Bagian 26. “Jangan pernah pergi tanpa seizinku lagi, Deandra. Harus berapa kali aku peringatkan padamu? Kalau aku telat satu detik saja, kau bisa mati.” Kaivan mempererat pelukannya dengan aku yang masih bergeming. Hening sejenak. Aku menahan diriku agar tidak langsung mendorongnya mundur. “Dari pada hidup bersamamu, aku lebih baik mati. Seharusnya kamu biarkan aku mati saja.” entah keberanian dari mana, tapi kata-kata itu sukses meluncur dari bibirku dengan nada sedingin es. Aku masih bergeming ketika Kaivan melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipiku. Sorot matanya berubah tajam dengan bibir membentuk garis lurus. Sedetik, Kaivan memajukan wajahnya hingga hidung kami nyaris bersentuhan. “Memangnya apa yang sedang coba kau bicarakan, Deandra? Kau istriku, d

