Epilog; Aku terkekeh geli ketika Kaivan bernapas di kulit perutku yang terbuka. Kini kandunganku sudah menginjak usia sembilan bulan, dan Kaivan semakin bersikap posesif. Bahkan dia sengaja ambil cuti sebulan ini karena tidak mau kehilangan momen waktu aku melahirkan. Yang menurutku itu kekanakan sekali. Aku memarahinya, tentu saja. Tapi dia cuma tersenyum polos dan mencium bibirku setelahnya, membuatku tidak bisa berkutik lagi. Aku mengusap helaian rambut Kaivan dengan jemariku. Merasakan kehalusannya saat menyentuh kulitku. “Kaivan, aku ingin sesuatu.” Pelan, kepala Kaivan terdongak. Ia menatapku dengan kening berkerut. Ada kilat terkejut dalam matanya. “Kamu ngidam lagi? Kan udah sembilan bulan.” Aku terkekeh kecil. Agaknya Kaivan terlalu takut jika aku minta sesuatu y
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


