ini adalah Vampir si makhluk malam. "Aku akan menemanimu," kata Ivan yang mulai mengekorinya. Zack menunjukkan ekspresi keberatan. Tapi sepertinya dia memang butuh makhluk malam untuk menemaninya melintasi area rawan menuju apartemen. Bukannya dia pengecut atau mempercayai Ivan. Tapi malam ini bulan sedang penuh, malam yang cocok untuk memburu mangsa. Dan Zack dengan bodohnya berjalan-jalan sendirian nyaris tengah malam. "Hei, boleh aku bertanya?" Zack tiba-tiba bertanya. "Ya, silahkan," jawab Ivan segera. "Kenapa kau bisa menjadi Vampir?" Ivan terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya menjawab. "Tentu saja karena ada Vampir yang menggigitku. Alasannya tentu karena Vampir itu lapar." Zack tertawa kecil. Dia bertanya pada hal yang konyol. Tentu saja Ivan digigit oleh Vampir yang sedang lapar. Memangnya apa lagi alasannya? "Hei, apakah kita pernah bertemu di suatu tempat?" Zack bertanya lagi. Bagaimana pun ia masih penasaran mengapa Ivan sangat mirip dengan pria yang muncul di dalam mimpinya. Bedanya, Ivan jauh lebih muda. Pria dalam mimpinya adalah orang dewasa. Vampir dewasa mungkin. Hanya saja warna dan bentuk mata serta rambut keduanya sanagt mirip. "Tidak," jawab Ivan. "Kenapa?" "Kau mirip seseorang." "Oh ya? Siapa?" Zack menghela nafas. "Lupakan saja." ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN