Chapter 03. Zack Myron (3)
Zack menerima kaleng soda yang disodorkan oleh Ivan. Kaleng soda itu terasa dingin dalam genggamannya. Sementara Ivan membuka sebuah botol amber berukuran 25 ml yang masih berembun karena suhu dingin.
"Oh," seketika Ivan tersadar. "Maaf, apakah aku membuatmu mual?"
Zack menggeleng. "Tidak masalah." Katanya walau ia mendadak merasa mual karena dapat menebak isi dalam botol kecil tersebut. Tapi tidak mungkin ia memasang tampang jijik karena itu tidaklah sopan jika kau sudah menyetujui hidup berbaur dengan seluruh Eksisten.
Ivan meneguk minumannya dengan sedikit tergesa-gesa, menunjukkan bahwa dia sangat kehausan. Atau lebih tepatnya kelaparan. Zack hanya diam mengawasi, bertanya-tanya bingung dalam hati bagaimana ia bisa mudahnya menyetujui ajakan si vampir asing.
Begitulah. Vampir sangat abnormal. Siapa yang bisa lepas dari kemampuan hipnotis mereka?
"Apa yang kau inginkan?" tanya Zack penasaran, menimbang-nimbang kaleng sodanya.
Ivan selesai menegak habis minumannya. Ia menyeka bekas noda merah gelap yang menempel di bibirnya.
Zack mencoba menebak berapa usia Ivan saat ini. Sungguh menyedihkan sekali karena di usia semuda ini Ivan sudah mendapatkan gigitan yang membuatnya harus menjadi Vampir.
"Aku dengar Drake mencoba merekrutmu," Ivan mengawasi Zack dengan iris mata hitamnya. Mungkin itu adalah warna asli mata si Vampir.
"Ya, tapi aku menolak." kata Zack.
"Wah, keren."
Keren? Apa maksudnya itu?
"Aku ingin tahu apa yang membuat Drake begitu menyukaimu. Hal ini membuat Kami penasaran padamu."
"Kau anggota Blacksoul?" tanya Zack, menatap sinis pada si Vampir. Ia menyesal karena telah terpengaruh oleh si Vampir dengan begitu mudahnya.
"Ya," jawab Ivan, tersenyum. "Aku penasaran untuk melihatmu dari dekat."
Zack semakin merasa risih ketika menemukan kilatan aneh dari sorotan mata Ivan. Vampir muda itu mulai terlihat mengerikan sekarang. Ivan yang tersadar buru-buru berdehem, mengendalikan sikapnya dan seketika dia sudah berubah menjadi remaja berusia 16 tahun yang terlihat normal.
"Apa-apaan, omongan kalian seperti berniat menggigitku," kata Zack kesal. Ia tahu jika pada umumnya Vampir akan menggigit manusia yang mereka sukai.
"Kau berpikir Drake menginginkan darahmu?" Ivan tiba-tiba tertawa. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi geli.
"Lalu apa yang kalian inginkan dariku? Aku hanya seorang manusia. Apa untungnya jika aku masuk geng kalian?" tanya Zack, semakin kesal.
Ivan tersenyum kecil melihat kekesalan di wajah si rambut albino. "Kami juga sedang mencari tahu," jawaban Ivan sama sekali tidak membantu. "Mungkin kau akan tahu setelah bergabung dengan kami."
Zack segera beranjak berdiri lalu melempar kaleng soda pada Ivan. "Thanks, tapi tidak."
Zack sudah melangkah pergi untuk meninggalkan Ivan yang diam saja sambil mengawasinya. Dan tiba-tiba Zack berhenti, ia menoleh walau ia tidak mendengar Ivan memanggilnya.
Ivan masih duduk di bangkunya, tersenyum senang karena berhasil membuat Zack berhenti. Ia melambai dan berseru.
"Nanti kita ngobrol lagi, Myron!"
***
Sudah tiga hari berlalu dan Zack tidak lagi bermimpi aneh. Ia bahkan nyaris melupakan mimpi terakhir yang ia dapatkan itu karena begitu banyaknya tugas yang diberikan guru-guru di sekolahnya.
Guru di Heleva benar-benar unik karena mereka tetap melakukan tugasnya namun tidak memperdulikan kericuhan murid mereka yang terdiri dari berbagai eksisten.
Ia penasaran apakah dengan mengerjakan tugas-tugas ini masa depannya akan menjadi sukses?
"Hai, Myron."
Zack menoleh. Seorang gadis cantik berkulit kecokelatan tersenyum manis. Rambutnya yang hitam panjang bergelombang tergerai, matanya yang besar dengan iris berwarna cokelat gelap berbinar-binar ketika memandangnya. Yocelyn Minowa, pemimpin grup pemandu sorak Marigold, selalu tampil menarik. Ya, Yocelyn Minowa adalah werewolf wanita yang akan membuat para pria kehilangan akal sehat hanya untuk mendapatkannya. Bodoh sekali ia bahkan tidak menyadari Yocelyn duduk di sebelahnya.
Zack hanya mengangkat bahu. Salah tingkah. Ia mencoba untuk bersikap santai namun sulit sekali jika ia harus berhadapan dengan wanita secantik Yocelyn. Dan ada angin apa Yocelyn memilih duduk di sebelahnya?
"Apa kau melihat Yasuo hari ini?" tanya Yocelyn.
Ah, Zack lupa jika Yocelyn adalah teman si cover boy.
Zack hanya mengangkat bahu sebagai jawaban.
"Yasuo beberapa hari ini tidak masuk sekolah," Yocelyn merendahkan suaranya agar tidak berisik di dalam kelas yang sedang mengikuti pelajaran. "Aku mengkhawatirkannya."
Zack tidak menyadari jika Yasuo tidak masuk kelas sejak beberapa hari yang lalu, namun ia tahu jika Young Kim juga absen sejak dua hari yang lalu. Hei, apa yang terjadi pada mereka berdua?
"Oh," kata Yocelyn tiba-tiba sambil memandang ponselnya yang baru saja bergetar pelan. "Ternyata dia sedang tidak enak badan. Syukurlah, aku sempat khawatir." ia membaca pesan dari Yasuo.
Zack mendengus. Dia agak kesal karena si gadis populer mendekatinya hanya karena menanyakan keadaan Yasuo. Memangnya dia terlihat dekat dengan Yasuo apa?
Zack mendadak tersadar dengan tatapan Yocelyn padanya. "Zack.. Tidakkah kau menyadarinya?" Yocelyn tiba-tiba berbisik. "Drake sepertinya agak takut padamu."
Zack terdiam, sedikit kaget mendengar kalimat itu keluar dari mulut Yocelyn.
Yocelyn buru-buru mengangkat bahu, tersenyum dan tampak salah tingkah. Ia melirik ke sekitarnya, memastikan bahwa tidak ada yang mendengarkan kata-katanya. Dan setelahnya Yocelyn hanya sesekali menegurnya mengenai masalah pelajaran.
***
Young Kim masuk kelas esoknya masih dengan wajah pucat dan lesu. Tampaknya ia memang sakit selama dua hari kemarin. Namun tetap saja Proyek Penelitian Kimia adalah hal yang paling membuat Young bersemangat. Dia memberikan resume yang telah ia buat kepada Zack.
"Kau masih berminat menjadi partner-ku kan?" tanya Young, duduk bersandar pada punggung kursi. Saat ini mereka berdua duduk berhadapan di meja perpustakaan.
"Ya," Zack mengangguk, ia segera membaca resume yang telah dibuat oleh Young. Young memang sangat rapi sekali dalam membuat perencanaan penelitian mereka nanti.
"Aku hanya perlu sedikit tambahan pustaka sebelum kita ke lab," Kata Young. Matanya menjelajahi rak-rak buku yang berjejer. "Kita akan menjadi grup pertama yang mengumpulkan resume proyek."
Tiba-tiba saja seorang cowok yang tidak diharapkan kehadirannya menggeser kursi di sebelah Young. Yasuo muncul dengan senyum lebarnya.
Zack dan Young melototi kehadiran si Cover Boy, tampak sama-sama tidak suka.
"Hei, aku akan ikut grup kalian untuk penelitian kimia," kata Yasuo yang membuat kedua cowok introvert di depannya semakin melotot.
"Dasar gila, aku tidak mau sekelompok denganmu," usir Young terang-terangan.
"Kenapa? Bukankah jumlah minimal anggota kelompok adalah tiga orang? Dan kalian kurang satu orang lagi, jadi lebih baik kalian menerima tawaranku." kata Yasuo, benar-benar seenaknya meski dengan ekspresi sopan dan kalem.
"Tidak," kata Young tegas, ia segera berdiri. Namun Yasuo tiba-tiba menarik sebelah tangan Young dengan kasar hingga Young kembali terduduk. Zack merasa dejavu bagaimana si Cover Boy yang terlihat ramping itu dapat begitu kasar dan kuat.
Sebelum Young sempat menarik tangannya kembali, Yasuo telah menarik lengan baju Young hingga ke atas, Dan Zack dapat melihat bekas jahitan baru sepanjang sekitar 5 cm di lengan kanan Young.
Young yang terkejut menarik paksa tangannya, segera menutupi lengannya kembali, menoleh panik ke kanan dan ke kiri. Beruntung, tidak ada yang memperhatikan mereka di sini.
"Apa itu?" tuntut Zack, ia merasa ngeri dengan luka separah itu pada Young.
"Blacksoul," jawab Yasuo, malah tersenyum menyeringai
"Kau.... sialan.... Cover Boy sinting... Brengsek...." Young mendesis, memaki-maki Yasuo sambil menahan rasa nyeri di lengannya yang terluka.
Yasuo terlihat santai dan tetap tersenyum. "Terima kasih, tapi kau bisa membalas budi dengan memasukkan aku ke dalam kelompokmu."
"s****n, kau." desis Young, ia seperti sedang ditagih hutang oleh mafia saja. Dan nampaknya ia tidak mampu berkelit dari si Cover Boy.
"Mereka... melakukan hal itu padamu?" tanya Zack tidak percaya pada Young.
"Ya. Tiga hari yang lalu. Beruntung aku melihat mereka ketika menyeret Young. Kalau bukan karena aku, entahlah apa yang akan mereka lakukan pada bocah ini." jelas Yasuo seperti sedang menceritakan hal biasa tentang hidupnya.
"Hei, kau sama sekali tidak menolongku!" Protes Young.
"Oh ya?" Yasuo mengangkat sebelah alisnya. "Bukannya karena ketampananku, perhatian Hayley jadinya teralihkan? Kau selamat dari sihirnya, dan itu karena aku."
"Aku bisa melindungi diriku sendiri," desis Young, dengan wajah memerah karena semakin kesal. Ia segera berdiri kembali, lalu buru-buru pergi sebelum Yasuo mencegatnya lagi.
"Kasihan dia," Yasuo menggeleng-gelengkan kepala melihat punggung Young menghilang di balik rak buku. "Hei, bisa kau beri tahu dia untuk menulis namaku juga di resume-nya?"
Zack mengangkat sebelah alisnya. Si Cover Boy ini benar-benar tidak tahu malu. Tentu ia tidak mau melakukan hal itu.
"Bagaimana denganmu?" tanya Zack pada Yasuo kemudian. "Apakah kau juga terluka?"
"Oh, manisnya," Yasuo nyengir lebar. Zack segera menyesali pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Tidak seharusnya ia menunjukkan kepeduliannya pada Cover Boy sinting ini. Tapi ia penasaran bagaimana Yasuo bisa berkonfrontasi dengan Hayley si Penyihir.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak usah cemas," Yasuo melebarkan kedua lengannya dengan cengiran riang, memastikan kepada Zack bahwa tidak ada luka lecet sedikit pun di tubuhnya.
***
Pelajaran olahraga hari itu Gurunya tidak masuk. Ini adalah yang disukai oleh para murid di sekolah, apalagi anak laki-laki karena mereka bisa bebas menggunakan semua lapangan olahraga. Zack menghabiskan waktunya dengan bermain basket di lapangan bersama teman sekelasnya. Kalau masalah olahraga, bahkan dia yang introvert pun akan dicari-cari untuk menambah anggota tim.
Di tengah permainan, fokusnya teralihkan ketika melihat Yasuo dan Young tampak duduk berdua di kursi penonton lapangan. Young tampak fokus dengan laptop di pangkuannya dan buku-buku bertumpuk di sampingnya. Sementara Yasuo yang duduk di sebelah Young hanya tersenyum-senyum memainkan ponsel.
Konyol sekali. Padahal baru hari kemarin Young mengumpati Yasuo, dan hari ini mereka berdua sudah tampak akur dengan duduk bersebelahan.
Zack memutuskan untuk keluar dari pertandingan setelah timnya unggul beberapa poin dari tim lawan. Ia melangkah menaiki tangga di sebelah kursi penonton yang bertingkat. Ia mendekati kedua murid berbeda karakter itu.
"Hei," sapa Yasuo ketika melihat Zack datang mendekat. Dengan rendah hati, si Cover Boy menyodorkan botol air mineral pada Zack.
"Makasih," Zack dengan ragu menerima botol minuman itu, baru kemudian duduk.
"Mereka mengajakmu bermain," kata Zack kemudian setelah selesai meredakan rasa haus dengan meminum air mineralnya.
"Aku malas berkeringat," kata Yasuo yang fokusnya masih pada layar ponsel. Zack hanya memutar bola mata ketika mendengar alasan si Cover Boy.
"Kalian kelihatan akur," komentar Zack, mengutarakan rasa penasarannya.
"Tidak," jawab Young segera sambil tetap mengetik.
"Tentu saja! Kita kan sudah satu kelompok di tugas Penelitian Kimia!" kata Yasuo tampak senang, sementara Young menahan mulutnya untuk tidak mengerucut jengkel.
"Kau serius memasukkannya ke dalam kelompok?" tanya Zack tidak percaya pada Young.
"Mr. Benedict tidak menerima kelompok yang kurang dari tiga orang," jawab Young suntuk. "Resume kita ditolak karena itu."
"Nah kan?" Yasuo terlihat seperti memenangkan sesuatu.
"Diamlah dan tunjukkan kontribusimu," gerutu Young, semakin jengkel.
"Hei, Kan aku di sini sedang mendukungmu dalam menyelesaikan kekurangan pustakanya!" seru Yasuo.
Zack dan Young serentak memandang kesal pada si Cover Boy sinting itu. Young menggeleng-geleng kesal, kemudian kembali fokus mengetik. Entah apakah mereka berdua dapat bertahan menghadapi Yasuo. Mungkin karena Yasuo telah kehilangan kelompok Cover Boy-nya, jadinya dia tidak memiliki teman sama sekali, apalagi partner untuk tugas kelompok.
"Hei," panggil Zack kemudian. "Kalian kenal cewek itu?" Zack mengangguk ke arah cewek asing yang menarik perhatiannya. "Cewek yang duduk di sebelah Sam Wynne."
"Oh? Dia?" Yasuo segera menoleh ke arah yang ditunjuk Zack. "Setahuku namanya Charis Nyfain." jawabnya.
"Siapa?" Zack dan Young bertanya serentak sambil memandang Yasuo.
"Charis Nyfain, katanya teman sekelas kita."
"Anak baru?" tanya Zack.
"Katanya sih tidak," Yasuo tampak berpikir. "Kukira hanya aku yang bertanya-tanya."
"Apa maksudmu?" tanya Zack dengan ekspresi bingung.
"Cewek itu sudah muncul sekitar awal semester kemarin, dan semua orang tidak menyadarinya. Dan ketika aku bertanya dengan teman-teman yang lain, mereka semua tahu nama cewek itu, malah mengatakan cewek itu sudah satu kelas dengan kita sejak lama."
"Tidak, aku baru saja melihatnya akhir-akhir ini," kata Young dan yang dikatakan Young persis dialami oleh Zack.
Bukankah ini aneh? Ada murid asing di angkatan mereka yang tidak pernah mereka bertiga lihat sejak tahun pertama mereka, namun murid-murid lain mengenalinya? Tidak mungkin mereka bertiga mengalami hilang ingatan secara bersama-sama.
Zack mengawasi keduanya, Sam dan si cewek misterius yang duduk di pojok kursi penonton, keduanya sedang berbicara dengan eskpresi serius. Dan sekali lagi ia bertemu tatap dengan pasang mata cokelat pucat si cewek.
---*---