Bianca benar-benar datang menggunakan celana pendek dan atasan ketat dan memperlihatkan bentuk tubuh dengan leluasa. Kala langkahnya berhenti di depan sebuah gerbang hitam yang cukup tinggi, cepat-cepat Bianca menekan bel yang tertera di pilar pembatas pagar sebanyak dua kali hingga ia mendengar pintu terbuka dan Ezra muncul dari sana.
"Ehm, halo Mas." Bianca bergaya centil di depan Ezra.
"Ada apa ya Bi?" tanya Ezra.
"Mmm, aku sih disuruh Moma buat nganterin camilan sama kopi hangat buat Mas."
Ezra menganggukan kepala dan mencoba mengambil makanan-makanan tersebut dari tangan Bianca.
"Eh wait!" Bianca buru-buru bergeser. "Aku anterin sampai ke dalam ya?"
"No enggak—"
Tak mendengar ucapan lawan bicaranya, Bianca buru-buru menapakan kaki di halaman rumah dan menuju teras.
"Aku bingung kenapa Mas Ezra mau tinggal di sini? Di Deket rumahku dan Moma?"
"Bianca, sorry, kamu bisa keluar dari rumah saya?"
"Why? Seharusnya ada tamu itu sambut dong." Ya karena bagaimana pun, Bianca merasa bahwa ia itu ... calon anak tiri Mas Ezra. Meski tentu ia tak setuju kalau lelaki ini menikah dengan Mama. Tapi jika nanti setelah mendapati Mas Ezra bersih dan tulus ya, why not, pun kalau memang Moma mau dengan laki-laki ini, Bianca tidak akan menghalangi.
"Saya gak mau menerima kedatangan kamu di rumah ini."
Kening Bianca mengerut, wanita itu menghentikan langkah. "Kenapa?"
"Kamu yang seharusnya saya tanya, kenapa? Kenapa kamu begini?"
"Maksud?" Bianca menelan ludah.
"Kamu kayak jalang tahu enggak?"
Bianca menganga mendengar ucapan Ezra. Bagaimana tidak? Ia dikatai jalang!
"Kamu murahan, sampah, Bianca. I'm sorry, that's why saya enggak mau menerima kamu di rumah ini."
Saat Ezra hampir saja mengambil makanan dari tangannya, Bianca buru-buru menjauhkan dan menyimpan di belakang tubuh.
"Berikan pada saya makanan itu, Bianca."
"Setelah lo ngehina-hina gue kayak barusan, gue enggak sudi ngasih makanan yang Moma masak buat lo."
"Tadi, saya hanya mengatakan apa yang seharusnya, sejujurnya. Apa sebutan bagi cewek yang keluar malem cuma tangtopan sama celana pendek ketat yang nutupin p****t doang. Apa sebutan bagi cewek yang ngelus-ngelus kaki cowok di bawah meja?"
"It's just ...." Bianca kehabisan kata. "Gue cuma iseng, gue kira itu bukan kaki lo! Dan masalah pakaian ini, hak gue dong mau pakai apapun. Kenapa emang? Salah fokus? Pikiran lo kemana-mana?"
Dengan matanya, Bianca bisa melihat Ezra yang kini mengembuskan napas lelah.
Ah, pertengkaran ini tidak sama sekali ada di dalam benak dan pikiran Bianca. Tapi sungguh, ia tak menyangka bahwa Ezra akan dengan tega mengatainya dengan hal-hal yang cukup menohok hati.
Ketika memakai pakaian pendek bahkan bikini, semua laki-laki akan memandang Bianca kagum dan penuh puji. Kenapa beda dengan Ezra?
"Saya masuk. Terserah kalau kamu memang enggak mau ngasih makanan itu buat saya." Melihat tungkai panjang Ezra mulai melangkah meninggalkannya, Bianca pun kelimpungan sendiri dan mengikuti kemana Ezra pergi.
"Gue bakalan tetep ngasih makanan ini cuma, gue harus masuk dulu ke dalam rumah lo."
"Kenapa kamu terobsesi sekali masuk ke rumah saya, Bianca?" Tangan Ezra mengepal kesal mendapati Bianca melenggang begitu saja, sungguh, wanita yang paling ia benci adalah, wanita yang tidak memiliki harga diri. Seperti Bianca sekarang. Sudah dilarang tetap tak mendengarkan. Ia yakin wanita itu akan macam-macam dan ia harus waspada. Ezra tak ingin dinodai oleh wanita murah.
^^^^^^^^^
"Udahkan? Silakan kamu keluar dari sini, Bianca." Ezra menatap wanita yang kini terdiam.
"Pindahin dulu makanan yang gue bawa ke perabotan rumah lo." Bianca berdehem, agak kikuk juga kalau sudah berduaan begini di dalam rumah.
"Bisa enggak sih kamu gak ngerepotin? Moma-mu biasanya langsung ngasih tanpa ribet ini dan itu. Barangnya bisa saya balikin nanti. Saya najis lihat kamu lama-lama di sini." Setelah berkata demikian, Ezra melenggang pergi dari hadapan Bianca dengan emosi yang nampak jelas di wajahnya.
Meski agak sakit hati dan tak percaya dengan omongan barusan, Bianca mencoba mengelus d**a, ia tak akan menghiraukan ucapan Ezra.
Bagaimana pun, misi malam ini harus cepat ia selesaikan. Di sini, ia bukan ingin mencari keributan.
Sabar, Bianca, sabar.
Lebih baik ia memindai rumah dan mencari tempat persembunyian. Ia masih harus berada di sini sampai Ezra tertidur nanti dan ia bisa mengecup bibir lelaki itu untuk mengetahui tentang segala hal tentang lelaki itu.
Melihat sebuah celah di sisi rumah, Bianca langsung berlari ke arah sana, menyembunyikan tubuhnya.
"Bianca?" Sesaat, Bianca bisa mendengar suara Ezra.
"Bianca? Apa dia pulang?" ucap Ezra berbicara sendiri. "Dasar cewek gak waras, murahan, gampangan, jauh beda banget sama ibunya. Gak ngerti, cara didiknya yang salah atau emang tuh cewek yang bermasalah?"
Ezra mengatainya lagi.
Laki-laki itu yang tidak waras. Bagaimana mungkin dia bisa mengatai calon anak tirinya? Tidak berpikir kah jika restu hubungan antara dia dan Moma ada di tangan Bianca?
Menahan emosi dan kekesalan yang bergejolak di d**a, Bianca benar-benar berdiam diri di tempat persembunyian sampai malam benar-benar larut. Sekiranya pukul satu, Bianca memberanikan diri untuk mengelilingi rumah, mengendap-endap, mencari keberadaan Ezra.
Di sebuah kamar, Bianca menemui lelaki itu terlelap tanpa mengenakan atasan. Tubuhnya yang atletis dan sempurna membuat Bianca terbius dalam sesaat.
Indah sekali.
Seolah-olah terhipnotis dengan keseksian dari laki-laki yang ada di depannya, Bianca pun mendekat. Matanya liar, menapakan pandangan inci demi inci di atas kulit tubun Ezra dan tanpa sadar, tangan lentiknya terulur, menyentuh apa yang tak seharusnya ia sentuh.
Malam itu, Bianca gila, otaknya dipenuhi dengan kabut gairah akan calon papa tirinya sendiri. Dan mungkin, ia akan melupakan apa yang seharusnya ia lakukan saat itu.