Chapter 11. BLACKOUT (Zack)
...Kali ini, ia berada di trotoar di jalan yang sama sekali tidak asing. Ia ingat jika ia selalu melewati jalan ini, jadi ia tidak perlu merasa bingung ketika harus memperkirakan arahnya.
Ya, kali ini bukan mimpi-mimpi asing yang membingungkan. ia bisa merasakan bahwa dia begitu tidak bersemangat ketika melangkah. Zack tidak yakin bagaimana ia bisa merasakan perasaan sangat sedih pada dirinya sendiri. Ia melangkah dengan kepala tertunduk, memandang kaki-kakinya yang terus melangkah menyusuri trotoar. kaki-kaki kecilnya.
Dan ia berhenti. Ia mengangkat wajahnya lalu menoleh pada bangunan toko di sampingnya. Ia bisa melihat bayangan dirinya terpantul pada jendela etalase toko. Ia, seorang bocah kecil. Zack tidak mengerti bagaimana ia bisa terjebak dalam mimpinya lagi dan memandang sosok kecil dirinya saat ini.
Wajahnya, wajah bocah kecil dengan mata berwarna biru gelap dan rambut perak pucat. Ketika ia memandang dirinya di jendela etalase, ia merasa sangat membenci penampilannya. Ia benci melihat rambut perak pucatnya. Ia benci karena matanya berwarna biru. Tidak sama seperti Ayah.
Zack juga merasakan nyeri pada lengannya yang memar. Inilah akibat dari pembelaan dirinya. Ia tidak akan mau kalah jika dia merasa benar. Tidak peduli jika ia harus terluka. Ini semua karena anak-anak itu yang mengoloknya. Mengolok ayahnya.
...
Zack terkesiap. Bagaimana ia bisa mengingat semua hal itu?
...
Wajahnya dalam pantulan jendela etalase sama sekali tidak terkejut dengan semua ingatan itu. Wajahnya yang terdapat lebam biru di salah satu pipinya terlihat suntuk. Jengkel. Dan marah.
Seseorang muncul di sampingnya. Ia tidak menoleh, masih terlalu asyik memandangi dirinya di jendela etalase, tampak berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia mirip .... Ayah.
"Apa yang kau perhatikan, Nak?"
Zack menolehkan wajah. Dia tidak tersenyum ketika menemukan pria itu yang berdiri di sampingnya. Ia segera memalingkan wajah dari pria itu, kembali memandang jendela, mengerucutkan bibirnya.
Pria itu tertawa. Lalu berjongkok di sebelahnya, ikut memandang ke arah jendela. "Ya, kau sangat tampan, Nak. Tapi lebam di wajahmu membuatmu kelihatan jelek, sayang sekali. Sudah berapa kali kubilang, jangan berkelahi." Pria itu menjatuhkan sebelah telapak tangannya di atas kepala Zack, lalu mengacak-ngacak rambut perak pucatnya. Namun Zack belum melepaskan kekesalan di wajahnya.
"Hei, ada apa ini?" pria itu akhirnya bertanya prihatin. "Putraku seharusnya tidak berwajah sejelek itu. Ibumu akan menangis melihatmu dengan bibir manyun ini."
Zack ingin tertawa namun ia berusaha mempertahankan wajah kesalnya. "Apakah aku benar-benar putra Ayah?" tanyanya kemudian.
"Apa?"
"Mereka bilang, Ayah bukan ayahku." Ia melihat pantulan wajah mungilnya di jendela etalase yang memberengut ketika mengatakan hal itu.
Dari pantulan jendela etalase juga, Zack bisa melihat pria itu masih memandanginya lalu tersenyum, kemudian beralih pada jendela etalase. "Lihat, bukankah kita mirip?"
"Apanya yang mirip?" tanya Zack ketus. "Ayah lebih tampan dariku. Rambutku tidak hitam seperti Ayah. Mataku biru, tidak berwarna hitam seperti Ayah. Aku seperti anak orang lain."
"Kau mirip dengan ibumu." Tatapan pria itu melembut. "Dia juga memiliki warna rambut dan mata yang sama denganmu. Dia adalah wanita tercantik di dunia."
"Ya, tapi Ibu sudah meninggal dan mereka tidak percaya aku adalah putra Ayah." Zack menoleh pada pria itu. "Yah, kau benar-benar ayahku kan?"
Pria itu tertawa. "Tentu saja."
"Aku ingin terlihat seperti dirimu, Yah."
Ayahnya terdiam sesaat, tanpa berkedip menatap lekat-lekat dirinya.
"Apakah kau ingin menjadi Vampir sepertiku?"
Zack terdiam. Mungkin saat itu ia terlalu kecil untuk memahami apa yang dimaksud dengan Vampir. Dia hanya ingin menjadi seperti ayahnya. Tampan, dengan rambut dan mata berwarna hitam. Itu saja.
...
***
Zack nyaris membanting ponselnya sendiri karena panggilannya tidak terhubung. Ia menarik nafas dan kembali duduk di pinggir ranjangnya. Kepalanya terasa begitu berat, seperti sebuah gelas kosong yang tiba-tiba diisi air hingga tumpah ruah.
Mungkin seperti itulah gambaran bagaimana ingatannya yang telah kembali. Ingatan masa kecilnya, bagaikan buku satu jilid, lengkap, dikembalikan kepadanya dengan cara dilempar ke wajahnya.
Hal yang paling ia benci adalah kebohongan. Dia ingin menuntut si Pengacara, Walinya itu, yang telah membohonginya selama ini. Orang tuanya tidak meninggal karena kebakaran. Ibunya adalah manusia dan telah meninggal ketika melahirkannya. Sementara ayahnya... Ayahnya adalah seorang Vampir.
Konyol? Ya, tentu saja. Ini tidak masuk akal, bagaimana mungkin ayahnya seorang Vampir?!
Zack menghela nafas dan merebahkan tubuhnya, memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan hampa. Jadi... apakah dia benar-benar seorang manusia?
***
Zack tidak begitu fokus ketika mengikuti pelajaran, ia melirik ke arah Yasuo yang duduk tidak jauh di depannya, yang duduk di sebelah Yocelyn.
Ia menarik nafas, memainkan pulpen di jarinya. Ia teringat dengan pertanyaan konyol Yasuo kepadanya beberapa hari yang lalu. Yasuo menanyakan mengenai orang tuanya, yang apakah berbeda eksisten.
Untuk apa Yasuo menanyakan hal itu padanya? Apakah Yasuo juga sama dengan dirinya?
Dan ketika bel pelajaran selesai, Zack segera membereskan semua benda-bendanya ke dalam tas. Ia segera berdiri, kemudian mendekati Yasuo.
Yasuo baru saja memasukkan bukunya ketika mengadah kaget dengan kehadiran Zack di samping mejanya.
"Ikut aku," perintah Zack, berbisik. Dan sebelum sempat Yasuo bertanya, Zack segera berlalu begitu saja, meninggalkan Yasuo yang masih mengerjap kebingungan setelah mendengar perintah itu.
***
"Apakah kau sama denganku?" Zack telah membawa Yasuo ke atas atap gedung sekolah. Ia terlalu riskan membicarakan rahasia hidupnya di sembarang tempat. Mungkin di sini lebih aman dari pendengaran orang-orang.
Yasuo malah melongo, ia sepertinya perlu waktu memahami arah pembicaraan Zack.
"Kau pernah menyebutkan pernikahan berbeda eksisten, apakah orang tuamu juga melakukan hal yang sama?" Zack memperjelas pertanyaannya.
Pasang mata Yasuo membulat. "Kenapa kau tiba-tiba... hei, kau...?"
"Ingatan masa kecilku sudah kembali," Zack terpaksa mengakui. "Dan aku tahu orang tuaku salah satunya bukan manusia."
"Ap... apa?" Yasuo tergagap.
"Ayahku adalah Vampir."
Yasuo mencoba memahami pengakuan Zack yang tiba-tiba dilancarkan kepadanya. "Hah? Vampir? Kau bercanda ya... mereka... tidak bisa memiliki anak, kan?"
"Aku tahu ini kedengaran konyol. Jadi ini tidak mungkin?"
Yasuo menelan ludah, dari sorot mata ambernya menunjukkan bahwa ada rahasia lain yang juga dimiliki si Cover Boy.
"Zack," Yasuo menggelengkan kepalanya. "Itu abnormal."
"Lalu bagaimana denganmu?" Zack mendesak pertanyaannya.
"Aku... eh..." Yasuo terlihat gugup untuk menjawab pertanyaan Zack. Sorot matanya sama seperti Zack, seolah menilai apakah Zack dapat dipercaya atau tidak untuk mendengar rahasia yang dimiliki olehnya.
"Ayahku adalah manusia," kata Yasuo. "Tapi ibuku... mungkin dia adalah seorang Elf?"
Dan mereka mengetahui jika mereka berdua sama abnormalnya.
---*---