Dengan ogah-ogahan Kalia bangun meninggalkan kasurnya, rasanya weekend ini dia ingin tidur sepuasnya di kosan bersama Chiara, sahabatnya. Tapi karena acara kumpul keluarga itu, Kalia terpaksa harus pulang ke Bogor.
Sedikit cerita tentang orang yang tidak ingin Kalia dekati, sang nenek. Anggap saja Kalia ini memang cucu durhaka, tapi bukan tanpa alasan jika Kalia selalu melawan dan membantah sang nenek. Itu semua Kalia lakukan karena bagi Kalia, sang nenek terlalu ikut campur urusan pribadi Kalia. Apalagi perihal pasangan.
Baiklah, Kalia ini memang menjadi cucu paling tua yang belum menikah, tapi dari segi umur, Kalia belum setua itu untuk dipaksa menikah. Membandingkan hidup kalian dengan anak orang lain yang Kalia saja tidak tahu bentuknya bagaimana orang itu.
"pagi banget lo bangun" ucap Chiara dengan suara seraknya, sahabatnya itu pasti masih setengah sadar.
"iya, biar gak kena macet"
"oh, dikira gue lo semangat buat ketemu sang nenek" balas Chiara lagi dengan mata yang masih belum terbuka.
"Jangan buka hari mu dengan sebuah fitnah Chi, gak berkah lo" putuah Kalia
"bodo! udah sana mandi" Usir Chiara
Kalia menatap kesal pada sahabatnya itu yang kembali tidur. Dia iriiiiii, dia juga ingin tidur seharian ini. benar-benar menjengkelkan.
***
Kalia langsung memeluk Lulu, sepupunya paling tua yang sudah Kalia anggap seperti kakak sendiri. “teteh nyampe dari tadi?”
“iya, teteh nyampe dari tadi pagi, di jalan juga gak macet. Kamu dari kosan langsung kesini?” Tanya balik Lulu sambil membalas pelukan Kalia.
“iya teh, aku dari kosan langsung kesini. Jakarta macet banget eh Bogor juga sama aja, tua di jalan aku” keluh Kalia setelah terjebak macet. Sesuai dengan tujuan pulangnya hari ini, agenda kumpul keluarga besar yang wajib dia ikuti meskipun malas dan tidak suka. Kumpulan yang selalu dilakukan setiap satu bulan sekali di rumah nenek Kalia dari sang ayah.
“nah kan, itu umur kamu di habisin dijalan doang, kapan bisa depet jodohnya kalau gitu” Kalia langsung memutar bola matanya saat mendengar ucapan sang nenek, Tati. Sedangkan Lulu hanya mengusap lengan Kalia. Satu hal yang menjadipemicu Kalia tidak suka dari acara kumpul keluarga besar ini adalah mulut sang nenek yang mirip dengan admin situs gosip. Suka membicarakan siapapun termasuk cucu sendiri, Dan Kalia adalah objek terbaik untuk menjadi bahan pembicaraan sang nenek.
“tenang aja sih nek, ngomong jodoh mulu” sahut Kalia dengan malas.
“lho, mau tenang gimana, kamu udah umur 24 lho, sekarang jadi cucu nenek paling tua yang belum nikah”
“emang kenapa? Aku gak masalah kok, santai aja”
“gak bisa gitu dong Kal, mau umur berapa kamu nikah? Sekarang aja udah jadi perawan tua kamutuh”
“nek, tolonglah, zaman dulu sama sekarang itu beda, di kampung umur 24 emang tua tapi aku kan gak tinggal dikampung, lagian temen-temen aku aja belum nikah!”
“ya terus kalau temen kamu ketabrak kamu mau ikutan ketabrak juga?” Suara sang nenek sudah semakin terdengar kesal
“kok jadi ketabrak sih?! kenapa sih nenek tuh selalu urusin hal yang aku aja santai. Kalau nenek ngebet, nenek aja yang nikah lagi” kesal Kalia dan pergi. Bodo amat dengan sang nenek yang akan mengomel, toh Kalia memang sudah kepalang di cap cucu paling menyebalkan oleh sang nenek.
***
“kenapa Teh, kok cemberut gitu” Zaskia mengusap kepala Kalia lembut saat melihat anak perempuannya itu datang dengan wajah nampak kesal.
“itu, nenek nyebelin” adu Kalia
Zaskia tersenyum lembut, hal ini sudah biasa terjadi, adu mulut antara sang cucu dan nenek “sabar Teh, kan nenek emang begitu, diemin aja” nasihat Zaskia, entah kenapa dia juga bingung dengan mertuanya itu, selalu memaksa Kalia menikah, padahal dia dan suaminya, Arman, selalu membebaskan Kalia, mereka ingin Kalia meraih apa yang di cita-citakan, meskipun sejujurnya mereka juga berharap Kalia segera bertemu jodohnya, tapi tidak sampai memaksa seperti yang dilakukan sang nenek.
“ya abisnya Bun, nenek tuh suka banget ngurusin jodoh, bandingin Kalia sama orang-orang yang gak Kalia kenal yang udah ngelahirin anak dengan jumlah sekian-sekian, kan nyebelin” Wajah kali sudah benar-benar kesal mengingat tingkah laku sang nenek.
“sabar teh, mau gimana lagi. Nenek juga kan keras kepala kalau dikasih tahu”
“iya, mirip abi” Kalia melirik sang abi yang tengah membaca sesuatu di ponselnya
“lho, kok jadi abi?” protes Abi Kalia itu lalu menyimpan ponselnya
“iyalah, kan orangtuanya abi. Jadi mirip abi” sahut Kalia
“kamu juga keras kepala lho teh, berarti kamu juga sama kaya nenek” balas sang Abi tidak mau di salahkan
“beda! enak aja” protes keras Kalia tidak terima disamakan dengan sang nenek
“yaudah teh, diemin aja. Abi juga bingung harus gimana lagi ngasih tahunya. Abi gak bisa ngunci mulut nenek kamu, kalau bisa udah dari dulu abi lakuin”
“Kalau gini terus, bulan depan Kalia gak mau ah ikutan kumpul, mending di kosan. Tidur seharian atau jalan sama Chiara”
“teteh, berfaedah banget itu rencananya” sindir sang abi
“iyalah bi, orang sekamar sama Chiara yang sebelas dua belas, sama-sama kebo kalau tidur” sahut Zaskia
“ya abisnya daripada telinga teteh panas ditanya kapan nikahlah, kapan bisa punya pacarlah. Jodoh terus yang di omongin, jadi kaya lebaran tiap bulan ditanya kapan nikah terus.”
“gak usah didenger teh, inget ya, bulan depan tetep harus ikut. Silaturahim itu bagus lho teh, bisa memanjankan umur dan memudahkan rezeki” jelas sang Abi.
Kalia mendengus, kalau sudah bawa hal-hal seperti itu, mana bisa Kalia menolak. Meskipun Kalia bukan perempuan yang kental dan dalam ilmu agamanya, tapi Kalia juga tidak buta-buta banget, dia tahu bahwa silaturrahim memang baik, terlebih untuk mempererat persaudaran. Apalagi Abinya itu adalah anak laki-laki paling tua dan yang selalu mengkepalai perkumpulan.
***
“waaaaahhh, ibu hamil datang” Dengan semangat Kalia langsung memeluk Anida, sepupunya yang tengah hamil. Anida ini lebih muda satu satu tahu dari Kalia. Dia sudah menikah dan sedang mengandung anaknya yang ke dua. Selang lima tahun dari anaknya yang pertama.
“teteh tumben udah nyampe, biasanya paling telat, aku kalah cepet nih hari ini”
“iya Nid, tadi aku dari kosan berangkat lebih cepet, niatnya sih biar gak kena macet, eh sama aja, yuk sambil duduk” Kalia mengajak Anida untuk duduk, kasihan jika ibu hamil harus berdiri terlalu lama. Meskipun Kalia tidak pernah hamil, setidaknya Kalia tahu cara memperlakukan ibu hamil dengan baik, salah satunya ya, mengajak Nida duduk. Hehe.
“gimana si dedek, rewel?” Kalia mengusap perut buncit Anida. Rasanya begitu senang melihat Anida kini, semoga sepupunya ini selalu sehat dan bahagia.
“alhamdulillah dedeknya engga rewel teh” jawab Nida dengan senyum lembutnya
“oh iya, berapa bulan? Udah ada delapan bulan?”
“belum, baru tujuh bulan”
“aku pikir tujuh bulan, tapi udah usg? Laki-laki atau perempuan?”
“alhamdulillah perempuan teh, sudah lengkap deh sekarang, hehehe”
“wah alhamdulillah, udah punya yang ganteng dan sekarang si cantik”
“terus kamu kapan Kal? Anida aja udah mau dua”
Kalia lagi-lagi memutar bola matanya saat tiba-tiba suara sang nenek masuk kedalam gendang telinganya, kenapa sih sang nenek selalu berhasil merecokinya. Apakah sang nenek terlalu gabut? Kalau iya, next time Kalia akan membelikan sang nenek puzzle yang berukuran besar, biar otak sang nenek yang bekerja keras, bukan malah mulut nyinyirnya.Atau Kalia berikan ponsel baru dengan banyak aplikasi game agar bisa mabar. kan rasanya itu bisa lebih berfaedah, dibandingkan menjadi seperti hantuyang selalu muncul tiba-tiba.
“ya nantilah, pasangan bikinnya aja belom ada” jawab Kalia dengan kesal
“makanya, carilah”
“cari, emang uang pake dicari” sahut Kalia lagi
“kamutuh ya kalau dikasih tahu, nyaut terus”
“ya lagian nenek ngomong itu mulu, gak capek?”
“kamu capek gak hidup sendirian?” Sang nenek balik bertanya
“engga, biasa aja tuh” Santai Kalia
“Kalia, nenek serius!” Bentak sang nenek terpancing emosi
“Kalia juga serius nek, kenapa sih nenek suka benget ngomongin jodoh atau nikah? Kalia yang ditanya aja sampe capek dengernya, apalagi buat jawabnya, gak minat”
“ya abis kamu mau sampe kapan kaya gini terus, liat Anida, dia bahkan udah hamil anak kedua. Kamu malah pacar aja gak ada Kal, terakhir kamu bawa Bagas, itu juga berapa tahun yang lalu dan sempe sekarang malah gak ada kabar. Denger Kal, kalau udah perawan tua, gak bakal ada yang mau sama kamu!” Jelas sang nenek. Tapi sayang, Kalia memilih mengikuti apa kata sang bunda dan abi untuk tidak usah di dengar!
“nek, udah. Teteh Kalia kan sibuk kerja, nanti kalau udah waktunya pasti ada kok. Nida kan nikah karena memang dulu gak lanjut sekolah, Nida juga gak kerja jadi saat itu Nida cuma punya pilihan untuk menikah, kalau Nida lanjut sekolah dan kerja, belum tentu juga Nida sekarang udah nikah, semua ada jalannya masing-masing” jelas Nida. Hal ini yang membuat Kalia ingin melihat Nida bahagia.
Perempuan hamil ini memang dulu sempat putus sekolah, dia hanya menempuh pendidikan sampai SMP, ekonomi menjadi pemicunya, sempat Abi Kalia ingin membantu, tapi ditolak, entah karena apa yang pasti mereka tidak mau menerima dan terpaksa Nida tidak melanjutkan sekolahnya. Tapi sekarang ekonomi keluarga Nida bisa dibilang cukup maju. Adik Nida yang berjumlah dua orang bisa melanjutkan pendidikannya dengan lancar. Satu sudah lulus SMA, tidak ingin melanjutkan ke bangku kuliah, dia lebih memilih untuk bekerja, sedangkan adik bungsu nya kini berada di jenjang SMA.
“tuh kan nek, semua punya jalan masing-masing”
Sang nenek langsung menatap Kalia sinis “kamu emang bebel kalau dibilangin, gak suka nurut” Ucap sang nenek dengan kesal
“yang penting Kalia nurut sama bunda dan abi” Kalia bangun, bersiap untuk pergi guna menghindar dari sang nenek. Bisa-bisa perang dunia terjadi kalau Kalia tidak langsung pergi.
“udah ah, Kalia mau ketemu teh Lulu” lanjut Kalia sebelum benar-benar pergi.
Kalia menghela nafas, menghadapi neneknya yang keras kepala memang tidak akan ada akhirnya. Bukan Kalia tidak sayang neneknya itu, hanya saja sang nenek terlalu mengatur Kalia dan memaksakan Kalia untuk sama dengan orang lain yang bahkan Kalia saja tidak kenal. Itu sungguh menyebalkan. Coba sang neneknya bisa sedikit manis atau setidaknya libur bertanya tentang jodoh, Kalia pasti cinta banget sama sang nenek.
***
“teh” Panggil Kalia dengan setengah badan masuk kedalam kamar yang biasa Lulu pakai
“eh Kal, sini masuk” suruh Lulu
Kalia masuk, langsung menghempaskan tubuhnya di samping sang sepupu yang tengah menonton video di Youtube.
“pasti berantem lagi sama nenek” tebak Lulu dengan tepat sebuah hal yang biasa dia lihat jika kedua orang beda generasi itu bertemu.
“iya, nenek kalau di deket aku mana bisa berhenti nyinyir, ngajak ribut mulu yang ada, coba sehari aja manis sama cucunya sendiri, cinta mati aku sama nenek” kesal Kalia
“teteh juga dikamar terus pasti ngehindarin nenek kan?” tebak Kalia kali ini
“hahaha, kamu mah emang paling tahu banget deh Kaliaaa” Lulu menyimpan ponselnya, mengubah posisi tidurnya menyamping, menghadap Kalia.
“aku itu gak pandai buat balas omongan nenek, gak kaya kamu Kal, jadi menghindar adalah pilihan yang terbaik” Jelas Lulu kemudian.
Kalia menghela nafas, meratapi nasibnya dan nasib sang sepupu. “kenapa hidup kita gini banget ya teh”
“teteh juga gak tahu, tapi mau gimana lagi. Kalau bisamah teteh juga mau manis-manis terus hidupnya”
“iya, dan kalau bisa punya nenek gak cerewet banget.”
“hahaha, kalau itu sih susah banget Kal. Kamu yang sabar aja ya, sekarang kamu jadi cucu paling tua yang belum nikah, jangan dijadiin beban, jalanin apa yang kamu mau, gak usah mikirin omongan nenek”
“teteh juga ya, jangan pikirin omongan nenek, teteh juga yang sabar, dede bayi pasti datang”
Kalia tersenyum, memeluk sang sepupu yang di tahun ke tiga pernikahannya belum juga dikaruniai anak. Lulu ini menikah selang dua minggu dari pernikahan om Kalia. Saat ini om Kalia sudah memiliki anak berumur dua tahun. Oleh karena itu, selain Kalia, Lulu juga menjadi sasaran empuk sang nenek.
“teh, kayanya mau sehebat apapun karir kita, mau sekaya apapun kita, sepintar apapun kita. Kita itu gak bakal dianggap sama nenek kalau belum menikah atau belum punya anak. Patokan perempuan sukses buat nenek kayanya cuma nikah dan punya anak. Padahal sukses bukan itu aja” curhat Kalia yang kini memeluk Lulu.
“iya, padahal jodoh dan rezeki hanya Allah yang tahu, teteh juga belum punya anak bukan berarti gak ikhtiar, nenek aja yang gak liat itu” balas Lulu.
Kalia mengangguk, setuju dengan ucapan sang sepupu. Kalia juga tahu bagaimana usaha yang dilakukan sepupunya itu agar bisa mendapatkan momongan, mulai dari medis hingga alternatif, tapi mau bagaimana lagi jika Allah memang belum memberikan kesempatan? Mungkin kalau anak bisa dibuat dari terigu, Kalia yakin jika sepupunya itu sekarang sudah punya pabrik anak yang besar. Tapi itukan mustahil.
Dan segala usaha yang dilakukan Lulu dan suamianya seolah tidak terlihat oleh sang nenek. Mungkin akan terdengar wajar jika pasangan tersebut tidak berusaha, tapi tidak untuk Lulu. Bahkan Kalia ingat sekali saat sang nenek memarahi sepupunya itu karena belum punya anak. Sampai bilang jika Lulu harus bersiap-siap jika suatu saat sang suami meninggalkan dia karena belum juga diberi keturuanan. Bukahkan itu jahat? Kalia pikir, sebagai nenek seharusnya memberika semangat, membesarkan hati Lulu, bukan malah bicara jahat.
“tapi A Reihan gimana teh?”
“alhamdulillah, A Reihan juga ngerti banget Kal. Kita berdua sama-sama sehat dan memang belum punya momongan karena Allah belum mempercayakan itu. A Reihan selalu kuatin teteh kalau teteh lagi down bagaimanapun, anak itu kan Rezeki dari Allah dan Rezeki adalah rahasianya-Nya”
Kalai tersenyum mendengar jawaban Lulu, Sepupunya ini memang luar biasa sabar. “alhamdulillah ya teh, A Reihan baik”
“iya, alhamdulillah, teteh bersyukur banget punya suami kaya A Reihan”