Chapter 10. Sam Wynne (2/2)

1347 Kata
Chapter 10. Sam Wynne (2) "Sam, sudah bangun?" Sapaan Ibu dari Sam, Keila Wynee, terdengar dari dapur ketika Sam baru saja akan sampai di depan pintu dapur. "Pagi, Ma." Sam melengos masuk. "Mama masak apa?" "Nanti kau akan tahu," Keila tertawa. "Duduklah, dan makan sarapanmu." "Oke, Ma." Sam segera duduk dan baru menyadari jika Charis sudah duduk di seberangnya, tampak menikmati roti selai yang seharusnya untuk Sam. Sam terpaksa memanggang roti untuknya sendiri. "Kau kemana saja kemarin?" tanya Sam, menunggu hingga alat pemanggang selesai bekerja. Charis tak segera menjawab, terlalu fokus makan. Sam segera duduk kemudian menyiapkan rotinya, memilih selai cokelat. Ia hanya bisa memakan selai cokelat, tidak seperti Charis yang mencampur semua selai dalam satu roti lapis. Entah bagaimana cara Charis membuat keberadaannya tak tampak di depan Keila selama ia sarapan. Kadang Sam berusaha memahami kemampuan abnormal si gadis misterius. "Aku sedang menyelidiki," jawab Charis setelah meneguk s**u gelasnya, yang sebenarnya untuk Sam. Ia selesai sarapan. "Yasuo, cowok yang kau sebut itu." "Kenapa dengan dia?" "Aku punya spekulasi jika dia adalah Letifer juga." Pasang mata Sam melotot pada si gadis pucat. "Kau serius?" "Kemampuan melihat arwah dan dapat berbicara dengan hewan atau tumbuhan bukan hal yang normal untuk Eksisten Manusia," kata Charis. Sam teralihkan pada Keila yang bersenandung riang sambil mengaduk adonan kalis kuenya. Sedikit pun Ibunya tidak mendengarkan perbincangannya dengan Charis. "Kau ingin kita mendekati Yasuo?" tanya Sam. Charis mengangguk. Sam agak ragu apakah ia bisa mendekati si Cover Boy. Yasuo memang ramah, namun ia dan Si Cover Boy berada pada dunia yang berbeda. "Bagaimana jika ia bukan Letifer?" "Aku yakin dia adalah Letifer." Sam tidak menanggapi lagi. Keyakinan Charis sama ketika gadis itu menebak Young Kim adalah Letifer. "Jika dia adalah Letifer, lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Sam kemudian. "Kau seperti sedang mengumpulkan Letifer saja." "Aku memang sedang mengumpulkan Letifer," kata Charis tak terduga, ia tersenyum misterius yang membuat Sam merasa gugup. Sedekat apa pun ia dengan Charis saat ini, tetap saja, Charis adalah orang asing yang sangat misterius dan tak diketahui asal usulnya. Sam telah mencoba mengorek informasi pada diri Charis, namun ia tak pernah berhasil mendapatkan apa pun, bahkan nama kota asal Charis sekali pun. "Bagaimana dengan Zack?" tiba-tiba Sam teringat. Kilatan sorot mata Zack yang misterius dan ganjil belum dapat ia lupakan. "Siapa?" "Cowok berambut perak yang membuat Drake meninggalkan kita, kau ingat? Ketika Drake mencoba merekrutku." Mulut Charis membentuk huruf O tanpa suara. "Manusia favorit Vampir gila itu?" tanyanya. Charis memang payah dalam mengingat nama orang-orang. "Aku pikir ada sesuatu yang istimewa pada diri Zack hingga membuat Drake tertarik." "Menurutmu begitu?" Sam mengangkat bahu, mengunyah pelan rotinya. "Apa menurutmu Drake ingin mendapatkan darah Zack? Dia kelihatan begitu menyukai Zack. Aku pernah memperhatikan Drake yang menyorotkan tatapan kelaparan setiap melihat Zack." "Ada beberapa kepercayaan mengenai Vampir di jaman dulu," kata Charis. "Seperti, kepercayaan bahwa jika Vampir meminum darah manusia yang mereka sukai mampu membuat mereka menjadi lebih kuat, tidak hanya mengenyangkan. Seperti konsep tumbal, pengorbanan pada hal yang dicintai menghasilkan bayaran mahal. Aku juga pernah dengar jika ritual konsep ini mengarahkan pada proses penobatan atau pematangan Vampir." "Pematangan ini maksudnya adalah Vampir ini akan siap menjadi seorang Pemimpin Vampir." Charis mengangkat bahu. "Tapi itu kepercayaan mereka dulu. Aku tidak tahu apakah hal ini masih berlaku. Vampir tidak pernah lagi membuat suatu kesatuan besar bahkan menobatkan Pemimpin. Jaman sekarang Vampir hanya hidup dalam kelompok-kelompok kecil." Sam merasa mual walau hanya mendengarkan. Entah darimana Charis mengetahui semua hal itu. "Yah, tidak ada salahnya kita mengecek si rambut uban." Charis membuat keputusan. "Tapi setelah urusan kita dengan Yasuo." "Kapan kau akan menemuinya?" "Entah. Coba panggil Young untuk ikut dengan kita." "Eh," Sam tampak berpikir. "Aku kira Young tidak akan suka berurusan dengan Yasuo." *** Sam benar karena Young menyorotkan tatapan kesal ketika Sam menjelaskan semua pemikiran Charis yang sebenarnya masihlah sebuah dugaan. "Kalian percaya si gila itu bisa melihat hantu?" Young memasang wajah kesal. "Dia hanya cari perhatian." "Menurutmu begitu?" Sam mengerjap tak percaya. Tapi bagaimana mungkin Yasuo sengaja melakukan tindakan konyol untuk mencari perhatian? "Kau bisa melihat roh jahat, kenapa kau tidak percaya dia bisa melihat arwah?" Charis melawan spekulasi si kacamata. "Itu...!" Young berhenti, menutup mulutnya untuk berpikir sesaat sebelum ia kembali berkata. "Kalau pun dia seorang Letifer, lalu untuk apa kau memberitahunya? Kau mau berteman dengannya ya?" Pemikiran Young sama seperti yang dipikirkan Sam. Charis seperti sedang mengumpulkan anak-anak yang disebut Letifer. Tapi untuk apa gadis itu repot-repot mencari Letifer? Charis terlihat berpikir sesaat untuk menjawab pertanyaan Young. "Kalian tidak pernah merasa diincar ya?" Seketika Sam memasang wajah kaget, begitu pula Young yang menyorotkan tatapan tajam pada si gadis pucat. Charis tersenyum kecil, namun ekspresinya malah menambah kemisteriusan di wajahnya. "Kalian beruntung karena kalian memiliki orang tua yang mau melindungi kalian dari orang-orang itu." "Orang-orang siapa?" Sam ingin segera bertanya namun Young lebih dulu membuka suara darinya. "Charis, siapa yang kau maksud?" Sam bertanya, ia sangat penasaran. Ia seperti harus mengetahui siapa sebenarnya Charis. Dia sudah mengenal Charis selama tiga bulan kurang lebih dan merasa memiliki kewajiban mengenal gadis itu lebih jauh. "Orangtuamu pasti tahu, Sam. Coba kau tanyakan kepada mereka," Charis menyandarkan diri pada kursi. Mata cokelat pucatnya mengedarkan pandangan pada ruangan kantin yang lengang. Sam tak habis pikir bagaimana gadis itu bisa membuat mereka bertiga tidak menjadi pusat perhatian di tempat publik ini. Tentu sangat menarik melihat bocah lemah seperti Sam yang mendadak akrab dengan si jenius nan introvert seperti Young. "Dan kau juga 'tahu', kan?" Charis beralih pada Young. Young mulai kelihatan gelisah. Ia memutar sedotannya dalam gelas plastik yang hanya menyisakan bongkahan es. Ia sudah menandaskan minumannya beberapa menit yang lalu. "Kau berpikir mereka mencariku? Mencari jenis seperti kita? Sebenarnya untuk apa?" Young merendahkan suara. Charis mengedikkan bahunya. "Jenis seperti kita ini langka, dan bisa hidup sehat hingga sekarang plus memiliki kekuatan abnormal di tubuh manusia itu bisa menjadi ancaman bagi pihak yang kontra," ujarnya. "Satu-satunya cara ya kita harus bersatu, kau ingin tetap hidup kan?" Pertanyaan Charis sepertinya berlebihan. Tentu siapa saja ingin tetap hidup. "Bersembunyi saja mungkin tidak akan selamanya berhasil. Aku ingin kita menyingkirkan orang-orang itu." lanjut Charis dengan kata-kata yang terasa tajam ketika didengar. Sam terkesiap, melotot pada Charis, berharap ia salah dengar. Sementara Young menarik nafas, ia memalingkan wajah untuk mengamati sekitar mereka, memastikan perbincangan mereka benar-benar tidak ada yang mendengarkan. "Charis..." panggil Young, ia kembali terdiam sesaat sebelum meluapkan isi pemikirannya. "Sejak awal Aku tahu kau punya maksud tertentu melihat gelagatmu ini. Kenapa tidak sekalian saja kau mengajak kami menjadi superhero bertopeng untuk menyelamatkan dunia?" Sam terperangah. Seharusnya kata-kata Young bisa disebut candaan, namun itu sama sekali tidak lucu. Apakah Charis benar-benar serius? Menyingkirkan? Maksudnya bagaimana? Selama ini dia tidak pernah merasa dalam bahaya, dan orang tuanya terlihat baik-baik saja selama ini. Walau ia tahu keluarganya bukan berasal dari Burdenjam yang dikenal sebagai kota penuh carut marut. Kontras sekali karena keluarganya adalah keluarga baik-baik yang mengidamkan kota yang aman dan tentram. "Tenang saja, aku akan membantumu terlebih dahulu," Charis terlihat terlalu santai dan ini mengingatkan Sam ketika Charis menawarkan bantuan kepadanya di pertemuan pertama mereka. Kali ini apa yang akan ditawarkan Charis pada Young? Tentu tidak seperti yang ditawarkan kepada dirinya, Sam mencoba menebak. Namun Young adalah salah satu Eksisten manusia yang kuat sekaligus cerdas. Young kelihatan tidak membutuhkan bantuan apa pun menurut Sam. Namun sepertinya Charis mengetahui kelemahan si Kacamata melihat ekspresi sombong gadis itu. "Aku akan mengurus roh jahat untukmu, sebagai gantinya bantu aku mencari keberadaan mereka." Young melototi si gadis bermata cokelat pucat itu, tampak luar biasa kesal. "Kau pikir aku butuh bantuanmu?" desisnya. Charis tersenyum menyeringai dan Sam melihat sendiri bagaimana ekspresi Young terlihat ketakutan pada sesuatu di balik bahu Charis. Young berdehem, tampak berusaha mengendalikan rasa takutnya. "Jika aku menemukan orang yang kau cari, lalu apa yang akan kau lakukan? Kau tahu kan aku tidak ingin terlibat lebih jauh. Dan Sam," Young melirik sekilas pada Sam yang hanya bisa melongo di sepanjang percakapan mereka. "Tentu dia juga tidak akan mau melakukan tindakan ekstrim yang berbahaya." Charis malah cekikikan kecil. "Tidak usah bertanya sekarang." ujar si gadis misterius. "Coba kau pikirkan lebih dulu." ---*---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN