18. Nomor Rahasia

2169 Kata
Kening Kalia mengkerut, jantungnya juga berdegup cukup cepat. "Chi, liat. Ada yang chat gue begini" Kalia menyerahkan ponselnya pada Chiara "gila! coba lo bales Kal, siapa tahu usil" Chiara menyerahkan kembali ponsel Kalia Kalia mengangguk, mengetik balasan kepada nomor rahasia tersebut. Maksudnya? Ketik Kalia sebagai jawaban 08XX-XXXX-XXXX Saya pacarnya Hanzel. Mba Kal pacarnya mas Hanzel yang dimana, Jakarta atau Jogja atau malah tempat lain? Kalia langsung menekan icon telpon setelah membaca balasan dari si nomor tidak dikena tersebut, Kalia butuh bicara langsung. Tapi sayangnya si pemilik nomor sengaja mengabaikan Kalia. Sial! Maksudnya apa?! 08XX-XXXX-XXXX Jangan telpon saya, nanti mba rekam suara saya dan sebar ke mas Hanzel. Saya cuma berniat baik sama mba, mas Hanzel itu banyak pacarnya mba. Mba boleh gak percaya sama saya, tapi mba bisa tanya yang lain. Ada Anggita, Alika sama Zia. Itu hanya sebagian, yang lain masih ada. Kalia dibuat kesal dengan pesan yang dia dapatkan. Kalau memang berniat baik, kenapa setengah-setengah? kenapa tidak mau berbicara langsung?  "gimana Kal, apa kata si itu?"  Kalia menyerahkan ponselnya pada Chiara "lah, maksudnya apa? dia bilang dia pacarnya, tapi dia mau berniat baik, dia itu maksudnya lagi ngelabrak lo atau gimana sih Kal?" Kalia mengangkat bahunya "gak tahu, gak jelas banget kan maksudnya, mana gak mau ngomong langsung" "coba lu tanya, dia namanya siapa, terus ntar lo tanya langsung sama si Hanzel" Kalia mengangguk, meraih ponselnya untuk mengetik balasan sesuai dengan yang Chiara bilang. 08XX-XXXX-XXXX Mba gak perlu tahu siapa saya, yang pasti saya tahu semua pacar mas Hanzel, kalau mba gak percaya saya, mba tanya yang lain. Saya sudah kasih tahu siapa aja. Saya pacar mas Hanzel. "nih Chi, dia malah bales begini lagi, kan aneh. Dia aja gak ngasih nomor-nomornya, mana bisa gue tanya ke orang yang dia sebutin, bentuk mereka aja gue gak tahu" "kalau engga, dia itu mantan si Hanzel dan gak terima di putusin, akhirnya chat gak jelas begini" Jelas Chiara "iya, nanti gue coba tanya langsung ke Hanzel aja, minggu depan kalau jadi dia mau pulang" "gak langsung chat aja sekarang?" Kalia menggeleng "mau ngomong langsung aja, sekalian mau liat reaksi dia" "oke atuh kalau begitu, jadi mau biasa aja" "iya, biasa aja, kaya gak pernah di chat sama orang aneh. Moga aja minggu depan langsung pulang" *** Hanzel Yang, dimana? masih di mall? Kalia langsung me-lock  ponselnya setelah membaca pesan Hanzel lewat pop-up. Nanti saja dia balasnya setelah moodnya lebih baik. "mau lo duluan atau gue duluan yang mandi?" tanya Chiara yang baru masuk kamar, saat baru datang kosan, Chiara memang langsung kembali keluar untuk mengeluarkan sampah yang memang sudah waktunya di buang. "lo duluan aja Chi, gue mau ngadem dulu" Kalia menghela nafas, memikirkan pesan yang dia terima beberapa saat lalu, antara harus percaya dan tidak. Jika Kalia percaya, takutnya orang tersebut hanya usil dan menyebarkan fitnah, seperti yang di ucapkan Chiara sebelumnya, takutnya, jika yang mengirim pesan adalah mantan Hanzel yang tidak ingin di putuskan, lalu kemudian mengganggu Kali. Tapi sebaliknya, jika Kalia tidak percaya, Kalia takut yang di bilang si nomor asing itu benar. Bagaimana jika Hanzel benar-benar memiliki pacar selain Kalia? apakah Kalia selingkuhan? atau malah Kalia yang di selingkuhi. Apapun itu, keduanya Kalia benci dan tidak suka berada di posisi tersebut. Titik dan tidak ada debat. Ponsel Kalia kembali bergetar cukup lama, Kalia melirik dan ternyata sebuah panggilan telpon dari Hanzel. Menghela nafas, Kalia menekan tombol berwarna hijau. "assalamualaikum" "waalaikumsalam, sayang. Kamu dimana, udah nyampe kosan?" "alhamdulillah udah" "chat aku gak di balas, sibuk? lagi apa?" "lagi ngadem sebelum mandi" "udah makan malem?" "udah, tadi sebelum pulang makan dulu" "bagus, di kantor gimana?" "alhamdulillah, lancar kok" "kerjaan banyak?" "seperti biasa, belum ada tugas tambahan sejauh ini" "yang, kalau aku pulang mau di bawain apa?" "kamu mau beliin aku oleh-oleh?" "iya, kamu mau aku bawain apa?" "apapun yang kamu bawa, aku terima kok, aku bingung" "kenapa?" "gapapa, cuma gak biasa minta aja" "ah kamu kaya kesiapa, kan aku yang nawarin" "terserah kamu aja, namanya oleh-oleh, aku terima aja" "bakpia kukus mau?" "boleh, bebas kok" "bener nih, gak ada yang kamu mau?" "gak ada, beneran. Apapun yang kamu kasih, aku terima" "masyaallah, pacar aku baik amat, gak rewel" "bisa aja" Kalia menghela nafas, sebelum kembali berbicara, dia butuh mendengar sesuatu dari Hanzel untuk menenangkan pikirannya karena pesan dari orang yang dia tidak ketahui identitasnya tersebut. "boleh tanya sesuatu gak?"  "tanya apa sayang?" "pacar kamu aku aja? kamu gak punya yang lain?" "kok kamu tanya begitu?!" Lagi, Kalia menghela nafas "jawab aja pertanyaan aku" "kamu aja kok, pacar aku cuma kamu aja dan gak ada yang lain" "bener?" "serius!" "alhamdulillah, pokonya kalau kamu sampe selingkuh atau aku jadi selingkuhan, udah gak ada nego. Kita putus detik itu juga" tegas Kalia "iya sayang, dan kamu pacar aku satu-satu nya. Gak ada debat" "iya" "kenapa kamu tiba-tiba tanya itu?" "gak apa-apa, tadi baper aja nonton film tentang perselingkuhan gitu" bohong Kalia "astagfirullah, nanti kalau nonton jangan film begitu lagi ya sayang, bapernya berkepanjangan, nonton horo aja" "gak mau juga kalau nonton horor" "kan aku temenin yang" "udah ah, aku mau mandi dulu ya" ucap Kalia saat melihat Chiara sudah keluar kamar mandi dengan baju tidurnya. "iya, I love you sayang" "terima kasih" jawab Kalia cepat dan menutup panggilannya dengan Hanzel. Kalia langsung mematikan ponselnya, dia sedang ingin tenang dan butuh waktu berpikir tentang Hanzel. "siapa Kal? yang chat lo?" "bukan, si Hanzel" "kenapa? lo bilang tentang chat tadi?" Kalia menggeleng "engga, cuma ngobrol biasa terus gue tanya sesuatu" "tanya apa?" "gue tanya, apa gue itu pacar dia satu-satunya atau ada yang lain" "terus dia jawab apa?" "dia bilang iya, gue pacar dia satu-satunya" "terus bilang apa lagi?" "terus gue bilang kalau dia selingkuh atau bahkan ternyata gue selingkuhan, gak ada nego dan langsung putus" "pinter, lo bener dan udah tegas. Tapi semoga yang dia omongin itu bener ya" "aamiin" "yaudah, sekarang lo mandi biar cepet istirahat, keburu malem" *** "lo masih belum nyalain hp lo?" tanya Chiara Kalia menatap Chiara yang duduk di depannya, sedangkan dia berdiri. Kondisi busway saat ini memang terbilang cukup ramai tapi tidak sampai sesak dan berjubel.  "belom" jawabnya "kenapa?" "masih gak mood" "dih, kalau ada yang penting?" "paling urusan kantor gitu-gitu aja Chi" Chiara langsung menyuruh Kalia duduk saat ornag yang duduk di sebelah Chiara bangun, bersiap untuk turun. Tidak langsung menerima tawaran Kalia, Chiara melirik sekeliling dulu, takut ada yang lebih membutuhkan, setelah tidak menemukan, Kalia langsung duduk di samping Chiara. "jadi kenapa lo sampe gak mood gini, bukannya lo udah denger ucapan Hanzel semalem, harusnya lo seneng atau setidaknya gak begini. Kalia menghela nafas "gini lo Chi, namanya mulut itu gak ada saringan, kalau dia ngomong baik bibirnya mulus atau ngomong bohong bibirnya langsung robek, gak ada Chi. Gue itu masih berada di tahap belajar mempercayai dan menerima Hanzel, masih belajar kembali memulai hubungan, intinya. Eh tiba-tiba ada chat begitu, gimana gue gak langsung bingung?" "Gini Kal, menurut gue satu-satunya cara memang langsung ngomong ke Hanzel seperti yang lo bilang sebelumnya, selain itu, lo juga banyakin doa. Kalau si Hanzel terbaik, minta di dekatkan dan di bereskan segala kesalahpahaman dan kalau itu manusia ekor deppan buruk, semoga lo langsung di tunjukan kebenarannya dan di gantikan dengan yang lebih baik" Kalia mengangguk, memejamkan matanya berniat tidur "kalau ada yang butuh kursi, bangunin gue" ucapnya sebelum benar-benar menutup mata.  Hingga sampai di pemberhentian tempat Kalia dan Chiara turun, Kalia masih mendapatkan tempat duduk begitu juga Chiara. "nyenyak tidur?" tanya Chiara saat keduanya sudah berjalan memasuki kantor. "engga, mata gue merem tapi telinga masih denger orang ngomong" "namanya juga tempat rame, gue duluan ya" Kalia mengacungkan jempolnya, berjalan berlawan arah dengan Chiara untuk pergi ke ruangan masing-masing. Kalia mengetuk ruangan satu kali lalu membukanya, ternyata hanya Ando yang baru datang, sedangkan bapak kordinator, Adam, belum nampak. "rajin Do, sering datang duluan" Ucap Kalia sambil berjalan menuju tempatnya "emak gue bangunin lebih pagi mulu" "alhamdulillah, subuh lo gak pernah lewat lagi dong sekarang?" "iya dong, demi menjaid calon imam yang baik" "aamiin. Adam belum datang?" "belom kayanya, gue traktir lo kalau sampe dia orang pertama yang datang ke kantor" "gak boleh gitu, kalau mau traktir, traktir aja, gak usah pake syarat dan ketentuan gitu lah" Kalia mulai mengeluarkan barang-barang miliknya, buku catatan, recorder, headset hingga ponsel.  Menghembuskan nafas kasar, Kalia menekan tombol on di ponselnya hingga menyala. Tidak lama notifikasi pesan langsung bermunculan dan yang paling banyak berasal dari Hanzel. Hanzel Aku di rumah sakit, ada di IGD sekarang Mata Kalia membulat, tanpa membaca pesan lain yang di kirim Hanzel, dia langsung melakukan panggilan. "halo, kamu kenapa?" tanya Kalia langsung saat panggilannya terhubung "gak tahu, tadi subuh perut aku sakit banget" "ya Allah, belum di tangani dokter?" "udah, tapi katanya nunggu dokter spesialis" "jam berapa dokternya datang?" "kayanya sejam lagi" "ya Allah, terus sekarang sama siapa? ada yang nemenin?" "ada kok yang" "kamu ih ada-ada aja, kaget banget aku" "maaf ya, kamu udah di kantor?" "udah, gimana kondisi kamu sekarang?" "alhamdulillah udah gak terlalu sakit kaya pas tadi" "iya, alhamdulillah" "yang, aku tutup dulu ya, gak enak soalnya" "iya, jangan lupa kabarin aku setelah di periksa dokter, dan jangan sampe kamu gak ada yang temenin, setidaknya satu orang buat bantu urus ini dan itu" "iya sayang" "iya, assalamualaikum" "waalaikumsalam" Kalia langsung menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, benar-benar serangan mendadak. "kenapa Kal?" "pacar gue sakit Do, masuk rumah sakit?" "Hah?! Serius Lo?!" "seriusan Do, tadi pagi katanya perutnya sakit dan di bawa ke Rs" "bukan itu, maksudnya, seriusan lo punya pacar?" Kalia menepuk jidatnya, rekan kerjanya ini ternyata salah fokus. "bener, emang gue belum aksih tahu lo?" Ando berdecak "pantes aing di tolak mulu, ternyata udah ada anjingnya" "heh! enak aja lo, anjing" "tapi gak apa-apa, baru pacaran, masih bisa aing tikung" "Do! ih!" "hahaha, bercanda Kalia. jadi pacar lo kenapa?" "belum tahu pastinya sakit apa, nunggu dokter spesialis katanya" "ogitu, gws deh" "dih gitu banget" "hahaha" *** "Jadi si Hanzel sakit apa Kal?" tanya Chiara sambil menyuapkan bakso kecil kedalam mulutnya "gak tahu Chi, gak jelas. Dia bilang gak ada yang serius" "lah kok? tapi sampe masuk rumah sakit gitu" "makanya, gue tanya detailnya, dia bilang gitu aja, aneh banget" "tapi dia bener di rumah sakit? gak bohong sama lo?" "kayanya iya, dia kirim poto juga kok" "bagus deh kalau dia gak bohong, terus lo gimana?" "ya gimana? bingung" "jujur, lo suka gak sama Hanzel?" "suka, tapi emang dasarnya gue lagi tahap buka hati, jadi emang ngerasa masih ada sekat gitu, belum bisa percaya seutuhnya, masih takut-takut gitu lah" "iya, rasa melindungi diri lo masih kenceng" "betul" "intinya, kalau nanti laki-laki itu gak bener, lo harus langsung buang, tapi serahkan semua rasa glau lo pada Allah aja, itu paling aman. Terus jangan galau-galau, banyakin doa. Dia juga cepet sembuh biar jadi pulang.  "iya Chi" Seminggu berlalu sejak kabar Hanzel masuk rumah sakit, dua hari kemudian laki-laki itu sudah di perbolehkan pulang, Kalia terus berkomunikasi dengan Hanzel, memantau. Dan sesuai dengan yang Hanzel sampaikan, sore ini laki-laki itu akan tiba kembali di Jakarta. Semua berkat permintaan orang tua Hanzel, mereka ingin Hanzel pulang agar kalau terjadi apa-apa mereka tidak begitu panik.  Kalia sendiri meminta maaf kepada Hanzel karena tidak bisa menjemput laki-laki itu sesuai permintaan. Hari ini Kalia dan Ando harus terpaksa melakukan lembur karena harus menyusun schedule bulanan. Hanzel Aku udah di jalan otw rumah "gue bales pesan dulu" ucap Kalia pada Ando yang ada di sebelahnya sedang menandai beberapa acara "oke, silahkan" jawabnya masih fokus pada pekerjaan Alhamdulillah, kamu di jemput siapa di stasiun? Hanzel aku naik taksi Kalia kembali mengetik balasan Hati-hati, kabari kalau sudah nyampe rumah Hanzel siap sayang, besok ketemu ya oke Balas Kalia lalu kembali meletakan ponselnya. Melanjutkan tugasnya bersama Ando agar segera selesai. *** Kalia menunggu Hanzel di lobi, laki-laki itu mengabarinya bahwa sepuluh menit lagi akan sampai kantor Kalia, tapi sudah hampir setengah jam Kalia menunggu dan laki-laki itu belum juga datang. "kok kamu masih di sini?" tanya Adam yang akan melewati lobi dan berhenti setelah melihat Kalia "lagi nunggu orang"  "Chiara?" "bukan" "siapa?" "ada, kenapa emang?" "gak apa-apa. Gak penting" ucap Adam lalu melanjutkan jalannya keluar kantor, meninggalkan Kalia yang menatapanya aneh. Hanzel Yang, aku udah di parkiran Segera Kalia bangun dan berjalan cepat ke parkiran. Bukan karena semangat dan merindukan Hanzel, tapi dia kesal sudah menunggu cukup lama "maaf sayang, ternyata pas puteran macet banget" ucap Hanzel saat Kalia sudah memasuki mobil "iya gapapa" "mampir kedai roti bakar ya, aku lagi pengen makan yang manis" "iya, boleh" "oh iya yang, aku lupa bawa oleh-oleh buat kamu" "gak apa-apa" "nanti ya aku bawain, kamu ingetin aku" Kalia hanya tersenyum lalu mengangguk. Dalam perjalanan Kalia memilih untuk tidur, suasana hatinya tidak menentu karena teringat pertanyaan yang harus segera dia sampaikan kepada Hanzel. "yang bangun" Hanzel menepuk lengan Kalia pelan hingga Kalia terbangun "udah nyampe, turun yuk" Kalia mengangguk. Menegakan duduknya dan merapihkan kerudungnya lalu turun menyusul Hanzel yang sudah lebih dulu. "aku mau cuci muka dulu" ucap Kalia lalu meletakan tas miliknya di meja Hanya beberapa menit Kalia mencuci muka dan setelah kesadarannya benar-benar kembali, Kalia segera kembali ke Hanzel. "lebih seger?" Kalia mengangguk "mau pesen apa? aku roti bakar coklat keju pisang" "aku minum aja, coklat anget ya" Hanzel langsung mencatat pesanan dan memberikan pada pelayan "banyak kerjaan ya?" Kalia mengangguk "angguk mulu, kenapa? lagi kesel?" "engga, biasa aja" "masih ngantuk?" "engga kok, aku mau tanya sesuatu boleh" "apa?" "Kamu punya banyak mantan?" "iya" Kalia langsung terkejut dengan jawaban Hanzel, padahal sebelumnya Kalia mengira Hanzel akan bilang tidak. "Anngita, Alia sama Zia siapa?" "mantan aku" "bener mantan?" "iya, mantan. Kenapa?" "tapi ada yang chat aku, dia bilang mereka pacar kamu" "engga, mereka mantan aku" "punya nomor mereka?" "punya" "masih berhubungan sama mereka?" "kadang, tapi kaya temen biasa aja yang. Putusnya juga baik-baik" "seriusan?" "serius" "Kalau aku minta nomor mereka semua, boleh?" "buat apa?" "buat tanya langsung ke mereka, kamu masih jadi pacar mereka atau udah mantan" "astagfirullah, kamu gak percaya aku?" "boleh atau engga?" "boleh! sok, silahkan kamu telponin mereka satu-satu! Demi Allah pacar aku itu cuma kamu" Kalia mengeleha nafas, dia sudah mendapatkan jawabannya. "kamu udah Demi Allah bahkan aku gak minta, kamu pasti tahu kalau kamu bohong dosanya besar banget. Jadi aku percaya kamu" "iya sayang, pacar aku cuma kamu, orang yang chat kamu itu cuma iseng atau salah satu mantan aku yang ngambek" Kalia tersenyum, memilih percaya kepada Hanzel, laki-laki itu selalu menjawab tegas pertanyaan Kalia, tidak gugup sama sekali dan begitu yakin. Apalagi Hanzel juga sampai menyebutkan Demi Allah, sebuah kalimat yang besar tanggung jawabnya. Dosa besar bagi Hanzel yang mengerti agama tetapi berbohong dengan kalimat tersebut. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN