"Bapak kehujanan." Analis menuruni anak tangga satu per satu menghampiri Doma yang baru saja pulang.
Diraihnya tas kerja Doma, kemudian menggandeng laki-laki itu ke dekat tangga. Entah bagaimana bisa suaminya pulang dalam keadaan basah kuyup begini. Analis mendorong bahu Doma perlahan lalu mengatakan, "Bapak masuk kamar aja. Biar saya buatin teh ya."
Doma cuma mengangguk. Dinaikinya tangga satu per satu, sementara Analis pergi ke dapur membuatkannya teh hangat.
Kejadian di rumah sakit tadi belum bisa dia lupakan. Walaupun Rinjani berhasil mengalihkan perhatian Analis ke arah lain tanpa bisa melihatnya, tetap saja Doma nyaris mati karena gagal jantung. Sepanjang kedua perempuan itu mengobrol di depan pintu, dan Doma bersembunyi di balik tirai ruangan Rinjani, jantungnya berdebaran hebat. Jangan sampai perempuan itu mengetahui keberadaannya di sana.
"Pak?" Pintu kamar terbuka, memerlihatkan sosok Analis sedang membawa secangkir teh di tangannya. "Kenapa masih bengong di sini? Oh. Tunggu bentar. Saya siapin handuk sama baju ganti Pak Doma, ya."
Analis meletakkan cangkir tehnya ke atas meja nakas lalu pergi mengambil handuk serta baju ganti. Doma mengamati punggung Analis. Perempuan itu sedang mengambilkannya baju ganti. Doma menunduk, memandangi kedua kakinya yang masih terbungkus sepatu cokelat tua.
"Mau saya siapin airnya sekalian, Pak?" tawar Analis mengangsurkan handuk dan baju ganti kepada Doma.
"Nggak usah. Saya bisa sendiri," katanya, dan Analis mengangguk kecil.
Sambil menunggu Doma selesai mandi, Analis membersihkan kamarnya. Meletakkan tas kerja Doma ke tempatnya, membenarkan tempat tidurnya yang sedikit berantakan karena sejak pulang dari kantor, dia langsung berbaring. Berguling ke sana kemari tidak jelas dan berakhir ketiduran.
"Ish." Analis mendesis. Mengangkat kedua tangannya lalu menunduk memandangi penampilannya sendiri. Dia menyuruh Doma untuk segera mandi, sedangkan dirinya masih mengenakan pakaian kerjanya. Celana kain dan kemeja cream-nya masih melekat di tubuhnya.
Kegiatan membersihkan kamar beralih ke meja riasnya. Dia duduk di kursi, menata beberapa alat make up sampai skincare-nya yang berjejer tidak rapi. Analis memasukkan kapas bekas ke dalam kantung plastik kecil kemudian membuangnya ke dalam tempat sampah di kamar. Ada yang aneh... pikir Analis.
Doma pulang seperti orang linglung. Ah, maksud Analis, laki-laki itu memang pendiam, tetapi beda dengan hari ini. Ketika Analis meminta Doma pergi ke kamarnya duluan dan dia pergi membuat teh, Analis melihat Doma berdiri di depan cermin dengan pandangan mata kosong. Kenapa? Apa Doma sedang ada masalah?
Suara pintu kamar mandi dibuka, seketika atensi Analis berpindah pada sosok Doma yang telah berganti baju rumahan. Di tangannya ada handuknya. Analis beranjak dari kursi, lantas menghampiri Doma dan mengambil handuk di tangan laki-laki itu.
"Saya bantuin keringin rambut Pak Doma, ya?" Analis menyunggingkan senyum. Doma duduk di kursi sambil menunggu perempuan itu menghidupkan pengering rambut.
"Kenapa Bapak pulang hujan-hujanan tadi?" tanya Analis di sela-sela mengeringkan rambut suaminya. "Mobil Pak Doma ada masalah? Kenapa nggak telepon saya buat jemput aja?"
Doma diam mematung.
Diperhatikannya bayangan Doma dari cermin di depannya. Mungkin saja laki-laki itu tidak mendengar karena suara pengering rambut yang berisik, pikir Analis.
Sampai rambut Doma kering, Analis tidak berusaha mengajak laki-laki itu bicara. Sebentar, mungkin Doma tidak ingin berbicara. Hal seperti ini sudah biasa terjadi.
"Udah, Pak." Analis menyimpan pengering rambutnya ke atas meja rias.
Biarpun Analis penasaran ada apa sebenarnya, cuma ditahannya saja pertanyaannya. Hubungannya dan Doma mulai membaik beberapa hari terakhir. Dia tidak ingin membuat dirinya canggung lagi karena memaksa Doma bercerita sesuatu. Baiklah, Analis akan menunggu sampai laki-laki itu bersedia cerita sendiri kepadanya.
Analis mematung di tempatnya. Mulanya Doma menarik pergelangan tangannya, tetapi setelah itu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Analis dengan posisi membenamkan wajahnya ke perut Analis. Bukan cuma pipinya yang tiba-tiba panas. Detak jantungnya pun bekerja tidak keruan akibat dipeluk tiba-tiba oleh Doma.
Diberanikannya mengusap rambut Doma sesekali mengamatinya dari cermin. Laki-laki itu masih duduk di kursi riasnya. Jari-jari Analis berpindah ke bahu Doma dan menepuknya lembut.
"Kalau Bapak bersedia, saya siap dengar cerita Bapak," gumam Analis. "Katanya, terlalu banyak menyimpan beban sendiri juga nggak baik."
"Kenapa kamu milih saya?" tanya Doma dengan pandangan mata yang kosong.
"Hmm?" Analis menunduk, jari-jarinya menyisiri rambut tebal Doma.
Doma kembali menenggelamkan wajahnya ke perut Analis. Sepasang matanya memejam lalu bergumam, "Saya punya banyak kekurangan. Saya kaku, saya canggung, saya...," Laki-laki itu berhenti untuk mengambil napas. "Bisa aja saya lebih buruk dari yang kamu bayangkan."
Analis mengarahkan kedua tangannya menggapai pipi Doma dan menangkupnya. Ini kali pertama kalinya mereka bersentuhan lebih banyak. Dibanding malam-malam sebelumnya hanya memegangi tangan Doma, kini Analis berani menangkup pipi, bahkan mengusap rambut Doma tanpa takut.
"Saya percaya. Manusia bukan cuma punya sisi baik aja. Tapi juga buruk," ujar Analis, mengusap pipi Doma menggunakan ibu jarinya. "Begitu pun saya. Dan mungkin aja belum pernah saya tunjukan ke Bapak."
"Analis." Doma mendongak, meraih jari-jari lentik perempuan itu. "Bagaimana kalau suatu hari saya mengecewakan kamu? Apa... kamu akan membenci saya, lalu memilih pergi?"
Sempat dibuat tertegun, namun lima detik setelahnya Analis menggeleng yakin. "Nggak." Analis menyunggingkan senyum hangat. "Kalau suatu hari Bapak mengecewakan saya, nggak semudah itu saya pilih pergi walaupun benci. Sesuatu yang mengecewakan bukannya bisa diperbaiki? Kita bisa menatanya lagi." Analis menarik tangannya, kemudian menyilangkannya di depan d**a. "Bukannya mengecewakan itu sering dilakukan manusia, ya?"
Seketika Doma mendengus. Analis tertawa melihatnya. Tawa sumbang keduanya berhasil memecahkan keheningan.
"Ingkar janji juga sering dilakukan manusia." Doma menambahkannya sembari tertawa.
"Kata siapa?" tanya Analis tidak terima. "Saya nggak pernah ingkar janji selama ini. Saya selalu tepati." Doma mengangguk-angguk sebagai respons. "Bapak nggak percaya? Dengan adanya saya di samping Pak Doma, itu tandanya saya konsekuen sama janji saya sendiri."
"Kamu janji apa?" sahut Doma. Dahinya berkerut heran.
"Saya janji selalu ada di samping Pak Doma. Selama Pak Doma nggak minta saya pergi, saya masih di sini."
Hal yang jarang dilakukan Doma adalah tersenyum. Sehari-hari Doma lebih sering menunjukkan ekspresi wajah yang datar, satu atau kata, maka malam ini tidak. Doma berbicara lebih banyak dan tersenyum walaupun terlihat sekilas.
"Oh ya, Pak." Analis teringat sesuatu. "Menurut Bapak, apa kita perlu undang Om saya di pernikahan kita nanti?"
"Nggak perlu."
"Kenapa? Cuma Om satu-satunya keluarga yang saya punya. Walaupun jahat ke saya dulunya, tetap aja—"
Doma menarik pinggang Analis sampai perempuan itu tersentak kaget. Yang membuat lebih terkejut saat laki-laki itu menarik tengkuknya, lalu membungkam bibirnya dengan bibir laki-laki itu. Sepasang mata Analis membeliak. Bahkan jantungnya berhenti bekerja kala Doma menarik tangannya, kemudian mendudukkan dirinya di atas pangkuan laki-laki itu.
Ya Tuhan, ini ciuman pertamanya!
***
Analis melihat ke kanan ke kiri mengamati orang-orang di sekitarnya. Seorang gadis kecil yang diperkirakannya berusia enam tahun sedang menangis mencari orang tuanya. Analis menghampiri gadis itu, berjalan menjauh dari Doma yang sedang mengangkat panggilan telepon.
Mereka pergi berbelanja bersama. Analis senang karena Doma memulai membuka hati untuk dirinya. Sekarang tidak perlu bersingkuran atau sendiri-sendiri lagi seperti dulu. Sesekali laki-laki itu mengajaknya pergi keluar walaupun hanya sekadar berbelanja kebutuhan dapur.
"Hei," Analis duduk berjongkok di depan si anak. "Orang tua kamu mana? Kamu nyasar ya?" tanya Analis lembut.
Gadis kecil itu menangis sesenggukkan sembari menutupi wajahnya dengan lengannya. Analis mengusap kepala si gadis, berusaha menenangkannya sampai Doma selesai menelpon dan menghampirinya.
"Anak siapa?" tanya Doma, memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Analis menoleh lalu berdiri. "Nggak tahu." Perempuan itu menggeleng. "Kayaknya kepisah sama orang tuanya."
Diamatinya bocah perempuan itu. Berambut hitam sebahu, mengenakan gaun berwarna kuning menyala. Doma menepuk bahu Analis dan mengatakan, "Kita bawa ke tempat informasi aja. Pasti orang tuanya juga sibuk cari anaknya."
"Iya, Pak." Analis membungkuk setelahnya. Mengelus rambut hitam gadis kecil itu. "Kakak bantu cari orang tua kamu ya. Ayo, Kakak antar ke ruang informasi yuk."
Bocah itu diam dan menurut digandeng Analis pergi menuju tempat informasi. Siapa tahu orang tua si gadis sedang panik mencari anak mereka. Dengan diumumkannya lewat informasi, akan mempermudah mempertemukan si anak dan orang tuanya.
Sangat disayangkan, hampir dua jam Analis dan Doma menemani bocah itu di tempat informasi menunggu orang tuanya menjemput, namun tidak kunjung datang. Tidak ada satu pun orang yang mencari si gadis. Sempat ditanyai perihal namanya, nama kedua orang tua atau nomor telepon yang dihafal, tapi gadis itu malah bungkam. Seperti orang ketakutan, dirinya merapat ke Analis lalu memeluknya erat.
"Bapak dan Ibu bisa tinggalkan anak ini sini aja. Nanti biar polisi yang mencari tahu tentang orang tua anak ini," kata seorang satpam. "Hal seperti ini sering terjadi. Orang tua terlalu asyik belanja sampai lupa anaknya."
Analis melirik Doma yang sejak tadi diam. Sesungguhnya tidak tega meninggalkan gadis kecil ini. Selain masih anak-anak, pasti juga ketakutan ditinggal dengan orang asing. Ya, Analis termasuk orang asing juga, sih. Tetapi Analis berani jamin, anak ini akan baik-baik saja jika bersamanya.
"Pak Doma," panggil Analis menarik lengan Doma lalu berbisik, "Gimana kalau kita ajak pulang anak ini? Kita bisa tinggalin nomor ke tempat informasi misalkan orang tuanya ketemu."
"Biar jadi urusan polisi aja, An. Anak itu bakal baik-baik aja. Dia ada di tangan yang tepat," tolak Doma.
"Iya, saya tahu. Tapi apa nggak lebih aman kalau tinggal sama kita? Saya yakin nggak akan lama. Mungkin aja orang tuanya juga panik sampai nggak bisa dengar pemberitahuan dari tempat informasi."
"An..."
"Pak, boleh ya?" bujuk Analis. "Saya nggak tega ninggalinnya."
Doma menarik napas panjang. "Hmm."
Senyum Analis mengembang. Saking senangnya karena Doma mengizinkan membawa anak itu pulang, hampir saja Analis mempermalukan dirinya sendiri saat akan mencium pipi Doma di depan satpam dan dua penjaga meja informasi.
Analis berjalan mundur, mengusap tengkuknya salah tingkah. Doma berdeham, tiba-tiba saja dia menjadi kikuk karena ulah Analis barusan.
Disodorkannya kartu namanya kepada satpam. "Bapak bisa hubungi saya kalau orang tua anak ini ketemu."