"Berarti orang tua anak tadi, dulunya klien Pak Doma?"
"Hmm." Doma mengangguk.
"Pak Doma masih berhubungan sama orang tua anak tadi walaupun kasusnya udah selesai?"
Kali ini Doma menoleh ke samping tempat Analis duduk. Perempuan itu memiringkan badannya sambil menyilang kedua tangan di depan d**a. Doma mengernyitkan dahi menyadari nada bicara Analis berubah sinis.
Doma menggeleng sebagai jawaban. Pandangannya kembali terarah ke depan mengamati jalanan yang masih ramai karena ini malam minggu. Analis membuang pandangannya ke kaca mobil yang setengah terbuka sesekali menggerutu dalam hati.
Gadis kecil yang ditemukannya di pusat perbelanjaan tadi berakhir ditemukan juga oleh orang tuanya. Seorang perempuan yang diperkirakannya berusia tiga puluhan berlari menghampiri si anak yang digandeng Analis. Detik itu juga Analis menyadari bahwa perempuan yang menghampirinya adalah Ibu si anak. Terbukti begitu gadis yang digandengnya melihat ke arah si perempuan langsung berteriak, "Mama!"
Analis lega melihat si anak bertemu orang tuanya kembali. Ibu dari anak itu juga mengucapkan terima kasih dengan perasaan yang sama leganya melihat anaknya berhasil ditemukan.
Dunia tak selebar daun kelor. Kalimat itu pas jika digambarkan hubungan si Ibu dari anak yang ditemukan Analis—dan Doma—suaminya. Usut punya usut, Ibu si anak pernah menjadi klien Doma.
Raut wajah Ibu si anak berubah sumringah begitu mendapati Doma di belakang Analis. Si Ibu buru-buru mengusap air matanya lalu menghampiri Doma tanpa mempedulikan keberadaan Analis di antara mereka. Si Ibu menjabat tangan Doma, tersenyum selebar model iklan pasta gigi di TV. Memuakkan!
"Memangnya, Ibu anak tadi kasusnya soal apa?" tanya Analis. Perlahan kepalanya bergerak menoleh ke tempat Doma sedang menyetir.
"Gugatan cerai," jawab Doma.
"Jadi, Ibu anak tadi, statusnya janda dong?!"
Doma melirik Analis sekilas. "Ya."
Pantas saja tatapan si Ibu tadi langsung sumringah melihat Doma. Walaupun Doma menanggapi biasa-biasa saja, namun gelagat Ibu tersebut membuat Analis jadi berburuk sangka. Jangan-jangan si Ibu pernah berusaha menggoda suaminya, lagi!
***
"Pak Doma." Analis menghampiri Doma di meja dapur. Tubuh langsingnya dibalut gaun tidur berwarna magenta. Rambut hitam panjangnya tergerai ke belakang punggung.
Doma menyempatkan dirinya menoleh ke Analis. Detik itu juga, Analis menghambur ke pelukannya dengan senyum mengembang.
"Pak Doma lagi bikin apa?" tanya Analis, membawa kedua tangannya melingkari leher Doma.
"Lepas dulu," kata Doma menepuk bahu Analis pelan. "Saya mau bikin kopi."
Analis tidak mematuhi perintah Doma agar melepaskan pelukannya. Perempuan itu masih saja bebal memeluk Doma walaupun sedang sibuk memasukkan gula dan kopi ke dalam cangkirnya. Bayangkan saja, ketika kalian sibuk mengerjakan sesuatu, sementara pasangan kalian mengganggu seperti Analis begini.
Jadilah Doma membuat kopinya dengan Analis di pelukannya. Analis masih melingkarkan kedua tangannya pada leher Doma. Mendongak ke atas agar bisa melihat wajah laki-laki itu lebih dekat.
"Kamu mau?" Doma menawari Analis kopinya.
Doma menyesap kopinya hati-hati karena ada Analis sedang memeluknya. Ditawari kopi, perempuan itu malah menyahut, "Saya nggak suka kopi. Saya sukanya Pak Doma."
Laki-laki itu mendengus pelan. Sudah hal biasa mendengar Analis menggombal seperti barusan. Terkadang Doma keheranan. Sebenarnya, di Inggris Analis belajar mengenai apa lagi selain hukum? Apa di sana juga ada mata pelajaran menggombal?
"Aku mau minta izin sama Pak Doma," ujar Analis.
"Izin apa?" tanya Doma meletakkan cangkir kopinya ke meja.
"Akhir pekan ini aku mau pergi ke Bali sama temen-temen."
"Berangkat kapan?" tanya Doma lagi.
"Jumat sore."
"Pulang hari apa?"
Analis diam sesaat. Memperkirakan kapan dia akan sampai di Jakarta nanti. "Senin pagi. Dari Bandara, aku langsung jalan ke kantor."
Sesuatu yang jarang menghabiskan akhir pekannya bersama teman-temannya. Sudah lama mereka membuat wacana ingin pergi liburan bersama namun waktunya selalu saja kurang tepat. Terkadang Analis bisa, Metya dan lainnya yang sangat sibuk. Maka dari itu Analis sangat antusias dengan liburan pendeknya bersama Metya, Ilana dan Devina. Kapan lagi mereka bisa menghabiskan akhir pekan bersama-sama?
"Saya kasih izin, asal kamu pulang minggu malam."
"Pak," rengek Analis lebih kuat menarik leher Doma hingga punggung laki-laki itu membungkuk.
"Saya jemput kamu di bandara nanti," kata Doma, meraih cangkir lalu menyesap kopinya yang mulai hangat.
"Jarang-jarang saya pergi liburan sama temen-temen." Analis memicingkan matanya. "Lagian cuma beberapa hari aja. Senin pagi saya udah sampai Jakarta, kok."
Doma menarik tangan Analis dari lehernya. "Nggak usah pergi kalau begitu."
"Pak Doma." Analis menghalangi langkah Doma yang hendak pergi. "Boleh ya?"
"Iya. Tapi minggu malam, kamu sudah harus sampai bandara." Doma menatap Analis. "Padahal saya perhatikan kamu sering pergi ketemu mereka. Kalau saya hitung, dalam satu minggu aja, kamu bisa ketemu tiga kali."
Analis mengerucutkan bibirnya.
"Saya nggak larang kamu ketemu temen-temen. Tapi harus tahu batasan."
"Beneran cuma sampai minggu aja di balinya?"
Doma mengangguk.
"Ya udah. Tapi Pak Doma janji mau jemput di bandara ya?"
"Iya," jawab Doma.
Analis menghampiri Doma lantas memeluk laki-laki itu. Tidak lupa juga mengucapkan terima kasih karena Doma bukan hanya mengizinkannya pergi berlibur bersama teman-teman. Namun juga berjanji akan menjemput dirinya di bandara ketika kembali nanti.
***
"Berin?"
Perempuan yang dipanggil Analis kini menengok. Sambil menyunggingkan senyum, Berin meletakkan cangkir kopinya ke atas meja dan menyambut kepulangan Analis.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Analis kebingungan.
"Gue orang nemuin mobil suami lo."
Nomor Doma tidak bisa dihubungi sejak hari sabtu. Liburan pendek yang dilakukannya bersama ketiga temannya terpaksa harus dipercepat kepulangannya. Analis mendapat kabar dari si Mbok, yang kala itu diteleponnya guna menanyakan keberadaan Doma. Tidak biasanya laki-laki itu susah dihubungi. Biarpun balasan pesannya tidak pernah membuatnya senang karena Doma hanya akan membalas sangat singkat, tapi tidak pernah tidak membalas pesannya. Maka dari itu Analis jadi khawatir. Doma kenapa, atau terjadi sesuatu kepada suaminya?
Di telepon Mbok menjelaskan kalau seseorang mengantarkan tuannya pulang dalam keadaan tidak sadar. Orang itu juga memberitahu kalau saat dirinya menemukan mobil laki-laki itu di pinggir jalan, Doma dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Mendengar hal tersebut, Analis segera mengemasi pakaiannya dan berpamitan kepada teman-temannya agar pulang lebih dulu. Mulanya mereka semua akan ikut Analis pulang ke Jakarta, tetapi ditolaknya dengan alasan tidak ingin mengganggu liburan Metya bersama dua temannya lagi.
Analis pun pulang ke Jakarta sendirian. Sementara teman-temannya akan pulang sesuai jadwal liburan.
Tidak disangka-sangka kalau orang yang menemukan Doma dan mobilnya adalah Berin. Kedua perempuan itu berdiri canggung. Analis jadi teringat obrolannya bersama teman-teman ketika pertama kali bertemu setelah kepulangannya dari Inggris. Jangan-jangan, Berin belum berniat mundur? Berin masih sering menguntit Doma di belakangnya selama ini?
"Oh." Analis membuang napas. Memijat keningnya pelan. Ya Tuhan. Kenapa dia malah berpikiran yang tidak-tidak tentang Berin!
"Gue udah berusaha telepon lo. Tapi kayaknya nggak diangkat."
"Iya, maaf." Analis memandang Berin lurus. "Aku terlalu panik sampai nggak sempat ngecek HP," katanya. "Makasih ya, Ber. Kamu udah nolongin Pak Doma."
"Sama-sama." Berin mengangguk. "Gue sengaja nunggu lo sampai pulang. Karena gue tahu dari Metya, kalian semua lagi liburan ke Bali."
Analis merasa tersindir. Mereka berlibur ke Bali tanpa mengajak Berin. Sebenarnya bukan karena tidak ingin mengajak perempuan itu. Hanya saja Analis takut ditolak. Dia pikir, Berin masih marah padanya.
"Berhubung lo udah pulang. Gue balik sekarang." Berin menenteng tasnya.
"Hmm. Hati-hati ya."
Berin mengangguk lantas melangkah pergi hendak meninggalkan kediaman Doma. Namun baru dua langkah, perempuan itu membalikkan badannya menahan langkah Analis di bawah anak tangga.
"Lo nggak usah khawatir," ujar Berin. "Gue bukan seseorang yang akan merebut milik temannya. Lo juga udah kenal gue udah lama, kan?"