Bagian 46 Aku mengerjabkan mata perlahan, menyesuaikan pencahayaan yang masuk. Hendak bergerak tapi ada sesuatu yang menahan tangan dan perutku. Menatap ke bawah, sebuah lengan merangkul pinggangku erat. Bibirku mengulum senyum. Mencoba menyingkirkan tangannya hati-hati dan beranjak dari ranjang. Hanya sedetik, karena Kaivan malah semakin merapatkan punggungku dalam dekapannya. “Mau ke mana?” aku menggerakkan tubuh geli saat dia berbisik serak di telingaku. “Mandi. Bantuin mama bikin sarapan,” ujarku, mencoba melepaskan tangan Kaivan dariku. Tapi, sia-sia. Tangannya justru menelusup di balik kaus dan mengusap bagian tubuhku nakal. Aku menggigit bibir bawah. “Kaivan, aku tidak mau dicap menantu tidak tahu diri, oke? Jadi singkirkan tanganmu dan biarkan aku mandi.” ak

