Tidak terasa, sudah enam bulan berlalu, sama seperti hari-hari sebelumnya, semua masih berjalan di dalam rotasinya. Tapi yang berbeda adalah Kalia yang benar-benar sudah membaik. Sudah bisa tertawa dengan lepas, kalau urusan hati, jangan ditanya, tentu saja masih ada luka, masih ada takut dan trauma untuk memulai yang baru. Bagi Kalia, hidup yang dia jalani sekarang ini sudah cukup, dia bisa tertawa dan bebas. Jadi tidak perlu repot-repot untuk memikirkan pasangan yang Kalia takut hanya akan menambah luka dan menghancurkan tawanya sekarang ini.
Dia punya sahabat yang pengertian, dia punya keluarga yang penyayang. Apa yang Kalia mau bisa Kalia dapatkan dengan usahanya sendiri, Kalia punya penghasilan, Kalia punya karir, Kalia masih bisa merasakan tawa bahagia meskipun bukan dari pasangan. Semua sudah cukup. Sumber kebahagian tidak selalu dari pasangan, ketika kamu di kelilingi orang yang menyayangimu dengan ikhlas, itulah sumber kebahagian yang sesungguhnya.
Abi
Teh, minggu ini wajib pulang ya teh
Kalia mengerutkan keningnya, mengingat bahwa minggu ini bukanlah jadwal kumpul dengan keluarga besarnya.
Minggu ini kan gak ada kumpulan Bi, wajib banget teteh pulang? Balas Kalia
Abi
Emang bukan, kangen aja atuh sama teteh, pokonya pulang ya teh.
Kalia tersenyum melihat jawaban sang Abi, salah satu faktor yang membuat Kalia merasa bahwa dia jauh dari kata tua adalah bagaimana kedua orang tuanya memperlakukan dia, meskipun umur Kalia menurut sang nenek sudah memasuki kategori perawan tua, tapi kedua orangtuanya malah terkadang memperlakukan Kalia seperti gadis kecil. Kalia masih sering di suapi, atau dibawa ke mini market untuk dibelikan jajanan. Ya, setua apapun Kalia, dia masih gadis kecil untuk orang tuanya. Gadis kecil yang mereka berikan kepercayaan yang begitu besar, gadis kecil yang mereka banggakan dan gasi kecil yang selalu bisa diandalkan serta gadis kecil yang begitu kuat.
Siap Abi
Kalia meletakan ponselnya setelah menjawab pesan, kembali memulai pekerjaannya yang hari ini cukup banyak.
"udah makan siang Kal?" tanya Ando yang baru memasuki ruangan
"udah, nitip Chiara tadi. Lo udah makan?"
"ini baru abis makan"
Kalia mengangguk, melanjutkan fokusnya menatap layar komputer. Dia tidak mau lembur, jadi pekerjaan harus segara dia selesaikan dan pastinya secara maksimal.
"Kal minggu ini free gak?"
"engga, gue mau pulang ke Bogor" jawab Kalia tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer
"yah Kal, daripada pulang, mending ikut gue ke puncak Kal, liputan. Lumayan dapet uang bonus. Liburan sambil kerja"
"ogah. Bilang aja lo mau gue anter"
"gitu banget Kal, gue kalau liputan weekend tuh males banget bawaannya, apalagi acara depart Kesehatan, banyak orang cerewet!"
"yaudah, gak usah datang!"
"tapi Kal, bisa-bisa gue-"
Kalia langsung menatap tajam Ando, membuat laki-laki itu langsung berhenti berbicara "diem! Gue lagi ngebut gawe, ntar kalau udah kelar baru ajak ngobrol lagi" jelas Kalia dan kembali menggarap pekerjaannya, meninggalkan Ando yang hanya bisa menghela nafas.
***
Sebelum pulang ke Bogor, Kalia terlebih dahulu mengunjungi pusat perbelanjaan untuk membeli semua pesanan kedua adiknya, Kania dan Arkan.
"mau beli apa aja nih Kal jadinya?" tanya Chiara yang ikut menemani Kalia
"Cheese cake, boba yang viral, sampe ayam KFC juga"
Mulut Chiara langsung membulat "banyak banget. Itu pesenan Kani sama Arka doang?"
Kalia menggeleng "engga, kalau ayam KFC mah abi gue Chi"
"emang disana gak ada kfc?"
"ada, cuma katanya sekalian aja"
"terus lo balik nanti pake apa? kereta?"
"pake buroq!"
Chiara langsung memukul lengan Kalia sedangkan Kalia terbahak "banyak tanya lo, kaya monyetnya Dora. Gue balik pake gojek nanti"
"j*****m lo"
"udah ah, ayo berburu" Kalia menarik tanga Chiara agar lebih cepat lagi berjalan.
Tempat pertama yang di kunjungi adalah Cheese cake, cake pesanan Kani yang katanya lagi rame benget di i********:, yang rasanya bisa bikin mau meninggal. Lebay memang. Dasar Kani korban selebgram!
Selesai Cheese cake, lanjut ke tempat boba viral, kalau ini pesanan Arka, adik bungsu Kalia ini memang paling suka namanya minuman manis asal jangan minuman keras saja. Haram!
"yang empat gak pake es ya mas" pesan Kalia
Menunggu sepuluh menit, enam cup pesanan Kalia selesai. dua cup untuk Kalia dan Chiara yang langsung di minum, sisanya tentu saja untuk Kalia bawa pulang.
"lanjut kemana kita?" tanya Chiara
"ke guardian dulu deh, gue mau beliin bunda lotion"
Chiara mengangguk sambil menyedot minumannya.
"lo ada yang mau di beli gak?" Tanya Kalia saat keduanya tiba di Guardian
"gak ada, guemah ikut selain nganter, niatnya buat jajan makanan"
"terus mau beli apa nanti?"
"pengen burger, tapi pas mau balik"
"okedeh, gue bayar dulu abis itu ke KFC, lanjut cari burger buat lo"
"santuy, cepet sana bayar"
Kalia pergi ke kasir dan Chiara menunggu di luar store, kalau di dalam dia takut khilaf, nanti yang tidak dia butuhkan malah dia beli. Gawat!
"udah? cepet banget"
"udah. gak ada antrian di kasir"
"yuklah lanjut"
Kalia dan Chiara kembali melanjutkan perjalanan mereka, mencari store yang mereka butuhkan. Beruntung burger dan kfc store nya berdekatan, jadi Kalia dan Chiara bisa pergi ke store masing-masing.
"udah semua?" tanya Kalia yang sudah menemui Chiara. perempuan itu lebih cepat selesai di bandingkan Chiara
"udah. pulang yuk"
"gak ada yang mau dibeli lagi?"
"gak ada. udah ayo balik sebelum dompet gue nangis pas nyampe rumah"
Kalia terbahak dan menyetujui permintaan Chiara.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam setengah menggunakan motor, akhirnya Kalia sampai rumah. Berhubung gojeknya tidak bisa mengakses hingga ke rumah Kalia karena kendala jarak, akhirnya sisa perjalanan Kalia meminta Kania untuk menjemputnya. Hitung-hitung sebagai bayaran untuk semua pesanan makanan.
"teh, bawa pesenan Arka gak?" tanya Arka langsung
"ari kamu, teteh baru datang udah di tanya begitu"
Arka tersenyum lebar "aku mah kan emang nungguin itunya teh"
"dasar! itu disitu, periksa sendiri, tapi belum di kasih es batu"
"iya atuh, Arka ambil es dulu, tapi naha ngan aya opat, teteh alim?"
Kalia menggeleng "teteh atos, sok weh, abi sareng bunda mana?"
"gak tahu" Jawab Arka menganggak kedua bahunya lalu pergi kedapur
"diamah ulin wae teh, itu karak pulang pas tahu teteh nyampe" Adu Kania
"sana rapihin pesenan kamu, teteh ke kamar dulu, kalau abi sama bunda datang, panggil teteh"
Kania langsung mengacungkan jempolnya dan Kalia segera masuk kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Teteeeeehhh, abi sama bunda udah pulang" teriak Kania beberapa menit kemudian.
Dengan pakaian yang sudah berubah, Kalia keluar kamar.
"si geulis, sehat sayang?" peluk Zaskia sambil mengecup pipi Kalia
"sehat Bun"
Melepas pelukan, Kalia beralih mencium tangan sang ayah.
"udah makan teh?"
"belum Bi"
"sholat zuhur?"
"belum juga bi"
"yaudah, teteh sholat zuhur dulu, nanti keburu masuk ashar, abis itu makan"
Kalia mengangguk, pergi mengambil wudhu lalu ke kamar untuk sholat.
***
Sambil menonton televisi, Kalia memakan makan siangnya.
"nambah teh" kata Zaskia yang kemudian duduk di samping Kalia.
"udah ah, kenyang Bun, ini juga masih ada"
"tadi macet gak teh?"
"alhamdulillah gak macet bun, cuma panas doang di jalan"
Zaskia tersenyum, emngusap lembut kepala sang anak yang tengah menggigit ayam miliknya.
"bun, itu aku beliin minuman"
"minuman apa teh?"
"boba yang kata Arka viral, kayanya di simpen di kulkas"
"emang teteh udah gajian?"
"belum sih"
"uang teteh kepake banyak dong, nanti bunda ganti aja"
"apasih bun, teteh ada kok"
"bener?"
"bener bunda sayang"
"yaudah atuh, nuhun, nanti bunda minum"
"berdua aja, gosipin abi pasti" Ucap Arman tiba-tiba
"apasih bi, penting banget ngomongin abi" sahut Kalia
"nambah atuh teh makannya" lanjut Arman melihat piring Kalia yang kini sudah kosong
"alim, kenyang bi, ini baru abis. Abi udah makan?"
"udah, tadi sebelum pergi"
"emang tadi pada kemana sih?"
"nganterin surat undang teh"
Kalia mengerutkan kening "surat undang siapa Bi?"
"punya temen abi, nitip katanya, sekalian bunda ikut, biasa, bunda kamumah ngintil terus sama abi" lesedk Arman
"oh, dikira ngapain, teteh mau taro piring dulu" Kalia bangun dan berjalan ke dapur untuk menyimpan piring kotor bekasnya. Mencuci tangan lalu kembali ke ruang keluarga.
"udah di makan cake nya?" tanya Kalia saat Kania sudah berada di ruang keluarga.
"belum, nunggu abi sama bunda dulu"
"yaudah atuh, siapin sana" suruh Kalia
Kania bangun, pergi ke dapur, menyiapkan cheese cake untuk dimakan bersama.
"Arkan kemana bun?" tanya sang abi
"biasa Bi, main. Kaya gak tahu si bungsu itu"
"hadeuuhh, sholat nya itu lho, harus di cerewetin mulu"
"iya, gak kaya tetehnya" bangga Kalia
"kamu juga, bandel"
"tapi sholatnya rajin bi, meskipun kadang suka telat"
"iya teh, iya. Teteh pasti udah ngerti tentang sholat, abi mah cuma bisa ingetin aja" jelas Arman
"nih, cake yang viral, rasanya kaya mau meninggal" ucap Kania semangat sambil membawa cheese cake.
"terus kalau abis makan ini langsung meninggal juga?" ledek sang Abi
"hanya Allah yang tahu bi. Mati itu di tangan Allah" jawab Kania sambil mengadahkan kedua tangannya.
Sang bunda langsung menusuk cake yang sudah di potong lebih kecil, di susulu yang lain
"gimana Kan, mau meninggal gak?" tanya Kalia
"mana ada, rasa keju inimah" jawab Kania.
"teh, abis pengen ngomong serius" Ucap Arman setelah meletakan garpu bekas cake nya.
"ngomong apa Bi?"
Arman menarik nafas panjang, menghembuskan secara perlahan "teh, teteh keberatan gak kalau Kania melangkahi teteh?"
Mata Kalia membulat, menatap Kania terkejut. "beneran Kan?"
"tanya Kalia?"
Kania mengangguk "iya teh"
"teteh gimana, keberatan? di sini, abi tidak bisa memutuskan semuanya sepihak, keputusan abi tergantung dari jawab teteh"
"aku gapapa Bi, malah aku seneng. Kania sama Radit kan udah lama juga pacaran. Asalkan keduanya benar-benar sudah siap. Raditnya juga sudah matang, sudah punya rancangan jelas rumah tangganya mau seperti apa, yang paling penting, kalian berdua menikah bukan hanya karena temen-temen kalian udah menikah"
"nah begitu, abi tanya, Kania sendiri sudah siap?"
Kania mengangguk, air mata sudah mengalir di pipinya "insyaallah siap bi"
"teteh juga ikhlas?"
"iya bi, teteh ikhlas tanpa ada beban dan paksaan. Dulu teteh pernah bilang sama Kania, kalau memang Kania mau menikah lebih dulu, silahkan dan teteh tidak mau melarang. Jangan sampai Kania dan Radit menunda rencana menikah karena tidak enak sama teteh. Insyaallah teteh ikhlas, masa orang mau ibadah teteh halangi. Teteh bahkan akan ngerasa beban kalau sampe kalian menunda nikah karena gak enak sama teteh" jelas Kalia.
Zaskia sang ibu hanya bisa menangis mendengar jawaban Kalia
"Bun, bunda juga harus siap. Jangan gara-gara kasian sama teteh. Insyaallah teteh sangat ikhlas dan gak beban, jadi bunda juga harus ikhlas, ini perihal jodoh, rahasia Allah. Kalau memang Allah mengatur bahwa Kania menikah lebih dulu, kita bisa apa selain menerimanya. Jodoh, Rezeki dan umur kan rahasia Allah Bun, cukup bunda doakan yang terbaik untuk teteh"
"teh, tadinya bunda memang ingin teteh terlebih dahulu, tapi ini permintaan mamanya Radit yang memang sudah sangat berumur"
"gapapa bunda, selama Kania dan Radit siap, bunda juga harus mendukung"
Zaskia langsung memeluk erat Kalia, menangis. Melihat bundanya yang menangis, Kalia juga ikut menitikan air mata. Dia tahu bagaimana perasaan sang bunda, dia tahu bahwa sang bunda kasihan dengan dirinya. Tapi Kalia memang dengan ikhlas dilangkah oleh Kania. Karena Kalia tahu bahwa semua sudah diatur oleh Allah.
"alhamdulillah kalau begitu, abi juga jadi tenang, bagaimanapun, Kalia itu anak Abi, Kania juga sama. Sesuai dengan jawaban Kalia, maka abi juga insyaallah akan mendukung. Nanti radit suruh datang aja Kan kesini, jangan dulu dengan keluarga, cukup dia datang sendiri"
Kania mengusap air matanya lalu mengangguk. "iya bi, nanti Kani bilangin ke Radit"
***
Seperti yang di ucapkan sang Abi, besoknya Radit benar-benar datang. Mengutarakan keseriusannya dalam menjalin hubungan bersama Kalia. Sama seperti sebelumnya, sang ayah juga setuju dengan niat baik Radit. Kemudian memnita Radit untuk datang lagi tapi bersama keluarga nya.
Kalau ditanya bagaimana perasaan Kalia, tentu saja dia senang. Tapi Kalia juga tidak bisa berbohong, terkadang hatinya bertanya, kenapa Allah memberikan rencana seperti ini? Apa yang ingin Allah berikan kepada Kalia sebenarnya hingga Kalia di uji sebegitu rupa. Di selingkuhi, kemudian di langkahi, atau memang benar bahwa Kalia sebenarnya hanya akan hidup sebagai perawan tua? Jika berpikir tentang itu, tentu saja Kalia juga merasakan sedih.
Hal lain yang menjadi kekhawatiran Kalia dengan rencana pernikahan Kania adalah omongan orang lain, sudah jelas sang nenek akan mengamuk jika mengetahui hal tersebut, oleh karena itu Kalia dan keluarga sebapak untuk tidak memberi tahu dulu kepada sang nenek. Menuru Kalia, orang-orang hanya akan berbicara yang tidak penting, bertanya kenapa tidak Kalia terlebih dahulu. Kalia benci itu, itu bukan urusan mereka, jika mereka ingin bertanya, kenapa tidak langsung kepada Allah, Tuhan yang telah mengatur segalanya. Apalagi jika sampai memberika tatapan kasihan pada Kalia. Itu yang paling Kalia benci. Kalia tidka butuh di di kasihani, Kalia butuh di doakan.
"teh, bener teteh gak apa-apa?" tanya Kania yang sedang di kamar Kalia. radit sudha pulang sejak setengah jam yang lalu.
"emang teteh kenapa?" tanya Kalia balik
"teteh ih" rengek Kania
Kalia tersenyum "lebay kamumah. Di bilang kalau teteh itu gak apa-apa"
"aku takut ngelukain hati teteh"
Kalia menghela nafas "kamu udah siap nikah?"
Kania mengangguk
"yaudah, apa yang di ragukan? Jangan mikir teteh bakal sakit hati. Teteh gak sejahat itu sampe sakit hati karena adik nya mau bahagia. Malah jadi beban buat teteh kalau kamu sama Radit nunda nikah karena nungguin teteh. Kaya di kejar-kejar utang jadinya hidup teteh" jelas Kalia
"intinya, kamu dan Radit harus sama-sama siap. Meskipun pernikahan ini di percepat karena orang tua Radit, tetep kamu harus siap lahir dan batin. Tapi inget, ketika sudah menikah, kalau ada masalah apapun coba di bicarakan dengan berdua saja Radit, jangan langsung cerita ke teteh, bunda atau ayah. Gini lho, kamu misalnya sering cerita ini dan itu, yang ada nanti teteh atau bunda dan ayah kesel. Nanti kesel kita belum hilang, kamu sama Radit malah udah kelonan. Ngerti kan? Jadi jangan gampang ngadu dan selesaikan berdua. Sakit hati keluarga itu lama ilangnya lho" jelas Kalia
Kania mengangguk mengerti "terus teteh mau apa buat ngelangkahin?"
Kalia mengerutkan kening "dalam islam wajib?"
Kania menggeleng ragu
"setahu teteh, itu hanya tradisi. Engga di kasih kado pun teteh gak masalah, Cukup kamu doakan aja yang terbaik buat teteh. Itu cukup" jelas Kalia
Kania langsung tersenyum, rasanya benar-benar bersyukur memiliki sosok seperti Kalia
"jadi, kalau kamu nanti mau kado apa dari teteh?" tanya Kalia balik
"aku bingung"
"jangan banyak mau!" peringat Kalia sambil menatap tajam Kania yang malah terbahak
"engga sih teh, santai aja"
"mau kasur? kulkas? tv? liburan?"
"gak tahu teh, aku belum kepikiran, kapan nikahnya aja belum jelas"
"sabar, bentar lagi juga Radit bawa keluarganya, eh tapi nanti teteh mau minta di beliin headset aja deh"
"buat apa?"
"buat nutup telinga dari omongan-omongan julid"
"dasar!"
"Kan, kamu kan ngelangkahi, pesan teteh, kalau sampe ada yang bicara negatif tentang pernikahan kamu, jangan di dengar, mereka tidak tahu bagaimana dalam nya keluarga kita. Gak usah di ladeni, tutup telonga kalau engga depan muka orang yang ngomong jelek kamu bilang BOCOT"
Kania dan Kalia langsung terbahak. Memang, kalau mengurusi orang julid tidak akan ada habisnya. Hanya buang tenaga dan menguras emosi, jadi biarkan saja.