Weekend sudah selesai, itu artinya semua kembali kepada kesibukan di hari senin, Kalia terpaksa memutuskan berangkat dari Bogor menggunakan kereta commuter line ke Jakarta. Awalnya dia ingin kembali di hari minggu, tapi bundanya memaksa untuk Kalia kembali hari senin pagi saja. Katanya masih kangen banget sama anak sulungnya itu.
Setelah menahan sabar dan lelah, Kalia akhirnya bisa bernafas lega saat kakinya menginjak stasiun tujuan. Kereta di hari senin memang luar biasa. Apalagi saat masuk gerbong perempuan, rasanya Kalia seperti akan masuk medan perang. Tapi setidaknya itu lebih baik, karena meskipun berdesakan, mereka masih sesama perempuan.
Pernah suatu hari Kalia terpaksa masuk ke gerbong laki-laki, jika suasana senggang, biasanya laki-laki yang ada disana akan mengalah dan merelakan tempat duduknya untuk Kalia.Tapi hari itu benar-benar padat, jangankan memikirkan untuk memberi duduk kepada yang lain, bergerakpun tidak bisa. Akhirnya Kalia pun harus berdesakan, tubuhnya benar-benar menempel dengan penumpang lain yang berbeda jenis dan itu benar-benar menyiksa. Hingga Kalia memutuskan untuk turun di stasiun selanjutnya dan melanjutkan perjalanan menggunakan ojek online. Selain risih karena berdesakan dengan lain jenis Kalia mencoba menghindari jenis kejahatan lain, seperti pencopetan atau bahkan perbuatan tidak menyenangkan.
Sebelum memesan ojek online untuk melanjutkan perjalanan menuju kantornya, Kalia singgah di kedai roti yang cukup khas dan selalu ada di stasiun. Pokonya, identitas roti stasiun rasanya cocok untuk kedai roti yang Kali kunjungi ini. Sebuah roti berbentuk bulat mirip bakpau dengan wangi kopi yang khas.
"mau pesan apa kak?" Tanya pegawai yang berdiri dibelakang mesin kasir dengan ramah
"rotinya satu sama minuman chocolate ya mba" pesan Kalia setelah membaca daftar menu minuman yang ada di hadapannya.
"minumnya dingin atau panas kak?" Tanya sang pegawai lagi dengan ramah
"dingin, boleh"
"baik kak, ada tambahan?"
"tidak, terimakasih" jawab Kalia dengan sopan
"totalnya 42 ribu kak"
Kalia memberikan satu lembar uang pecahan lima puluh ribu, lalu bergeser setelah mendapat kembalian dan memberikan pengunjung lain untuk memesan.
Tidak butuh waktu lama Kalia menerima pesanannya, Setelah mengucapkan terima kasih Kalia keluar dan memesan ojek online-nya. Jarak kantor Kalia dengan stasiun tidak terlalu jauh hanya saja jika berjalan lumayan lelah dan bikin tampilan lepek karena keringat.
Kalia menunggu di titik penjemputan sambil meminum es chocolate nya.
“Mba Kalia?” tanya driver ojek
“betul Pak”
Kalia menerima helm dari sang driver. Beruntung dia mendapatkan driver dengan motor sejuta umat yang bongcengable. Jenis motor matic yang sering dijadikan konten di media sosial oleh orang-orang yang memiliki pasangan. Gak uwu katanya kalau gak boncengan naik si motor jenis ini.
“sudah siap mba?”
“sudah pak”
***
“weitsss, roti stasiun, enak nih”
Kalia langsung menatap tajam pada Ando, teman satu departemennya. “gak ada minta-minta. Gue beli satu doang” Ucap Kalia sambil berjalan ke meja kerjanya.
“pelit banget ibu Kalia ini” jawab Ando dengan wajah sok sedihnya
“pelit pangkal kaya”
“pelit pangkal jomblo kalau lo!”
“enak aja lo! Mana oleh-oleh buat gue?” Todong Kalia. Ando ini memang baru pulang dari Singapura, organisasi tempat Kalia bekerja baru saja mengadakan kerjasama dengan salah satu organisasi di Singapura dalam bidang kesehatan terutama kanker pada anak.
“gue kerja disana, bukan jalan-jalan” Sahut Ando
“halah, basi! Lagu lama! Itu acara gak 24 jam kalau lo lupa, mustahil lo gak ada waktu buat beli oleh-oleh”
“anjir ya Kal, lo bisa aja nyaut nya”
“lo yang b**o ngeles nya” Kalia tersenyum mengejek.
“amit deh, pantes lo jomblo. Pedes omongan lo” Sindir Ando lagi
“dih, dari tadi lo bawa status mulu. Mentang-mentang pacar lo banyak,kamvret sekali anda” Ando ini memang tipe laki-laki minta di tempeleng. Jumlah pacarnya mungkin bisa membentuk tim futsal. Selain itu, pacarnya menyebar di berbagai daerah. Tidak ada yang di Jakarta, katanya seh sengaja. Biar bisa ngaku-ngaku jomblo kalau ketemu cewe cantik lagi.
“Kalia, Language” Tiba-tiba suara bang Adam memperingati Kalia. Laki-laki itu baru saja masuk ruangan.
“jangan biasakan di dalam kantor dan di tempat nongkrong. Sudah bagus di beri kelonggaran dengan berbahasa santai dalam ruangan. Tapi tidak berbicara kasar” jelas Adam lagi
“iya bang” sahut Kalia.
“noh denger, anak perempuan gak boleh ngomong kasar”
Kalia langsung menatap sinis Ando, meminta agar laki-laki itu diam. Dia keceplosan bicara kasar juga gara-gara laki-laki itu terus memancing kesabarannya.
“lo juga Do, daripada ngobrol. Mending lo bikin laporan, setengah jam lagi gue harus udah ada di meja gue”
Wajah Ando langsung berubah lesu. Satu hal yang dia tidak suka jika ditugaskan melakukan peliputan keluar kota atau luar negeri, laporan! Dia benci sekali.
Kalia menahan senyum, Ando yang melihat itu langsung melotot pada Kalia yang dalam hatinya tengah mengejek dirinya.
“Kal, gue minta tolong buat lo sortir berita yang masuk email. Lo pilih yang menurut lo bagus dan layak, setelah itu lo kirim balik ke gue. Dan kalau nemu berita bagus tapi redaksinya kurang, tolong lo benerin dulu baru setor lagi”
“oke bang” jawab Kalia langsung.
Melakukan pengecekan email adalah suatu hal yang wajib setiap harinya, apalagi di pagi hari. Email tersebut datang dari orang-orang yang dengan suka rela memberikan informasi tanpa meminta bayaran atau boleh dibilang sebagai kontributor. Baik itu berita sosial, kesehatan maupun budaya. Karena diwebsite ada kolom tersendiri yang menyediakan berita dari para kontributor.
Selain itu, sortir email bertujuan untuk memilah topik mana yang boleh naik mengisi kolom umum di website maupun aplikasi. Karena jangan sampai ada berita yang mengandung sara maupun ujaran kebencian yang lolos. Bahkan seputar politik pun tidak boleh dibahas. Hal ini dilakukan agar tidak adanya kaum pro mauun kontra. Lagipula organisasi tempat kalia bekerja memang tidak memiliki unsur politik. bergerak demi kebaikan masyarakat.
“email yang masuk banyak Kal?” tanya Ando sambil melirik layar komputer Kalia.
“gak usah nanya, fokus aja ngerjain laporan lo” Jawab Kalia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Dia peka kok dengan maksud pertanyaan Ando, kalau pria itu tahu email yang masuk sedikit, sudah jelas dia akan meminta bantuan Kalia untuk membuat laporan.Diasih Ogah!
“Kal, nanti langsung kirim email gue ya, gue mau rapat dulu sama pak Evan” ucap Adam sekaligus pamit.
“oke” lagi-lagi Kalia menjawab tanpa memindahkan pandangannya. Pak Evan itu kepala departementnya, atasan bang Adam k****t jin. Orangnya masih muda, ganteng, tapi sayang, b******k.
***
Selesai melakukan sortir pada email yang masuk, Kalia memutuskan untuk menemui Chiara, tadi pagi saat di kereta dia memang meminta tolong agar Chiara membawakan dia pembalut.
Kalia tersenyum ramah saat tidak sengaja bertemu Andi, salah satu staff keungan, sama dengan Chiara.
“Chiara ada?” Tanya Kalia langsung.
“ada, mau masuk sendiri atau gue panggilin?”
“boleh deh panggilin”
“oke, wait ya”
“sip, makasih”
Andi masuk kedalam ruangannya lagi, tidak berapa lama Chiara keluar dengan membawa pouch ungu milik Kalia.
“thank you honey” ucap Kalia setelah menerima pouch ungu yang Chiara bawa
“datang telat gak lo?”
“engga dong, gue pagi banget dari Bogor” Aku Kalia dengan bangga
“tumben”
“enak aja! Biasanya juga gak telat ya!”
“halah, mitos. Udah ah gue mau balik kerja”
“okay, makan siang bareng”
“iye, udah sana” usir Chiara langsung membuat Kalia mengerucutkan bibirnya. Jahat! Untung sahabat!
Kalia langsung menuju toilet, rasanya sudah tidak betah dan ingin segera ganti. “eh Kal” sapa Manda salah satu orang di bagian DepKes, seumuran Kalia tapi selalu ingin di panggil kakak, karena merasa dia lebih senior.
“iya kak Manda” sapa Kalia balik dengan senyum cerahnya
“nanti kamu liputan lagi ya Kal”
“liputan apa kak?” tanya Kali bingung seingat dia, bulan ini dia tidak mendapatkan jadwal untuk peliputan acara di departemen kesehatan.
“lho, Adam belum bilang? Katanya liputan nanti di ganti sama kamu”
Sialan si k****t jin, selalu seenak jidat ganti jadwal. Geram Kalia, kenapa sih harus selalu dia yang gantikan? Kenapa bukan yang lain?
“belum bilang kak” jawab Kalia jujur
“oalah, coba aja tanya langsung sama Adam”
“iya kak, nanti aku tanya langsung. Aku permisi” pamit kalia langsung dan memasuki bilik toilet. Adam benar-benar menyebalkan! Kalau begini untuk apa mereka selalu rapat setiap awal bulan menentukan jadwal peliputan jika akhirnya banyak yang berubah juga. Kesal!
***
Dengan wajah kesal Kalia kembali ke ruangan, dia sudah tidak sabar untuk protes kepada Adam yang dengan seenaknya merekomendasikan dirinya untuk peliputan.
“bang Adam mana?” Tanya Kalia langsung pada Melati, teman satu tim nya. Sepertinya perempuan itu datang terlamabat. Karena saat Kalia keluar ruangan, Melati masih belum datang.
“rapat lagi, tadi sempet kesini buat ambil flashdisk dan lanjut rapat sama pak Evan” jelas Melati
Kalia menghela nafas lalu duduk di kursi miliknya.
“kangen lo sama bang Adam?” tanya Ando yang masih mengerjakan laporannya
“ngaco lo! Kalau kerja, kerja aja! Jangan banyak omong!” kesal Kalia
Ando langsung mengalihkan pandangannya pada Kalia, wajahnya begitu dibuat menyedihkan “bantuin gue dong Kal”
“dih, ogah! Kerjain sendiri!”
“ko adinda tercinta gak mau bantuin kakang mas?”
“jijik! Kerjaan gue juga masih ada”
Adam menggelengkan kepalanya diikuti telunjuk yang bergerak ke kanan dan kiri “tidak, adinda berbohong, kakakng tahu kalau kerjaan adinda sudah selesai”
“bang, mending diem. Ini gue lagi ngedit puyeng dengernya!” protes Melati, dia memang bertugas melakukan pengeditan, membantu Adam.
Pintu ruangan terbuka, orang yang dicari Kalia akhirnya muncul.
“bang! Kok lo bilang ke orang Depkes kalau gue yang mau liput acara mereka” Protes Kalia langsung. Sorry to say dia gak perlu basa-basi lagi sama manusia ini.
“emang kenapa?”
“lah kok lo nanya lagi, lo sendiri kenapa rekomen nama gue? Kan tahu sendiri itu bukan jadwal gue, jadwal lo!”
“gue gak bisa Kal”
“gak bisa mulu. Gue juga gak bisa” lebih tepatnya gak mau, anak Depkes banyak yang nyebelin. Lanjut Kalia dalam hati.
“tolong dong Kal, terakhir deh. Gue gak bisa”
“bang, kalau kaya gini, ngapain tiap bulan kira rapat, ngumpulin agenda dari setiap departemen, bagi-bagi tugas peliputan, harusnya lo bisa nolak urusan lo yang lain saat lo sendiri udah tahu kalau lo ada kerjaan”
“iya Kal, sorry tapi gue bener-bener gak bisa”
“ya gue juga gak bisa, minta ganti yang lain jangan gue” tegas Kalia. Sejujurnya ini pertama kali Kalia melakukan protes keras seperti ini kepada Adam, rasanya dia benar-benar sudah teramat kesal pada pria itu. Semakin hari, semakin bertindak semaunya sendiri.