4. Jodoh Itu Cerminan Atau Pelengkap

1530 Kata
Karena pekerjaan Kalia tidak begitu banyak hari ini, jadi Kalia bisa mendapatkan jam makan siangnya dengan tepat waktu. “udah mau pergi Kal?” tanya Ando “yomsss, duluan ya” “eh nitip lah, lo mau makan apa?” “belom tahu, gue mau makan bareng Chia” “ah elah, pasti lama baliknya” “jadi lo mau nitip gak?” “gak jadi deh, gue pesen online aja. Nunggu lo berdua selesai makan siang, bisa-bisa lewat jam makan gue. Laper gue keburu meluap” jelas Ando, kalau namaya Chia dan Kalia sudah duduk bareng sambil ngobrol, mana bisa sebentar. “hahaha, okedeh. Gue pergi duluan” pamit Kalia sambil membawa dompet dan ponselnya. “Mel, gue duluan ya” “iya mba, silahkan” Jawab Melati yang sedang memainkan ponselnya Kalia langsung menuju bagian keuangan, berharap kalau Chiara juga tidak banyak pekerjaan dan bisa makan siang tepat waktu. “eh Kalia, pasti mau cari Chia” Sapa Andi lagi yang baru keluar ruangan “iya bang, Chia masih kerja?” “engga, udah selesai kerjaan dia. Mau pada makan siang ya?” “iya bang” “makan dimana?” “belum tahu nih bang” “yaudah deh, duluan ya Kal” pamit Andi “oke bang” Kalia langsung mengetik pesan pada Chiara, memberi tahu bahwa dia sudah berada di depan ruangan Chiara. Berselang beberapa menit, Chiara muncul juga membawa ponsel dan dompetnya. “makan dimana kita?” tanya Kalia. Mereka berdua sudah beriringan menuju keluar gedung. “gue lagi pengen bakso nih Kal” jawab Chiara “boleh lah, tadi lo sarapan gak?” “sarapan, gue makan roti” “yaudah, jadi beli bakso nih?” “iya, ayok” “jalan kaki?” tanya Kalia lagi “iya! Cuma lima menit doang. Lagian kita berdua gak ada yang punya kendaraan” Kalia dan Chiara memang tidak memiliki kendaraan sendiri, mereka berdua lebih nyaman menggunakan kendaraan umum. Selain lebih murah, mereka hanya tinggal duduk manis atau berdiri jika tidak kebagian tempat duduk. Desak-desakan masih wajar, salah satu konsekuensi dari menaiki kendaraan umum, lagipula tersedia zona khusus wanita, jadi tidak begitu masalah. Kalia sendiri bisa mengendarai motor, tapi hanya jenis matic. Sering kali sang Abi menawari Kalia untuk membawa motor, tapi Kalia menolak. Sedangkan Chiara, perempuan itu juga bisa naik motor, tapi hanya di jalur lurus dan hanya dia saja pengguna jalan itu. Kalau belok? Ya dia turun dan menuntun motornya untuk berbelok. Bagaimana? Ajaib sekali talenta Chiara. “Eh Kal” Panggil Chiara, keduanya masih diajalan menuju tukan bakso langganan. “apaan” “tadi bang Andi ngomong sesuatu sama gue” “apaan? Demen sama lo?” “dih ngaco!” Chiara memukul lengan Kalia “santai bu, terus ngomong apa? Pinjem duit? Jangan dikasih! Bentar lagi kita bayar kosan. Hahaha” “iyalah. Hebat banget gue minjemin duit di tanggal tua begini. Tahu sendiri geu gak pegang tabungan” Sebenarnya, Chiara tidak punya tabungan bukan karena dia boros, tapi uang hasil kerjanya selalu dia transfer ke rekening orang tuanya. Chiara masih memiliki adik yang berkuliah dan dia ikut membantu membiayai. Sebenarnya, orang tua Chiara masih berkecukupan, hanya saja Chiara kekeuh ingin membantu dan meminta untuk orang tuanya menabung guna di hari tua. Paling Chiara hanya mengambil uang untuk bayar kosan, uang makan dan uang untuk keperluan lain yang bisa dia belikan untuk skincare atau baju apapun itu yang mendesak. “dia ngomongin lo” “hah? Gue? Emang gue kenapa?” heran Kalia “entar gue jelasin kalau udah di tempat bakso, ngobrol sambil jalan gini lama nyampe cuy, bisa-bisa gak kebagian tempat duduk nanti”   *** “jadi, bang Andi ngomong apa tentang gue?” todong Kalia setelah pesanan bakso mereka sedang dibuat,bersyukur mereka masih dapat kursi. “kepo sama lo kayanya Kal” jawab Chiara “maksud lo” “ya dia tanya-tanya, kaya lo sebenernya udah punya pacar atau belum atau umur lo berapa, demen kali sama lo” “dih engga ah, lo jangan jawab kalau dia nanyain gue. Lo sendiri yang bilang kalau orang itu gak bener” “tenang, gak gue jawab aja kalau dia jangan kepo nanti sakit hati karena akan langsung tersadar kalau terlalu sulit meraih lo” “bahasa looooo” “hahaha. Udahlah. Kita abaikan orang itu. Jadi gimana? Minggu kemarin lo ribut lagi gak sama nenek lo?” “seperti biasa, hamba adalah cucu durhaka. Emang pernah kalau kita ketemu gak adu mulut?” Chiara langsung tertawa puas, kapan sih dia pernah salah dalam menebak kondisi pertemuan cucu dan nenek tersebut. “puas lo ketawa! Sampe kenyang kalau bisa!” kesal Kalia “emang nenek lo kelewat ajaib ya Kal, mau sampai kapan gitu terus, untung nenek gue gak gitu” jelas Chiara setelah meredakan tawanya. Hidup lama dengan Kalia memang membuat Chiara banyak tahu tentang keluarga Kalia. Apalagi Chiara sendiri sudah dianggap seperti anak oleh kedua orang tua Kalia. “tahu deh, ampun. Maksud gue tuh ya, kalau mau gue cepet-cepet dapet jodoh, mending banyakin doanya, jangan banyakin ngomelnya” rutuk Kalia “nenek lo bukan nenek zaman now” “emang, tapi nih Chi, pas kumpulan gitu gue selalu kasian sama teh Lulu” Belum sempat Chiara membuka mulut, bakso pesanan mereka datang. “makasih mba” ucap Kalia “nah iya, lo sih mendinglah bisa nyaut terus kalau nenk lo ngomong, sepupu lo itu kan pendiem, kalem banget” kata Chiara, mulai meracik baksonya agar pas selera. “nah itu. Untung aja suaminya baik banget. Sabar juga. Emang jodoh cerminan kali ya” “terkadang enggak juga sih Kal” Chiara mulai memakan bakso miliknya begitupun Kalia. Selera keduanya hampir sama jika memakan bakso, tidak banyak kecap, cukup asin dan pastinya pedas tapi lebih pedas baksomilik Kalia. “maksud lo?” tanya Kalia sambil mengunyah Chiara meneguk minumannya, sepertinya kali ini dia terlalu banyak menuangkan sambel pada kuah bakso miliknya. Karena baru suapan pertama lidahnya sudah terasa kebas. “kadang lo pasti pernah liat cowoknya kalem dan ceweknya cerewet atau sebaliknya. Terus ceweknya baik cowoknya fuckboy. Intinya satu pasangan sifatnya positif dan satunya lagi negatif. Itu artinya jodoh sebagai cerminan diri itu gak relevan. Gue sih mikirnya kalau jodoh itu saling melengkapi. Gue cerewet banget, setidaknya gue pengen punya pacar yang kalem dan gak cerewet kaya gue misalnya. Tapi tentunya pelenggkap di hal baik aja ya. Tahu deh, kalau ngomong begitu gak bakal ada abisnyanya. Intinya jodoh itu rahasia Tuhan, baik dan buruknya menurut kita belum tentu menurut Tuhan. Tapi tetep pandangan gue kalau jodoh itu pelengkap bukan cerminan” Jelas Chiara. Setelah lidahnya membaik dia mulai kembali menyuapkan baksonya, setidaknya kuah baksonya sudah tidak terlalu panas. Karena kuah bakso yang panas dengan rasa yang pedas adalah duet maut yang menyusahkan. “iya sih, gue setuju. Buktinya gue yang normal malah sempet dapet pacar yang gay” Balas Kalia lalu tertawa “yeuuu, itu bukan jodoh keleus. Buktinya lo udah pisah sama si b******k itu” kesal Chiara. Meskipun Bagas, mantan Kalia itu adalah sahabatnya juga, tapi apa yang dia lakukan benar-benar jahat. Chiara dendam dengan orang itu. “iya. Iya. Bisa di bakar abi gue kalau tahu anaknya masih pacaran sama model begitu” Kalia menyedot minumannya, mengusap matanya yang berair karena pedas dengan tissue. “pedes banget. Ini cabe biasanya tiga sendok aja gak pedes” “iya. Gila sih cabenya pedes banget” Chiara mengusap idungnya yang berair. Rasanya lidahnya terbakar. “bisa panas nih perut gue” “oh iya Kal, nanti malem pada ngajak ngumpul” “siapa? Deni?” tanya Kalia “bukan, Dodi yang bilang. Katanya nanti malem kita ngumpul, udah lama gak kumpul katanya” Jelas Chiara. Selain Chiara, Kalia memiliki sahabat lain. Ada Dodi, Deni, Surya dan Zidan.Bisa dibilang mereka satu geng. Dulu ada Bagas juga yang menjadi mantan Kalia. Tapi setelah selesai Kuliah Kerja Nyata atau KKN. Bagas menjauh. “boleh, berarti pulang ngantor langsung ke tempat, gak usah ke kosan dulu” ucap Kalia “oke, nanti gue tanya lagi deh mau pada kumpul dimana” Denga keringat dan air mata, Kalia dan Chiara berhasil menghabiskan bakso masing-masing. Masing-masing satu mangkuk bakso dengan dua gelas es teh manis cukup membuat perut mereka penuh. “kenyang banget” Kalia mengusap perutnya “jangan langsung balik kantor ya, duduk dulu bentaran. Masih kenyang banget” pinta Chiara “iya”   ***   “gimana? Masih lama buswaynya?” Tanya Kalia pada Chiara. Keduanya kini sudah ada di halte pengumpan sembrang kantor mereka. Jika di halte besar tersedia layar yang menyediakan infromasi kedatangan busway. Lain dengan di tempat mereka menunggu, untuk mengetahui kedatangan busway, mereka harus menggunakan aplikasi. “lima menit lagi Kal” jawab Chiara “oke, moga gak penuh ya” “iya, moga aja orang lain keluar kantornya pada telat” kata Chiara lalu tertawa. “jadi nih kita kumpul?” “jadi, langsung ke Memo katanya” Memo itu adalah sebuah tempat makan yang biasa menjadi tempat kumpul Kalia dan yang lain sejak masih di bangku kuliah. Beruntungnya, setelah selesai kuliah dan mulai kerja para sahabatnya ini masih tinggal berdekatan. “okedeh, tapi bilang jangan pada telat” pinta Kalia. Karena dibandingkan Kalia dan Chiara, para jantan itu selalu telat. Alasannya saling tunggu. Mentang-mentang kosan mereka beda kamar. “iya, gue udah bilang, kalau sampe sepuluh menit kita nunggu di Memo mereka gak datang, kita pulang” “kayanya makan dulu kali Chi, gak malu apa udah sepuluh menit diem tapi gak pesen?” “lah, iya ya. Malu” jawab Chiara lalu keduanya tertawa. Jika mereka berdua, hal sekecil apapun rasanya bisa begitu lucu. Kali bersyukur memiliki Chiara sebagai sahabatnya. Perempuan itu selalu berdiri menjadi pendukungnya dan penyemangatnya. Menghibur Kalia saat perempuan itu sedih, rasanya semua cukup. “tuh datang, tumben gak bohong aplikasinya” Tunjuk Chiara pada busway yang sudah terlihat keberadaannya. Memang biasanya aplikasi penyedia informasi tersebut sering meleset, di aplikasi estimasinya lima menit tapi kenyataannya sepuluh menit baru datang. “yes gak penuh” senang Chiara saat meliat busway tersebut tidak terisi penuh oleh penumpang. “berkah kita Chi” timbal Kalia. “iyalah, gue anak solehah, jelas berkah” sombong Chiara “yeuuu, anak solehah gak ada yang modelnya macem lo” Busway mereka berhenti, pintu terbuka otomatis dengan sambutan ramah dari petugas. “yang turun dulu ya kak” ucap sang petugas dengan ramah. “silahkan kak” lanjutnya setelah tidak ada lagi penumpang yang turun “terima kasih mas” jawab Kalia. Keduanya kemudian naik. Satu legi keberuntungan yang mereka dapat, yaitu tempat duduk. Tempat duduk menjadi hal langka jika mereka pulang bekerja, biasanya mereka hanya bisa berdiri. “gue bilang apa, rezeki anak solehah” bisik Chiara lagi “iyadah, iya. Anak soleh solihun” jawab Kalia yang langsung mendapat pukulan dilengannya dari Chiara “enak aja!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN