Bagian 29 “Apa yang kamu lakukan di sini, Anditha?” aku mencoba berujar di tengah ketakutanku. Anditha terlihat menyeramkan sekarang. Wajah yang biasanya terlihat polos dan ceria, kini berubah penuh kebencian dan manik yang berkilat sinis. Dia mengacungkan pisaunya ke arahku. Refleks aku beringsut ke samping untuk menghindar. Jantungku kian memompa cepat. Jika lengah sedikit saja, maka wajahku sudah tidak berbentuk lagi sekarang. Anditha sedang kerasukan setan apa sih? “Kakak harus mati! Kakak udah rebut Kaivan dari aku, jadi kakak harus mati!” Ditha tertawa sinting. Wajahnya bersinar penuh kemenangan. Dan aku melirik ke segala arah untuk mencari sesuatu yang bisa kugunakan untuk melawannya. “Gara-gara kakak, Kaivan jadi menjauh dari aku. Dan gara-gara kakak juga Ka

