Chapter 15. Pertemuan

1197 Kata
Chapter 15. Pertemuan Young mengetuk-ngetukan jemarinya dengan tidak sabar sementara Yasuo tampak santai meminum minuman bersodanya yang tidak sehat. Dia ingin mengomentari Yasuo untuk berhenti mengkonsumsi benda tidak sehat di depannya, namun kegugupannya membuatnya malas membicarakan apa pun. Yocelyn muncul sambil membawa nampan yang berisi makan siang. Gadis itu sudah menawarkan Young untuk memesan makanan, namun Young kehilangan nafsu makan dan sudah menolaknya. Ia membiarkan kedua orang itu makan dihadapannya. Akhirnya Ivan yang ditunggu-tunggu muncul sambil mendorong pintu restoran yang berderit. "Hei," Ivan segera duduk di bangku kosong di sebelah Young. "Hai! Akhirnya kau datang juga!" Seru Yasuo dengan mulut masih mengunyah potongan pizzanya. "Kau baik-baik saja kan?" Yocelyn bertanya cemas pada si Vampir, ia kelihatan kehilangan nafsu makan seperti Young meski ia sudah memesan makanannya sendiri. Tentu saja. siapa yang bisa makan dalam keadaan tegang seperti ini? Bagaimana jika Drake mengetahui bahwa mereka adalah orang yang menyebabkan kebakaran di basemen dan merusak ritualnya? Ck, tentu hanya Yasuo yang terlihat riang dan bisa makan banyak dalam situasi seperti ini. Kulit Si Vampir tampak pucat keabu-abuan, tampak tidak sehat untuk ukuran seorang Vampir, yang mungkin disebabkan ia tidak mengkonsumsi darah untuk beberapa waktu yang lama. "Tom tidak melihat keberadaan kita kecuali." Ivan melapor, ia kelihatan heran namun Young tidak ingin membeberkan kemampuan abnormal Charis pada si Vampir. "Tadi pagi Drake mencari-cari Yasuo dan Yocelyn, juga Sam." "Ya, aku dan Yocelyn mana mau masuk sekolah," ujar Yasuo membenarkan. "Dan Sam tidak bisa masuk sekolah karena kakinya patah. Aku yakin mereka tidak akan mendatangi Sam sampai ke rumah." "Apa ada yang berubah dari Drake?" tanya Young pada Ivan. "Tidak ada," jawab Ivan. Young mengangguk mendengar jawaban Ivan. Ia heran karena mengira Drake akan meminum darah Zack untuk mendapatkan sebuah perubahan fantastis, misal Drake menjadi Pemimpin para Vampir yang memiliki kemampuan dashyat untuk menguasai dunia. Mungkin? Namun sekolah berjalan seperti biasanya. Padahal Young sudah mewanti-wanti dengan cemas. Ditambah Tidak ada yang menanyakan keberadaan Zack. Mungkin itu yang akan terjadi pada Young pula. Ketika ia mendadak mati, tidak akan ada yang mencarinya. Tidak akan ada yang bersedih dengan kehilangan dirinya. Sampai mati pun dia akan sendirian. "Aku sudah mencari tahu," Ivan memandang ke sekitarnya, agak waspada. Restoran tampak lengang, hanya ada beberapa pengunjung dan semuanya adalah orang tua berumur dan orang-orang itu adalah Eksisten Manusia. Hanya mereka saja yang masih belasan tahun, kecuali Ivan tentu saja. Young tidak mengerti mengapa ia memutuskan memilih restoran kecil yang terlihat sudah berumur ini untuk pertemuan rahasia mereka. Begitu saja terlintas karena ini tempat dimana Charis pertama kali meludahkan sebutan Letifer kepadanya. "Apa?" tanya Yocelyn, sementara Yasuo mengunyah di sebelahnya. "Drake bukan Vampir yang meminum darah Zack," kata Ivan. "Hal ini hanya diketahui oleh Vampir yang mengikuti ritual, juga Hayley. Aku berhasil mengorek informasi dari Vampir yang hadir ketika itu. Mereka bilang mereka sedang menghidupkan seorang pemimpin." Young mengerjapkan mata dengan ekspresi kaget. Apa maksudnya ini? Menghidupkan seorang Pemimpin? Kedengaran seperti bukan Vampir saja. Mendadak ia teringat dengan kursi roda yang didorong oleh Hayley ketika keluar dari ruangan. Seonggok daging yang mengerikan di atas kursi roda itu. Jangan-jangan benda itulah yang mungkin ada sangkut pautnya dengan ritual menghidupkan pemimpin yang dimaksud. "Bagaimana keadaan Zack?" Yocelyn beralih pada Young. "Oh, aku tidak tahu." jawab Young segera. "Aku meninggalkannya di rumahku, dan mungkin Charis masih di sana." Keputusan membawa 'mayat' Zack ke rumahnya sungguh membuat Young keberatan. Namun seperti biasa Charis memerintah dengan seenaknya. Sepertinya gadis itu sudah mengamati kehidupannya hingga mengetahui alamat rumahnya yang sebenarnya. "Charis memberitahuku jika dia sudah siuman." "Oh syukurlah..." Yocelyn menarik nafas lega. "Aku sangat ingin melihat keadaannya." Tentu Yocelyn akan penasaran bagaimana Zack, yang ketika itu sudah pucat membiru kehabisan darah dan tak bernafas, kembali hidup. Kecuali... entahlah. Young perlu mengecek sendiri dan ia tidak sabar untuk kembali pulang. Padahal ia bisa saja membolos karena tentu tidak akan ada yang mencarinya, namun hal ini bisa membuat Drake curiga padanya. "Untuk saat ini kita tidak boleh terlihat bersama," kata Young dan mereka tentu setuju. Akan sangat menarik perhatian jika Ivan dan Yocelyn mendadak akrab dengan Young juga Yasuo. "Tapi aku sangat ingin menjenguk Sam," Yocelyn memandang mereka, tampak benar-benar khawatir. "Gara-gara aku dia terluka parah." "Aku ikut," Kata Yasuo segera. "Tidak, kau ikut denganku menemui Zack," Young segera menyela sambil menatap Yasuo. "Oh," Yasuo terlihat ragu. Si Cover Boy tampak bimbang karena ia juga ingin mengecek keadaan Zack dan Sam sekaligus, juga ia khawatir jika Yocelyn pergi sendirian. "Aku akan menemani Yocelyn," kata Ivan kemudian. "Hmm, baguslah. Aku ingin kau 24 jam selalu bersama Yocelyn," pinta Yasuo kepada si Vampir. "Kita tidak akan tahu kapan dan dimana saja Tom dan Hayley muncul untuk mencoba melukai Yocelyn." "Yas, kau berlebihan," wajah Yocelyn sedikit merona mendengar kepedulian Yasuo. "Jangan khawatir, Yas. Aku akan terus mendampingi Yocelyn," Ivan mengangguk meyakinkan. "Beritahu kami keadaan Zack." "Pasti," Yasuo mengangguk sambil menunjukkan ponselnya, tanda dia akan memberikan berita terbaru secepat mungkin. Young menarik nafas. Ia tidak mengerti bagaimana ia bisa duduk satu meja bersama orang-orang ini. Mereka dipertemukan oleh nasib s**l yang membuat hidup mereka menjadi tidak seperti biasanya. Young sebenarnya tidak ingin mengajak Yasuo ke rumahnya. Ia hanya beralasan disebabkan oleh pesan Charis, yang memerintahkannya untuk datang bersama dengan Yasuo. Charis pasti sedang bersiap merekrut Yasuo dengan dugaan Letifer. Young masih belum mengerti mengenai keberadaan eksistensi dirinya. Jika dia berbeda, bisakah dia memilih untuk hidup damai apa adanya? *** Zack terlalu berlama-lama di dalam kamar mandi. Ia telah menanggalkan pakaiannya yang berlumuran darah, lalu mandi sebersih-bersihnya. Ia mengenakan pakaian Young yang agak kekecilan untuknya, namun kata Charis setelan inilah yang paling besar dan dimiliki oleh Young. Ya, sekarang dia berada di rumah Young, entah bagaimana. Zack masih belum puas memandangi dirinya, antara ngeri dan bingung, karena rambut albinonya telah berubah warna menjadi hitam legam. Dan iris matanya yang seharusnya berwarnan biru gelap, kini menjadi hitam pekat. Ia menelan ludah. Ia sedang tidak bermimpi kan? Dan ia juga masih bernafas kan? Lalu perubahan macam apa ini? Charis tidak mengatakan apa pun lagi setelah menceritakan kebakaran di lantai basemen yang katanya dilakukan oleh Young, dan entah apakah Young memang Penyihir. Akhirnya Zack memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Ia menyusuri lorong rumah menuju tangga ke loteng. Rumah Young terlihat seperti rumah pada umumnya dengan segala perkakas yang normal. Namun ada yang tidak normal di sini. Tidak ada siapa pun di dalam rumah ini. Mungkin Young sama dengannya, tinggal sendirian. Zack segera menaiki tangga menuju ke loteng, dimana merupakan kamar Young sendiri. Zack masuk ke kamar loteng dan menemukan Charis telah tertidur, meringkuk di ranjang. Ia menghela nafas, mencoba melangkah sepelan mungkin agar tidak mengganggu Charis. Ia segera duduk di kursi, mengalihkan perhatiannya pada buku-buku teori yang bertumpuk di atas meja belajar. Ia mengambil satu buku yang bertuliskan roh jahat pada judulnya. Bacaan Young memang mengerikan. Zack menoleh ketika Charis tiba-tiba bergerak bangun. "Kau lama sekali sih," gadis itu menguap lebar, lalu meregangkan lengannya. Gadis itu menoleh pada Zack. Seketika Zack merasa gugup. Ia tidak tahu bagaimana harus berkomunikasi dengan Charis. "Ada yang berubah pada diriku," Zack seperti melapor, dan tentu saja Charis sudah mengetahuinya. "Mengenai rambutmu? Nah, aku tidak tahu." "Juga mataku." tambah Zack. "Hmm, sepertinya mereka sudah datang," Charis tiba-tiba berkata. "Siapa?" tanya Zack segera. "Teman-teman kita." ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN