Bagian 31 Aku menahan napas. Kaivan semakin menekankan ujung pisau itu pada jantungnya. Mungkin hanya tinggal satu senti lagi sampai kemejanya tergores. Dia ini... sedang ingin bermain-main ya? Lalu setelah aku menusuk jantungnya kemudian apa? Aku masuk penjara dan menyesal seumur hidupku karena membunuhnya? Orang yang jelas-jelas aku cintai tapi dia sama sekali tidak peka dan bersikap seenaknya? Aku menatapnya tajam. Mendesis, aku menarik pisau itu menjauh dan melemparnya. Bunyi besi yang beradu dengan lantai menambah ketegangan. “Aku bukan Anditha. Aku bukan sepupu tersayangmu yang akan membunuh siapa saja agar bisa mendapatkanmu.” Dia terperangah, sedikit terkejut. Aku melanjutkan ucapanku, “Jangan salah sangka, bukannya aku tidak tega untuk menyayat kulitmu atau ap

