Bagian 27 Aku mematut penampilanku sekali lagi di cermin. Walau sudah susah payah menyembunyikan kantung mata serupa panda itu dengan make up, tapi tetap saja cekungan itu masih terlihat jelas. Semalam aku tidak bisa tidur, mataku nyalang menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Pikiranku mengelana jauh, tentang Kaivan, tentang pernikahan kami, dan juga tentang masa depanku. Tapi, bahkan saat waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, aku tetap saja tidak menemukan jawaban. Aku mendesah dan mengambil tas tanganku di atas meja. Saat hendak masukkan ponselku ke dalam sana, ada sebuah pesan dari Ghea yang menyuruhku untuk mampir ke kedai es krim barunya. Seulas senyum tersungging di bibirku. Mungkin saja Ghea bisa memberikan saran tentang kegelisahanku

