Chapter 14. Alarm Kebakaran

1479 Kata
Chapter 14. Alarm kebakaran Zack yakin ia merasa demam sekaligus lumpuh. Atau mungkin ini rasanya mati. Ya, mati. Dia sudah mati kan? Ia ingat bagaimana rasanya ketika Drake mengiris pergelangan tangannya dan memeras darahnya. Seluruh tubuhnya ngilu luar biasa, terasa panas dingin dan ia bernafas lemah. Ia mencoba menggerakkan lengan kirinya dan nyaris berteriak kesakitan, barulah ia membuka mata namun sayangnya buram. Ia mendengar suara-suara di sekitarnya. "Dia sudah bangun." "Hah? Yang benar saja! Ini sungguh hal yang sangat gila!" "Padahal detak jantungnya benar-benar berhenti sebelumnya." Zack mengerang karena semakin pusing dan mual. Seseorang mendekatinya dan membisikkan sesuatu ke dekat telinganya. Suara seorang gadis. "Tidak apa-apa, tidurlah..." Dan ia kembali tertidur. *** Zack kembali terbangun dan merasa lebih baik. Ia bergerak bangkit, mencoba mengamati sekitarnya. Ini bukan kamarnya. Ia tidak yakin akhirat berbentuk seperti sebuah kamar di loteng berdinding kayu biasa seperti ini. "Selamat hidup kembali." Sambutan itu membuat Zack menoleh ke arah sebuah jendela di sampingnya. Jendela itu berbentuk setengah lingkaran dan seorang gadis duduk di sana, tersenyum kepadanya. Charis Nyfain kan? Ia ingat dengan jelas ciri-ciri fisik gadis itu. Berambut hitam kecokelatan yang diikat ekor kuda dan iris mata gadis itu yang pucat. Jangan bilang Malaikat Mautnya menyerupai gadis itu. "Kau masih hidup kok." Kata-kata Charis seperti menyingkirkan semua spekulasi konyolnya mengenai akhirat dan malaikat maut. "Hah?" hanya itu yang dikeluarkan Zack dari tenggorokkannya, kedengaran serak dan sumbang. "Ya, kau masih hidup, Bocah." Zack membelalakan matanya. Ia segera memeriksa dirinya, memastikan dengan mencubiti tubuhnya, sakit, kemudian menyadari lengan kirinya yang tidak ada luka apa pun di sana, padahal seharusnya pergelangan tangannya sudah robek karena diiris oleh Drake. Tidak mungkin. Mana ada dokter yang bisa menjahit luka yang menjadi sembuh dalam sekejap tak berbekas? "Aku bermimpi dijadikan tumbal oleh para Vampir," kata Zack parau, dan menemukan pakaiannya yang masih berlumuran darah. Jelas ini sama sekali bukan mimpi. "Oh ya, memang," kata Charis. "Apa yang terjadi?" Zack segera bertanya. "Dan ini dimana?!" Charis, seperti biasa, tersenyum misterius. *** Sekitar 20 jam sebelumnya. Sebenarnya Young tidak ingin terlibat, tapi Charis memberikan pilihan yang menurutnya mengerikan, namun juga menguntungkan. Apakah dia perlu menuruti gadis ini dengan mencoba mencari orang yang diinginkan Charis? Dengan begitu Charis bisa menyingkirkan semua roh jahat yang setiap malam mengedor jendelanya? Ide bagus kah ini? Tapi bagaimana jika ia dijebak? Mungkin Charis lebih licik, lihat saja senyum misteriusnya yang menyebalkan selalu tersemat di wajah gadis itu. "Untuk sementara kau hanya perlu memikirkan tawaranku," Charis seolah tahu kebimbangan yang memenuhi kepala Young. "Dan aku akan mendekati Yasuo." Young ingin mengerang mendengar nama Yasuo. Charis benar-benar berniat melibatkan Yasuo. Perbincangan mereka diinterupsi oleh kehadiran Ivan. Si Vampir kelihatan gelisah ketika maju mendekati meja mereka. "Hei, Young," Ivan seperti mengabaikan keberadaan Sam dan Charis. "Kau bisa menyihir kan?" Young membulatkan matanya. Apa-apaan? Bagaimana Ivan bisa mengetahui rahasianya?! "Yasuo memberitahuku..." Ck. Makhluk satu itu lagi. "...untuk membantu kami. Di basemen..." Seketika perhatian Young teralihkan dari menyalahkan Yasuo. "Basemen?" ulangnya segera. Tiba-tiba Charis berdiri kemudian mendorong si Vampir hingga menabrak meja di sebelah mereka, menekan sebelah lengannya ke leher Ivan. Young terkejut, begitu pula Sam dan Ivan sendiri. Si Vampir juga sama kagetnya seperti baru menyadari keberadaan Charis. Mendadak Ivan meringis kesakitan sambil memegang kepalanya. "Ap...apa yang kau lakukan?" bentak si Vampir marah pada Charis. Charis mundur, melepaskan Ivan. Ia menoleh dengan sorot serius. "Mereka melakukan ritual." *** Young tidak pernah menceritakan mengenai apa yang ia lihat di basemen kepada siapa pun. Ia menelan mentah-mentah kengeriannya ketika tanpa sengaja melihat kelompok Blacksouk yang seperti sedang melakukan ritual mistis di salah satu ruangan lantai basemen. Namun Charis seolah serba tahu. Dan sekarang mereka bertiga mengikuti Ivan menuju basemen dengan langkah nyaris berlari, mengabaikan arus murid yang berlawanan arah dengan mereka untuk menuju ke kelas. Bel masuk telah berbunyi, tanpa mengindahkan rasa tegang mereka. Mereka tidak akan masuk kelas untuk saat ini. Mereka baru saja sampai di basemen ketika Yauso tersungkur di dekat tangga. "Hei!" Sam segera mendekati Yasuo dengan sigap. "Kau tidak apa-apa?" "Ya... ya," gerutu Yasuo, bangkit berdiri dengan bantuan Sam. "Kau lama sekali sih!" Ia tampak kesal, melotot pada Ivan. Perhatian mereka teralihkan pada teriakan seorang gadis. Dan Young terperangah ngeri melihat Yocelyn sedang berhadapan dengan Tom. Ada apa ini? Kenapa mereka saling berkelahi? Mereka berdua memang dari eksistensi yang sama, dan untungnya mereka tidak berubah wujud menjadi hewan jejadian mengerikan itu, melainkan perubahan tidak sempurna yang ditunjukkan dari mulut bergigi taring dan kuku bercakar. "Bantu cewek itu, Sam." perintah Charis, dan kedengaran sangat seenaknya. Sam mengerjap kaget mendengar perintah itu. "Tunjukkan," lanjut Charis pada Ivan, memerintah si vampir untuk terus maju. Ivan yang kebingungan melirik Yocleyn, berniat akan membantu gadis itu, namun ada orang lain yang harus mereka selamatkan pula. Mau tidak mau Ivan melanjutkan langkahnya melewati Yocelyn dan Tom, dan Tom seolah tidak melihat mereka yang melewatinya. Young tahu ini disebabkan oleh Charis. Cewek ini punya segudang rahasia yang sangat ingin dibongkar oleh Young. Ia melirik ke belakang, melihat Tom yang kini menghajar Sam. Cewek ini gila karena membiarkan temannya sendiri dihajar. Namun Charis tampak tak perduli, melotot pada Ivan untuk terus berjalan mengantarkan mereka. Young mengingat dimana ruangan itu, dan mereka mendadak berhenti ketika Ivan berhenti sambil menutup mulut dan hidungnya. "Bau darah manusia," bisik Ivan dengan matanya yang langsung berubah menjadi merah, tampak kelaparan. "Kita... terlambat..." Young merasakan hawa dingin yang mencekam. Ia mengerjapkan mata dan barulah ia melihat di depan mereka, lorong telah dipenuhi makhluk tak kasat mata, yang hanya terdiri dari wujud gelap yang tidak utuh, bergerak-gerak dan menimbulkan lolongan mengerikan, seperti lolongan orang yang disiksa. Ia segera menutup telinganya. Charis menarik nafas. Gadis itu pastinya juga melihat kelompok roh jahat dihadapan mereka. Sementara Ivan tak melihat apa pun, namun mengetahui bahaya di depan mereka yang tak terekam oleh pasang matanya. "Apa yang telah kalian lakukan?" tanya Charis, menuntut Ivan. "Aku... aku tidak tahu," Ivan menjawab gugup namun ia kelihatan jujur. "Kupikir ini tidak benar mereka menggunakan Zack sebagai ritual." "Apakah mereka akan membunuhnya?" tanya Young. "Mereka 'sudah' membunuhnya." kata Charis. "Ap... apa?!" Young tak dapat mempercayai dugaan Charis. Untuk apa mereka membunuh Zack? Ini adalah kejahatan besar! "Kita harus melapor!" Young gelagapan sambil merogoh sakunya, mencari ponsel. Namun Charis segera menahan lengannya. Gadis itu menggeleng. "Kita bakar saja mereka," kata Charis dengan sorotan serius pada Young. Young membelalak kebingungan. Apa maksudnya dengan membakar? "Buat api dengan kemampuanmu," perintah Charis. "Aku tidak bisa...!" "Di depan kita ada terlalu banyak roh jahat, namun mereka tetap bisa merasakan api. Kita harus membakar mereka," kata Charis menjelaskan. Tapi tetap saja, bagaimana membakar lorong yang dipenuhi roh jahat? Ini tidak masuk akal. Namun Charis menyorotkan tatapan jika ia bisa melakukannya. Charis keterlaluan memberikannya beban yang ia sendiri tidak tahu apakah ia bisa melakukannya. Membakar tidak sama dengan menyalakan api dari lilin kan? Ini... "Sekarang, Young. Roh jahat sudah mulai menyadari keberadaan kita." kata Charis. Dan benar saja, bayang-bayang gelap seperti lintah itu mulai menyadari keberadaan mereka. Lolongan mereka semakin nyaring memekakan telinga walau hanya ia dan Charis yang dapat mendengarkannya. Bayang-bayang itu mulai bergerak mendekati mereka. Young tidak tahu apa yang akan terjadi jika bayang-bayang itu berhasil menangkap mereka. Namun Young berusaha melakukan apa yang bisa ia lakukan, meski rasanya mustahil, ia membayangkan api. Api. Yang besar dan mampu melahap para lintah itu. Dan api menyambar dari udara kosong, menghalangi roh jahat yang nyaris mendekati mereka. Roh jahat itu mundur ketakutan dengan menimbulkan suara seperti tikus-tikus mencicit kesakitan. Young masih mengerjap kaget dengan kemampuannya sendiri, ia merentangkan tangannya, membuat api semakin membesar dan kini jatuh ke lantai, menjalari lorong dengan cepat. Seketika alarm kebakaran berdering nyaring memenuhi gedung tiap lorong, dan air pemadam kebakaran menyala menghujani lorong. Charis segera menarik bahu Young dan Ivan untuk menunduk bersembunyi di balik jilatan besar api yang panas, tepat ketika orang-orang dalam ruangan berlarian keluar. Dan benar saja, Young mengenali sebagian besar Vampir yang keluar dari ruangan itu. Kebanyakan mereka satu angkatan dengannya. Young melihat Drake keluar bersama Hayley, sambil mendorong sebuah kursi roda. Jilatan api dan hawa panas menghalangi pandangannya, namun ia melihat sekilas benda yang berada di atas kursi roda itu, sesuatu yang mengerikan, seonggok daging berdarah-darah yang memiliki kepala, namun tak terlihat adanya sepasang kaki. Mungkin? Entahlah. Young begitu saja mengetahui jika keadaan mereka sudah aman, maka ia memerintahkan api yang membakar lorong untuk padam. Dan api pun mulai mengecil, padam secara perlahan menuruti perintahnya. Sesaat Young mengagumi kemampuannya sendiri. Charis tidak menunggu hingga api benar-benar padam. Gadis itu segera berdiri, melompati jilatan api. Ivan segera menyusul dengan tergesa-gesa. Barulah Young yang berdiri, masih dengan kedua tangan gemetaran dan berjalan lemah di belakang mereka berdua, menuju pintu ruangan. Young melihat sendiri tubuh Zack tak bergerak di lantai. Pucat membiru tak bernafas. Tampak jelas Zack telah mati. Mereka terlambat. "Tidak, dia belum mati," Charis kembali mengeluarkan pernyataan yang kontras. Dan di sebelahnya, berdiri seorang anak perempuan yang tidak asing bagi Young. Kemudian bayangan anak perempuan itu perlahan lenyap ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN