Chapter 18. Berbagi Ingatan Masa Lalu - Zack -

1583 Kata
Chapter 18. Berbagi Ingatan Masa Lalu (Zack) Zack masih meragukan bagaimana seorang gadis remaja merencanakan pembunuhan pada seorang 'Pembasmi'. Kedengaran sangat konyol kan? "Jadi apa permintaanmu?" Charis terpaksa mengikuti Zack ke atas atap gedung sekolah, gadis itu kelihatan jengkel dengan permintaan privasi Zack yang terasa berlebihan. "Kau serius berniat membunuh seorang Pembasmi?" tanya Zack, hanya sekadar memastikan. Charis menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas atap. Rambutnya yang tidak diikat ekor kuda hari ini berantakan tertiup angin, membuat anak rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Gadis itu tampak sibuk merapikan rambutnya. "Tentu saja, memangnya kau masih ragu ya?" "Bukan begitu..." Zack merasa Charis benar-benar abnormal, yah, sama seperti dirinya sih. Tapi merencanakan Pembunuhan pada anggota organisasi Pembasmi benar-benar sudah keterlaluan. Sama saja namanya dengan bunuh diri. Konyol sekali, Charis menyampaikan semua hal itu seolah mereka sedang merencanakan sebuah tugas kelompok sekolah saja. Pembasmi adalah sebutan suatu kelompok manusia yang bekerja di Badan Organisasi Bukan Milik Pemerintah di bidang Pertahanan dan Keamanan. Lebih tepatnya nama organisasi itu adalah Squirrel, dan mereka bertugas untuk memerangi eksisten bukan manusia. Organisasi ini diberikan kewenangan bila mendapat laporan dari Manusia untuk mengurusi sengketa dengan eksisten bukan manusia. Pembasmi mendapatkan hak penuh untuk mengurus eksisten tersebut sesuai hukum mereka. Karena itulah, Eksisten selain manusia sangat membenci keberadaan Squirrel. "Kau tahu jika aku tidak suka dengan orang yang plin-plan," ujar Charis, menatap tajam pada Zack. Zack bukannya plin-plan. Hanya saja... membunuh seorang Pembasmi! Dan ini direncanakan oleh seorang gadis, yang disetujui oleh bocah-bocah seperti Sam, Yasuo dan Young! Bagaimana ia bisa menolak dan meninggalkan kelompok nekat seperti mereka untuk melakukan rencana konyol ini? "Aku sudah menyetujui rencanamu tadi," kata Zack. "Dan apa permintaanmu?" Charis tampak menunggu, ia seolah seperti jin lampu ajaib yang siap mengabulkan tiga permintaan dalam sekejap mata. "Aku ingin kau mencari tahu tentang ayahku," Zack akhirnya menyampaikan keinginannya, dan ia tidak ingin ada orang selain Charis, si jin lampu ajaib, mendengarkan hal ini. Charis terdiam sesaat, mengetuk-ngetuk telunjuknya pada dagu. "Ayahmu yang adalah Vampir itu?" tanyanya untuk memastikan. "Ya," jawab Zack segera. "Memangnya kemana dia?" "Aku juga tidak tahu, karena itu aku memintamu untuk mencari informasi tentang ayahku. Entahlah, apa pun info yang bisa kau dapatkan. Mati atau tidak, aku hanya ingin tahu." "Kenapa kau begitu berniat mencari Ayahmu?" Charis terlihat penasaran. "Bukankah dia sudah meninggalkanmu?" "Tidak," jawab Zack segera. "Aku yakin ayahku tidak meninggalkanku tanpa suatu alasan." Charis terdiam sambil mengamati wajah Zack lekat-lekat. "Wah, kau orang yang unik ya?" komentarnya kemudian. "Sepertinya kau dan ayahmu sangat dekat." Tidak ada yang salah dari dugaan Charis. Zack 'memang' sangat dekat dengan ayahnya, begitu yang ia ingat dengan pasti. Namun ekspresi si gadis misterius tampak getir. "Baiklah, akan kucoba," ujar Charis, dan Zack tidak bisa membohongi betapa lega ia mendengar jawaban Charis. "Tapi aku tidak bisa janji 100% loh," lanjutnya. "Coba saja," pinta Zack. "Siapa nama ayahmu?" Zack terdiam sesaat. "Acelan Myron." lidahnya terasa kering ketika menyebutkan nama yang kedengaran asing bahkan untuk dirinya sendiri. Charis mengangguk sambil mengulang nama itu di bibirnya tanpa suara. "Kemari," katanya. "Apa?" Zack memandang bingung pada Charis, barusan gadis itu memanggilnya dengan mengibaskan jemari ke arahnya. Bisa sopan sedikit tidak sih? "Aku ingin melihat isi kepalamu," kata Charis. Zack malah mengerutkan dahi ketika mendengarnya. "Aku harus melihat lebih jelas, orang seperti apa... oh, maksudku... Vampir seperti apa ayahmu, lebih jelasnya kan aku bisa lihat dari ingatanmu." Zack mendekati Charis, ia tampak keberatan. "Tidak bisakah kau mencari tahu dengan cara yang lain?" "Kau mengomentari kinerjaku?" sungut gadis itu kesal. "Mau dicari apa tidak?" Zack menghela nafas. "Terserahlah." Zack tidak pernah berdiri terlalu dekat dengan anak perempuan, namun melihat Charis di hadapannya, ia harus sedikit menunduk dan Charis mendongak memandangnya. Zack merasa tangannya gatal setiap kali melihat rambut Charis yang tidak berdaya menjadi acak-acakan karena hembusan angin kencang. Ia sangat ingin merapikannya. Zack tidak tahu bagaimana prosesnya, namun ketika ia bertemu tatap dengan pasang mata cokelat pucat itu, pandangannya berubah. ... Ia kembali menjadi seorang anak kecil penggerutu di depan etalase toko, dan ayahnya datang menghampirinya, menertawainya blak-blakan. Kemudian ingatannya berpindah ketika ia menikmati es krim cochochips mintnya. Lalu peristiwa lainnya ketika ia menghabiskan waktunya bersama ayahnya. Oh, Zack merindukan semuanya. Ia merindukan ayahnya. ... Zack memandang ke luar jendela dan ia menemukan beberapa orang yang mengenakan pakaian serba hitam terlihat mendekati gedung apartemennya. Ia menoleh dan menemukan Ayahnya telah berdiri di sebelahnya. "Kemari, Nak." Ayahnya menarik sebelah tangan mungilnya untuk menjauhi jendela. "Yah," Kata Zack. "Aku melihat hantu." Zack tidak berbohong karena itu pertama kalinya ia melihat benda menyeramkan mengambang dari tanah. Benda itu bergerak seperti lintah di udara, menuju ke apartemen mereka. Ayahnya hanya tersenyum mendengar ocehannya. "Masuklah ke dalam lemari." Ayahnya membuka sebuah lemari. Kemudian tubuh Zack segera diangkat oleh ayahnya, dengan mudahnya pria pucat itu mendudukkan Zack ke dalam deret di dalam lemari. Zack kebingungan mengapa ayahnya memasukkannya ke dalam tempat ini. Apakah mereka akan bermain petak umpet? "Jadilah anak baik, ya?" Ayahnya mengusap kepalanya sebelum akhirnya menutup pintu lemari. Tidak ada celah dalam lemari itu. semuanya gelap dan Zack mulai merasa ketakutan. Sesaat kemudian ia mendengar suara pecahan-pecahan dan benturan-benturan di dinding. Bangunan rumah terasa bergetar dan ia nyaris menjerit kaget. Ia mendengar rintihan dari suara orang asing. Dia juga mendengar suara geraman dan auman mengerikan. Dan ketika ia mendengar rintihan ayahnya, Zack tidak bisa menahan lebih lama lagi. Dengan tangan gemetar, Ia mendorong pintu lemari hingga sedikit terbuka. "Yah?" panggilnya, berbisik dengan suara gemetar. Ia ketakutan. Ia tidak dapat melihat apa-apa dari ruang celah pintu lemari yang terbatas. Suara-suara itu sudah berhenti, hening. Ia bisa melihat sebagian kecil isi ruangan di luar sana, namun tidak ada siapa-siapa. "Yah?" ia memanggil dengan suara lebih nyaring. Ia telah melupakan perintah ayahnya. Kejadian selanjutnya sangat mengejutkan ketika makhluk sangat mengerikan muncul tiba-tiba menerkam ke arahnya. Jeritannya tertahan, namun makhluk itu mendadak jatuh sebelum sempat mencapai keberadaan Zack. Ayahnya telah membekuk si werewolf, menghempaskannya ke lantai kemudian mematahkan leher makhluk jejadian itu sepersekian detik berikutnya. Zack membulatkan mata, ia berpegangan pada sisi lemari, memandang ngeri pada ayahnya yang berlumuran darah, dengan iris mata merah dan seringai yang menunjukkan empat gigi taringnya yang runcing dan tajam. Ia seharusnya tak perlu terkejut karena ini bukan pertama kalinya ia melihat ayahnya mematahkan leher seekor werewolf. Ayahnya hanya sesaat memandang padanya, pria itu segera berdiri, berbalik memunggunginya, menghadap pada orang asing berjubah hitam dengan tudung, yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Zack segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri, bergidik ngeri ketika melihat dengan jelas wajah pria dengan tudung itu. Sebelah wajah pria asing itu memiliki guratan kemerahan seperti luka bakar yang parah, sebelah matanya di sisi wajah yang terluka tersebut hanya menunjukkan warna putih dengan kelopak membengkak. Di kedua sisinya, ada wujud yang tak utuh, berupa gumpalan kabut hitam yang bergerak-gerak liar dan melolong menimbulkan jeritan dan tangis. ... Pemandangan selanjutnya seketika berubah. Menunjukkan sebuah tepi pantai. Sinar matahari tampak cerah menerangi pasir putih dan laut biru. Zack tak pernah sekali pun melihat pantai secara nyata. Ini terlalu asing baginya. Suara tawa anak perempuan. Ia menoleh dan mendapati seorang gadis kecil, duduk berselonjor di sebelahnya di atas pasir putih. Cekikikan. Zack merasa akrab dengan wajah gadis kecil itu. Iris matanya yang cokelat pucat dan rambut hitam kecokelatannya. "Danisa seharusnya tidak ke sini," ia mendengar suara gadis kecil dari sudut pandangnya. "Aku merindukanmu," gadis kecil di depannya menunjukkan ekspresi sedih. "Bagaimana dengan Pa?" "Pa tidak akan tahu," gadis kecil di depannya segera berbisik. "Ma juga tidak tahu. Ini hanya rahasia kita berdua." ia cekikikan lagi. "Berenang, yuk!" gadis kecil di depannya mengajak. Sementara gadis kecil dari sudut pandang Zack tampak tak berdaya ketika ditarik untuk berdiri, diseret hingga berlari mendekati hempasan air laut di sisi pantai. Zack melihat kaki-kaki kecil si gadis kecil dari sudut pandangnya terendam oleh air laut. Dan Zack menyadari ketika melihat wajah gadis kecil itu dari pantulan air laut yang biru terang. Wajah si gadis kecil itu sangat mirip dengan wajah gadis kecil di depannya. "Charis, ayo!" Zack mengangkat kepalanya, mengikuti gerakan si gadis kecil dari sudut pandangnya, namun ia tak kunjung bergerak, si gadis kecil hanya diam di tempatnya mengawasi saudara kembarnya itu. Kejadian selanjutnya si kembaran berteriak panik. Zack otomatis menolehkan wajah, tentu saja mengikuti gerakan gadis kecil dari sudut pandangnya. Seorang pria mendekatinya dengan setengah berlari. Zack merasakan rasa takut menjalar dari gadis kecil sudut pandangnya. Dan seketika ia sudah terjatuh ke tanah berpasir yang ditenggelamkan hempasan air laut. Sebagian tubuh si gadis kecil basah kuyup. Ia mendapat pukulan dari pria itu. "Pa! Jangan!" Ia mendengar si kembaran berteriak-teriak sambil diseret oleh seorang wanita. Zack merasakan pukulan itu terlalu keras untuk diberikan kepada seorang gadis kecil. Si gadis kecil mulai kehilangan kesadaran, ia ditinggalkan begitu saja. Sosok lain muncul mendekatinya, berjubah hitam dengan tudung, dan sebelah wajahnya ditutupi sebuah topeng logam. Menjulurkan tangan ke arahnya sebelum semuanya berubah menggelap. ... ... Zack merasa seperti ada seseorang yang menariknya pergi meninggalkan pantai, dan tahu-tahu ia sudah kembali di atas atap gedung sekolahnya yang berangin. Zack mengerjap kebingungan dengan semua penglihatan baru yang bukan milikinya. Ia menoleh, menemukan Charis telah meringkuk, menyembunyikan wajahnya, tubuhnya terlihat gemetaran. Suara desahan tangis tertahan samar-samar terdengar. Zack berlutut di sebelah Charis. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya yang telah terjadi. Seharusnya Charis hanya memeriksa ingatannya, tapi entah bagaimana ia bisa 'mampir' ke dalam ingatan Charis juga, dan sungguh bukan ingatan yang bagus. Masa lalu mereka berdua sungguh berbeda. Setidaknya ia masih memiliki seorang Ayah, yang ia yakin menyayanginya. Tapi Charis... Zack mengangkat sebelah tangannya, agak ragu, namun akhirnya ia menepuk puncak kepala gadis itu. ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN