Chapter 19. Kelompok Anti Blacksoul (Yasuo)
Yasuo menyukai teman-teman barunya. Begitulah dirinya, yang selalu melihat segala sesuatu dari sisi positif. Setelah pertemuan rahasia mereka di toilet rusak lantai tiga, ia melangkah bersama Sam menuju ke kelas. Young telah menyelinap pergi yang kemungkinan bocah itu akan ke perpustakaan atau ke ruang komputer. Sementara Charis harus pergi untuk mendengarkan permintaan Zack.
Yasuo heran sekali karena Zack begitu menjaga rahasia dari mereka. Memangnya apa permintaan Zack sampai harus menyampaikan permintaan secara privasi? Sayangnya ia tidak dapat menebaknya.
Perjalanan mereka ternyata tidak cukup mulus ketika Tom datang menghadang mereka. Bawahan Drake itu terlihat sendirian, tersenyum menyeringai.
"Kita belum selesai kan?" tanya Tom, menggeram.
Sam yang berjalan terpincang-pincang, reflek mundur ke belakang Yasuo. Yasuo berkacak pinggang, melotot pada Tom.
"Bisa tidak kau berhenti mengganggu hidup kami?" Tanya Yasuo, sangat kesal.
Tom mendengus. "Oh sebelum kupatahkan kedua kaki kalian, maka aku belum puas."
"Coba saja," tantang Yasuo. Ia benar-benar sudah muak dengan Tom. Hanya karena terlahir sebagai werewolf, bocah ini berkepala besar sekali. Ia benar-benar sangat ingin membungkam mulut besar Tom.
Tom terkekeh. "Kau benar-benar sok keren," cemoohnya.
"Memang benar kan?" Yasuo malah tersenyum menyeringai.
"Berani bilang begitu setelah kutonjok wajahmu!?"
Yasuo reflek menunduk ketika tinju Tom melayang ke arah wajahnya secara tiba-tiba. Ia lolos dengan sukes namun ia harus bergerak gesit menyingkir karena tinju lainnya nyaris mengenai perutnya.
"Lincah juga ya," kekeh Tom, mengusap tangannya, tampak semakin antusias. "Terus saja menghindar kalau bisa!"
Yasuo sudah terbiasa dengan tinju dari ayah kandungnya, namun itu dulu. Ia sudah tidak pernah lagi merasakan pukulan orang ke tubuhnya, kecuali beberapa hari yang lalu ketika ia berurusan dengan Tom pula, dan ia kalah total dan besyukur bisa memanggil gerombolan merpati untuk mematuki kepala Tom. Ia tidak yakin apakah ia akan berhasil melayangkan tinjunya pada si werewolf, jadi ia memutuskan untuk menghindari setiap serangan Tom.
Dan ketika ia nyaris kehilangan keseimbangan untuk mengatasi serangan membabibuta itu, Tom mendadak terdorong ke dinding, dan Ivan sudah di sana sambil menekankan sebelah lengannya ke leher Tom.
Yasuo mengerjap kaget dengan kehadiran Ivan yang tidak terduga. Yocelyn pun telah hadir dan kini berdiri di samping Sam yang tampak cemas.
"Mundur, Tom," perintah Ivan, pasang matanya menyala kemerahan.
Tom malah mendengus tertawa. "Hei, kau membela manusia sekarang?" ia mencoba mendorong lengan Ivan, namun nampaknya Ivan lebih kuat dari yang ia kira. Ivan sama sekali tidak bergeming meski Tom sudah berusaha bergerak. Seketika bocah werewolf itu menyadari jika ia tidak akan menang melawan si Vampir.
"Ini hakku untuk membela siapa pun yang kumau," kata Ivan dingin.
"Aku akan melaporkanmu pada Drake! Kau dan juga wolfie pengkhianat itu!" seru Tom, nyaris meludah memaki Yocelyn.
"Laporkan saja, mulai sekarang aku dan Yocelyn sudah keluar dari Blacksoul."
Tidak hanya Tom, Yasuo dan Sam terlihat terkejut dengan kata-kata Ivan. Apa Ivan benar-benar serius? Si Vampir dan Yocelyn memutuskan keluar dari Blacksoul?
"Jangan bercanda, kau pikir kau bisa keluar, hah?" Tom memaksakan diri untuk terkekeh namun Ivan menekan kembali lengangnya. Tom tampak semakin gugup, mungkin ia takut jika Ivan benar-benar serius akan mematahkan lehernya.
"Oke, oke, terserah!" seru Tom dan barulah Ivan melepaskan lehernya. Tanpa mengatakan apa pun lagi, si werewolf itu segera angkat kaki.
"Pergi sana, pengecut!" Yasuo tertawa melihat kepergian Tom, ia benar-benar senang melihat bagaimana bocah itu ketakutan karena gertakan Ivan. Benar-benar sangat menghibur!
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Ivan, si bocah Vampir masih menunjukkan sorot serius.
"Ya, tentu saja, lihat, kami berdua masih hidup!" Yasuo melebarkan kedua tangannya, menunjukkan bahwa ia baik-baik saja tanpa ada cacat. "Jangan khawatir. Berhentilah memasang sorot itu, Ivan. Kau kelihatan menakutkan." katanya kemudian karena Ivan tak kunjung mengganti warna matanya.
Perlahan sorot merah dari pasang manik mata Ivan memudar, menampilkan kembali warna asli matanya yang hitam. "Sori, aku kesal sekali." Ivan menggerutu, berusaha menata emosinya kembali.
"Ya, tentu saja, siapa yang tidak kesal karena bocah menyebalkan itu? Kalau aku jadi kau, sudah kutonjok saja wajahnya!"
"Yas, ini tidak lucu," Yocelyn tampaknya masih agak tegang. Ia mengamati lorong yang sepi, memastikan tidak ada anggota Blacksoul yang menyerang mereka secara tiba-tiba.
"Kalian berdua... benar-benar serius keluar dari Blacksoul?" Sam segera bertanya.
Ivan dan Yocelyn saling bertukar pandang sesaat. Kemudian keduanya mengangguk serempak dan dengan ekspresi yang sama pula, tampak benar-benar yakin dengan keputusan mereka.
"Ya, kami berdua sudah tidak tahan bergabung dalam kelompok itu, lagipula..." Ivan terdiam sesaat. "Aku dengar Zack masuk sekolah hari ini. Bukankah seharusnya dia bersembunyi?"
"Bocah itu sangat sulit diatur," dengus Yasuo.
"Dimana dia sekarang?" tanya Ivan.
"Dia sedang ada urusan, kenapa kau mencarinya?" Yasuo mengerutkan dahi, mengamati Ivan yang membuatnya penasaran. Dan Hei... Ia menyadari jika Ivan dan Zack terlihat agak mirip. Apalagi dengan penampilan baru Zack, yang rambutnya berubah warna menjadi hitam... Mereka berdua nyaris terlihat kembar.
Bel pelajaran dimulai menghentikan spekulasi liar dalam kepala Yasuo, mereka semua reflek memandang ke langit-langit yang padahal tidak ada bel di atas mereka. Yah, namanya juga reflek kan karena sumber suaranya terasa berasal dari atas mereka?
"Apakah kita harus ke kelas?" tanya Sam, agak cemas.
"Tentu saja, kita ini kan pelajar, tetap harus belajar walau suasana tegang begini," Yasuo terlihat begitu santai dan sayangnya ia tidak berhasil menularkan kondisi positifnya bahkan kepada si Vampir sekali pun.
"Tenang saja, Yocelyn akan bersama kami," kata Yasuo kemudian, menyadari si Vampir yang kelihatan jelas mengkhawatirkan Yocelyn.
"Ya, Ivan. Kau tidak perlu mencemaskanku. Blacksoul tidak akan menyerang pada jam pelajaran karena itu melanggar aturan." kata Yocelyn pula. "Aku akan duduk bersama Yasuo dan Sam."
Ivan mengangguk mengerti.
"Bagaimana denganmu?" tanya Yasuo, ia tidak yakin jika si Vampir akan patuh memasuki kelas.
"Aku akan menyelidiki sesuatu," benar saja, Ivan berkata jujur pada mereka. "Beritahu Zack untuk menghubungiku."
Dan sebelum Yasuo sempat bertanya lebih jauh, Ivan telah mundur pergi.
***
Yasuo memang berkata mereka seharusnya tetap belajar, tapi nyatanya ia malah mengobrol dengan Yocelyn dengan suara rendah. Hanya Sam dan Young yang benar-benar mengikuti pelajaran Matematika. Keduanya dengan telaten menyalin catatan dan menjawab soal, bahkan Young sempat maju untuk menyelesaikan soal trigonometri di papan tulis, yang sebenarnya tidak dimengerti oleh Yasuo. Sementara Zack tampak melamun. Dan Charis tidak terlihat batang hidungnya.
Sebenarnya mereka menjadi pusat perhatian. Beberapa anak melirik ke arah mereka yang berbarengan memilih kursi-kursi paling belakang. Anak-anak di kelas mulai berbisik mencurigakan, bahkan ada yang memotret mereka diam-diam, dan Yasuo tahu foto yang diambil itu bukan untuk dipajang di media sosial karena ketampanan mereka, melainkan untuk dilaporkan kepada Drake.
Pasti Tom sudah melaporkan apa yang telah terjadi. Dan tentu rumor telah menyebar dengan cepat karena kira-kira 80% murid di sekolah sudah merupakan anggota geng sinting itu, media sosial pun pasti membantu percepatan dalam penyebaran rumor.
Rumor itu mengenai Yocelyn dan Ivan yang berani keluar dari geng, lalu keduanya bergabung dengan kelompok 'anak-anak yang menolak bergabung'. Parahnya, kelompok anak-anak itu berasal dari Eksisten Manusia, yaitu mereka sendiri. Hmm, mereka ini manusia kan?
Yasuo berpikir akan menamai mereka sebagai kelompok Anti Blacksoul. Tidak buruk kan?
Selain itu Yasuo juga telah mengetahui jika Yocelyn mulai akrab dengan Ivan sejak bertemu di dalam geng. Dan keduanya memiliki pemikiran yang sama jika tidak menyukai geng itu.
"Yang aku tahu kelompok Vampir sering melakukan ritual di ruangan basemen," Yocelyn menjelaskan. "Aku tidak begitu mengetahui jelasnya, mungkin kalian bisa bertanya kepada Ivan. Sementara kami, werewolf, dipaksa untuk..." gadis itu m******t bibirnya sendiri yang kering. Entah sejak kapan Yocelyn mulai malas berdandan, namun walau begitu aura menarik dari garis wajahnya tetap terpeta jelas di wajahnya. Pasang mata cokelatnya yang berbulu lentik melirik sekilas pada Yasuo dengan gugup. Ia merendahkan suaranya yang nyaris sulit didengar. "Kami dipaksa untuk memakan potongan daging mentah."
Yasuo ingin memuntahkan apa saja dari dalam perutnya, karena asam lambungnya mendadak naik hingga kepalanya terasa berat. Ia menahan sumpah serapah yang sudah melejit masuk ke dalam otaknya. Bahkan Sam, Young dan Zack yang mendengarkan hal itu, sama-sama menunjukkan ekspresi terkejut.
"Aku benar-benar akan membunuh Drake," desis Zack. Dan Yasuo sangat menyetujuinya.
---*---