Chapter 16. Diskusi Persegi | Yasuo |

1578 Kata
Chapter 16. Diskusi Persegi (Yasuo) Ini kedua kalinya Yasuo memasuki kamar Young. Pertama kali adalah ketika ia ikut mengantarkan 'mayat' Zack ke sini hari kemarin, dan ia benar-benar menyukai gaya kamar di atas loteng. Kamar Young terkesan minimalis, hanya satu tempat tidur ukuran satu orang yang menggunakan sarung bantal dan selimut berwarna hijau pastel, meja-kursi belajar, di atas mejanya terdapat tumpukan buku dan perlatan ATK yang tertata rapi, selanjutnya satu lemari pakaian dan satu rak buku. Yasuo tersenyum tidak sabar ketika mereka berempat sudah duduk, yang tanpa sengaja membentuk sudut persegi di atas karpet. "Zack... kau..." Yasuo ingin segera mengomentari Zack yang berpenampilan berbeda. Rambut dan iris mata Zack berubah menghitam. Si Albino Zack telah lenyap, yang ada hanyalah "Black Zack" sekarang. "Kau adalah Zack, kan?" ia menanyakan untuk memastikan. Siapa tahu Zack kembali mengalami amnesia. Atau mungkin kerasukan sesuatu. "Ya," Zack menatap suntuk pada si Cover Boy. Oh, sepertinya Zack tidak amnesia dan tidak kerasukan apa pun. Syukurlah. "Apa yang telah terjadi di sekolah hari ini?" Charis bertanya. "Tidak ada apa-apa," jawab Young. "Semua tampak normal." Charis menunjukkan ekspresi meragukan jawaban Young. Tapi memang begitu adanya kan? "Ivan memberitahu kami jika Drake melakukan suatu ritual Penghidupan ketika itu." kata Young kemudian. "Penghidupan?" ulang Charis. "Kedengaran seperti bukan untuk Vampir." "Itu pula yang aku pikirkan," Young mengangkat bahu. "Karena kemampuanmu, Drake tidak mengetahui keterlibatan kita, kecuali Yasuo dan Sam yang jelas-jelas berurusan dengan Tom ketika itu." "Kemampuan seperti apa?" tanya Yasuo segera. Sepertinya Young telah akrab dengan si gadis misterius entah sejak kapan. Charis menatap sesaat pada Yasuo. "Sepertinya kita mulai saja." Yasuo mengerutkan dahi. Bukankah dari tadi mereka sudah memulai obrolan? "Sepertinya kau dan Zack bukan Eksistensi Manusia dan juga bukan Eksistensi non manusia pada umumnya." Tandas Charis begitu saja. Yasuo melongo. Ia selalu memikirkan pernyataan itu tapi tidak pernah mengira akan diucapkan secara gamblang begitu saja dari seorang gadis misterius. "Apa maksudmu?" tanya Zack segera. "Kau juga berasal dari pernikahan beda eksistensi?" Giliran Charis yang terlihat tertarik. "Oh, jadi kalian memang anak dari pernikahan beda eksistensi ya?" "Ya," Yasuo menjawab serempak dengan Zack, reflek mereka berdua saling bertukar pandang sesaat, kemudian sama-sama berpaling kembali pada Charis. Ia belum terbiasa dengan penampilan baru Zack yang 'serba hitam'. Ini membuat Zack sekilas terlihat seperti seorang Vampir saja. "Wah, jangan-jangan kalian berdua 'buangan' seperti aku," Gadis itu malah memandang mereka berdua dengan tatapan antusias. Buangan? Apa maksudnya itu. Kedengaran jelek sekali. "Pernah dengar kata Letifer?" Yasuo segera menggelengkan kepala, diikuti Zack. "Prediksiku, dan tentu saja benar, kalian berdua adalah Letifer, sama seperti aku, Young dan Sam." "Apa maksudnya itu? Leti...?" Yasuo berusaha menangkap kata asing yang disebut Charis. "Letifer. L-E-T-I-F-E-R." koreksi Charis. Zack mengulang kata asing itu dalam gumaman dan si gadis berdehem. "Istilah Letifer digunakan untuk hasil keturunan cacat dari pernikahan campuran," Charis mulai menjelaskan. "Biasanya, kasus besar yang umum terjadi, pernikahan campuran tidak akan menghasilkan keturunan, hal ini disebabkan tidak dapat bertemunya sel pembentuk keturunan wanita dan laki-laki karena struktur DNA yang berbeda dan terlalu rumit untuk disatukan. Namun, terdapat sebagian kecil keberhasilan dalam menghasilkan keturunan. Seperti kita." jelas si gadis misterius, begitu lancar seolah ia sedang mempresentasikan hasil tugas sekolah di depan kelas. Yasuo sempat berpikir jika satu kelompok tugas presentasi dengan Charis maka nilainya akan aman. "Letifer berarti mematikan, dan secara kasar disebut kelahiran cacat oleh kelompok kontra. Namun sebenarnya kita tidak cacat. Hanya saja kita memiliki DNA campuran yang membuat kita memiliki kekuatan berbeda dan cukup aneh untuk dimiliki manusia. Kelompok kontra menganggap kelahiran Letifer akan berbahaya." Yasuo merasa mendapatkan pencerahan. Kini tidak hanya dirinya dan Zack, mereka bertemu dengan anak-anak lainnya yang sama abnormalnya dengan mereka berdua. "Apakah ini artinya kita istimewa?" Yasuo bertanya dan disambut senyuman lebar Charis. "Kau bisa menyebut begitu, tapi ada juga yang merasa dirinya seperti dikutuk," Charis melirik pada Young di sebelahnya. Young hanya memutar bola matanya. "Jadi kau bukan Penyihir?" tanya Zack pada Young. "Bukan," jawab Young. "Aku hanya bisa sedikit 'membuat' sihir, dan aku tidak bisa mengucapkan banyak mantra." "Young memiliki reflek yang unik ketika ia mengeluarkan sihir," komentar Charis. "Jadi salah satu orangtuamu adalah Penyihir?" tanya Yasuo segera, menoleh pada Young. Ia tampak antusias dengan pembahasan ini. Siapa yang mengira jika Young juga akan sama sepertinya? Kelompok yang istimewa, ia merasa lebih suka menyebutnya begitu daripada kelahiran cacat. Young mengangkat bahu. "Aku tidak pernah tahu. Mereka berdua meninggal setelah kami pindah ke Burdenjam akibat kecelakaan lalu lintas, ketika itu aku berusia 7 tahun. Tahulah, Burdenjam kota yang sulit diatur. Berantakan." ujarnya dengan ekspresi muak. "Hei..." Yasuo terperangah tak percaya mendengar kisah Young, kedengaran agak tragis seperti dirinya, bedanya ia masih memiliki ayah yang dibencinya. "Jadi sejak usia 7 tahun kau sudah tinggal sendirian?" Young mengedikkan bahu tidak peduli yang artinya : Memangnya kenapa? "Kau tahu kenapa aku mengusulkan rumahmu?" tanya Charis tiba-tiba pada Young. "Oh, rupanya kau punya alasan, dasar penguntit," gerutu Young, mendelik ke arah Charis dengan mata kecilnya yang bersudut tajam. "Kau tidak lihat jika dinding-dinding rumahmu ini sudah ditempeli mantra pelindung?" Charis melebarkan kedua tangannya, menunjuk dinding-dinding kamar Young. "Orangtuamu hebat sekali! Mereka pasti lebih dari sekadar jenius!" Young malah mengerutkan dahi. "Mantra apa?" Charis mendengus geli. "Kau benar-benar tidak tahu ya? Dari jauh aku sudah melihat jika rumahmu diberikan mantra pelindung ekstra. Tidak akan ada yang bisa masuk ke rumahmu tanpa seizinmu, bahkan Vampir atau roh jahat sekali pun!" "Roh jahat?" ulang Yasuo segera. "Jadi roh jahat itu benar-benar ada?" "Oh ya, tentu saja ada," Charis segera menjawab. "Percuma saja, dia tidak bisa melihat roh jahat." kata Young, mendelik pada Yasuo yang terlihat begitu antusias. "Young benar, aku sama sekali tidak bisa melihatnya, setahuku begitu," Yasuo segera menjelaskan. "Tapi kudengar kau bisa melihat arwah?" Tanya Charis. "Ya, benar." "Dan kau bisa berbicara dengan hewan dan tumbuhan?" Seketika Yasuo dibuat bingung mendengar pertanyaan Charis yang menyebut rumor tentang dirinya. "Tidak bisa disebut berbicara," ia mencoba mengoreksi rumor yang membuatnya harus menanggung malu. "Memahami lebih tepatnya." "Hmm," Charis mengetuk-ngetuk telunjuknya ke dagu. "Aku menduga kau memiliki darah Elf dalam tubuhmu." Seketika Yasuo tercengang. Bagaimana Charis bisa dengan mudah menebaknya? "Kau... tahu?" "Ya, mudah saja." gadis itu mengangguk. "Aku benar kan?" Seketika ekspresi antusias Yasuo menyurut. Oh ya, sebelumnya dia sangat antusias sekali dengan menyebut dirinya sebagai seseorang yang istimewa, tetapi memikirkan ibunya yang ternyata seorang Elf dan tak pernah muncul dalam kehidupannya, kembali menghempaskannya ke dalam lubang kekecewaan. Tentu ibunya, yang seorang Elf, adalah makhluk sempurna, mana mau ibunya menerima dirinya yang dikategorikan sebagai seseorang yang cacat. Siapa tahu itu yang menyebabkan dirinya dibuang kepada ayahnya yang bertangan besi. "Mungkin, aku tidak pernah melihatnya," jawab Yasuo, ia berusah untuk tetap terlihat ceria, namun sorot mata Charis seolah menangkap rasa getir dari ekspresinya. Cewek ini peka sekali sih. "Lalu bagaimana dengan Zack?" Yasuo segera mengalihkan pembicaraan, ia menepuk pundak Zack yang duduk disebelahnya. "Ayahnya adalah seorang Vampir." Yasuo dapat menebak Young dan Charis akan terperanjat kaget mendengar hal ini, dan benar saja, keduanya membelalak kaget. "Mustahil!" Charis terperangah, lebih daripada bayangan Yasuo, gadis itu melongo dengan membesarkan pasang matanya, menatap lekat-lekat pada Zack seperti melihat hewan langka. Zack terlihat risih karena reaksi Charis. Sementara Young melipat tangan di dadanya, mengekspresikan keraguan sambil memandang Zack dan Yasuo bergantian. "Tidak mungkin." "Tentu saja mungkin, kau lihat sendiri orangnya kan?" tantang Yasuo. "Ayahku memang seorang Vampir, apa itu tidak mungkin?" tanya Zack, ia mengabaikan Charis, ikut menantang Young terhadap bukti absolut yang nyata. "Charis, apa itu mungkin?" tampaknya si cerdas Young tidak memiliki teori mengenai hal ini. "Wah!" Charis masih terkagum-kagum. "Pantas saja kau bisa hidup kembali!" "Charis, jadi Letifer dari Vampir, apa itu mungkin?" tanya Young kembali, meminta gadis itu untuk kembali fokus. "Nah," Charis segera duduk tegak, menunjukkan kedua telapak tangannya. "Yang kutahu.." ia memulai. "b******a dengan Vampir itu namanya bunuh diri." Seketika ketiga anak laki-laki di dalam ruangan menunjukkan ekspresi tidak nyaman mendengar pembicaraan sensitif tersebut, bahkan dikeluarkan mentah-mentah dari seorang anak perempuan. "Banyak orang salah kaprah mengenai Vampir karena kurangnya studi mempelajari Vampir di masa lalu. Dan yang kutahu, studi yang dilakukan oleh manusia baru-baru ini lebih baik daripada studi yang dilakukan Penyihir di masa lalu. Dan studi ini mungkin baru rilis beberapa tahun yang lalu dan cukup mengejutkan banyak orang. Banyak orang yang mengira Vampir itu adalah makhluk yang tidak memiliki emosi dan hasrat, nah, pernyataan itu salah total. Sebenarnya hasrat dan emosi Vampir lebih peka dan lebih besar dari eksisten mana pun. Lalu, mereka dikatakan makhluk mati, itu setengah benar namun ada salahnya juga. Seluruh aktifitas organ dalam tubuh Vampir bekerja seperti pada umumnya, sama dengan makhluk hidup yang lain. Namun pengaruh sihir menyebabkan aktifitas organ mereka abnormal karena hanya memerlukan darah manusia. Nah," Charis menyadari penjelasan panjang lebarnya hanya dipahami dengan baik oleh Young, ia segera memelankan kata-katanya, mencari kata-kata umum yang mudah diserap. "Yang kutahu... apa pun... yang keluar dari tubuh Vampir... adalah racun." Hening sesaat. "Mungkin kita jeda sebentar," Yasuo menyanggakan kedua tangannya ke belakang. "Aku merasa lapar, dan diluar sana sudah menggelap. Saatnya makan malam." Young mendengus jengkel ketika mendengar keluhan Yasuo. Namun ia segera beranjak berdiri. "Aku akan memasak sesuatu." kata si Kacamata. "Wah, kau serius?!" Yasuo merasa mendapatkan informasi baru. Young Kim bisa memasak?! Oh, tentu saja seorang bocah yang sudah hidup sendiri sejak usia 7 tahun, mungkin bisa melakukan apa saja. Termasuk memasak. "Kau boleh pulang, Muka Unta. Dan kau juga, Charis. Sementara, kau, Zack, ah... terserahlah..." Young segera menuruni tangga menuju ke bawah. "Tidak, aku ingin makan masakanmu dulu sebelum pulang," kejar Yasuo riang. ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN