19. Kenyataan

2007 Kata
Sebulan berlalu, hubungan Kalia dan Hanzel tetap berjalan, Hanzel masih menjadi sosok yang cukup peduli kepada Kalia, masih suka menjemput Kalia jika tidak ada kesibukan. Cukup adem ayem dan jarang ada perdebatan. Kalia juga terus belajar mempercayai Hanzel, maklum saja, luka di masa lalu masih menempel di hati Kalia, ada ketakutan tersendiri jika Kalia mempercayai seseorang seratus persen, dalam konteks orang tersebut adalah pasangannya. Rasa takut di kecewakan lagi masih ada. "Kal, tadi Adam bilang kalau kerjaan edit lo beres, tolong bikin redaksi, poto sama info penting lainnya dia udah kirim email, gue lupa bilang." "oh iya" "udah ada email nya?" "ada, tapi belum gue buka" "sipp, nanti kirim balik seperti biasa" "oke, dia liputan ya Do?" "iya, liputan" Kalia mengangguk, melanjutkan pekerjaannya hingga selesai tepat waktu. Dia tidak ingin lembur hanya karena lelet melakukan pekerjaan, lain hal jika pekerjaannya memang membludak.  "pulang sama pacar Kal?" tanya Ando yang sedang merapihkan mejanya "engga, bareng Chiara" "tumben" "kan gue di jemput juga emang gak tiap hari kali Do" "tapi kan lumayan sering" "tapi gue gak pernah minta lho, itu murni dia yang mau tanpa ada paksaan gue" "halah, bohong" "dih, seriusan. Gue tuh gak pernah minta dia jemput" "bener?" Kalia mengangguk mantap "bener. Bahkan kalau gue sama dia jalan, gue gak pernah minta beliin" "kalau di bayarin?" "kalau di bayarin iya, tapi gue juga bayarin" Ando mengerutkan keningnya, memutar kursinya menghadap Kalia "maksud lo?" "gini, maksudnya kalau dia bayarin makan nanti gue bayarin yang lain. Gue gak mau memberatkan, bagaimanapun gue dan dia bukan suami istri, gak ada kewajiban untuk dia membayarkan setiap makan dan minum gue atau bayarin belanjaan gue. Selain itu, selama gue masih bisa bayar sendiri, kenapa harus bergantung semuanya? take and give lah, jangan mentang-mentang perempuan maunya di bayarin mulu. Lemah" Ando bertepuk tangan, mengacungkan kedua jempolnya "nah gitu, gue sepakat dengan pikiran lo, gue juga gak suka sama perempuan yang suka minta ini itu dan terkesan maksa, kecuali gue sendiri yang memang menawarkan ke dia, bukan karena gak mampu ya, cuma terkadang ada beberapa perempuan gak tahu diri aja, maunya di bayarin mulu, maunya di bikin seneng mulu tapi giliran bikin seneng pasangan ogah-ogahan. Gak di beliin bilangnya gak sayang, kan k*****t, emang rasa sayang harus lewat begitu mulu. Sebel gue" Kalia tertawa "curhat Do?" "iya curhat, gue juga mau ketemu cewek mandiri, yang gak egois mentingin diri sendiri, yang mau give dan gak take doang" "iya, nanti ketemu kok sama yang begitu, lagian kan sifat orang beda-beda juga Do, ada laki-laki yang malah seneng di mintain ini dan itu" Ando mengangkat bahunya "bodo amat, gue sih engga" Kalia berdecak "kan gue gak bilang kalau itu lo!" "lagian sekalinya gue ketemu cewe yang sependapat sama gue dianya malah udah punya cowok" "seriusan? siapa?" "lo b**o!" Kalia langsung melempar Ando dengan pulpen sedangkan Ando terbahak. "nyebelin lo" Ando menredakan tawanya, lalu menghela nafas "bercanda sis, btw kenapa gak balik sekarang sih, udah pada kelar juga kerjaan" "tanggung, lima belas menit lagi Do, gue juga nunggu Chiara. Lo kalau mau balik, duluan sana" "engga deh, gue bareng lo" "dih, bilang aja lo mau deket-deket gue" "itu lo tahu" "dih, das-" Kalia tidak melanjutkan ucapannya karena ponselnya yang terus bergetar, bukan panggilan, tapi notifikasi dari grup yang Kalia tidak tahu grup apa. Kalia mengerutkan keningnya saat melihat sebuah grup baru nama yang cukup aneh, Penjelasan? Penjelasan (5) 08XX-XXXX-XXXX(Zia) Maaf, ini grup apa ya? 08XX-XXXX-XXXX(Anggita) Aku yang bikin grup, cuma mau pastiin sesuatu 08XX-XXXX-XXXX(Alika) grup tentang apa ya?    08XX-XXXX-XXXX(Amira)Halo Kalia mengangkat alisnya, memantau aktivitas grup tersebut. 08XX-XXXX-XXXX(Anggita)  Aku cuma mau tanya, mba yang aku masukin ke grup ini kenal sama mas Hanzel? aku mau tahu, mas Hanzel siapanya mba semua. Aku dapat nomor mba semua dari nomor asing yang hubungi aku dan aku gak tahu siapa. 08XX-XXXX-XXXX(Zia) Aku pacarnya 08XX-XXXX-XXXX(Amira) Aku pacarnya, tapi kalau kalian tanya langsung sama Hanzel, pasti dia jawab cuma mantan 08XX-XXXX-XXXX(Anggita) Betul mba Mira, kemarin aku telpon Mas Hanzel, aku tanya tentang siapa mba-mba semuanya dan dia jawab kalau kalian mantan. Mata Kalia langsung membulat, bahkan mulunya pun ikut terbuka. Dia terkejut, sangat!. Segera tangannya mengetik balasan untuk grup tersebut. Aku pacarnya, boleh tahu kalian berapa lama pacaran sama Hanzel? Balas Kalia 08XX-XXXX-XXXX(Alika) Aku baru dua minggu 08XX-XXXX-XXXX(Amira) Aku tiga tahun, tapi empat bulan lalu hubungan kita udah jelas, entah break atau putus atau bahkan masih. Kalau mba? Kalia tidak langsung menjawab pertanyaan balik tersebut, masih menunggu yang lain untuk membalas. 08XX-XXXX-XXXX(Anggita) Aku kurang tahu berapa lama, tapi memang belum lama, dua hari sebelum mas Hanzel masuk rumah sakit dulu. pas dirumah sakit juga aku yang urus 08XX-XXXX-XXXX(Zia) Aku baru satu bulan Kalia menghela nafas kasar, rasanya dia benar-benar mendapatkan sebuah kejutan. Jarinya kembali mengetikan kalimat balasan. Kalau untuk jadi pacar, baru aku terima sebelum dia balik ke Jogja. balas Kalia. Dia benar-benar tidak habis pikir, jadi selama ini Kalia itu selingkuhan dan di selingkuhi? what the hell! Hanzel sialan! 08XX-XXXX-XXXX(Anggita) wah, jadi mba pacar keduanya mas Hanzel, tapi ada satu orang lagi pacar mas Hanzel yang gak aku masukin grup, dia orang Jakarta, kata nomor asing yang chat aku, mas Hanzel sama orang Jakarta ini baru pacaran. 08XX-XXXX-XXXX(Zia) Gila! f**k boy! terus kenapa gak di masukin grup? 08XX-XXXX-XXXX(Anggita) Aku keburu sakit hati, jadi sebelum pulang ke Jakarta, aku anter mas Hanzel buat beli oleh-oleh, katanya buat umi nya yang mau bakpia kukus, tapi ternyata buat pacarnya yang lain. Sialan! Kalia langsung meletakan ponselnya dengar kasar ke atas meja, meraih botol minumnya dan minum hingga air dalam botol tersebut habis. Kalia benar-benar terkejut! speechless! Pantas saja bakpia yang Hanzel janjikan untuk dirinya tidak pernah sampai, ternyata bakpia tersebut sudah nyangkut terlebih dahulu di rumah perempuan lain. Sialan! Kalia memang tidak pernah menagih oleh-oleh tersebut, berharap Hanzel sendiri yang ingat, toh dari awal laki-laki itu paling semangat bilang kalau akan memberikan Kalia oleh-oleh.  "lo kenapa Kal?" tanya Ando yang menatap aneh Kalia, sejak tadi, dia memperhatikan Kalia dan cukup penasaran dengan apa yang terjadi. Dengan menahan kesal, Kalia menatap Ando "gue abis di kibulin!" Ando melotot "seriusan lo? di kibulin kenapa? abis berapa duit?" Kalia menggeleng "bukan tentang duit" "terus?" "ada pokonya. Udah ah, gue balit duluan" Kalia langsung berdiri, memasukan botol minum dan ponselnya dengan kasar kedalam tas. Dia ingin segera sampai di kosan dan ngamuk se hebat mungkin. Sialan! *** "Hanzel sialan! sialan! j*****m! b******k!" Amuk Kalia sambil terus meninju bantal miliknya Chiara hanya diam sebagai penonton, membiarkan Kalia meluapkan segala amarahnya. Selain itu, Chiara juga merasa tidak enak, karena bagaimanapun Chiara juga memberikan saran sehingga Kalia bisa menjalin hubungan dengan Hanzel. Niat hati inngin Kalia sembuh dari luka masalalu malah menambah luka lagi. Bisa-bisa Kalia benar-benar tidak akan memulai hubungan dengan siapapun lagi. Kalia menutup matanya, nafasnya memburu karena marah.  "minum dulu" Chiara langsung menyodorkan segelas air kepada Kalia. Kalia langsung meminumnya hingga habis. "lebih baik?" ucap Chiara Nafas Kalia sudah lebih tenang, "iya, lebih baik" "sorry ya Kal" lirih Chiara Kalia mengerutkan keningnya "untuk?" "untuk saran gue yang meminta lo segera membuka hati dan memulai hubungan baru" Kalia menggeleng "lo gak salah, saran lo bener, hanya saja yang salah itu laki-lakinya. b******k!" "tapi kan gue juga kasih lo saran buat mulai hubungan sama dia, maaf ya Kal"  Kalia menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan "lo gak salah Chi, jangan ngerasa kalau lo salah, disini yang salah itu si Hanzel, kalau lo tahu si Hanzel bresengsek, lo juga pasti gak mungkin kasih saran buat gue pacaran sama dia, jangankan untuk pacaran, deket aja pasti lo ngelarang" "tapi Kal-" "engga Chi, jangan nyalahin diri lo, mungkin inituh jawaban sesungguhnya dari Allah karena saat menjalani hubungan sama Hanzel, gue masih merasa memiliki sekat, belum bener-bener enjoy" "itu karena lo masih ada trauma masa lalu Kal" "Chi, denger ya. Meskipun ada trauma, kalau kata Allah si Hanzel ini laki-laki yang tepat, seiring bejalan waktu pasti hati gue akan sembuh dan terbuka, tapi ini engga, masih selalu ada sekat, bahkan sekrang di tunjukin aslinya" "terus sekarang lo gimana? gue gak mau lo malah makin terpuruk" "Chiara, denger ya. Gue kecewa, pasti. Tapi gue juga bersyukur karena di beri tahu faktanya lebih cepat. Hubungan gue dan dia baru seumur jagung" Chiara tersenyum "tumben lu bijak"  Kalia langsung memukul lengan Kalia "dapet ilham dari busway tadi" Chiara menghela nafas kasar "okedeh, sekarang pokonya lo jangan deket-deket Hanzel lagi, laki-laki f**k boy! omongan sih agamis banget, kelakukan melebihi setan" kesal Chiara Kalia tersenyum "gak akan gue mau deket dia lagi Chi, gue udah pernah tegasin ke dia, kalau gue di selingkuhin atau gue selingkuhan, gak ada debat. Langsung putus!" Tegas Kalia "terus lo udah bilang sama Hanzel tentang masalah ini?" "engga, karena gue tahu faktanya begini maka detik itu dia bukan pacar gue lagi, baru pas gue dia chat, gue bilang kalau kita udah putus" "tapi bener lo gak apa-apa Kal? lo suka sama dia kan" "ya Allah Chi, gue gak apa-apa, gue ikhlas, ini lebih baik daripada gue bersama dengan orang yang gak baik kedepannya" Chiara mengangguk "gue akan dukung apapun yang lo lakukan dan please, kalau lo sedih dan mau nangis, jangan di belakang gue, gue mau lo nangis ataupun tertawa di depan gue, bersama gue" Mendengar ucapan Chiara, air mata Kalia langsung menetes, memeluk Chiara erat "makasih ya Chi, lo sahabat terbaik gue" "iya Kal, terima kasih juga lo udah mau jadi sahabat gue" "lo terbaik" "lo juga" *** "lo mau makan apa? bebas pilih biar gue yang bayarin" ucap Chiara. Malam ini dia memaksa Kalia untuk makan malam di luar, hitung-hitung sambil mencari angin. "apasih lo Chi, gue bayar sendiri aja" balas Kalia sambil membaca menu  "engga, gue mau merayakan status lo yang jomlo. Status lo sama lagi kaya gue" ledek Chiara mencoba menghibur Kalia. Chiara tahu, meskipun Kalia tidak terlihat terpuruk, tapi sahabatnya itu tetap memendam sakit. Walau tidak dalam, goresan pasti ada karena si b******n Hanzel. "sialan lo Chi!" "yaudah cepet mesen, mumpung gue lagi baik" Kalia memilih makanan yang tidak terlalu berat, sejujurnya dia tidak begitu ingin makan, tapi melihat usaha Chiara yang menghiburnya, Kalia tidak ingin mengecewakan Chiara. Dia ingin agar Chiara tidak merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Karena ini semua memang bukan salah sahabatnya. Chiara hanya ingin yang terbaik untuk dirinya. "oke, jadi ternyata lo ini selingkuhan yang di selingkuhi?" tanya Chiara. Kalia memang belum cerita secara detail tentang semuanya. Belum sempat karena dia harus meluapkan kekesalannya terlebih dahulu. "iya. Cewe sebelumnya udah pacaran tiga tahun, tapi beberapa bulan terakhir hubungan mereka gak baik. Lanjutlah ke gue, setelah gue lanjut lagi ke yang lain" "Semuanya orang Jogja?"  Kalia mengangkat bahunya "gak tahu, kayanya iya, soalnya gue gak nanya juga" "gila sih, rasanya gue pengen tepuk tangan sama kehebatan dia playboy level dewa. Jangan-jangan pacarnya tersebar dari Sabang sampai Merauke." "nah itu, yang masuk grup aja udah lima, belum lagi yang gak masuk grup, si bakpia kukus salah satunya" "maksud lo?" "itu lho, si Hanzel janjiin bakpia buat gue, sampe sekarang itu bakpia gak ada, ternyata nyangkut di rumah cewe lain" "astagfirullah, kelakuannya bener-bener bikin setan minder" "dan lo tahu, selama di rumah sakit ternyata dia di temenin sama salah satu pacarnya yang lain. Sialan gak tuh, di sini gue panik dan nanya kabar dia mulu, gue juga bilang supaya dia di temenin sama temen dia buat bantu ngurus ini dan itu, tahunya ditemenin bukan sama temen, tapi sama pacar" "tapi hebat ya, bisa gak ketahuan gitu, padahal dia seriang banget telpon lo pas di rumah sakit" "ya namanya udah playboy kelas setan Chi, udah jago ngibulnya. Jurusnya banyak. Pelajaran juga buat kedepan, jangan mudah tergiur dengan emeng-emeng kenalin orang tua. Di kenalin orang tua belum tentu di seriusin. Tapi untung aja si Hanzel belum gue bawa ke rumah juga" "beuhhh, bisa repot urusan kalau itu" Kalia mengangguk, dulu sempat Hanzel berkeinginan mengantarkan Kalia pulang ke Bogor, tapi Kalia menolak, karena memang belum siap, maklum saja, dulu sempat membawa Bagas ke rumah tapi malah berakhir gagal. Kalia ingin Hanzel ke rumah saat hubungan mereka memang sudah mantap dan serius. *** Hanzel Yang, kamu dimana? Kalia tersenyum sinis membaca pesan dari Hanzel, dasar buaya darat! "Hanzel chat gue" Kalia menyerahkan ponselnya pada Chiara "lah gak sadar diri" kesal Chiara "emang, dia kira gue gak tahu boroknya dia. Awas ya! kalau masalahnya bukan selingkuh, mungkin masih bisa gue tolelir, saling ada argumen juga gue gak masalah, tapi kalau udah selingkuh? penyakit! gak bakal sembuh, cuma bisa janji gak bakal selingkuh lagi" "nah iya! udah Kal, putusin aja sekarang" "mau! biar dia rasain sekalinya di putusin langsung beberapa orang" Dalam perjalan menuju kosan, Kalia memang kembali membuka grup dan menemukan chat bahwa mereka telah memutuskan Hanzel. Udah ya, kita udahan. Balas Kalia Hanzel Kamu ngomong apa yang? Kita udahan, aku tahu kamu ada yang lain. Dengan menahan kesal Kalia mengirim balasan Hanzel ogitu, yaudah Mulut Kalia membulan, nafasnya tertahan karena terkejut. Sialan! laki-laki b******n itu benar-benar mempermainkan Kalia. Bahkan tidak ada permintaan maaf dari laki-laki itu untuk Kalia, sialan! benar-benar b******n berbalut sorban!  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN