Sudah hampir dua bulan berlalu sejak Kalia putus dengan Hanzzel. Semua masih berjalan normal seperti biasanya. Begitupun Kalia, semua terlihat baik-baik saja. Karena pada kenyataannya Kalia memang mencoba untuk terlihat baik-baik saja meskipun dari dalam, dia jauh dari kata baik. Bohong kalau Kalia bilang tidak sakit hati dengan apa yang Hanzel lakukan kepadanya. Kalia ini manusia, punya hati dan perasaan, mau sekuat apapun, jika hatinya yang terluka, dia akan jauh dari kata baik-baik saja. Tapi biar saja, rasanya sekarang ini Kalia sudah berada di titik pasrah. Pasrah dengan keadaan. Apalagi respon Hanzel yang bukannya meminta maaf kepada Kalia, malah seolah bodo amat. Disitu Kalia merasa benar-benar tidak di hargai. Hanzel benar-benar manusia paling jahat.
Sering kali Kalia berpikir, kenapa Allah memberikan ujian hidup seperti ini kepada Kalia, apa Allah benci kepada Kalia, tapi bukankah jika Allah memberi ujian kepada manusia artinya manusia itu di sayang Allah, tapi kenapa semua terasa menyakitkan bagi Kalia, apa ini definisi sayang tapi menyakiti? Tapi tidak, Kalia tidak boleh berpikir seperti itu, pada akhirnya Kalia tahu bahwa Allah hanya sedang membuat Kalia menjadi orang yang lebih kuat lagi. Apapun rencana Allah untuk Kalia, Kalia tahu bahwa itu yang akan terbaik untuknya. Jika memang akhirnya Kalia memang bertakdir tidak akan menikah dalam hidupnya, Kalia juga terima. Cukup jalani apa yang Allah sudah gariskan dengan sebaik mungkin.
"Kal, minggu ini jadi pulang?" tanya Chiara, keduanya tengah menonton drama Korea setelah makan malam satu jam lalu.
"jadi Chi, minggu ini ada kumpulan. Kenapa? mau ikut?"
Chiara langsung bergidik "engga, gue gak mau ketemu nenek lo"
Kalia terbahak "gapapa kali Chi, nenek gue akan dengan senang hati anggap lo cucuk nya sendiri"
"nah itu! itu yang gue gak mau, bisa kena omel mulu gue kaya lo. Makasih deh, salam aja. Gue cuku denger cerita pertempuran lo aja setelahnya"
"itu juga Chi yang gue malesin, kalau bukan karena Abi gue yang udah ngewanti-wanti buat gue datang kumpulan, ogah gue pulang. Darah tinggi mulu. Gue diem, di senggol. Gue ngomong di bilang cucu durhaka, ampun deh. Kapan nenek gue sembuh julidnya"
"nanti, kalau lo udah nikah. Di jamin, lo bakal jadi cucu kesayangan dia"
Kalia memutar bola matanya "gue nikah aja gak tahu kapan, gak bakal nikah kali"
Chiara langsung memukul lengan Kalia keras hingga Kalia cukup merasa sakit "hush! jaga omongan, kalau ada malaikat lewat dan di kabulin lo beneran gak bakal nikah gimana? gak boleh gitu"
Kalia cemberut sambil mengusap lengannya yang terasa panas bekas pukulan Chiara "ya gue juga kan gak tahu Chi, siapa tahu emang bener"
"engga. Allah ciptain kita berpasangan, kalau emang jodoh lo belum nyampe ke lo, kemungkinan dia lagi jagain jodoh orang lain, atau dia belum lahir"
"Chiara, ya kali Chi, p*****l dong gue!"
Chiara terbahak "gak ada yang gak mungkin"
"gak gitu juga tapi!" kesal Kalia. Gak mood lagi dia nonton drama. Yakali jodoh dia belum lahir, Kalia tidak siap kalau harus berbeda 24 tahun dengan suaminya kelak, tidak. Kalia tidak mau dan semoga itu tidak terjadi.
***
Kalia masih menatap tajam sang nenek, biar saja dia menjadi cucu durhaka. Toh selama ini neneknya memang memandang Kalia seperti itu. Jadi untuk apa bertingkah menjadi cucu yang sok baik? Harusnya sejak awal Kalia memang membolos dan tidak datang ke pertemuan keluarga, mengabaikan pesan sang ayah yang memintanya untuk datang.
Buktinya, kedatangan Kalia di sambut hal buruk menurut Kalia, sang nenek tanpa diskusi terlebih dahulu malah menjodohkan dirinya dengan seorang laki-laki yang Kalia tidak tahu siapa. Apalagi alasan utama sang nenek memilih laki-laki tersebut hanya karena laki-laki itu kaya. What?. Kalia tahu jika uang itu sangat penting, tapi tidak seperti ini caranya.
“Nah jadi kapan Faisal mau bawa keluarganya?” Tanya nenek dengan begitu manis pada Faisal. Lagi-lagi Kalia diberikan kejutan “wow” oleh sang nenek yang nampak begitu ramah, tapi benar-benar menjengkelkan di mata Kalia.
“bawa keluarga buat apa?” sinis Kalia langsung
“ya buat lamar kamu lah Kal” sahut sang nenek dengan senyum yang berkembang
“gak mau!” tolak Kalia langsung dengan tegas.
“lho kok?” Faisal nampak bingung dengan penolakan Kalia yang terang-terangan
“Kalia” geram sang nenek
“apa? Siapa yang mau dilamar? Kalia? Gak mau!” tegas Kalia tanpa takut
“tapi nenek sepakat buat jodohin kamu sama aku lho Kal” jelas Faisal
Kalia langsung menatap tajam Faisal “itu nenek! Bukan saya! Saya gak pernah berminat untuk dijodohkan!”
“Kalia! Jaga mulut kamu!”
“nenek yang jaga sikap nenek!” Bentak Kalia balik membuat semua orang terkejut, hilang sudah hormat Kalia kepada sang nenek. Kalia kembali menatap sinis Faisal “kamu punya apa mau lamar saya? saya bahkan tidak pernah tahu soal perjodohan ini, jadi apa yang bikin kamu yakin untuk melamar saya”
“orangtua saya kaya raya dan nenek tahu hal itu”
“pendidikan kamu?”
“hanya sampai SMA” Jawab Faisal dengan santai
“kuliah?”
“tidak minat”
“pekerjaan?”
“untuk apa saya cape bekerja jika orang tua saya kaya, gak kuliah dan gak kerjapun saya tetep bisa makan dan mendapatkan apa yang saya mau” sombongnya lagi.
“dan saya gak mau hidup dengan orang seperti kamu!” tegas Kalia langsung
“dengar, saya gak perduli mau sekaya apa orangtua kamu. Urusan harta saya bahkan bisa mencari itu sendiri. Satu lagi-" Kalia kembali mengalihkan pandangannya kepada sang nenek.
"Saya tidak akan pernah menerima perjodohan ini. Urusan kamu dengan nenek saya, jadi silahkan selesaikan sendiri!”
“Kalia!” bentak sang nenek lagi, sudah cukup dia diam sebelum cucunya ini semakin mempermalukan dirinya
“apa nek? Aku bahkan rela gak jadi cucu nenek lagi daripada harus nerima perjodohan ini” Kalia segera melangkah pergi, dia butuh waktu sendiri.
“cucu kurang aja kamu!” amuk Tati pada Kalia yang sudah pergi
“ibu!” bentak abi Kalia yang sejak tadi hanya diam
Arman menghela nafas, kecewa. “bu, ibu kelewatan. Aku yang ayahnya Kalia saja tidak pernah menjodohkan Kalia. Jodoh itu urusan Tuhan bu, ibu gak percaya Allah? Aku kecewa sama ibu” Arman menatap ibunya sendu, kali ini ibunya itu sudah kelewatan dalam mengurusi urusan pribadi anaknya.
“ibu cuma bantu anak kamu biar gak jadi perawan tua!”
“Kalia masih muda bu, 24 tahun bukan usia tua. Jangan samakan Kalia dengan anak orang lain yang bahkan aku aja gak kenal. Kalia itu anakku, tanggung jawabku, kalaupun dia harus dijodohkan, itu keputusanku sebagai ayahnya, bahkan sekalipun aku menjodohkan Kalia, keputusan tetap di tangan Kalia. Bukan ibu”
“kamu sekarang kurang aja sama ibu ya, berani bantah ibu, ibu cuma mau kasih yang terbaik buat Kalia. Lihat itu Nida, sebentar lagi dia punya dua anak. Emang kamu gak mau segera punya cucu hah?!”
“Nida dan Kalia beda, Nida punya jalan hidup sendiri begitupun Kalia. Aku gak niat kurang ajar sama ibu, aku hanya minta untuk ibu stop memaksa Kalia untuk segera menikah, Kalau ibu mau Kalia segera menikah, minta sama Allah, bukan malah maksa Kalia dan untuk urusan cucu, itu Allah yang atur, gak ada jaminan setelah Kalia menikah Kalia langsung hamil. Bukan maksud mendoakan yang buruk, tapi biar semuanya Allah yang atur” Tegas Arman.
Selama ini dia selalu meminta dengan lembut dan sopan kepada ibunya agar berhenti memaksa Kalia untuk segera menikah, tapi sang ibu seolah batu dan terus memaksa hingga kesabarannya luntur saat di pertemuan kali ini sang ibu membawa laki-laki yang akan di jodohkan dengan Kalia.
Meskipun dalam hati terdalam Arman ingin Kalia segera menikah, tapi dia tidak akan memaksakan, itu adalah hak Kalia, lagipula jika Kalia memang belum menikah, itu memang karena Allah yang belum mengizinkan. Cukup Arman mendoakan yang terbaik untuk anaknya dan menghargai setiap keputusan Kalia. Kalia sudah dewasa, Arman yakin bahwa setiap langkah, Kalia sudah memperhitungkannya dan Arman akan percaya padanya.
***
Zaskia mengusap lembut kepala anak sulungnya itu, harus dia akui bahwa mertuanya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri itu sudah kelewatan. Zaskia juga ingin Kalia menikah, tapi kalau Allah memang menentukan jika belum waktunya untuk Kalia menikah, dia bisa apa. Waktu kita dengan waktu Tuhan itu berbeda.
Kalia itu bukan anak yang selalu menceritakan kehidupan percintaannya dan Zaskia menghargai itu, itu adalah privasi Kalia, walaupun dia sendiri juga suka penasaran, toh tanpa ditanya, terkadang Kalia menceritakannya sendiri.
“Kalia gak suka di jodohin gitu Bun, apalagi cuma alasan harta, Kalia gak suka” Tegas Kalia.
Zaskia mengangguk, dia juga tidak suka dengan apa yang dilakukan mertuanya itu, dia tidak pernah mengajarkan Kalia menjadi perempuan matre, melihat laki-laki hanya karena laki-laki itu kaya. “iya, Bunda juga kecewa kok, bahkan Abi juga. Kalia itu anak Abi dan Bunda, seharusnya urusan seperti ini Abi dan Bunda yang bertanggung jawab, tapi nenek malah semudah itu mengaturnya tanpa Abi dan Bunda tahu. Abi dan Bunda memang ingin kamu menikah, tapi tidak berpikir dengan cara seperti ini, kecuali teteh sendiri yang minta, Abi sama Bunda pasti usahakan dan yang jelas calonnya bukan yang seperti itu.”
“iya Bun, pokonya Kalia gak suka di jodohin gini”
“iya teh, sekarang teteh sabar ya, gak usah marah-marah. Biar nanti urusan sama nenek, abi yang beresin”
“makasih ya Bun” Kalia memeluk sang ibu erat.
“teh, Bunda boleh tanya?”
“tanya apa Bun?” Kalia melepas pelukan dengan sang bunda
“teteh gimana sekarang? Lagi deket lagi sama orang?” Tanya Zaskia sedikit ragu, dia takut pertanyaannya itu membuat Kalia tidak nyaman tapi rasa penasarannya lebih besar.
"Kalia gak deket sama siapapun bun” Jujur Kalia
“kenapa teh? Teteh kan hebat, pinter, emang gak ada yang deketin teteh?” Zaskia mengusap lembut kepala Kalia.
Kalia tersenyum getir, bukan masalah tidak ada yang mendekati, tapi semua itu karena Kalia sendiri yang takut untuk memulai. Bahkan kalau Kalia mau, dia bisa saja langsung menggaet Ando yang begitu senang setelah tahu Kalia sudah putus. “bunda mau denger sesuatu?”
“apa teh?”
“aku sama Bagas pisah karena bagas selingkuh” lirih Kalia, dia memang tidak pernah memberitahu kepada sang bunda mengenai alasan kenapa dulu dia dan Bagas putus, rasanya terlalu menyakitkan. Bahkan hingga kini sakitnya tak kunjung hilang.
“teh” panggil Zaskia pelan ketika air mata sudah mengalir di pipi anak sulungnya itu.
“iya Bun, Bagas selingkuh” Kalia mempertegas bahwa pria yang dianggap baik oleh sang bunda itu telah menyakiti hatinya, tapi Kalia tidak akan bilang bahwa Bagas selingkuh dengan sesama jenis, biarkan fakta itu tetap Kalia simpan. Itu aib Bagas.
“itu yang buat hati Kalia sakit, kepercayaan Kalia di rusak oleh Bagas” air mata terus mengalir di pipi Kalia, menggambarkan bahwa terlalu banyak luka di hatinya.
“terus pacar teteh yang beberapa bulan lalu teteh bilang?” Tanya Zaskia lagi sambil mengusap air mata Kalia. Saat dua minggu menjalin hubungan dengan Hanzel, Kalia memang sempat mengaku kepada Zaskia jika dia tengah menjalin hubungan dengan laki-laki seumuran dengannya, hanya saja laki-laki tersebut masih berstatus mahasiswa di luar kota Jakarta,
Kalia menarik nafasnya dalam, air mata semakin deras bahkan kini Kalia mulai terisak. Zaskia langsung membawa Kalia kedalam pelukannya, anak kebanggaannya terlihat begitu rapuh, sisi lain si-sulung yang hampir tidak pernah diperlihatkan.
“dia juga selingkuhin Kalia bun” jawab Kalia dalam tangisannya.
Hati Zaskia seolah di remas, rasanya begitu sakit mendengar jawaban Kalia. Kenapa orang-orang itu begitu tega menyakiti hati anaknya. Anak yang selalu dia lindungi dan selalu dia banggakan. Anaknya yang kuat dan mandiri juga begitu baik. Kalia memang nampak galak, tapi Kalia memiliki hati yang lembut. Posisinya sebagai anak pertama membuat Kalia harus selalu kuat di hadapan adik-adiknya walaupun Kalia tengah dalam masalah. Kalia selalu bisa dia andalkan.
“Apa Kalia orang jahat Bun sampe mereka tega sama Kalia, Kalia gak mau memulainya lagi, Kalia takut. Kalia gak mau sakit lagi” isak Kalia semakin kencang.
Zaskia menangis dalam diam, luka di hati anaknya ini terlalu lebar dan kini dia merasa gagal karena telat mengetahui itu. Seharusnya dia bisa lebih cerewet lagi kepada Kalia dan menjadi teman curhat terbaik untuk sang anak.
“engga teh, mereka yang jahat. Kamu anak yang baik Teh dan mereka gak pantes sama anak baik kaya teteh” Zaskia mengusap lembut punggung Kalia, mencoba memberi kekuatan.
Isakan pilu Kalia semakin menyayat hati Zaskia. Anaknya ini trauma, kepercayaannya dihancurkan oleh orang terdekatnya. Zaskia melepaskan pelukannya, memegang bahu Kalia agar Kalia menatapnya.
“dengarkan Bunda, setelah ini, tidak akan ada lagi yang jahatin teteh. Udah cukup mereka berdua saja. Setelah ini teteh akan bahagia, Bunda yakin, laki-laki yang akan datang tidak akan menyakiti teteh lagi. Percaya sama bunda, teteh tidak akan di sakiti lagi, karena Bunda akan berdiri di hadapan teteh buat lindungi teteh”
Tangis Kalia kembali pecah, dia langsung memeluk sang bunda denganerat, menumpahkan semua airmatanya, air mata penuh kesakitan. Dia sudah tidak kuat untuk berpura-pura bahwa dia baik-baik saja, dia lemah, dia rapuh dan dia sakit. Dan biarkan Kalia menangis kali ini, Kalia ingin merasa lebih baik, meskipun itu hanya setitik.
***
Satu bulan berlalu sejak rencana perjodohan Kalia dengan snag nenek, hubungan Kalia dan sang nenek masih tidak ada perubahan, masih dalam keadaan perang dingin. Kalia bahkan memilih untuk tidak datang di pertemuan berikutnya. Bukan karena dia tidak ingin berdamai dengan sang nenek, tapi rasanya mereka hanya akan semakin panas jika bertemu. Apalagi Kalia juga tahu jika sang nenek kini bersikap dingin kepada ayahnya karena membela dirinya.
Benar yang Chiara bilang dulu, sepertinya sang nenek hanya akan berdamai dengannya saat Kalia menikah. Kalia sampe geleng-geleng kepala jika terus memikirkan tingkah laku sang nenek, nenknya itu benar-benar seperti orang yang tidak percaya Allah, apa susahnya untuk berdoa dan berserah kepada Allah dan menerima setiap garis yang telah Allah ciptakan. Lagipula Kalia juga masih dalam keadaan tidak ingin memulai sebuah hubungan, kasian sang nenek jika terlalu berharap.
"Kal, nonton yuk"
Kalia mengerjap, menarik kesadarannya
"begong aja lo, jangan di bayangin, nanti juga ngalamin"
"apasih Do, gak jelas lo"
"jadi gimana, mau gak?"
"apaan?"
"nikah sama gue"
"dih"
"gombal terus sampe mampus" sindir Adam dengan wajah yang tetap menatap layar komputer
"sirik bilang bos, mentang-mentang gak bisa godain Kalia"
"ngapain gue godain Kalia, kaya gak ada cewek lain aja"
"gue juga gak bakal seneng kali bang kalau lo godain" sahut Kalia
"berarti kalau sama gue seneng ya Kal?" tanya Ando dengan alis yang bergerak naik dan turun
"emang gue bilang kalau seneng di godain lo?"
"Elah Kal, sekali aja gitu bikin gue seneng"
"ck, gak jelas ah lo"
"jadi gimana ini Kal, mau nonton gak?"
"nonton apa?"
"bebas, lo yang pilih"
Kalia menghela nafas, mempertimbangkan tawaran Ando "ajak Chiara ya, gimana?"
"boleh"
"seriusan?"
"iya, si cerewet itu boleh ikut"
"gue juga cerewet kali Do"
"tapi lo gemesin"
"mau sampe kapan lo godain Kalia? kerjaan lo udah selesai?"
Ando dan Kalia kompak memutar bola matanya mendengar ucapan Adam. Iri bilang bos!
***
Sesuai dengan apa yang di diskusikan sebelumnya, Chiara ikut dengan Kalia dan Ando untuk menonton film. Ketiganya pergi bersama dengan mobil Ando.
"jadi mau nonton apa?" Tanya Kalia
"horor aja lah" jawab Ando
"boleh tuh" sahut Chiara
"beneran?" ragu Kalia, dia hanya takut kalau tengah malam ingin ke kamar mandi, ya meskipun kamar mandi berada di dalam kamar kosan, tetap saja bangun sendirian di tengah malam itu creepy.
"takut Kal?" tanya Ando yang di jawab dengan anggukan
"gapapa elah, seru nonton horor"
"nanti kalau takut, peluk gue aja Kal, ikhlas banget gue" goda Ando yang mendapat pukulan di lengan oleh Kalia
"gimana, horo oke?"
Kalia menghela nafas lalu mengangguk "oke"
"mantulsss, sekarang lo yang pesen tiket" suruh Chiara kemudian kepada Kalia
"gue?" kaget Kalia
"iya"
"tenang sayang, nih bayarnya pake uang abang, abang banyak duit" bangga Ando mengeluarkan uang pecaharan seratus ribu dua lembar dari dompetnya
Dengan wajah masam Kalia mengambil uang tersebut "tahu banget sih lo kalau gue emang hobi banget ngantri" kesal Kalia karena melihat antrian tiket yang memang cukup panjang.
Chiara terbahak, berbanding terbaik dengan apa yang di ucapkan, Kalia sangat benci mengantri. "udah sana, antrian makin panjang, gue mau beli cemilannya dulu" Suruh Chiara
"bawel" Kalia menghentakan kaki dan pergi meninggalkan Chiara dan Ando.
"thank you ya Do udah mau nolongin gue buat ngajak dia nonton" ucap Chiara tulus, acara nonton ini memang saran Chiara, dia meminta untuk Ando mengajak Kalia pergi nonton dalam rangka menghibur Kalia. Chiara tahu ada hal yang kurang baik terjadi pada Kalia. Setelah pertemuan keluarga Kalia menjadi lebih pendiam, sering Chiara memergoki Kalia yang menatap kosong.
"gue seneng bantu lo, thank you lo udah mau jadi temen baik buat Kalia. Gue tahu kalau Kalia lagi gak baik-baik aja, dia emang bisa ketawa, tapi gue tahu dibalik tawa itu ada beban yang gak gue tahu, gue ingin Kalia bisa tertawa dengan lepas"
"begitu juga gue Do"
Ando menghela nafas "andai Kalia mau sama gue, sayangnya dia gak mau" canda Ando
"yeeuuuu, kadal gurun. Ngomong sama lo gak bisa lama-lama seriusnya"
"gue bisa serius lama kok Chi, Serius menjalin hubungan dengan Kalia"
"Dih najong! ceritanya lo bucin sama Kalia?"
"gak bucin, gue hanya fans dia nomor satu, tapi sayang tidak pernah ternotice"
"dih, gak jelas lo. udah ah, gue mau beli cemilan!"